• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Kampung Konservasi POGA

Dalam dokumen BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 40-45)

Masyarakat Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo memiliki pengetahuan mengenai pemanfaatan tumbuhan terutama tumbuhan pangan dan tumbuhan obat.

Hal ini dikarenakan pangan dan kesehatan sudah menjadi kebutuhan pokok manusia. Pengetahuan mengenai pemanfaatan tersebut diperoleh secara turun-temurun. Namun kondisinya saat ini pemanfaatan tumbuhan tersebut sudah berkurang, hal ini dikarenakan mulai masuknya obat kimia dan makanan cepat saji yang dianggap lebih praktis.

a b

Kearifan lokal masyarakat dalam pemanfaatan tumbuhan sudah mulai pudar karena beberapa faktor diantaranya adanya pembangunan yang mulai menggeser kearifan lokal tersebut. Wisjnuprapto (2010) menyatakan, pembangunan suatu perdesaan harus memperhatikan (1) potensi sumberdaya lokal, baik sumberdaya manuasia maupun sumberdaya alam, (2) tingkat teknologi yang tersedia serta tingkat ekonomi masyarakat setempat, (3) keterlibatan masyarakat setempat sehingga menumbuhkan rasa memiliki dan mengembangkan semangat kegotongroyongan, dan (4) adat dan kebiasaan masyarakat setempat. Sehingga dengan kemajuan teknologi pada saat ini seharusnya dapat mendukung pengetahuan lokal masyarakat lokal dan tetap mempertahankan adat masyarakatnya. Selain itu teknologi juga harus dapat menyesuaikan kondisi masyarakat sehingga masyarakat dapat tetap menikmati teknologi tersebut.

Susetiawan (2010) menyatakan bahwa pembangunan dapat menghilangkan pengetahuan lokal masyarakat. Seharusnya dengan adanya pembangunan dapat tetap mendukung pengetahuan lokal masyarakat. Perkembangan teknologi yang ada akan lebih bermakna jika tetap berdasarkan pada pengetahuan lokal masyarakat dan tetap dapat dimanfaatkan sesuai dengan adat masyarakat.

Pengembangan kampung konservasi diharapkan dapat menjembatani antara pembangunan dengan kearifan lokal masyarakat. Kampung konservasi merupakan suatu bentuk pembangunan dengan memasukan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendukung kearifan lokal masyarakat dalam pemanfaatan tumbuhan khususnya tumbuhan obat dan tumbuhan pangan.

Kampung konservasi selain dapat melestarikan kearifan lokal masyarakat juga diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Manfaat nyata yang diharapkan antara lain dapat meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari (pangan dan obat) dengan pemanfaatan sumberdaya (tumbuhan) yang ada dilingkungan mereka.

Damayanti (2003) mengategorikan spesies tumbuhan obat penting menjadi tiga yaitu (1) spesies yag paling banyak diketahui oleh masyarakat, (2) spesies yang paling banyak untuk mengobati satu jenis penyakit, dan (3) jenis yang paling bermanfaat untuk pengobatan. Dalam pengembangan kampung konservasi POGA

(Pangan dan Obat Keluarga) dapat disesuaikan dengan spesies penting yang dimanfaatkan masyarakat.

Pendokumentasian pengetahuan lokal masyarakat yang dapat digunakan sebagai dasar dalam pengembangan kampung konservasi POGA. Dengan diketahuinya spesies yang banyak dimanfaatkan maka dapat diketahui spesies yang penting untuk dikembangkan. Spesies yang dikembangkan sebaiknya adalah spesies yang banyak dimanfaatkan. Dengan demikian masyarakat akan merakasan pentingnya kampung konservasi POGA tersebut.

Sosialisasi mengenai pentingnya kampung konservasi POGA dapat menjadi langkah lanjutan. Dalam sosialisasi tersebut dapat ditekankan manfaat yang diperoleh oleh masyarakat baik manfaat ekonomi, ekologi dan sosial budaya.

Manfaat ekonomi dapat diperoleh masyarakat dengan kemandirian dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan obat maka akan mengurangi pengeluaran masyarakat untuk konsumsi karena sudah dapat terpenuhi dari lingkungan mereka. Selain itu komoditas yang dikembangkan juga dapat digunakan sebagai komoditas untuk diperjualbelikan sehingga akan menambah pendapatan masyarakat tersebut. Manfaat ekologi yang diharapkan adalah dengan pengembangan kampung konservasi POGA tersebut dapat menjaga kelestarian spesies dan ekosistem lingkungan. Manfaat sosial budaya adalah lestarinya pengetahuan lokal masyarakat yang menjadi salah satu kekayaan budaya yang tertuang dalam kampung konservasi POGA tersebut.

Spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat terdiri dari 63 spesies dari 35 famili (Lampiran 3). Jika dilihat dari spesies yang dimanfaatkan ada beberapa spesies yang banyak dimanfaatkan untuk mengobati tekanan darah tinggi. Masyarakat banyak memanfaatkan tumbuhan obat untuk menurunkan tekanan darah tinggi, misalnya spesies seperti alpukat, labu siam, belimbing, mengkudu, salam dan mentimun untuk mengobati tekanan darah tinggi. Selain itu spesies dari famili Zingiberaceae juga menjadi penting karena dimanfaatkan masyarakat sebgai komoditas ekonomi (diperjualbelikan) di pasar lokal. Spesies kina (Cinchona pubescens) dan spesies tumbuhan yang dapat digunakan sebagai campuran obat seperti kingkong (Eupatorium triplinerve). Pemanfaatan kulit pohon kina yang banyak dimanfaatkan untuk bahan baku obat malaria masih

diambil dari hutan di kawasan TAHURA. Belum ada masyarakat yang membudidayakan spesies tersebut di pekarangan maupun kebun.

Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan pada masyarakat terdiri dari 78 spesies dari 34 famili (Lampiran 4). Spesies tumbuhan yang berpotensi untuk dikembangkan antara lain garut (Maranta arundinacea), ganyong (Canna edulis), gadung (Dioscorea hipsida) dan uwi (Dioscorea alata).

Spesies tersebut banyak dimanfaatkan masyarakan sebagai makanan selingan nasi.

Namun selain untuk dikonsumsi sendiri masyarakat juga mulai mengembangkan untuk diperdagangkan.

Kampung konservasi POGA tersebut jika dapat dikembangkan pada masyarakat Dukuh Sukuh dan Dukuh Gondangrejo diharapkan dapat melestarikan kearifan lokal masyarakat dalam pemanfaatan tumbuhan terutama pangan dan obat. Selain itu kelestarian lingkungan juga dapat terjaga dengan manfaat yang dirasakan oleh masyarakat. Meskipun dalam pengembangannya juga membutuhkan teknologi dan ilmu pengetahuan namun hal itu hanya sebagai pendukung pengetahuan masyarakat. Dengan demikian masyarakat dapat memanfaatkan keanekaragaman tumbuhan secara berkelanjutan dengan sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tabel 6 Pengembangan Kampung Konservasi POGA

No Kegiatan Tujuan Hasil

1 Pendokumentasian

2 Inventarisasi potensi tumbuhan

Mengetahui spesies tumbuhan yang ada di lingkungan masyarakat

masyarakat

4 Sosialisasi program konservasi POGA

Mensosialisasikan program kampung konservasi POGA kepada masyarakat luas termasuk tujuan dan manfaat serta

mengetahui respon masyarakat

1. Penyiapan lahan (pekarangan rumah)

2. Penyiapan bibit 3. Penanaman

4. Perawatan spesies tumbuhan 5. Pemanenan

6. Proses pasca panen 7. Pemanfaatan spesies

tumbuhan

6 Kegiatan pasca panen Pemanfaatan hasil dari pengembangan kampung konservasi POGA baik dalam bentuk produk untuk dijual maupun dalam bentuk produk untuk konsumsi pribadi sehingga meningkatkan kemandirian

7 Pendidikan konservasi Memberikan pengetahuan mengenai konservasi terhadap

Pengembangan kampung konservasi POGA untuk di masyarakat sekitar kawasan TAHURA KGPAA Mangkunagoro I tidaklah sulit, hal ini dikarenakan

masyarakat yang sebenarnya telah menerapkan konsep ini pada lahan pekarangan rumah mereka. Masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-harinya dari hasil budidaya tanaman yang ada di pekarangan mereka, pola masyarakat tersebut menunjukan bahwa masyarakat sudah menerapkan konsep POGA sejak dulu.

Spesies yang akan mudah dikembangkan adalah spesies tumbuhan yang sudah dibudidayakan masyarakat sejak dulu baik di pekarangan (Lampiran 12) maupun di kebun.

Pengembangan kampung konservasi POGA diharapkan dapat membentuk sikap masyarakat yang pro-konservasi. Sikap pro konservasi yang diharapkan antara lain: 1) Cognitive (persepsi, pengetahuan, pengalaman, pandangan dan keyakinan), 2) Affective (emosi, senang, benci, dendam, sayang, cinta, dan lain-lain), 3) Overt actions (kecenderungan bertindak). Tujuan utama dari program kampung konservasi POGA diharapkan membentuk sikap yang dapat menjamin kelestarian pengetahuan lokal masyarakat dan kelestarian sumberdaya yang dimanfaatkan oleh masyarakat. Selain itu akan membentuk masyarakat yang mandiri dalam pemenuhan kebutuhan dan akan meningkatkan perekonomian masyarakat. Dengan terpenuhinya kebutuhan masyarakat dari lingkungannya maka diharapkan masyarakat akan dapat hidup selaras dengan alam.

Dalam dokumen BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 40-45)

Dokumen terkait