LANDASAN TEORI
B. Subjek Pajak Luar Negeri
3. Pengeluaran Zakat Pendapatan dan Gaji Bersih
Pengambilan dari pendapatan atau gaji bersih dimaksudkan supaya hutang bisa dibayar bila ada dan biaya hidup terendah seseorang dan yang menjadi tanggungannya bisa dikeluarkan karena biaya terendah kehidupan seseorang merupakan kebutuhan pokok seseorang, sedangkan zakat diwajibkan atas jumlah senisab yang sudah melebihi kebutuhan pokok. Juga harus dikeluarkan biaya dan ongkos-ongkos untuk melakukan pekerjaan tersebut, berdasarkan kepada pengqiasannya kepada hasil bumi dan kurma serta sejenisnya, bahwa biaya harus dikeluarkan terlebih dahulu baru
zakat dikeluarkan pendapat „Atha.412
Berdasarkan hal itu maka sisa gaji dan pendapatan setahun wajib zakat bila mencapai nisab uang, sedangkan gaji dan upah setahun yang tidak mencapai nisab uang setelah biaya-biaya di atas dikeluarkan misalnya gaji pekerja-pekerja dan pegawai-pegawai kecil, tidak wajib zakat.
Bila seseorang sudah mengeluarkan zakat gaji, peghasilan, atau sejenisnya pada waktu menerimanya, maka tidak wajib zakat lagi pada waktu masa tempo tahunnya sampai, sehingga tidak terjadi kewajiban mengeluarkan zakat dua kali pada satu kekayaan dalam satu tahun. Karena itulah kita menegaskan dalam pembahasan mengenai harta penghasilan bahwa bila seseorang mempunyai
411 Yusuf al-Qardhawi, Fiqhuz-Zakah. hlm. 485
412
120
penghasilan maka ia harus menanguhkan pengeluaran zakatnya yang lain, yang sudah jatuh tempo zakatnya, bila ia tidak kuatir
penghasilannya akan terbelanjakan olehnya sebelum temponya. 413
Contoh: Seseorang mempunyai kekayaan yang dikeluarkan zakatnya setiap tahun pada awal bulan Muharram, bila ia memperoleh penghasilan, gajinya umpamanya pada bulan Safar atau Rabiul Awal atau bulan-bulan sesudahnya dan ia sudah mengeluarkan zakatnya pada waktu menerimanya, mak ia tidak wajib lagi mengeluarkan zakatnya sekali lagi pada akhir tempo bersama dengan kekayaanya yang lain itu, tetapi mengeluarkan zakat dari penghasilan tersebut atau sisanya pada masa tempo kedua. 414
g. Zakat sebagai Pengurang Penghasilan Kena Pajak
Sejak kehadiran BAZNAS yang didirikan dengan Keputusan Presiden No 8 Tahun 2001 sebagai tindak lanjut dari UU No 38 Tahun 1999 dan UU Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat pasal 22, telah diusulkan agar setiap zakat yang dibayarkan umat Islam dapat menjadi pengurang pajak.
Meskipun belum sesuai dengan usulan namun Pemerintah telah menyetujui dan menetapkan Zakat sebagai pengurang dari Penghasilan Kena Pajak. Selanjutnya kebijakan ini tidak hanya mencakup zakat saja tetapi juga sumbangan keagamaaan yang bersifat wajib artinya perjuangan BAZNAS untuk pengurangan pajak, juga dinikmati oleh para pemeluk agama yang lain. Besarnya zakat dan donasi yang bisa diperhitungkan sebagai pengurang penghasilan adalah sebesar 2,5%. Namun selama ini belum pernah diberikan contoh bagaimana dampak dari perhitungan pajak penghasilan jika membayar zakat dan jika tidak membayar zakat.
