BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
C. Pengembangan Hipotesis
DeLone dan McLean (2003) menyatakan bahwa kesuksesan sebuah sistem informasi dipengaruhi oleh kualitas dari informasi. Kualitas informasi dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap individu. Dampak positif yang diharapkan antara lain peningkatan kemampuan dalam pengambilan keputusan, keefektifan kerja dan peningkatan kualitas kerja. Kualitas sebuah informasi dapat dilihat dari beberapa ukuran yaitu ketepatan waktu, akurasi, kelengkapan, relevansi antara informasi dengan pengambilan keputusan serta konsistensi. Poon
Gambar 2 Kerangka Pemikiran H3 H4 H6 Importance of the system System Quality Usefulness Information Quality User Satisfaction H1 H2 H5 H7
and Wagner (2000) menyatakan bahwa selain kualitas dari sistem yang ada, kesuksesan sistem informasi juga ditentukan oleh beberapa faktor lain yang mendukung berjalannya sistem tersebut. Faktor tersebut antara lain dukungan dari pihak eksekutif dan dukungan kemampuan dari staf IT.
Jogiyanto (2007) menyatakan bahwa kualitas informasi mengukur kualitas keluaran dari sistem informasi. Ia juga menyebutkan terdapat penelitian empiris lain yang mengukur kualitas informasi, antara lain :
1). Bailey and Pearson (1983) yang mengukur kualitas informasi berdasarkan akurasi, ketepatan, kekinian, ketepatwaktuan, keandalan, kelengkapan, ketepatan, bentuk dan relevan,
2). Miller and Doyle (1987) yang mengukur kualitas sistem informasi berdasarkan kelengkapan informasi, akurasi informasi, relevansi laporan dan ketepatwaktuan, 3). Rivard and Huff (1985) yang mengukur kualitas informasi berdasarkan pada kegunaan informasi.
Seddon dan Yip (1992) mengindikasikan dari hasil penelitian mereka bahwa kualitas informasi merupakan faktor penentu penting terhadap kepuasan pemakai. Penelitian di Indonesia oleh Radityo dan Zulaikha (2007) memberikan penegasan bahwa kualitas informasi menunjukkan output dari sitem informasi yang berhubungan dengan nilai, manfaat dan relevansi dari informasi yang dihasilkan bagi pengguna sistem. Apabila kualitas informasi baik diharapkan para pengguna sistem dapat memperoleh manfaat lebih dari sistem tersebut sehingga dapat berdampak pada kepuasan pada pemakaian sistem informasi. Berdasarkan uraian-uraian sebelumnya, maka hipotesis pertama adalah sebagai berikut:
H1 : Kualitas informasi (information quality) berpengaruh positif terhadap user satisfaction
Poon dan Wagner (2000) menyatakan bahwa kesuksesan sistem informasi dalam sebuah organisasi diharapkan mampu mengatasi kegagalan-kegagalan yang pernah terjadi dalam organisasi tersebut. Hal ini karena sistem yang ada dalam organisasi akan berpengaruh terhadap keputusan yang diambil oleh manajemen puncak. Tidaklah mudah untuk mendefinisikan kesuksesan sistem informasi. Namun kesuksesan sistem informasi akan sangat dipengaruhi oleh kualitas sistem yang dimiliki. Sistem yang baik dapat dilihat dari beberapa aspek, antara lain : kemudahan akses, pengunaan, kepuasan para pemakai sistem, kemudahan pembaruan dan dampak positif bagi organisasi. DeLone dan McLean (2003) menyatakan bahwa kualitas sistem dapat berdampak kepada para individu pengguna sistem. Dampak tersebut dapat berupa peningkatan kualitas lingkungan kerja dan peningkatan kinerja. Kualitas sistem informasi dapat dilihat dari kemudahan penggunaannya, aspek fungsional, reliabilitas, fleksibilitas, kualitas data dan integrasi data. Kualitas sistem informasi yang baik dapat meningkatkan kepuasan pengguna sistem. Kepuasan pengguna sistem menunjukan bahwa pengguna dapat mengambil manfaat dari keberadaan sistem.
