• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Konseptual

2.1.5 Pengembangan Budaya 5S

Pengembangan budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) dilingkungan sekolah dasar diawali dengan guru melakukan pembiasaan budaya 5S

14

(Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun). Guru melakukan budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) kepada siswa akan membuat siswa mengikuti dan terbiasa dalam melakukan budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun). Suryadi dan Mushlih (2019: 80) menyebutkan yang diperlukan warga sekolah dalam pengembangan budaya sekolah adalah sekolah menerapkan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan sekolah yang demokratis; membentuk budaya kerjasama;

menumbuhkan budaya profesionalisme warga sekolah, menciptakan iklim sekolah yang kondusif akademis; dan sekolah menumbuh kembangkan keragaman budaya dalam kehidupan sekolah.

Strategi dalam mengembangkan budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) dilingkungan sekolah menurut Suryadi dan Mushlih (2019: 80) yaitu kepala sekolah yang bermaksud mengubah budaya sekolah harus memahami budaya yang sudah ada, karena pengembangan budaya sekolah sangat mempengaruhi hubungan warga sekolah. Disamping itu, dalam mengembangkan budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) dilingkungan sekolah adalah mempelajari baik-buruknya suatu budaya yang telah dilakukan atau sedang diterapkan pada lingkungan sekolah serta cara mengatasi permasalahan yang ada pada saat pelaksanaan. Hal ini bertujuan agar dalam pengembangan budaya tersebut meminimalisisr permasalahan yang akan terjadi diwaktu yang mendatang.

Berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa pengembangan budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) pada siswa yaitu untuk menumbuhkan karakter baik dan membiasakan siswa untuk selalu menerapkan 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) terhadap orang yang lebih tua maupun teman sebaya. Budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) perlu dikembangkan dilingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat. Siswa akan terbiasa untuk melakukan 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) terhadap orang yang dijumpainya disekolahan maupun diluar sekolah.

15 2.1.6 Penanaman Budaya 5S

Penanaman budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) pada siswa Sekolah Dasar memiliki tingkat kesulitan yang dapat diperhatikan. Semakin berkembangnya teknologi informasi maka semakin bergesernya moral dan karakter pada diri siswa. Hal ini dikarenakan siswa akan selalu memusatkan dirinya pada diri sendiri, teknologi informasi dan melakukan sesuatu sesuai dengan rasa keingintahuannya tanpa memperhatikan sebab-akibat yang akan ditimbulkan. Oleh karena itu, pihak sekolah mempunyai adil besar dalam menanamkan budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun). Untuk membentuk dan menanamkan budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) adalah dengan melakukan suatu pembiasaan, guru memberikan nasehat, memberikan contoh dari keteladanan, memberikan perhatian dan adanya pemberian hukuman.

Annisa (2019 :198) mengatakan bahwa penanaman budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) secara maksimal akan memberikan manfaat yang besar dalam pembentukan karakter siswa. Sehingga apabila dilaksanakan terus menerus maka nantinya akan membentuk budi pekerti yang luhur pada siswa. Hal ini sejalan dengan Anggraeni (2019 : 152) yang menyatakan bahwa penanaman budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) pada peserta didik harus dilakukan secara terus menerus. Penanaman dilakukan melalui keteladanan dari bapak ibu guru, kegiatan spontan guru kepada peserta didik atau sebaliknya dan melalui kegiatan rutin yang di dalamnya mengandung budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) tanpa harus menunggu komando dari bapak ibu guru, peserta didik akan secara otomatis melaksanakan budaya 5S yang telah di programkan oleh sekolah.

Penanaman budaya 5S pada siswa Sekolah Dasar memerlukan seorang pendidik atau guru untuk dijadikan contoh dan dijadikan tauladan bagi siswanya.

Asmani (2011: 74) mengatakan bahwa guru merupakan teladan bagi siswa yang memiliki peran yang sangat besar dalam pembentukan karakter siswa. Guru adalah seorang yang digugu dan ditiru, seorang yang menjadi contoh bagi para siswanya.

Guru selain bisa untuk mendorong siswanya untuk lebih berprestasi dibidang

16

akademik maupun non akademik, guru juga menjadi pengawas atau pembimbing sisw agar berperilaku sesuai aturan yang ada disekolah.

