Menurut Purwendro dan Nurhidayat (2007) pengelolaan sampah yang tidak dilaksanakan dengan baik akan menjadi sumber masalah, baik sosial maupun lingkungan, yang muncul di masyarakat. Munculnya berbagai penyakit akibat pencemaran air, tanah, dan polusi udara hanya sebagian kecil akibat dari buruknya pengelolaan sampah. Budaya masyarakat yang kurang disiplin dan masih
rendahnya kesadaran menjaga lingkungan hidup. Ada pun kelemahan pengaturan pemerintah bisa dilihat dari kurangnya koordinasi antar-instansi yang berkaitan dengan hal ini. Pengelolaan sampah di kota besar dapat dilakukan dengan dua sistem, yaitu sentralisasi dan desentralisasi. Kedua sistem ini dapat digunakan sebagai langkah pengelolaan.
1. Sistem Sentralisasi
Sistem sentralisasi pengolahan sampah adalah pengolahan sampah dilakukan di tingkat TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Di setiap sub-area tidak diadakan pengolahan sampah, hanya aktifitas pengumpulan sampah. Kelebihan sistem ini ini terlihat dari bisa dikelolanya sampah dengan beberapa alternatif seperti sistem aerob (terbuka) dan anaerob (tertutup). Kelemahan pada pengolahan sampah sistem sentralisasi yaitu biaya pengangkutan sampah cukup besar dan lahan yang dibutuhkan untuk pengumpulan dan pengolahan sampah cukup luas.
Keterangan :
TPA : Tempat Pembuangan Akhir, TPS : Tempat Penampungan Sampah, RT : Sampah Rumah Tangga
Gambar 1. Bagan Pengelolaan Sampah Secara Sentralisasi Bagan pengelolaan sampah secara sentralisasi tersebut menunjukkan bahwa sampah rumah tangga dikumpulkan di tempat penampungan sampah sementara. Setelah itu sampah akan diangkat menuju tempat pembuangan akhir. Di TPA, kegiatan yang dilakukan di antaranya sebagai berikut :
• Sanitary landfill. Sampah digunakan sebagai bahan pengisi tanah yang akan diurug
• Pembakaran sampah. Kegiatan ini dilakukan terutama untuk membakar sampah organik kering dan sampah anorganik alat yang digunakan untuk membakar yaitu incinerator.
TPA
TPS TPS
RT RT RT RT RT RT
• Pengomposan (composting). Pengomposan dilakukan untuk sampah organik. Kegiatan ini dilakukan secara terbuka (aerob) maupun tertutup (anaerob).
• Recycling. Pemanfaatan kembali sampah-sampah yang masih dapat diolah kembali seperti plastik, besi, atau alumunium.
Pengelolaan dengan sistem ini membutuhkan banyak tenaga, teknologi tinggi, serta biaya besar untuk menghindari adanya konflik antara pihak pengelola sampah dengan warga di sekitar TPA, karena keterlambatan pengolahan sampah yang setiap hari harus bertumpuk dari berbagai daerah yang membuat lingkungan menjadi tidak nyaman untuk ditinggali.
2. Sistem Desentralisasi
Sistem desentralisasi mensyaratkan pengolahan sampah pada area hulu atau penghasil sampah pertama. Pada sistem ini, di setiap sub-area tidak hanya aktivitas pengumpulan sampah, tetapi juga pengolahannya sampai menjadi produk yang bisa dimanfaatkan lagi. Kelebihan sistem desentralisasi memungkinkan luas lahan yang dibutuhkan untuk pengumpulan dan pengolahan tidak terlalu luas. Selain itu, biaya pengangkutan sampah yang besarnya rata-rata 75% dari total biaya untuk mengolah sampah bisa dikurangi. Sentra pengumpulan dan
penampungan sampah dilakukan pada tingkat cakupan daerah yang lebih kecil, misalnya tingkat kelurahan, atau tingkat kecamatan.
Keterangan :
TPA : Tempat Pembuangan Akhir, RT : Sampah Rumah Tangga
Gambar 2. Bagan Pengelolaan Sampah secara Desentralisasi
TPA TPA RT RT RT RT RT RT Proses Pengolahan Sampah Proses Pengolahan Sampah
Di TPA, kegiatan pengolahan sampah yang dilakukan tidak berbeda jauh dengan sistem sentralisasi. Namun, pada sistem ini jarang sekali dilakukan sanitary landfill karena besarnya biaya, jumlah sampah yang relativ sedikit, dan lahan yang terbatas untuk melakukan aktivitas. Kegiatan pengomposan biasanya dilakukan secara aerob.
Sampah menjadi masalah penting untuk kota-kota besar. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yaitu :
• Volume sampah sangat besar sehingga melebihi kapasitas daya tampung tempat pembuangan sampah akhir atau TPA.
• Lahan TPA semakin sempit karena tergeser tujuan penggunaan lain. • Teknologi pengelolaan sampah tidak optimal sehingga sampah lambat
membusuknya. Hal ini menyebabkan percepatan peningkatan volume sampah lebih besar dari pembusukannya. Oleh karena itu, selalu diperlukan perluasan areal TPA baru.
• Manajemen pengelolaan sampah tidak efektif sehingga sering kali menjadi penyebab distorsi dengan masyarakat setempat.
• Pengelolaan sampah dirasakan tidak memberikan dampak positif kepada lingkungan.
• Kurangnya dukungan kebijakan dari pemerintah, terutama dalam memanfaatkan produk sampingan dari sampah sehingga menyebabkan tertumpuknya produk tersebut di TPA.