Seddon dan Kiew (1996) menyatakan bahwa kualitas sistem berfokus pada tidak adanya gangguan dalam sistem, konsistensi dari bentuk sistem, kemudahan dalam penggunaan sistem, dokumentasi yang mudah dan terkadang berkaitan dengan pembuatan kode-kode yang mudah dimengerti oleh pengguna. Kemudahan dalam menggunakan hardwere dan software yang ada dalam sistem
diharapkan mampu meningkatkan kinerja sistem. Intinya adalah sistem yang berkualitas diharapkan mudah digunakan namun juga memiliki kemampuan yang optimal ketika digunakan yang berujung pada kepuasan pemakai.
Dalam hal kualitas dari kombinasi hardware dan software dalam sistem informasi, DeLone dan McLlean (2003) menyatakan bahwa. Hardware yang baik akan mempermudah kerja dari para pengguna sistem. Hal yang sering mendapatkan perhatian adalah kecepatan kerja hardware, kemampuan hardware dalam berkerja secara optimal dan bebas dari kerusakan fatal. Hal tersebut akan dikombinasikan dengan penggunaan software yang canggih yang dapat mempercepat kinerja sistem. Dengan kombinasi hardware dan software yang optimal diharapkan kinerja sistem dapat meningkat dan dapat memberikan kepuasaan bagi para penggunanya. Dua kesimpulan tersebut cukup mendukung untuk hipotesis ke dua yaitu:
H2 : Kualitas sistem informasi (system quality) berpengaruh positif terhadap kepuasan pengguna (user satisfaction).
Li (1997) menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi kesuskesan sistem informasi adalah kualitas sistem. Kualitas sistem dapat dilihat dari beberapa indikator, antara lain :
1). Kemudahan ke dalam akses sistem. Sistem yang berkualitas mampu memberikan kemudahan akses bagi para penggunanya.
2). Waktu yang digunakan untuk merespon sistem. Kecepatan sistem dalam menjalankan perintah pengguna akan membuat kerja user meningkat.
3). Fitur dari bahasa komputer yang digunakan. Aspek ini akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan pengetahuan pengguna tentang komputer, namun bahasa komputer yang mudah dipahami dan mudah digunakan menunjukan kualitas sistem yang baik.
4). Realisasi permintaan pengguna. Sistem yang berkualitas mampu memunculkan output sesuai dengan keinginan dan perintah yang pengguna berikan.
5). Korekasi terhadap kesalahan. Sistem yang berkualitas hendaknya dapat menemukan kesalahan yang terjadi. Akan sangat bagus bila sistem bisa melakukan autocorretion terhadap kesalahan yang terjadi. Namun bila hal tersebut belum mampu terwujud, minimal sistem mampu memberikan peringatan apabila terjadi kesalahan.
6). Keamanan model dan data. Sistem yang berkualitas memberikan jaminan perlindungan akan keamanan sistem dan data yang ada didalamnya.
7). Dokumentasi sistem dan prosedur, Sistem yang baik hendaknya memiliki dokumentasi yang lengkap.
8). Fleksibilitas sistem dan sistem yang terintegrasi. Sistem yang fleksibel akan mempermudah pengguna dalam menggunakan sistem. Apabila antara sistem dalam organisasi telah terintegrasi tentunya akan sangat mempermudah karyawan saat bekerja.
Jogiyanto (2007) menyatakan bahwa penggunaan informasi adalah penggunaan keluaran sistem informasi oleh penerima. Banyak penelitian yang menggunakan proksi penggunaan laporan dari sistem informasi sebagai pengukur
kesuskesan sistem informasi. Konsep penggunaan dari suatu sistem dapat dilihat dari beberapa perspektif, yaitu penggunaan nyata dan penggunaan persepsi. Beberapa penelitian menggunakan penggunaan nyata dengan mengukur banyaknya permintaan informasi dari manajer, atau dengan mencatat jumlah banyaknya waktu koneksian dari pemakai atau jumlah penggunaan fungsi-fungsi komputer, jumlah catatan klien yang diproses atau biaya yang dibebankan untuk penggunaan komputer. Penggunaan persepsian juga dapat digunakan untuk mengukur penggunaan sistem informasi. Penggunaan persepsian ini dapat diukur dengan menggunakan pertanyaan yang diberikan kepada pengguna sistem tentang penggunaan sistem yang telah dilakukannya.