Peran guru di Sekolah Dasar dalam penanaman budaya 5S pada siswa penting, karena pendidikan akhlak dan karakter yang baik pada siswa akan lebih mudah diterapkan melalui guru yang ada disekolah. Setiap guru yang mengajar dikelas hendaknya menjadi contoh teladan bagi siswa, terutama dalam akhlak, kedisiplinan, sikap, maupun cara berfikirnya. Pada dasarnya guru atau pendidik menciptakan sebuah gambaran yang akan selalu dijadikan contoh oleh seorang siswa. Maka dari itu peran guru dalam penanaman budaya 5S ini tidak hanya memberikan materi pelajaran dikelas, tetapi juga pelajaran yang ada diluar kelas dengan berperilaku yang memberikan suri tauladan. Rohani (2018: 321) menyatakan bahwa dalam pembentukan karakter siswa, peran guru sangatlah vital sebagai sosok yang di idolakan serta sebagai sumber inspirasi dan motivasi murid-muridnya. Perilaku dan sikap seorang guru sangatlah membekas didalam diri seorang siswa, sehingga kepribadian seorang guru dan ucapannya akan menjadi cermin seorang siswa.

Peran orangtua dalam menanamkan budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) juga sangatlah penting dalam pembentukan karakter anak serta membiasakan pengaruh besar dalam keberhasilan penanaman 5S pada siswa Sekolah Dasar. Dalam upaya pembentukan generasi penerus yang baik secara iman, taqwa, dan akhlak yang terpuji perlu ditanamkan dan dibiasakan melakukan 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) pada semua orang sedini mungkin. Ginanjar (2013: 234) menyatakan bahwa seorang anak adalah generasi yang datang. Hitam dan putihnya generasi yang akan datang sangat ditentukan oleh kegigihan para orangtua dalam menanamkan karakter serta nilai-nilai atau ajaran agama yang benar.

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam penanaman budaya 5S (senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) pada siswa Sekolah Dasar perlu dilakukan secara berulang-ulang dan terus menerus agar siswa terbiasa menerapkan budaya 5S dalam kehidupan maupun kegiatan setiap harinya. Selain itu dapat menjadikan siswa-siswi tidak menghilangkan nilai-nilai sosial yang paling mendasar

17

dalam kehidupannya sehari-hari dalam bermasyarakat, baik bersosialisasi di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Apabila ditanamkan ditanamkan secara berulang-ulang dan terus menerus, maka budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) akan melekat dan tertanam pada diri siswa.

2.2 Kajian Penelitian Relevan

Penelitian ini bermaksud untuk menambah wawasan dalam mendeskripsikan beberapa penelitian sebelumnya dengan penelitian yang akan dilakukan oleh Maulidah (2019), Annisa (2019), dan Anggraeni (2019). Berikut penjelasan mengenai penelitian relevan yang digunakan oleh peneliti.

Maulidah (2019), hasil penelitian menunjukkan manajemen Implementasi Budaya 5S di SDN Suruh Sidoarjo dapat disimpulkan bahwa manajemen program tersebut sudah baik. Manajemen ini meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

Dalam proses perencanaan program tersebut sudah masuk dalam Kurikulum sekolah, namun tidak memiliki jam pelajaran khusus melainkan menjadi aktivitas dan budaya warga sekolah. Budaya ini melalui pembiasaan budaya 5S di lingkungan sekolah.

Tugas guru, staff dan karyawan sebagai pelaksana, sedangkan siswa sebagai objeknya. Dalam proses pelaksanaannya di lingkungan sekolah guru, staff dan karyawan wajib memberi contoh atau teladan dalam mewujudkan program ini.

Tanggung jawab sebagai pelaksana program mensukseskan program itu sendiri.