Permasalahan sampah merupakan hal yang krusial. Bahkan, sampah dapat dikatakan sebagai masalah kultural karena dampaknya terkena berbagai sisi kehidupan. Sumber sampah yang terbanyak dari pemukiman dan pasar tradisional. Sampah pasar seperti pasar sayur mayur, pasar buah atau pasar ikan, jenisnya relativ seragam, sebagian besar (95%) berupa sampah organik sehingga lebih mudah ditangani. Sampah yang berasal dari pemukiman umumnya sangat beragam, tetapi secara umum minimal 75% terdiri dari sampah organik dan sisanya anorganik.
Kota Bogor menggunakan sistem sentralisasi. Karena tidak dilakukan pengolahan sampah di tingkat Tempat Pembuangan Sementara (TPS), hanya proses pengumpulan sampah yang kemudian diangkut Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga.
Menurut Zaenal, staf di Dinas Lingkungan Hidup Dan Kebersihan (DLHK) Kota Bogor diacu dalam Suara Pembaruan (2005),
“Karena jumlah truk sampah terbatas dan harus mengambil sampah dari satu TPS ke TPS lain yang jumlahnya sangat banyak. Jarak tempuh ke TPS Galuga juga jauh. Akibatnya, meskipun truk-truk sampah sudah beroperasi dari pagi hari, mereka tidak bisa segera kembali dari TPS Galuga karena jarak tempuhnya yang cukup jauh yakni sekitar 20 sampai 30 kilometer. Sampah yang tak terangkut pun menumpuk di Kota Bogor.”
Deni W, staf DLHK yang lain mengatakan bahwa :
“Kesadaran masyarakat terhadap kebersihan masih kurang. Tak semua anggota masyarakat membuang sampah ke TPS. Banyak yang berceceran di luar TPS. Belum lagi sampah yang dihasilkan para PKL, merusakkan tong-tong sampah.”
Pemerintah Pusat dan Kota Bogor mempunyai program pencegahan pencemaran lingkungan yang melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bogor mengadakan kegiatan “Pengadaan Sarana dan Prasarana Pencegahan Pencemaran Lingkungan” yang berupa bantuan tempat sampah, gerobak sampah, dan papan-papan himbauan agar tidak membuang sampah ke sungai di daerah bantaran sungai. Tujuan dari program tersebut adalah
meningkatkan perbaikan kualitas lingkungan hidup terutama kualitas air (sungai) dengan cara mengatasi jumlah sampah yang dibuang ke Sungai Ciliwung dengan menempatkan tempat sampah di daerah yang dekat dengan sungai, untuk
mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke sungai dan sikap masyarakat yang membuang sampah ke sungai, memberikan gerobak sampah untuk mempermudah pengangkutan sampah dari tempat sampah rumah tangga ke Tempat
Penampungan Sementara (TPS) dan kemudian ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), dan penempatan papan-papan himbauan agar tidak membuang sampah ke sungai. Salah satu lokasi yang mendapatkan bantuan tempat sampah, yaitu Kelurahan Babakan Pasar.
Kelurahan Babakan Pasar merupakan salah satu Kelurahan yang
mendapatkan bantuan dari kegiatan ini, terkait dengan masih ada masyarakat yang membuang sampah di Sungai Ciliwung, terutama masyarakat yang tinggal di bantaran sungai. Keberadaan program tersebut akan menimbulkan persepsi tertentu pada masyarakat penggunanya Persepsi ini dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi umur responden, jumlah tahun pendidikan formal responden, pendapatan responden, lama bermukim responden dan jarak rumah responden dari sungai, sedangkan faktor eksternal berupa iuran pengangkutan sampah, fasilitas pengelolaan sampah dan tokoh penggerak.
Persepsi yang diterima masyarakat akan diberi arti melalui proses belajar, yaitu membandingkan pengalaman masa lampau dengan apa yang sedang
diamatinya. Dengan demikian, dari persepsi masyarakat bantaran sungai terhadap program dari DLHK, masyarakat akan memperoleh arti dari bantuan tersebut
dengan membandingkan pengalaman masa lampau yang biasanya membuang sampah ke sungai dengan sekarang yang sudah ada program DLHK yang berupa bantuan tempat sampah dan diharapkan masyarakat bantaran sungai tidak lagi membuang ke sungai, akan tetapi ke tempat sampah yang telah disediakan oleh DLHK. Setelah melalui proses belajar, kemudian masyarakat mempunyai pilihan yang tepat yang tercermin dalam perilakunya.
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran persepsi masyarakat bantaran Sungai Ciliwung, Kelurahan Babakan Pasar yang kemudian akan mempengaruhi perilaku masyarakat bantaran sungai dalam hal membuang sampah ke sungai. Dengan mengetahui persepsi masyarakat bantaran sungai terhadap bantuan tempat sampah dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi persepsi masyarakat bantaran sungai yang dapat digambarkan pada kerangka berpikir pada Gambar 3, maka dapat membantu pihak-pihak terkait khususnya DLHK yang memberikan bantuan tempat sampah untuk meningkatkan kualitas masyarakat bantaran sungai dan sumber daya sungai.
Gambar 3. Kerangka Pendekatan Studi
Persepsi Masyarakat Bantaran Sungai Ciliwung tentang Kegiatan “Pengadaan
Sarana dan Prasarana Pencegahan Pencemaran Lingkungan”
• Tujuan Kegiatan • Sosialisasi Kegiatan
• Kualitas ,Kuantitas dan Lokasi Kegiatan • Pemantauan Kegiatan P e r i l a k u Faktor Internal • Umur • Pendidikan • Pendapatan • Lama Bermukim • Jarak rumah dari sungai
Faktor Eksternal
• Iuran pengangkutan sampah
• Fasilitas tempat sampah