DeLone dan McLean (2003) menyatakan bahwa tingkat kebermanfaatan sebuah sistem akan terlihat dari frekwensi penggunaan sistem tersebut. Jika sistem banyak digunakan maka hal tersebut menunjukkan bahwa orang akan terbantu dengan sistem tersebut. Dan hal tersebut menunjukkan bahwa sistem yang ada memiliki kualitas yang baik dan dapat membantu saat bekerja. Seddon dan Kiew (1996) menyatakan bahwa usefulness menunjukkan persepsi dari pengguna tentang kebermanfaatan sistem dalam upaya mengoptimalkan pencapaian para pengguna sistem. Apabila para pengguna sistem mempersepsikan kualitas sistem informasi itu baik maka persepsi tentang kebermanfaatan sistem akan tinggi. Atau dengan kata lain sistem tersebut bermanfaat bagi pengguna sistem. Oleh karena itu hipotesis ke tiga adalah sebagai berikut:
H3 : Kualitas sistem informasi (system quality) berpengaruh positif terhadap kegunaan sistem (usefulness)
Poon dan Wagner (2000) menyatakan bahwa kesuksesan sebuah sistem informasi akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan yang diambil oleh para eksekutif organisasi. Namun menentukan kesuksesan sebuah sistem informasi tidaklah mudah. Ada yang berpendapat kesuksesan sistem informasi terlihat dari output pekerjaan yang dihasilkan, yaitu sistem yang mampu menghasilkan output kerja yang efektif dan efisien. Dilain pihak ada pendapat lain menyatakan yang bahwa kesuksesan sistem informasi akan dipengaruhi oleh aspek kepuasan pengguna sistem.
Saarinen (1996) menyatakan bahwa penilaian terhadap kesuksesan sebuah sistem informasi dipengaruhi oleh empat faktor dalam organisasi. Faktor tersebut meliputi proses pengembangan sistem, proses penggunaan sistem, kualitas dari produk yang dihasilkan oleh sistem informasi serta dampak sistem informasi bagi organisasi. Kepuasan pengguna sistem akan dipengaruhi oleh proses pengembangan sistem oleh manajemen dan dampaknya terhadap kepuasan pengguna sistem berkaiatan dengan informasi, sistem dan pelayanan lainnya. Tahap awal dilakukan dengan membangun kepercayaan pengguna terhadap sistem informasi. Kemudian dilanjutkan dengan penentuan kriteria tentang kesuskesan sistem dan yang terakhir melakukan analisis kesuksesan sistem secara finansial. Sistem yang baik akan berdapampak pada peningkatan kinerja yang tentunya mampu meningkatkan profitabilitas perusahaan.
Seddon dan Kiew (1996) menyatakan apabila informasi yang tersedia merupakan informasi yang berkualitas maka pengguna sistem akan sering memanfaatkan informasi tersebut. Li (1997) menyatakan bahwa apabila sistem
menghasilkan informasi yang berkualitas dan kemudian informasi tersebut bermanfaat terhadap pekerjaan penggunanya maka pengguna akan mempromosikan sistem tersebut terhadap rekan kerja lainnya, sehingga akan ada tambahan para pengguna baru yang mencoba memanfaatkan sistem tersebut. Semakin berkualitas informasi dan semakin banyak pengguna yang mencoba dan menggunakan menunjukan bahwa sistem tersebut sangatlah bermanfaat. Oleh karena itu hipotesis yang ke empat adalah sebagai berikut:
H4 : Kualitas informasi (information quality) berpengaruh positif terhadap kegunaan sistem (usefulness)
Saarinen (1996) menyatakan bahwa kesuksesan sebuah sistem informasi dinilai dari outcome sistem atau kepuasan dari pengguna sistem. Kepuasan penguna sistem dapat dilihat dari keuntungan yang didapatkan pengguna yang sesuai dan mendukung pekerjaannya. Pada level manajer, kesuksesan sistem dapat memberikan aspek ekonomi yang lebih baik dan memberikan nilai kualitatif bagi manajer. Beberapa peneliti menggunakan ukuran-ukuran keuangan untuk mengukur kesuksesan dari sistem informasi seperti return on investment dan net
present value. Dalam faktanya pengukuran secara subjektif terkadang
memberikan pertimbangan yang berbeda dibandingkan dengan hasil penilaian secara kualitatif. Oleh karena itu pengukuran terhadap kepuasan pengguna sistem merupakan salah satu faktor penting yang dapat dijadikan ukuran mengenai kesuksesan sistem informasi.