Guru, staff dan karyawan wajib hadir lebih awal dan menyambut siswa dengan senyum, sapa, salam serta memberi contoh yang sopan dan santun. Nilai-nilai karakter yang digagas dalam budaya 5S dicontohkan juga sebelum masuk kelas guru berdiri di depan kelas serta siswa satu persatu memasuki ruang kelas dengan salim dulu terhadap gurunya sehingga perilaku pada anak akan terbentuk melalui sebuah kebiasaan. (Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar)

Annisa (2019), hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) dalam pembentukkan Karakter siswa/siswi di SD Muhammadiyah aspen, Yogyakarta. Setelah melakukan penelitian, ada beberapa data yang diperoleh di lapangan. Data tersebut akan diuraikan sebagai berikut :

18

Budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) dilakukan di berbagai titik, diantaranya : Depan sekolah (dapat dilihat pada lempira); pintu masuk sekolah (dapat dilihat pada lampiran); posko afektif yait ruang depan UKS, lab komputer, dan pintu ruang kelas. Pelaksanaan afektif ini berdasarkan jadwal yang telah di tentukan. (1) Pengaruh Budaya 5s (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) dalam pembentukan Karakter siswa/siswi di SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta dapat dilihat salah satunya pada aktifitas-aktifitas siswa-siswi di rumah. Oleh karena itu peneliti melakukan wawancara kepada beberapa orangtua. Adapun hasil wawancara kepada orangtua siswa/siswi adalah sebagai berikut : a. Lebih berani memulai salam kepada yang lebih tua, b. Menghormati yang lebih tua, c. Memberi salam pada saat masuk dan keluar rumah. (Jurnal Teknologi Pendidikan Madrasah)

Anggraeni (2019), hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Pelaksanaan pendidikan karakter yang ada di Madrasah Ibtidaiyah Bustanul Ulum Kota Batu meliputi pembiasaan-pembiasaan yang di mulai dari hal kecil agar peserta didik menjadi siswa yang berperilaku baik. Pendidikan karakter yang ada di madrasah antara lain shalat dhuha dan dhuhur berjamaan, membaca yasin dan tahlil, tersenyum ketika bertemu bapak ibu guru atau sesama warga madrasah, sopan dan santun kepada bapak ibu guru. (2) Implementasi nilai-nilai karakter melalui budaya Madrasah di Madrasah Ibtidaiyah Bustanul Ulum yaitu karakter religious, mandiri dan disiplin dan untuk implementasinya menyesuaikan nilai-nilai karakter apa yang dilaksanakan. Ada yang sudah terjadwal secara rutin dan spontan. (3) Penerapan budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) di Madrasah berlaku secara permanen. Budaya ini dilaksanakan secara terus menerus. Pelaksanaan ada yang melalui keteladanan dari bapak ibu guru, kegiatan spontan guru kepada peserta didzik atau sebaliknya dan yang terakhir melalui kegiatan rutin yang di dalamnya mengandung budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) tanpa harus menunggu komando bapak ibu guru, peserta didik akan secara otomatis melaksanakan budaya Madrasah yang telah di program//mkan oleh Madrasah. (Jurnal Pendidikan Madrasah Ibtidaiyyah)

19

Tabel 2.1 Penelitian Relevan No Nama

Peneliti

Judul

Penelitian Persamaan Perbedaan Orisinilitas 1. Fitrotul

20

Berdasarkan dari ketiga penelitian yang relevan tersebut dapat disimpulkan bahwa budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) sangat efektif ditanamkan pada siswa Sekolah Dasar untuk pembentukan karakter siswa. Penanaman budaya 5S dapat dilakukan pada lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Perbedaan dari penelitian yang relevan ini adalah menganalisis terhadap budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) untuk menumbuhkan nilai karakter. Pada penelitian ini membahas tentang penanaman budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) pada siswa Sekolah Dasar.

2.3 Kerangka Teori

Penanaman budaya 5S pada siswa Sekolah Dasar yang ada di Desa Margorejo Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus dapat tertanam dengan adanya pembiasaan-pembiasaan baik yang diterapkan di lingkungan desa. Budaya 5S yaitu Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun. Siswa Sekolah Dasar yang ada di Desa Margorejo Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus diharapkan untuk memiliki sikap ramah seperti berbicara dengan sopan dan bertegur sapa apabila bertemu dengan seseorang, memiliki etiket seperti terbiasanya siswa mengatakan kata maaf dan terimakasih, memiliki sikap ramah seperti terbiasanya siswa untuk memberikan senyuman, sapaan, dan salam kepada seseorang, peduli sesama seperti terbiasanya siswa untuk saling berbagi kepada orang yang membutuhkan, dan diharapkan siswa selalu menjunjung tinggi etika budaya seperti terbiasanya siswa untuk bertutur kata jujur dalam kehidupan sehari-hari. Ketika siswa Sekolah Dasar yang ada di Desa Margorejo Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus sudah memiliki sikap seperti itu, maka tertanamanlah budaya 5S (senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) pada siswa.