Saat ini kendala yang dihadapi adalah tidak diberikan kewenangan kepada Pemerintah Aceh dalam pelaksanaan ketentuan tersebut, apabila
413 Ibid
414
121
ketentuan itu berjalan dan diberikan, maka tidak ada kendala bagi Baitul Mal Aceh dalam mengalokasikan zakat untuk didayagunakan dan
didistribusikan kepada 8 (delapan) asnaf sesuai dengan ketentuan syar‟i.415
Kalau dilihat dalam perspektif penerimaan tidak ada kontradiksi, akan tetapi ini hanya pemindahan pos penerimaan, sedangkan pengeluaran dana tersebut lebih efektif. Kalau pelaksanaan ketentuan tersebut berjalan, maka setiap wajib pajak dapat diketahui pajaknya secara tidak langsung, dan dipastikan karena tidak ganda pengeluaran dalam mengeluarkan maka orang akan sadar taat bayar pajak dan bayar zakat.
Adapun korelasi pajak penghasilan dengan zakat dicantumkan dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a Undang-Undang Pajak Penghasilan tahun 2000 menyebutkan bahwa “Yang tidak termasuk sebagai obyek pajak penghasilan adalah bantuan atau sumbangan termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan para penerima zakat yang berhak”. Dalam penjelasan pasal tersebut disebutkan bahwa yang dimaksud dengan zakat adalah zakat sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 23 tahun 2011 tentang pengelolaan zakat.
Pasal 9 ayat (1) huruf g Undang-Undang Pajak Penghasilan tahun 2000 bahwa “Untuk menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap tidak boleh dikurangi harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b, kecuali zakat atas penghasilan yang nyata-nyata dibayarkan oleh wajib pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama Islam kepada badan amil zakat
atau lembaga amil zakat yang dibentuk oleh pemerintah”.416
415 Zaki Ulya, “Espaktasi Pengelolaan Tanah Terlantar Oleh Baitul Mal Dalam
Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat”, Jurnal Hukum dan Pembangunan, Vol. 46, No. 4, 2016,
hlm. 505
416
N.E. Fatima, Zakat dalam Penghitungan Pajak, Pikiran Rakyat, Bandung, 2002, hlm. 114.
122
Dalam ketentuan pasal tersebut baru diatur secara eksplisit bahwa yang tidak termasuk objek pajak adalah zakat. Sedangkan, pengurangan pajak atas kewajiban pembayaran sumbangan untuk agama lain belum diatur ketika itu. Hal ini memang berpotensi menimbulkan kecemburuan
dari agama lain yang juga diakui di Indonesia.417
Khusus untuk Provinsi Aceh sebagaimana disebutkan dalam Pasal 192 UU No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh menyebutkan bahwa “Zakat yang dibayar menjadi faktor pengurang terhadap jumlah pajak penghasilan terhutang dari wajib pajak”. Pemerintah Aceh berupaya untuk mengimplementasikan Pasal 192 ini, namun mendapat penolakan dari Departemen Keuangan/DIRJEN Pajak, dengan alasan pajak penghasilan diatur secara tersendiri dalam UU No. 7 Tahun 1983 yang terakhir dirubah dengan UU No. 17 Tahun 2000 yang berlaku secara nasional dan mengikat siapapun tanpa kecuali. Padahal UUPA merupakan UU yang berlaku azas Lex Spesialis, yang hanya berlaku untuk Aceh.
Armiadi Musa menyebutkan bahwa pengaturan hukum tentang pajak penghasilan di Aceh, seharusnya dilaksanakan khususnya sebagaimana disebutkan dalam Pasal 192 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Artinya jika dilihat dari sisi pelaksanaan syariat Islam secara kaffah kepada masyarakat muslim tidak ganda dalam membayar dari dua pengeluaran, ada dua pos penerimaan di Aceh, namun sasaran dari penerimaan tersebut lebih terarah kepada pelaksanaan kemiskinan dan pembangunan jika sistem penerimaan zakat dapat mengurangi pajak terhutang bagi wajib pajak dan wajib zakat.
