• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Pengaruh Non Performing Loan terhadap Harga Saham

Menurut Kasmir (2014:169), Non Performing Loan atau risiko kredit adalah risiko dari kemungkinan terjadinya kerugian bank sebagai akibat dari tidak dilunasinya kembali kredit yang diberikan bank kepada debitur. Semakin tinggi rasio NPL maka semakin buruk kualitas kredit yang menyebabkan jumlah kredit bermasalah semakin besar sehingga dapat menyebabkan kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin besar. Apabila NPL naik maka akan berdampak negatif bagi bank karena akan mengurangi jumlah modal yang dimiliki oleh bank tersebut. Semakin kecil NPL maka semakin kecil risiko kredit yang dimiliki oleh bank atau perusahaan tersebut. Apabila NPL turun maka akan berdampak positif bagi bank karena akan mengurangi jumlah kredit bermasalah sehingga dapat menyebabkan kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil. NPL yang semakin kecil tersebut akan meningkatkan harga saham perusahaan perbankan dan memengaruhi keputusan

34

investor dalam menanamkan modal, jadi NPL berpengaruh terhadap harga saham. Penelitian Martanorika (2018) menunjukkan bahwa Non Performing Loan secara parsial berpengaruh negatif signifikan terhadap harga saham. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H1: Non Performing Loan berpengaruh negatif terhadap harga saham perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

2. Pengaruh Loan to Deposit Ratio terhadap Harga Saham

Loan to Deposit Ratio (LDR) merupakan salah satu rasio likuiditas yang menggambarkan kemampuan bank membayar kembali penarikan yang dilakukan nasabah deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebaga sumber likuiditasnya. Semakin tinggi rasio LDR semakin rendah pula kemampuan likuiditas bank (Dendawijaya, 2000:118). LDR yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan perbankan memiliki tingkat likuiditas yang rendah sehingga risiko dalam berinvestasi menjadi tinggi. Dengan nilai LDR yang tinggi, dapat menyebabkan hilangnya kepercayaan masyarakat pada bank yang bersangkutan. Sedangkan LDR yang rendah akan menunjukkan bahwa perusahaan perbankan memiliki tingkat likuiditas yang tinggi sehingga risiko dalam berinvestasi menjadi rendah.LDR yang rendah tersebut dapat memberikan dampak positif berupa kenaikan harga saham dan meningkatkan minat para investor dalam menanamkan modal. Penelitian Martanorika (2018) menunjukkan

bahwa Loan to Deposit Ratio secara parsial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap harga saham. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H2: Loan to Deposit Ratio berpengaruh negatif terhadap harga saham perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

3. Pengaruh Capital Adequacy Ratio terhadap Harga Saham

Capital Adequacy Ratio (CAR) menurut Dendawijaya (2003: 122) adalah rasio yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang mengandung risiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari modal sendiri bank, di samping memperoleh dana dari sumber-sumber di luar bank, seperti dana masyarakat, pinjaman (utang), dan sebagainya. Dengan kata lain, Capital Adequacy Ratio adalah rasio kinerja bank yang digunakan untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko, misalnya kredit yang diberikan. CAR merupakan indikator terhadap kemampuan bank untuk menutupi penurunan aktivanya sebagai akibat dari kerugian-kerugian bank yang disebabkan oleh aktiva yang mempunyai risiko. CAR yang semakin meningkat menunjukkan kemampuan bank yang semakin baik dalam mengelola modalnya untuk mendapatkan laba. Peningkatan CAR diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap perusahaan. Kepercayaan investor yang meningkat tersebut akan dapat merubah permintaan terhadap saham perbankan yang selanjutnya akan

36

berpengaruh terhadap kenaikan harga saham yang bersangkutan. Penelitian Kartadinata (2018) dan Martanorika (2018) menunjukkan bahwa Capital Adequacy Ratio secara parsial berpengaruh positif terhadap harga saham. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H3: Capital Adequacy Ratio berpengaruh positif terhadap harga saham perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

4. Pengaruh Debt to Equity Ratio terhadap Harga Saham

Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio yang menunjukkan perbandingan antara total hutang dengan modal sendiri (ekuitas). Ang (1997) menyatakan bahwa semakin tinggi DER maka akan menunjukkan semakin besar total utang terhadap total ekuitas. Hal ini akan menunjukkan semakin besar ketergantungan perusahaan terhadap pihak luar (kreditur) sehingga tingkat risiko perusahaan semakin besar pula. Investor diharapkan mampu memperhatikan kesehatan perusahaan melalui perbandingan antara modal sendiri dengan modal pinjaman. Penggunaan hutang yang besar dapat mengakibatkan semakin rendahnya kemampuan perusahaan dalam membayar hutangnya sehingga risiko yang dimiliki perusahaan akan meningkat. Semakin tinggi risiko dari penggunaan hutang yang semakin banyak akan cenderung menurunkan harga saham (Bringham dan Houston, 2006:17). Semakin tinggi DER mencerminkan risiko

perusahaan yang relatif tinggi, sehingga pada umumnya investor akan cenderung menghindari untuk membeli saham-saham yang memiliki nilai DER yang tinggi (Ang, 1997). Akibatnya terjadi penurunan permintaan akan saham tersebut sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi harga saham tersebut menjadi turun. Penelitian Takarini dan Hendrarini (2018) serta Yulita dan Rahayu (2019) menunjukkan bahwa Debt to Equity Ratio secara parsial berpengaruh negatif terhadap harga saham. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H4: Debt to Equity Ratio berpengaruh negatif terhadap harga saham perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

