HORTIKULTURA TAHUN 2014
A. Pengembangan Kawasan Sayuran dan Tanaman Obat
Pembangunan pertanian melalui pengembangan komoditas sayuran yang potensial di suatu wilayah merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan perekonomian wilayah yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan petani.
Pengembangan kawasan sayuran dan tanaman obat diperlukan volume, intensitas, dan kualitas kegiatan pembangunan yang memadai berbasis pada kesamaan kegiatan dan ruang yang sama. Oleh karenanya, diperlukan adanya sinergisme intra dan/atau antar wilayah yang memiliki kemiripan agroklimat, kesatuan infrastruktur untuk menghasilkan dampak ekonomi yang nyata dan terukur, berbagai
Evaluasi Kinerja Pembangunan Hortikultura Tahun 2014 59 pelayanan dan fasilitasi di dalamnya dapat berjalan efektif dan efisien.
Pengembangan kawasan sayuran dan tanaman obat terdiri dari pengembangan kawasan pendampingan intensif dan kawasan inisiasi.
Pengembangan kawasan intensif merupakan pengembangan agribisnis sayuran atau tanaman obat di wilayah yang selama ini sudah terintegrasi secara ekosistem, dan disatukan oleh infrastruktur ekonomi yang sama dan telah menghasilkan produk sayuran atau tanaman obat secara nyata dan konsisten.
Sedangkan kawasan inisiasi adalah pengembangan agribinis sayuran dan tanaman obat di wilayah yang dipersiapkan untuk menjadi kawasan intensif yang akan dilaksanakan pada periode berikutnya.
Pada Tahun 2014 pengembangan kawasan tanaman sayuran tersebar di 31 provinsi dan 213 kabupaten/kota dengan target 4.512 Ha dan telah mencapai 4.242,6 Ha (94,03%). Tidak tercapainya target disebabkan antara lain: adanya pemotongan anggaran di beberapa kabupaten/kota menyebabkan mundurnya pelaksanaan kegiatan, terjadi kegagalan proses lelang, harga benih yang mahal melebihi pagu anggaran, dan beberapa alasan non teknis lainnya.
Beberapa kabupaten/kota yang tidak dapat mencapai target 100%, misalnya: untuk komoditi bawang merah: Cirebon, Bantul, Musi Rawas, OKI, OKU, Banyuasin, kota Pontianak, Mamuju Utara. Jumlah Ha gagal direalisasikan sebanyak 90.4 dari 1.008 Ha.
60 Evaluasi Kinerja Pengembangan Hortikultura Tahun 2014 Untuk komoditi cabai: Kota Bandung, Bantul, Lumajang, Tuban, OKU, Penajam Paser Utara, Lebong, dan Mamuju Utara. Jumlah Ha gagal direalisasikan sebanyak 103,5 Ha dari 1.650 Ha. Dan untuk komoditi wortel: Kepahing. Jumlah Ha gagal direalisasikan sebanyak 9 Ha dari 925 Ha.
Pada Tahun 2014 pengembangan kawasan tanaman obat tersebar di 12 provinsi dan 39 kabupaten/kota dengan target 750 Ha dan telah mencapai 729,5 Ha (97,27%). Tidak tercapainya target disebabkan antara lain: penawaran yang diajukan tidak ada yang sesuai atau memenuhi persyaratan pada saat proses lelang dilakukan. Dua kabupaten yang tidak dapat mencapai target 100%, adalah kab. OKU dan Kepahiyang masing-masing 10 Ha komoditi Jahe.