Selanjutnya, Pemerintah Aceh telah menyurati Pemerintah Pusat terkait pelaksanaan Pasal 192 UU No. 11 Tahun 2006. Namun, saat ini masih dalam upaya Pemerintah Aceh memperjuangkan ketentuan zakat sebagai pengurang pajak terhutang tidak sebagai zakat penghasilan kena
417
Sartini, Pengembangan Obyek Zakat dan Perhitungannya dalam Tinjauan
123
pajak, ini belum sesuai dengan pelaksanaan sistem Pemerintah Aceh sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam.
Dalam pasal 1 PP No 60 Tahun 2010 tentang Zakat Atau Sumbangan Keagamaan Yang Sifatnya Wajib Yang Dapat Dikurangkan Dari Penghasilan Bruto, meliputi:
a) zakat atas penghasilan yang dibayarkan oleh Wajib Pajak orang pribadi pemeluk agama Islam dan/atau oleh Wajib Pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama Islam kepada badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah; atau
b) sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi Wajib Pajak orang pribadi pemeluk agama selain agama Islam dan/atau oleh Wajib Pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama selain agama Islam, yang diakui di Indonesia yang dibayarkan kepada lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah. Dalam implementasi di lapangan, aturan sebagaimana dimaksud belum memberi dampak yang signifikan bagi kemajuan pengelolaan zakat sendiri.
Dalam UU Pajak Penghasilan, zakat penghasilan dapat diakui sebagai pengurang pajak harus memenuhi beberapa persyaratan yang bersifat kumulatif dan harus dilaporkan dalam laporan pajak penghasilan tahunan yaitu:
1). Zakat harus nyata-nyata dibayarkan oleh wajib pajak orang pribadi pemeluk Islam dan atau wajib pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama Islam;
2). Zakat Dibayarkan kepada badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah.
3). Zakat yang dibayar adalah zakat yang berkenaan dengan penghasilan yang menjadi obyek pajak.
Alyasa‟ Abubakar menyebutkan bahwa zakat seharusnya menjadi komponen pengurang pajak penghasilan terutang karena pada praktiknya
124
selama ini, zakat dihitung di luar pajak yang harus dibayar oleh seseorang kepada pemerintah.Ia memberi contoh, seorang pegawai pemerintahan harus membayar pajak penghasilan sebesar 15 persen ditambah zakat 2,5 persen dari gajinya.Totalnya menjadi 17,5 persen yang dipotong pemerintah dari gaji pegawai tersebut untuk PAD. Artinya, zakat sebesar 2,5 persen itu masuk dalam pajak yang dikenakan. Pajak sebesar 15 persen yang dikutip sudah termasuk zakat di dalamnya sebesar 2,5 persen.
Berikut ini contoh simulasi perhitungan zakat sebagai pengurang PKP, dibandingkan dengan Pajak tanpa zakat.
Tabel : 10
Ilustrasi perhitungan Zakat sebagai pengurang Pajak
Jenis Pendapatan/Pemotongan Pemberlakuan I UU No. 36/2008 & UU No. 23/2011 (Rp.) Pemberlakuan II UU No. 11 Tahun 2006 (Rp.) Penghasilan Bruto 50.000.000,00 50.000.000,00 PTKP (K/0)418 24.300.000,00 24.300.000,00 PKP 25.700.000,00 25.700.000,00 Zakat 2,5% dari penghasilan bruto 1.250.000,00 - PKP Setelah zakat 24.450.000,00 - Pph Terutang (15%) 3.667.500,00 3.667.500,00 Zakat (2,5% dari Penghasilan Bruto) - 1.250.000,00
PPh terutang setelah Zakat - 2.417.500,00
Beban Kewajiban Agama dan Negara
4.917.500,00 3.667.500,00
Menurut perlakuan I, sebagaimana diatur UU. No 36 tahun 2008 dan UUPZ No. 23 Tahun 2011, maka zakat yang harus dikeluarkan adalah sebesar Rp1.250.000,00 dan hutang PPh yang harus ditanggung adalah
418 PTKP melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor: PMK-162/PMK.011/2012 tanggal 22 Oktober 2012 yang berlaku efektif mulai 1 Januari 2013. Batas penghasilan tidak kena pajak yang semula Rp 15.840.000,00 kini dinaikkan menjadi Rp 24.300.000,00 per tahunnya atau per bulan Rp. 2.025.000,00 untuk setiap wajib pajak lajang. Sedangkan tambahan bagi yang menikah dan tambahan tanggungan yang dulunya hanya Rp 1.320.000 kini dinaikkan masing-masing menjadi Rp. 2.025.000,00.