Jogiyanto (2007) menyatakan bahwa kepuasan pemakai sistem informasi adalah respon pemakai terhadap penggunaan keluaran sistem informasi. Penelitian
yang dilakukan oleh Eindor dan Segev (1978) mengusulkan menggunakan kepuasan pemakai sebagai pengukur dari keberhasilan penggunaan sistem informasi. Ginzberg (1981) menggunakan dua aspek yaitu penggunaan (use) dan kepuasan pemakai (user satisfaction) untuk mengukur keberhasilan sistem informasi. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuasan pemakai berkaitan dengan sikap dari pemakai terhadap pemakaian sistem informasi. Oleh karena itu persepsi tentang kegunaan dari pemakai sistem bisa dimasukkan sebagai pengukur kesuksesan sistem informasi. Tujuannya adalah mengontrol pengukuran yang bias dari kepuasan pemakai sistem.
Seddon dan Kiew (1996) menyatakan bahwa kepuasan pengguna menunjukkan kesukaan atau kejengkelan dalam interaksi yang dilakukan dengan sistem. Apabila keuntungan yang didapatkan dari sistem lebih besar dari yang diharapkan maka terjadilah kepuasan pengguna, dan sebaliknya. Masing-masing pengguna sistem tentunya memiliki pendapat yang berbeda-beda terhadap sistem. Ada yang merasa tidak puas, ada yang merasa puas dan ada yang merasa sangat puas terhadap sistem. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan harapan dan insiprasi yang diperoleh dari interaksi dengan sistem. Hal yang dapat di lihat adalah persepsi tentang usefulness atau kebermanfaatan sistem bagi pengguna. Jika pengguna merasa sistem bermanfaat tentunya apabila ada tambahan manfaat yang didapatkan dalam penggunaan sistem akan bertambah pula kepuasan pengguna terhadap sistem tersebut. Dengan demikian hipotesisnya adalah sebagai berikut:
H5 : Kegunaan sistem (usefulness) berpengaruh positif terhadap kepuasaan pengguna (user satisfaction)
DeLone dan McLean (2003) melalukan perbaikan terhadap model kesuksesan sistem informasi yang dibuatnya. Salah satu variabel yang kemudian muncul adalah variabel kualitas pelayanan. Munculnya end user computer (EUC) di pertengahan tahun 1980 menyebabkan departemen tidak hanya sebagi penyedia informasi, tetapi juga penyedia pelayanan. Kualitas pelayanan dapat diukur dengan beberapa aspek antara lain berwujud, keandalan, kesegaran, jaminan dan empati. Sebenarnya kualitas pelayanan ini merupakan bagian dari kualitas sistem namun karena perubahan peran pemakai maka fungsi ini dipisahkan. Hal tersebut jugalah yang mendasari penelitian Seddon dan Kiew (1996) yang tidak memasukan unsur kualitas pelayanan sebagai komponen pengukur kesuksesan sistem informasi melainkan menggantinya dengan variabel pentingnya system
(importance of system).