21

Gambar 2.1 Kerangka Teori Penanaman budaya 5S pada Siswa

Budaya 5S

Senyum Sapa Salam Sopan Santun

Siswa yang menerapkan budaya 5S

1. Memiliki Sikap Ramah 2. Memiliki Etiket

3. Memiliki Sikap Hormat 4. Peduli Sesama

5. Menjunjung Tinggi Etika Budaya

Tertanamlah budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) pada siswa Sekolah Dasar, perilaku dan sikap siswa

menjadi lebih baik, dan lebih menggunakan bahasa dengan baik dan sopan ketika sedang berbicara

22 2.4 Kerangka Berfikir

Kerangka berpikir merupakan kerangka yang bersifat konseptual mengenai hal-hal yang akan diteliti. Kerangka berfikir menggambarkan hubungan antara konsep-konsep atau variabel-variabel yang akan diteliti oleh peneliti. Seperti halnya penelitian yang dilakukan di Desa Margorejo Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus mengenai penanaman budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun).

Pelaksanaan budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) pada siswa Siswa Sekolah Dasar yang ada di Desa Margorejo Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus mengalami penurunan. Menanamkan budaya 5S pada siswa SD yang ada di Desa Margorejo Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus dengan pembiasaan-pembiasaan baik yang dilakukan sedini mungkin, dimulai dengan melatih anak-anak untuk bersikap baik dan sopan ketika bertemu dengan orangtua yang ada dilingkungan desa.

Serta apa saja faktor penghambat dan pendukung dalam penanaman budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) pada siswa.

Siswa Sekolah Dasar yang ada di Desa Margorejo Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus dikatakan tertanamkan budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) apabila memiliki sikap ramah, memiliki etiket, memiliki sikap hormat, peduli sesama, dan menjunjung tinggi etika budaya. Setelah melakukan pembiasaan-pembiasaan baik yang dilaksanakan di Desa Margorejo Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus diharapkan siswa menjadi pribadi yang lebih baik, berakhlak mulia dan bermoral, dan tertanam budaya 5S pada siswa Sekolah Dasar.

Berikut skema kerangka berfikir pada penelitian ini yakni, sebagai berikut:

23

Gambar 2.2 Kerangka Berfikir

Rendahnya Siswa Sekolah Dasar dalam melaksankan 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun)

Menanamkan budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) pada

Siswa Sekolah Dasar.

Faktor Penghambat dan pendukung penanaman 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) pada Siswa

Sekolah Dasar

Indikator Budaya 5S (Rahayu, 2017: 132):

1. Memiliki Sikap ramah.

2. Memiliki etiket.

3. Memiliki sikap hormat.

4. Peduli sesama.

5. Menjunjung tinggi etika budaya.

Putri (2020: 40-42) menyebutkan bahwa faktor penghambat dan faktor pendukung dalam penanaman 5S yaitu:

1. Kurikulum

2. Lingkungan Sekolah 3. Lingkungan Keluarga 4. Lingkungan Masyarakat

Penanaman Budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) pada siswa Sekolah Dasar dapat tertanam dan dapat mengetahui faktor pendukung dan

faktor penghambat penanaman budaya 5S.

24 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Margorejo Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus dan proses penelitian ini memperdalam tentang penanaman Budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) pada siswa Sekolah Dasar. Waktu penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan September 2020 sampai bulan Agustus 2021.

3.2 Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif secara deskriptif. Penelitian kualitatif ini dilakukan dengan pengumpulan data yang dilakukan secara deskriptif atau dokumentasi yang dapat diperoleh melalui kegiatan observasi. Data didapatkan melalui transkip-transkip wawancara, catatan data lapangan, dokumentasi pribadi, foto-foto dan lain-lainnya. Sudaryono (2017:91) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif yaitu penelitian untuk menganalisis kehidupan sosial dengan cara menggambarkan dunia sosial dari sudut pandang interprestasi informan dalam latar alamiah.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode kualitatif bermaksud untuk meneliti penanaman budaya 5S (Senyum, sapa, salam, Sopan dan santun) pada siswa Sekolah dasar.