125
sebesar Rp.3.667.500,00 sehingga total zakat dan pajak yang harus dikeluarkan adalah Rp.4.917.500,00. Dampaknya pada perlakuan I adalah seseorang akan terkena dua jenis potongan pada waktu bersamaan, hal ini belum mencerminkan keadilan. Menurut perlakuan II, bahwa kewajiban pajak terutang yang harus dikeluarkan dikurangi dulu dengan beban kewajiban zakat yang telah dikeluarkan, maka kewajiban pajak dapat ditekan yaitu sebesar Rp. 2.417.500,00 sehingga besaran beban zakat dan pajak yang harus dikeluarkan adalah hanya Rp. 3.667.500,00. Umumnya masyarakat muslim menghendaki perlakuan dua (zakat sebagai pengurang pajak terutang) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No.11 Tahun 2006. Hal tersebut sangat wajar mengingat umumnya masyarakat tidak menginginkan pungutan ganda. Namun dengan menjadikan zakat sebagai pengurang pajak pendapatan maka masyarakat akan terhindar dari pungutan ganda yaitu dalam bentuk zakat dan dalam bentuk pajak.
Wajib Zakat/ Muzakki yang membayarkan zakatnya melalui BAZNAS, akan mendapatkan Nomor Pokok Wajib Zakat (NPWZ) dan Bukti Setor Zakat (BSZ).
h. Hubungan Antara Zakat Dengan Pajak
Zakat dan pajak berkorelasi satu sama lain, namun keduanya berbeda dalam beberapa hal. Di antara titik persamaan antara zakat dan pajak adalah sama-sama bersifat memaksa, melibatkan pengelola dan tujuan kesejahteraan bersama. Seorang muslim yang mampu wajib mendistribusikan kekayaannya melalui penyaluran zakat dijelaskan dalam QS. At-Taubah/9:103.
ةَقَدَص ۡمِِلذََٰوۡمَأ ۡنِم ۡذُخ
ٗ
ُىُرِّهَطُت
ۡم
مِهيِّكَزُـتَو
اَِبِ
…..
ٖٔٓ
“Pungutlah sedekah dari kekayaan mereka, kau bersihkan dan sucikan mereka dengan zakat itu.”419
Sebagaimana disebutkan bahwa zakat membersihkan dan mensucikan orang-orang yang menunaikan zakat. Kewajiban Zakat ini
419
126
juga di kemukakan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud bahwa ketika banyak orang mengingkari kewajiban zakat di zaman Abu Bakar As-siddiq, Beliau berkata : Demi Allah, saya akan memerangi orang yang memisahkan kewajban sholat dengan kewajiban zakat. Sesungguhnya zakat itu hak yang terkait dengan harta. Demi Allah, jika mereka menolak mengeluarkan zakat unta yang biasa mereka tunaikan kepada Rasulullah Saw, pasti aku akan memeranginya, karena penolakan tersebut.420
Tujuan zakat dan pajak adalah untuk menekan kesenjangan sosial ekonomi dalam masyarakat dan melakukan pemerataan harta kepemilikan
untuk kesejahteraan bersama.421
i. Prinsip Keadilan Antara Zakat dan Pajak
Keadilan beban keuangan dalam zakat itu dapat menyelamatkan sistem ekonomi Islam dalam hal pembebanan. Keadilan zakat yang hakiki menghendaki kesesuaian antara beban dan kemampuan. Suatu saat zakat akn mampu melestarikan kemampuan beban dan situasi kehidupan masyarakat.422
Kaidah-kaidah keadilan pajak mencakup semua orang yang dibebani pajak untuk membantu aparat pajak dengan cara tidak menghindari pajak. Keadilan pajak menghendaki seseorang tidak lari dari membayar pajak dan tidak boleh melebihi batas-batas yang sudah ditentukan dalam perpajakn serta tidak membebani masyarakat.
