Perusahaan. Apabila kami tidak dapat mencari sumber pembiayaan eksternal tambahan, maka kami dapat memutuskan untuk menurunkan jumlah pengeluaran barang modal yang telah direncanakan. Penurunan jumlah pengeluaran barang modal yang direncanakan tersebut dapat memberikan dampak negatif bagi kinerja operasional dan kondisi keuangan Perusahaan.
Pengeluaran Barang Modal
Historis Pengeluaran Barang Modal
Sejak tanggal 1 Januari 2012 sampai dengan 31 Desember 2014, jumlah total pengeluaran barang modal kami telah mencapai sebesar Rp24.811,7 miliar (US$1.994,5 juta), yang terutama kami gunakan untuk membeli peralatan dan jasa–jasa dari pemasok asing sehubungan dengan pembangunan jaringan seluler kami. Kami telah mencapai jumlah total pengeluaran barang modal sebesar Rp7.044,1 miliar (US$566,2 juta) untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2014, di mana investasi tersebut kami fokuskan pada mengoptimalkan dan meningkatkan kapasitas serta kualitas seluler kami, jaringan tetap dan MIDI, serta infrastruktur telekomunikasi kami yang telah ada. Pada bulan Februari 2014, kami menyelesaikan modernisasi atas jaringan kami di Bali dengan mengimplementasikan teknologi U900 di seluruh pulau.
Pengeluaran Barang Modal untuk tahun 2015
Program pengeluaran barang modal kami saat ini
difokuskan pada upaya mengoptimalkan dan meningkatkan kapasitas dan kualitas jaringan seluler, jaringan tetap dan MIDI dan infrastruktur telekomunikasi kami yang ada saat ini. Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2012, 2013 dan 2014, jumlah total pengeluaran barang modal konsolidasian aktual kami adalah sebesar masing– masing Rp8.396,6 miliar, Rp9.371,0 miliar dan Rp7.044,1 miliar. Selama tahun 2015, kami bermaksud untuk mengalokasikan sekitar Rp7.192,0 miliar (US$580,0 juta) untuk pengeluaran barang modal yang baru, yang bila memperhitungkan estimasi pengeluaran barang modal yang direalisasi untuk tahun 2015 untuk komitmen pengeluaran barang modal dari periode sebelumnya, akan menghasilkan jumlah pengeluaran barang modal aktual sekitar Rp7.440,0 miliar (US$600,0 juta) untuk tahun 2015. Kami bermaksud untuk mengalokasikan pengeluaran barang modal tahun 2015 sebagai berikut:
Investasi Jaringan Seluler: Kami berencana untuk menggunakan sebagian besar pengeluaran barang modal kami untuk membiayai kelanjutan pemutakhiran dan perluasan kapasitas dan cakupan jaringan seluler kami. Pada tahun 2015, kami berencana untuk memusatkan perhatian pada modernisasi atas jaringan seluler kami di Jababodetabek, daerah lain dari Jawa termasuk Surabaya, Bandung, yogyakarta, Semarang, Sukabumi dan Garut dan beberapa kota di luar Jawa termasuk Medan, Banjarmasin, Lampung, Batam dan Palembang.
Investasi lain: Kami berencana untuk
menginvestasikan sisa anggaran pengeluaran barang modal untuk area–area di luar jaringan seluler, dan terus menyediakan untuk mereka layanan voice, sambungan jarak jauh dan MIDI, serta mengadakan peningkatan jaringan transmisi backbone kami.
119
Jumlah di atas merepresentasikan rencana anggaran investasi kami. Pengeluaran aktual atas dasar kas akan bervariasi tergantung pada beberapa faktor, termasuk metode pembiayaan dan waktu penyelesaian pengiriman peralatan dan jasa yang dibeli. Secara historis,
pengeluaran atas dasar jalur uang tunai dianggarkan akan menghabiskan biaya paling sedikit sekitar 20,0% dari anggaran kami. Per tanggal 31 Desember 2015, kami memiliki komitmen pengeluaran barang modal sebesar Rp7.192,0 miliar (US$580 juta), terutama terkait dengan peningkatan dan perluasan kapasitas dan ruang lingkup jaringan seluler kami. Rencana pengeluaran barang modal di atas didasarkan pada pemahaman kami tentang keadaan pasar dan kondisi peraturan saat ini, dan kami dapat mengubah rencana kami dalam menanggapi perubahan kondisi–kondisi tersebut.
Berdasarkan sejarah, kami membiayai pengeluaran barang modal kami melalui sumber internal dan arus kas tunai dari kegiatan usaha, serta hutang pembiayaan melakui pinjaman bank dan pasar modal. Kami berharap untuk dapat melanjutkan membiayai pengeluaran barang modal melalui sumber–sumber tersebut serta sebagian dari hasil pelepasan kepemilikan kami dalam TBIG pada tahun 2014. Selain itu, kami juga menggunakan sebagian dari pendapatan tunai dari Transaksi Penjualan Menara yang selesai pada tahun 2012 untuk membiayai pengeluaran barang modal pada tahun 2013. Kami menghadapi risiko likuiditas jika peristiwa tertentu terjadi, termasuk namun tidak terbatas pada, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih lambat daripada yang diharapkan, penurunan peringkat hutang atau memburuknya kinerja keuangan atau rasio keuangan kami. Jika kami tidak dapat mendapatkan jumlah yang diperlukan untuk menunjang rencana pengeluaran barang modal untuk tahun 2015, kami mungkin tidak dapat meningkatkan atau memperluas infrastruktur telekomunikasi seluler kami atau memperbaharui teknologi kami lainnya sampai pada batas yang diperlukan untuk tetap kompetitif dalam pasar telekomunikasi Indonesia, yang akan mempengaruhi kondisi keuangan, hasil kegiatan usaha dan prospek usaha kami.