3.3 Peranan Penelitian

Peran peneliti sangat penting dalam penelitian kualitatif ini supaya dapat mencapai hasil yang diharapkan. Peneliti bertanggung jawab atas penelitian yang dilakukan, mulai dari menciptakan ide, merencanakan penelitian, pengumpulan data, pengolahan data, analisis data, dan menyimpulkan hasil penelitian. Selain mengumpulkan data, peneliti juga berperan sebagai pendamping objek yang akan diteliti. Keterlibatan peneliti dalam suatu penelitian dapat menentukan keberhasilan

25

suatu penelitian. Selama berlangsungnya penelitian, peneliti melakukan observasi atau pengamatan terhadap subjek penelitian, wawancara kepada sumber data atau yang terlibat diantaranya adalah guru dan siswa.

3.4 Data dan Sumber Data 3.4.1 Data

Data merupakan berbagai informasi yang dikumpulkan oleh peneliti untuk mendukung sebuah penelitian yang berupa fakta dan angka yang mampu dijadikan bahan untuk menyusun sebuah informasi (Sugiyono, 2016: 308). Data informasi penting yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data kualitatif. Data lebih banyak berupa uraian kata-kata. Penelitian ini diperoleh secara lisan maupun tulisan yang merupakan hasil observasi dan wawancara dari guru dan siswa.

Data primer dalam penelitian ini berupa data hasil observasi dan wawancara kepada guru yang ada di desa Margorejo dan siswa-siswi yang memberikan keterangan tentang penanaman budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) pada siswa Sekolah Dasar. Sedangkan data sekunder dalam penelitian ini berupa buku referensi dan jurnal tentang penanaman budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) pada siswa-siswi.

3.4.2 Sumber Data

Sumber data adalah subjek data yang diperoleh. Sumber data pada penelitian ini adalah siswa dan guru kelas yang akan memberikan informasi secara langsung dengan melakukan wawancara. Sumber data dibedakan menjadi dua yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data. Sedangkan data sekunder adalah sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau dokumen.

Sumber data primer dalam penelitian ini adalah 6 Orangtua Siswa SD di Desa Margorejo, 4 Guru yang ada di desa Margorejo, dan 6 Siswa SD. Sedangkan data

26

sekunder dalam penelitian ini di dapatkan melalui dokumentasi, catatan penelitian, dan pendukung lainnya.

3.5 Teknik Pengumpulan data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yakni : 1) Observasi, 2) Wawancara, 3) Dokumentasi, dan 4) Catatan Lapangan.

1. Observasi

Sugiyono (2016:203) menjelaskan bahwa observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Observasi yaitu adanya perilaku seseorang yang tampak seperti perilaku yang dilihat secara langsung oleh mata, didengar oleh oleh telinga, dihitung, dan diukur oleh seseorang (Herdiansyah, 2011:131). Kegiatan observasi meliputi melakukan pencatatan secara sistematik kejadian-kejadian, perilaku, tindakan, obyek yang diamati dan hal-hal lain yang diperlukan untuk mendukung sebuah penelitian yang akan dilaksanakan (Jonathan, 2006:224).

Observasi yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah observasi partisipatif karena peneliti berperan dalam kegiatan observasi. Sugiyono (2016:204) observasi partisipatif merupakan observasi dimana peneliti atau observer ikut terlibat langsung dalam kegiatan pengamatan dilapangan. Peneliti akan melakukan observasi terhadap beberapa hal yang terkait dengan penanaman budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) pada siswa Sekolah Dasar. Melalui pengamatan langsung diharapkan dapat memperoleh data yang dibutuhkan dalam menunjang hasil penelitian. Adapun kisi-kisi observasi terdapat pada lampiran 2.

2. Wawancara

Wawancara adalah kegiatan yang dilakukan dengan Tanya jawab oleh pewawancara kepada narasumber secara tatap muka dan diperkuat dengan adanya pertanyaan. Gunawan (2013:194) menyatakan bahwa wawancara adalah suatu kegiatan Tanya jawab secara langsung antara pewawancara dengan narasumber

27

terkait masalah yang diteliti, dimana pewawancara memiliki tujuan untuk memperoleh persepsi, sikap, dan pola pikir dari narasumber yang relevan dengan dengan masalah yang akan diteliti. Wawancara dapat dilakukan melalui tatap muka maupun melalui telepon. Wawancara adalah cara pengumpulan data dengan Tanya jawab secara langsung, peneliti bertanya secara lisan kepada narasumber untuk memperoleh jawaban secara akurat (Rubiyanto, 2011:83).