Menurut Yusuf Qardawi, Prinsip-prinsip keadilan antara pajak dan zakat meliputi 4 prinsip, yaitu423 :
Pertama adalah prinsip keadilan, yang meliputi
420 Ahmad bin, Ali bin hajar al-Asqalani, Bulugh al-Maram min „Adillah al-„ahkam (bairut : Dar al-Fikr, 2001), h.114
421 Sjechul Hadi Permono, ”Pendayagunaan Zakat disamping Pajak dalam Rangka
Pembangunan Nasional”, Disertasi,(Jakarta : IAIN Syarif Hidayatullah, 1988), h. 119.
422 Gazy, Inayah. 1995. Al-Iqtishod al-Islami az-Zakah wa ad-Dharibah. Dirasah Muqaranah. Diterjemahkan oleh Zainudin Adnan dan Nailul Falah. 2003. Teori Komprehensif
Tentang Zakat dan Pajak. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya. hlm. 48
423
127
1) Sama rata dalam kewajiban zakat dan pajak
Setiap muslim yang mempunyai satu nisab zakat adalah wajib zakat tanpa memandang bangsa, warna kulit, keturunan, atau kedudukan dalam masyarakat, laki-laki, perempuan, pemerintah, yang diperintah, pemimpin agama, pemimpin negara, semua sama. Dalam pajak terdapat asas kesamaan, yaotu bahwa seseorang dalam keadaan yang sama hendaknya dikenakan pajak yang sama. Dalam asas kesamaan equality (asas persamaan) tidak boleh suatu negara mengadakan diskriminasi di antara wajib pajak.424
2) Membebakan harta (zakatdan pajak) yang kurang senisab atau batas yang telah ditentukan Untuk tercapainya suatu keadilan, Islam dalam kewajiban zakat membebaskan harta yang sedikit dari kewajiban zakat. Zakat tidak diwajibkan kecuali bagi harta yang mencapai satu nisab. Hal ini dimaksudkan agar pemungutan zakat dari kelebihan akan mudah bagi jiwa dan tidak berat bagi
tabiat manusia.425 Begitu pula dengan asas perpajakan yang
membebaskan pajak bagi yang pendapatannya di bawah basic
need.
3) Larangan berzakat dan pajak dua kali Keadilan pajak keuangan Islam menetapkan prinsip penyatuan aplikasi zakat dan tidak ada zakat ganda untuk mencegah pemaksaan bagi pemilik harta, adanya unsur kedzaliman, penghalang harta, dan pemeliharaan kemampuan beban harta. Di antara pelaksanaan prinsip yang paling tampak adalah undang-undang yang diuraikan Rasulullah SAW. Dalam sabdanya:
لا
نىث
في
ةقدصلا
424Bohari, Pengantar Hukum Zakat, cet V, (Jakarta: Rajawali Pers, 2004), 41.
425
128
Berdasarkan hadits tersebut ibnu Qudamah menetapkan bahwa tidak boleh mewajibkan zakat dua kali dalam setahun dengan satu sebab.
4) Besar zakat dan pajak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Semakin mudah memperoleh semakin besar zakatnya, seperti halnya zakat pertanian ada yang 10% dan 5%.
5) Memperhatikan kondisi dalam pembayaran pajak dan zakat. Dengan memperhatikan besarnya pendapatan, beban keluarga, hutang-hutang yang dimiliki, dipngut dari pendapatan bersih. Keadilan pajak mempertimbangkan beban kemampuan pembayar pajak, sebab pajak ditentukan tidak berdasarkan nisab, sedangkan zakat diambil karena ada unsur kelebihan kebutuhan pemilik harta dan kebutuhan keluarganya.