Kebijakan Akuntansi Penting
Laporan keuangan konsolidasian kami telah disusun sesuai dengan SAK.
Penyusunan laporan keuangan ini mengharuskan manajemen untuk membuat taksiran dan asumsi yang mempengaruhi jumlah aset dan kewajiban yang dilaporkan serta pengungkapan atas aset dan kewajiban kontinjensi pada tanggal laporan keuangan dan pendapatan dan beban yang dilaporkan selama periode pelaporan tersebut. Taksiran dan asumsi manajemen didasarkan pada pengalaman sebelumnya dan faktor lain yang relevan pada kondisi tersebut. Kami secara terus menerus mengevaluasi taksiran dan asumsi tersebut. Hasil yang sebenarnya dapat berbeda dari taksiran di atas bila asumsi atau kondisi yang sebenarnya berbeda. Kami percaya bahwa, kebijakan akuntansi penting kami berikut ini melibatkan tingkat pertimbangan dan kompleksitas yang lebih tinggi.
Goodwill dan Aset Tidak Berwujud Lainnya
Laporan keuangan konsolidasi dan hasil operasi
mencerminkan usaha yang diakuisisi setelah penyelesaian dari proses akuisisi terkait. Kami mengakui usaha yang diakuisisi dengan menggunakan metode akuisisi (acquisition method) yang membutuhkan penggunaan yang mendalam atas estimasi akuntansi dan penilaian untuk menentukan nilai pasar wajar dari aset dan kewajiban dari entitas yang diakuisisi yang dapat diidentifikasi pada tanggal akuisisi. Nilai lebih dari harga pembelian atas nilai pasar wajar dari aset bersih yang diakuisisi diakui sebagai goodwill pada laporan neraca konsolidasi. Oleh karena itu, sejumlah penilaian yang diambil dalam mengestimasi nilai pasar wajar untuk dialokasikan ke aset dan kewajiban entitas yang diakusisi dapat mempengaruhi kinerja keuangan kami secara signifikan.
120
Memperkirakan Masa Manfaat Aset Tetap dan Aset Tidak Berwujud
Kami mengestimasi masa manfaat dari aset tetap dan aset tak berwujud kami berdasarkan pada ekspektasi masa penggunaan aset sebagaimana diatur dalam strategi dan rencana usaha (business plans and strategies) yang juga mempertimbangkan perkembangan teknologi di masa depan dan perilaku pasar (market behaviour). Taksiran masa manfaat dari aset tetap didasarkan pada penelaahan secara kolektif pada praktek industri (industry practice), evaluasi teknis secara internal dan pengalaman dengan aset–aset yang sejenis. Taksiran masa manfaat ditelaah secara tahunan dan diperbarui
apabila ekspektasi berbeda dari estimasi sebelumnya yang disebabkan karena kerusakan dan penggunaan secara fisik, keusangan teknologi atau komersial dan legalitas atau pembatasan lainnya dalam penggunaan aset. Akan tetapi, ada kemungkinan bahwa hasil operasi di masa mendatang dapat secara material dipengaruhi oleh perubahan estimasi yang dikarenakan faktor–faktor yang disebutkan diatas.
Jumlah dan waktu dari beban yang diakui untuk setiap periode akan dipengaruhi oleh perubahan dari faktor– faktor dan peristiwa–peristiwa ini. Pengurangan dalam taksiran masa manfaat dari aset tetap kami akan meningkatkan beban usaha yang diakui dan menurunkan aset tidak lancar. Penambahan dalam taksiran masa manfaat akan menurunkan beban usaha dan meningkatkan aset tidak lancar.
Penurunan Nilai Aset Non–Finansial
Suatu penurunan nilai terjadi jika nilai tercatat dari suatu aset atau unit penghasil kas melebihi jumlah yang dapat dipulihkan, yang mana lebih tinggi dari nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual dan nilai pakainya (value in use). Perhitungan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual didasarkan pada data yang tersedia dari transaksi penjualan yang mengikat dalam transaksi yang wajar dari aset sejenis atau harga pasar yang dapat diobservasi dikurangi biaya tambahan untuk melepaskan aset. Perhitungan nilai pakai adalah berdasarkan model arus kas yang didiskontokan. Arus kas tersebut didapat dari anggaran untuk lima tahun ke depan dan tidak mencakup aktivitas restrukturisasi (restructuring) dimana kami belum memiliki komitmen atau investasi masa depan yang signifikan yang akan meningkatkan kinerja aset untuk menghasilkan kas dari aset yang dinilai tersebut. Jumlah yang dapat dipulihkan paling sensitif terhadap tingkat diskon yang digunakan untuk model arus kas yang didiskontokan dan juga ekspektasi akan arus kas masuk (cash–inflows) serta tingkat pertumbuhan yang digunakan untuk tujuan ekstrapolasi.