Jenis wawancara ada dua macam yaitu wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Wawancara terstruktur merupakan wawancara yang dilakukan secara terencana dan terlebih dahulu menyiapkan instrument penelitian berupa pertanyaan tertulis. Sedangkan, wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang dilakukan dengan bebas, dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang disusun secara legkap untuk mengumpulkan data (Sugiyono, 2016:194). Adapun kisi-kisi wawancara terdapat pada lampiran 3.

Berdasarkan pendapat diatas, peneliti menggunakan wawancara secara terstruktur untuk mendapatkan data yang valid. Berikut ini merupakan narasumber yang akan diwawancarai oleh peneliti:

1) 6 Orangtua Siswa.

2) 4 Guru.

3) 6 Siswa Sekolah Dasar.

3. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan proses pengambilan gambar terhadap kegiatan-kegiatan penting di dalam penelitian. Bungin (2015:124) menjelaskan bahwa dokumentasi yaitu metode yang digunakan peneliti untuk mencari data. Data yang didapatkan dalam penelitian ini seperti, surat, foto, dan lain sebagainya. Seluruh kegiatan yang berpengaruh dalam proses penelitian selama dilapangan, seperti observasi, wawancara, dan lainnya didokumentasikan dalam bentuk foto atau gambar. Foto tersebut akan dijadikan sebagai data pendukung dari data yang diperoleh. Dokumentasi juga dijadikan sebagai bukti nyata bahwa peneliti telah

28

melakukan penelitian tentang penanaman terhadap budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) pada siswa Sekolah Dasar.

4. Catatan Lapangan

Catatan lapangan menjadi salah satu hal penting dalam proses pengumpulan data untuk peneliti. Catatan lapangan pada penelitian kualitatif berupa observasi dan wawancara dalam proses pengumpulan data dilapangan. Pencatatan dilakukan secara sederhana, yaitu dengan mencatat pada buku catatan selain itu pencatatan bisa dilakukan dengan lembar observasi. Pada penelitian ini, peneliti menggunkan keduanya agar bisa mengumpulkan data yang sesuai dengan kebutuhan penelitian.

3.6 Keabsahan data

Pada penelitian kualitatif peneliti harus mampu mengungkapkan kebenaran yang obyektif, karena keabsahan data dalam penelitian kualitatif sangat penting sehingga dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Sugiyono (2016:366) mengemukakan bahwa temuan atau data dapat dinyatakan valid apabila tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan peneliti dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti. Keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi :

1. Pengujian Creadibilitas

Uji kreadibilitas atau uji kepercayaan terhadap peneliti yang akan disajikan oleh peneliti agar hasil penelitian yang dilakukan dapat dipercaya kebenarannya. Pada tahap ini ditunjukkan dengan adanya temuan hail observasi guru, penanaman budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) pada Siswa kemudian data bisa diperoleh dari wawancara dan dokumentasi.

2. Pengujian Transferability

Uji data yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana hasil penelitian dapat diterapkan dalam kasus lain. Oleh karena itu peneliti dalam membuat laporan

29

harus memberikan uraian yang rinci, jelas, sistematis, dan dapat dipercaya.

Pada tahap ini ditunjukkan terhadap kritik dan dilakukan interprestasi data, kemudian data tersebut akan disambungkan menjadi data baru.

3. Pengujian Dependability

Uji dependability disebut juga relibitas yang dilakukan dengan melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Dalam uji dependability dilakukan oleh pembimbing untuk mengaudit kegiatan peneliti dalam melakukan penelitian. Data yang berkaitan dengan penanaman budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) mampu berdampak pada pembentukkan karakter siswa.

4. Pengujian Comfirmability

Comfirmability akan berhasil apabila peneliti telah disepakati oleh banyak orang. Apabila hasil penelitian merupakan fungsi proses yang dilakukan, maka peneliti tersebut telah memenuhi standar confirmability.pada tahap ini

Comfirmability akan berhasil apabila peneliti telah disepakati oleh banyak orang. Apabila hasil penelitian merupakan fungsi proses yang dilakukan, maka peneliti tersebut telah memenuhi standar confirmability.pada tahap ini

Dokumen terkait