6) Keadilan dalam praktek pajak dan zakat. Islam memberikan perhatian isimewa dan hati-hati terhadap pelaksana pemungut zakat (amil), yaitu dengan persyaratan yang tinggi untk menjadi amil, dan posisi yang mulia bagi mereka. Seperti Hadts: “Orang yang bekerja memungut sedekah dengan benar adalah seperti orang yang berperang di jalan Allah” (Hadits Sahahih)
Kedua adalah prinsip kepastian. Kepastian pajak ditetapkan
kepada para subjek pajak dengan cara yang pasti, tidak tersembunyi, baik mengenai waktu, tata cara, jumlah setoran, harus terang dan jelas bagi subjek pajak dan bagi siapa pun. Kepastian itu sangat era hubungannya dengan kestabilan pajak. Apabila subjek pajak telah biasa menyerahkan pembayaran pajak tertentu, maka ia pun merasakan adanya kepastian dalam persoalannya.
Stabilnya pergaulan hidup dan hubungan manusia akan mendorong ke arah berkembangnya kemajuan ekonomi. Keadaannya dapat disamakan dengan pajak. Banyaknya perubahan mengenai aturan-aturan perpajakn tidak diragukan lagi akan mengakibatkan hilangnya kepercayaan dan timbulnya keraguan di kalangan
129
masyarakat.426 Kaedah kepastian dalam zakat terlihat karena Allah SWT telah mewajibkan dalam kitabNya dan telah menentukan kadarnya melalui rasulNya.
Prinsip ketiga adalah prinsip kelayakan. Pajak seharusnya dilakukan ketika wajib pajak itu dalam keadaan senang. Misalnya: pmungutan pajak bumi dan bangunan terhadap para petani, sebaiknya dipungut pada saat mereka memperoleh uang yaitu pada saat panen. Prinsip ini menekankan untuk menjaga perasaan wajib pajak, dan berlaku sopan terhadap mereka. Hal ini untuk menarik simpatik sehingga mereka dengan sukarela akan menyerahkan pajak itu tanpa ada rasa ragu dan terpaksa karna perlakuan yang kurang baik.
Dalam memungut zakat tidak diperbolehkan memungut harta yang terbaik tapi diperintahkan untuk memungut harta yang pertengahan. Pada prinsip ini menghendaki perolehan zakat untuk melestarikan harta dari muzakki, untuk itu tidak boleh mengambil harta yang terbaik juga tidak boleh mengambil harta yang terjelek, tetapi harta yang dikeluarkan adalah harta yang tengah-tengah.
Prinsip keempat dalam prinsip keadilan antara pajak dan zakat adalah prinsip ekonomis. Maksud prinsip ekonomis pajak adalah ekonomis dalam biaya pemungutan pajak, dan menjauhi berbagi pemborosan. Biaya yang dikeluarkan oleh negara untuk biaya gaji pegawai pajak, biaya administrasi dan peralatan, serta biaya transportasi harus dikeluarkan oleh para wajib pajak ke tempat kantor penyetoran pajak dan harus bersifat ekonomis. Asas ini menekankan bahwa biaya pemungutan pajak tidak boleh lebih dari hasil yang akan diterima.
Islam memerintahkkan untuk berlaku sederhana dan ekonomis, dan melarang pemborosan serta berlebih-lebihan. Apabila
426 Dikutip dari Mubadi Ilmil-Mahiah al-Ammah (Prinsip-prinsip Ilmu Keuangan Umum), Dr. Muhammad fuad Ibrahim, 267.
130
dikaitkan dengan zakat, maka hukum Islam sangat kompeten untuk tidak berbuat aniaya dalam penarikan zakat, baik dari para amilnya atau dari wajib zakat serta melarang menerima hadiah sebagai penarik zakat.
