BAB II KAJIAN TEORI
A. Tinjauan Pengembangan Sikap Spiritual
2. Pengembangan dan Kompetensi Sikap Spiritual dalam Kurikulum 2013
30
b. Pengertian Sikap Spiritual
Frasa “sikap Spiritual” menjadi sebuah terminologi baru dalam dunia pendidikan di Indonesia. Terminologi ini mulai digunakan dalam implementasi kurikulum 2013. Dalam sturuktur kurikulum disebutkan bahwa kompetensi inti peserta didik yang pertama (KI-1) yakni sikap spiritual, kompetensi inti peserta didik yang kedua (KI-2) yakni sikap sosial, kompetensi inti peserta didik yang ketiga (KI-3) yakni pengetahuan, dan kompetensi inti peserta didik yang keempat (KI-$) yakni ketrampilan.32
Sikap spiritual didefinisikan sebagai respon dari seseorang dalam memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah dalam upaya menggapai kualitas diri sebagai insan kamil.
2. Pengembangan dan Kompetensi Sikap Spiritual dalam Kurikulum 2013
a. Konsep pengembangan Sikap Spritual
Pengembangan merupakan sebuah keharusan yang harus diaplikasikan dalam kehidupan. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata pengembangan artinya proses, cara, perbuatan mengembangkan.33 Menurut Undang-Undang Repiblik Indonesia 18 Tahun 2002.
32 Salinan Lampiran Permendikbud, No. 68 th 2013 tentang Kurikulum SMP_MTs, dalam Standar Isi pada bab Struktur Kurikulum, 6.
31
Pengembangan adalah kegiatan yang bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya untuk meningkatkan fungsi, manfaat, dan aplikasi, atau menghasilkan cara baru. Pengembangan secara umum berarti pola pertumbuhan, perubahan secara perlahan (evolution) dan perubahan secara bertahap.34 Menurut seels & Richey pengembangan adalah proses menterjemahkan atau menjabarkan spesifikasi rancangan ke dalam bentuk fitur fisik. Pengembangan secara khusus berarti proses menghasilkan bahan-bahan pembelajaran. Sedangkan menurut Tessmer dan Richey pengembangan memusatkan perhatiannya tidak hanya pada analisis kebutuhan, tetapi juga isu-isu luas tentang analisis awal-akhir, seperti analisis kontekstual.35
Pada hakekatnya pengembangan adalah upaya pendidikan baik formal maupun non formal yang dilaksanakan secara sadar, berencana, terarah, teratur dan bertanggung jawab dalam rangka memperkenalkan, menumbuhkan, membimbing, mengembangkan suatu dasar kepribadian yang seimbang, utuh, selaras, pengetahuan, ketrampilan sesuai dengan bakat, keinginan serta kemampuan-kemampuan, sebagai bekal atas prakarsa sendiri untuk menambah, meningkatkan, mengembangkan diri kearah tercapainya martabat, mutu dan kemampuan manusiawi yang optimal serta pribadi mandiri.36
34 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2002
35 Alim Sumarno. Belajar, “Mengajar, dan Pembelajaran”, dalam
http://blog.elerning.unesa.ac.id/alim-sumarno/belajar-mengajar-dan pembelajaran (5 Januari
2016).
36 Iskandar Wiryokusumo, “Teori Belajar dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran”, dalam Jurnal
32
Dari pendapat para ahli di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengembangan sikap spiritual merupakan usaha yang dilakukan secara sadar, terencanah, terarah untuk membuat atau memperbaiki sehingga meningkatkan kualitas sebagai upaya untuk menciptakan mutu yang lebih baik.
b. Kompetensi Sikap Spiritual pada Kurukulum 2013
Kompetensi Sikap pada Kurikulum 2013 adalah sikap yang bermula dari perasaan yang terkait dengan kecenderungan seseorang dalam merespon sesuatu/objek.
Sikap juga sebagai ekpresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang. Sikap dapat dibentuk sehingga terjadi perilaku atau tindakan yang diinginkan. Kompetensi Sikap yang dimaksud adalah ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang dan diwujudkan dalam perilaku.
Dalam struktur kurikulum 2013 disebutkan bahwa kompetensi inti peserta didik yang pertama (KI-1) yakni sikap spiritual, kompetensi inti yang kedua (KI-2) yakni sikap sosial, kompetensi inti yang ketiga (KI-3) yakni pengetahuan, kompetensi inti yang keempat (KI-4) yakni ketrampilan.37
Menurut Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (2014), dalam Kurikulum 2013 sikap merupakan salah satu dari tiga kualifikasi kemampuan kelulusan, di samping pengetahuan, dan ketrampilan, yang
37 Salinan Lampiran permendikbud, No. 68 th 2013 tentang Kurikulum SMP-MTs, dalam Standar
33
harus menjadi acuan dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Bahkan sikap diberikan porsi yang cukup besar, di Sekolah Dasar 70%, di Sekolah Menengah Pertama 55%, dan Sekolah Menengah Atas 30%. Begitu besar perhatian pada kompetensi sikap yang harus dibelajarkan kepada peserta didik dalam kurikulum 2013 ini. Elemen sikap yang harus dicapai peserta didik dalam kurikulum 2013.
Dalam kompetensi pada sikap spiritual mengacu pada KI-1 baik pada jenjang SD/MI ataupun SMP/MTs. Pada jenjang SD/MI kompetensi sikap spiritual yaitu siswa mampu menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya. Sedangkan pada tingkat SMP/MTs yakni siswa mampu menghargai dan menghayati agama yang dianutnya. Berdasarkan perumusan KI-1 tersebut, maka cakupan, pengertian, dan indikator dari sikap spiritual jenjang SD/MI disajikan dalam table dibawah ini:38
Tabel 2. 1
Cakupan, Pengertian, dan Indikator Spiritual Jenjang SD/MI
Jenjang Pengertian Indikator
SD/MI Siswa mampu
menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya
1. Berdo’a sebelum dan sesudah menjalankan sesuatu
2. Menjalankan ibadah tepat waktu
3. Memberi salam saat keluar masuk kelas 4. Mengikuti kegiatan keagamaan yang
diselenggarakan sekolah
5. Bersyukur atas pemberian orang lain
6. Menghargai orang lain menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya.
38 Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Dasar, Panduan
34
Sedangkan pada jenjang SMP/MTs, disajikan dalam table berikut ini:39
Tabel 2. 2
Cakupan, Pengertian, dan Indikator Spiritual Jenjang SMP/MTs
Jenjang Pengertian Indikator
SMP/MTs Siswa mampu
menghargai dan menghayati agama yang dianutnya
1. Berdo’a sebelum dan sesudah menjalankan sesuatu
2. Menjalankan ibadah tepat waktu
3. Memberi salam pada saat awal dan akhir presentasi sesuai agama yang dianutnya 4. Bersyukur atas nikmat dan karunia Tuhan
Yang Maha Esa
5. Mensyukuri kemampuan manusia dalam mengendalikan diri
6. Mengucapkan syukur ketika berhasil mengerjakan sesuatu
7. Menjaga lingkungan hidup di sekitar rumah tempat tinggal, sekolah, dan masyarakat. 8. Memelihara hubungan baik dengan sesama
umat ciptaan Tuhan Yang Maha Esa
B. Tinjauan Tentang Budaya Sekolah