5. Pengaruh Return on Assets terhadap Harga Saham

Menurut Santoso (1997: 97), Return on Asset adalah rasio yang menunjukkan kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan. Dengan kata lain, rasio ini digunakan untuk menggambarkan produktivitas bank bersangkutan (berapa banyak kekayaan yang harus dikumpulkan dan dipakai untuk menghasilkan sejumlah tertentu laba). Besarnya ROA diperoleh dengan membagi seluruh laba sebelum pajak yang diperoleh bankdengan total aset bank tersebut. Semakin besar ROA,semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil. Semakin besar ROA menunjukkan kinerja keuangan yang semakin

38

baik, karena tingkat pengembalian perusahaansemakin besar. Apabila ROA meningkat, berarti profitabilitas perusahaan meningkat, sehingga dampak akhirnya adalah peningkatan profitabilitas yang dinikmati oleh pemegang saham. Dengan demikian semakin tinggi ROA perusahaan, semakin menarik bagi investor untuk memiliki saham perusahaan tersebut sehingga hal ini akan meningkatkan harga saham perusahaan tersebut. Penelitian Wijayanto (2015), Paska (2017), Ahmad, Noholo, Mahmud (2018) serta Amanah, Atmanto dan Azizah (2014) menunjukkan bahwa Return on Assets secara parsial berpengaruh positif terhadap harga saham. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H5: Return on Assets berpengaruh positif terhadap harga saham perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

6. Pengaruh Net Profit Margin terhadap Harga Saham

Net Profit Margin (NPM) digunakan untuk mengetahui secara langsung keuntungan bersihnya. Menurut Ang (1997) semakin besar nilai NPM berarti semakin efisien biaya yang dikeluarkan yang berarti semakin besar tingkat pengembalian keuntungan bersih. Nilai NPM berada pada rentang 0 sampai 1, semakin mendekati 1 maka semakin efisien penggunaan biaya, yang berarti bahwa semakin besar tingkat return yang diperoleh. Peningkatan rasio NPM bank dari tahun ke tahun diharapkan dapat merevisi kepercayaan investor terhadap perusahaan. Rasio NPM yang semakin meningkat menunjukkan

kemampuan manajemen yang semakin baik dalam mengelola perusahaan untuk mendapatkan laba bersih. Kepercayaan investor yang meningkatakan dapat menaikkan permintaan akan saham tersebut yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap kenaikan harga saham yang bersangkutan. Penelitian Wijayanto (2015) serta Takarini dan Hendrarini (2011) menunjukkan bahwa Net Profit Margin secara parsial berpengaruh positif terhadap harga saham. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H6: Net Profit Margin berpengaruh positif terhadap harga saham perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

7. Pengaruh Non Performing Loan Ratio, Loan to Deposit Ratio, Capital Adequacy Ratio, Debt to Equity Ratio, Return on Assets dan Net Profit Margin secara simultan terhadap Harga Saham

Menurut (Kasmir, 2014:106) untuk menguji kinerja keuangan terhadap harga saham perusahaan perbankan dapat menggunakan rasio likuiditas, rasio solvabilitas, dan rasio rentabilitas. Rasio likuiditas menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban (utang) jangka pendeknya (Kasmir, 2014:129). Dalam penelitian ini rasio likuiditas diukur dengan Non Performing Loan dan Loan to Deposit Ratio. Semakin tinggi rasio NPL maka semakin buruk kualitas kredit yang menyebabkan jumlah kredit bermasalah semakin besar sehingga dapat menyebabkan kemungkinan suatu bank dalam

40

kondisi bermasalah semakin besar. Semakin tinggi rasio LDR semakin rendah pula kemampuan likuiditas bank (Dendawijaya, 2000:118). LDR yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan perbankan memiliki tingkat likuiditas yang rendah sehingga risiko dalam berinvestasi menjadi tinggi. Rasio solvabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk mengukur sejauh mana aktivitas perusahaan dibiayai dengan hutang (Kasmir, 2014:150). Dalam penelitian ini rasio solvabilitas diukur dengan Capital Adequacy Ratio dan Debt to Equity Ratio. CAR yang semakin meningkat menunjukkan kemampuan bank yang semakin baik dalam mengelola modalnya untuk mendapatkan laba. Peningkatan CAR diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap perusahaan sehingga berpengaruh terhadap harga saham. Semakin tinggi DER mencerminkan risiko perusahaan yang relatif tinggi, sehingga pada umumnya investor akan cenderung menghindari saham-saham yang memiliki nilai DER yang tinggi, karena semakin tinggi risiko dari penggunaan lebih banyak hutang akan cenderung menurunkan harga saham. Rasio rentabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan (Kasmir, 2014:196). Semakin besar ROA menunjukkan kinerja keuangan yang semakin baik, karena tingkat kembalian semakin besar. Apabila ROA meningkat, berarti profitabilitas perusahaan meningkat, sehingga dampak akhirnya adalah peningkatan profitabilitas yang dinikmati oleh pemegang

saham. Semakin besar nilai NPM berarti semakin efisien biaya yang dikeluarkan yang berarti semakin besar tingkat kembalian keuntungan bersih. Nilai NPM berada pada rentang 0 sampai 1, semakin mendekati 1 maka semakin efisien penggunaan biaya, yang berarti bahwa semakin besar tingkat return yang diperoleh. Penelitian Martanorika (2018) menunjukkan bahwa LDR, NPL, CAR, dan NIM secara simultan berpengaruh terhadap harga saham dan penelitian Kartadinata (2018) juga menunjukkan bahwa NPL, CAR dan LDR secara simultan berpengaruh terhadap harga saham. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: H7: Non Performing Loan Ratio, Loan to Deposit Ratio, Capital

Adequacy Ratio, Debt to Equity Ratio, Return on Assets dan Net Profit Margin secara simultan berpengaruh terhadap harga saham perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

42 BAB III

METODE PENELITIAN

Dokumen terkait