j. Dinamika Pengelolaan Zakat di Aceh427
Perkembangan pengelolaan zakat di Aceh sama halnya dengan kondisi umum perkembangan pengelolaan zakat di tanah air, yaitu pada mulanya dilakukan secara tradisional dikarenakan belum adanya lembaga pengelolaan formal. Keadaan ini berlangsung relatif lama, dimana zakat yang dipahami secara umum adalah zakat fitrah dan zakat padi yang telah terbiasa mereka amalkan secara turun temurun yang diserahkan langsung kepada para ulama (teungku setempat). Sedangkan untuk zakat peternakan hampir tidak ditemukan karena jumlah ternak dan persyaratan saum (merumput sendiri) menjadi alasan tidak terpenuhinya syarat zakat peternakan, sedangkan zakat dari sektor perniagaan sedikit lebih baik dibandingkan zakat peternakan.
Dilihat dari segi pemahaman masyarakat tentang ibadah ini, ternyata sangat terbatas dari kalangan tertentu saja, yaitu mereka yang pernah belajar di pondok-pondok pesantren dan sekolah-sekolah agama. Sampai dekade tahun 1960 an pengelolaan zakat masih dilakukan secara tradisional dan belum adanya intervensi Pemerintah Daerah.
Pembentukan lembaga formal pengelolaan zakat di Aceh mulai dirintis tahun 1973 dengan nama Badan Penertiban Harta Agama (BPHA) melalui Keputusan Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh Nomor 5 Tahun 1973, tentang pembentukan BPHA. Pada tahun 1976 Badan ini kemudian berubah menjadi Badan Harta Agama (BHA).
427
Armiadi, Pentadbiran Zakat di Baitul Mal Aceh: Kajian Terhadap Permodalan Zakat
131
Dengan keluarnya Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Tahun 1991, tentang Pembentukan Badan Amil Zakat,Infaq dan Sedekah (BAZIS), BHA di Aceh berubah menjadi BAZIS pada tahun 1993. Bazis ini terdiri dari Bazis Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan dan BAZIS Kelurahan/Desa.
Perjalanan BAZIS Aceh selama 9 tahun, yakni dari tahun 1993 – 2004 terkesan lamban dan tidak begitu berkembang. (Amrullah: 2010). Perkembangan yang lumayan maju dan agak menonjol terjadi mulai di tahun 1995 sehubungan dengan pemungutan zakat dari para Pegawai Negeri Sipil (PNS) di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota. Namun kondisi ini tidak berlangsung lama karena kondisi keamanan terganggu pada tahun 1997.
Ketika lahirnya Undang-undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang pengelolaan zakat yang berlaku secara nasional, pada tahun yang sama juga keluar Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Keistimewaan Aceh. Turunan dari Undang-undang yang disebut terakhir adalah keluarnya Peraturan Daerah (Perda) Tahun 2000 Tentang Pelaksanaan Syari‟at Islam. Salah satu dari isi Perda tersebut adalah membentuk Badan Baitul Mal. Badan ini baru dibentuk pada tahun 2003 melalui Keputusan Gubernur Nomor 18 Tahun 2003 (yang seharusnya dibentuk dengan Qanun/Perda) dan baru mulai beroperasi pada tahun 2004.
Selanjutnya setelah tercapainya MoU Helsinki antara Pemerintah dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tanggal 15 Agustus 2005, maka lahirlah Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Dalam Pasal 191 secara jelas disebutkan pembentukan Baitul Mal sebagai lembaga pengelola zakat, harta wakaf dan harta agama akan dibentuk dengan Qanun Aceh.
Disamping itu ada dua pasal lagi menyangkut dengan perzakatan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006, yaitu: Pasal 180 ayat (1) huruf d, zakat merupakan Penghasilan Asli
132
Aceh (PAA) dan Penghasilan Asli kabupaten/kota (PAK). Pasal 192 menetapkan pembayaran zakat dapat mengurangi jumlah pajak penghasilan terhutang dari wajib pajak. Hal ini berbeda dengan ketentuan yang diatur dalam undang-undang. PPh sendiri (Undang - Undang Nomor 17 Tahun 2000) yang menetapkan zakat hanya dapat