Li (1997) menyatakan bahwa persepsi mengenai pentingnya sistem merupakan bagian yang penting dalam pengukuran kesusksesan sistem informasi. Persepsi pengguna sistem tentang pentingnya sistem menunjukkan tingkat ketergantungan tertentu dari pengguna terhadap sistem. Pendapat tentang pentingnya sistem merupakan dampak dari beberapa faktor positif yang telah dirasakan yang dapat membantu para pengguna dalam bekerja. Jika sistem tidak penting maka tidak akan memberikan dampak apa-apa terhadap kerja para penggunanya. Namun jika tidak adanya sistem mengganggu kerja para pengguna sistem hal tersebut menunjukkan bahwa sistem tersebut penting.
Seddon dan Kiew (1996) menyatakan bahwa persepsi tentang importance
of system sebagai prediktor usefulness dan user satisfaction didasari pemikiran
aspek pemberdayaan dan keterlibatan pengguna dalam sistem. Apabila seorang pengguna merasa bahwa tugas yang dikerjaanya dengan sistem merupakan hal yang penting maka pengguna memakai sistem tersebut. Hal tersebut menunjukkan bahwa persepsi tentang pentingnya sistem berkaitan dengan kualitas informasi yang didapatkan sebagai bagian dari sistem yang relevan sebagai pengambilan keputusan. Dengan kata lain persepsi tentang importance of system akan berbanding lurus dengan aspek kebermanfaatan yang didapatkan pengguna dari sistem yang ada. Hipotesis dirumuskan sebagai berikut:
H6 : Pentingnya sistem (importance of system) berpengaruh positif terhadap kegunaan (usefulness)
Model kesuksesan sistem informasi DeLone dan McLean (2003) menyatakan bahwa kesuksesan sistem informasi dapat dilihat dari net benefit yang didapatkan organisasi. Net benefit tersebut dapat dilihat dari dampak bagi individu dan dampak bagi organisasi. Dampak individual dapat dilihat dari beberapa hal antara lain kecepatan pengidentifikasian masalah, kecepatan pengambilan keputusan dan kemampuan dalam menganalisis. adapun dampak bagi organisasi dapat dilihat dari beberapa aspek seperti visi organisasi yang disebarkan, efektivitas pengambilan keputusan organisasi serta kinerja organisasi persepsian. Kepuasan pengguna sistem dan persepsi tentang kegunaan sistem juga merupakan salah satu indikator kesuksesan sistem informasi. Kepuasan pengguna sistem
menunjukkan bahwa sistem yang ada telah dapat bermanfaat bagi para pengguna dalam melaksanakan kerjanya.
Jogiyanto (2007) menyatakan bahwa sebagai penyedia informasi, departemen sistem teknologi informasi memproduksi produk informasi kepada pemakainya, sedangkan sebagai penyedia pelayanan depertemen sistem informasi menyediakan dukungan kepada pemakai akhir untuk membangun sistemnya sendiri. DeLone dan McLean (2003) menyatakan bahwa untuk mengukur kesuksesan sebuah sistem tunggal, kualitas informasi dan kualitas sistem mungkin merupakan komponen kualitas yang paling penting. Li (1997) menyatakan bahwa persepsi tentang pentingnya sistem menunjukkan bahwa user telah mengambil manfaat dan kepuasan tertentu dari sistem tersebut, sehingga apabila sistem tersebut tidak ada maka kinerja akan menjadi terganggu.
Seddon dan Kiew (1996) menyatatakan bahwa persepsi importance of
system dari seorang pengguna menunjukkan bahwa adanya keuntungan yang
didapatkan dalam penggunaan sistem tersebut. Jika pengguna sistem menganggap sistem menjadi hal yang penting hal tersebut meningindikasikan bahwa sistem tersebut bermanfaat dalam melaksanakan pekerjaan. Indikasi lain menunjukan bahwa pengguna sistem telah merasa puas dengan sistem yang ada dan akan terganggu jika sistem tidak bekerja. Persepsi tentang pentingnya sistem bagi pengguna menunjukkan bahwa pengguna tersebut puas terhadap kinerja sistem. Untuk itu hipotesis yang ke tujuh dapat dirumuskan sebagai berikut:
H7 : Pentingnya sistem (importance of system) berpengaruh positif terhadap kepuasan pemakai (user satisfaction)