Komoditas sayuran yang diprioritaskan adalah:
bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai rawit, kentang, sayuran dataran rendah, sayuran daun, dan wortel. Adapun tanaman obat, komoditas yang menjadi prioritas utama adalah: Jamur, temulawak, Jahe, kencur lidah buaya, dan purwoceng. Adapun rincian sentra produksinya sebagai berikut:
1. Bawang Merah: Buleleng, Bangli, Badung, Bangka Tengah, Bantul, Kuningan, Majalengka, Indramayu, Cirebon, kota Cerebon, Tegal, Rembang, Purworejo, Pati, Grobogan, Demak, Brebes, Tuban, Sumenep, Probolinggo, Pamekasan, Nganjuk, Madiun, Bojonegoro, Pontianak, Melawi, Kubu Raya, Banjar Baru,
Evaluasi Kinerja Pembangunan Hortikultura Tahun 2014 61 Tapin, Kota Palangkaraya, Paser, Tanggamus, Lampung Tengah, Lampung Selatan, Kota Ambon, Seram Bagian Barat, Kota Tidore Kepulauan, Aceh Tengah, Aceh Besar, Bima, Rote Ndao, Kupang, Kota Pekanbaru, Kampar, Mamuju Utara, Mamuju, Pinrang, Jeneponto, Enrekang, Kota Palu, Sigi, Donggala, Kolaka Utara, Kolaka, Minahasa, Pesisir Selatan, Agam, OKU, OKI, Musi Rawas, Banyuasin, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Simalungun, dan Samosir;
2. Cabai merah: Belitung, Bangka Tengah, Lebak, Rejang Lebong,. Lebong, Kepahiang, Kaur, Bantul, Jambi, Merangin, Tasikmalaya, Sumedang, Cianjur, Ciamis, Sragen, Rembang, Pekalongan, Pati, Grobogan, Blora, Tuban, Bojonegoro, Melawi, Kubu Raya, Kota Batam, Tanggamus, Pesawaran, Lampung Tengah, Lampung Selatan, Aceh Tengah, Aceh Besar, Lombok Timur, Kota Pekanbaru, Kota Dumai, Konawe Selatan, Kota Padang Panjang, Kota Padang, Tanah Datar, Pesisir Selatan, Limapuluh Kota, Kota Palembang, OKU, OKI, Banyuasin, Kota Medan, Tapanuli Utara, dan Deli Serdang;
3. Cabai rawit merah: Buleleng, Badung, Kota Tangerang Selatan, Pandeglang, Sleman, Kulon Progo, Bone Bolango,Kota Tasikmalaya, Kota Bandung, Garut, Bandung, Wonosobo, Sragen, Purworejo, Magelang, Demak, Brebes, Mojokerto, Magetan, Madiun, Lumajang, Kediri, Jember, Kota Banjar Baru, Tapin, Kota Palangkaraya, Kota
62 Evaluasi Kinerja Pengembangan Hortikultura Tahun 2014 Samarinda, Penajam Paser Utara, Kota Ambon, Seram Bagian Barat, Maluku Tenggara, Maluku Tengah, Kota Tidore Kepulauan, Kota Mataram,.
Kupang, Belu, Kota Jayapura, Merauke, Jayawijaya, Biak Numfor, Kota Sorong , Tambrauw , Sorong, Mamuju Utara, Mamuju, Pinrang, Jeneponto, Enrekang, Donggala, Konawe Selatan, Kolaka Utara, Kolaka, Minahasa, dan Bolaang Mongondow Timur;
4. Kentang: Rejang Lebong, Kepahiang, Kerinci, Pekalongan, Jayawijaya, Gowa, Bolaang Mongondow Timur, Solok Selatan, Solok, Tanah Karo, dan Simalungun.
5. Wortel: Rejang Lebong, Kepahiang, Merangin, Kerinci, Majalengka, Garut, Cianjur, Bogor, Bandung, Wonosobo, Tegal, Purbalingga, Pemalang, Kota Batu, Magetan, Bener Meriah, Jayawijaya, Gowa, Enrekang, Bantaeng, Minahasa, Bolaang Mongondow Timur, Tanah Datar, Solok Selatan, Solok, dan Simalungun.
6. Sayuran dataran rendah dan sayuran daun: Kab.
Bone Bolango, Blora, Bojonegoro, Kota Batam, Kota Sorong,. Tambrauw, dan Kota Dumai 7. Tanaman Obat: Temu lawak, Jahe, dan kencur:
Sukabumi, Kota Semarang, Semarang, Purworejo, Kepahiang, Bengkulu Utara, Kulon Progo, Kota Jambi, Wonosobo, Wonogiri, Temanggung, Purworejo, Magelang, Karanganyar, Brebes, Jember, Kota Samarinda, Penajam Paser Utara, Paser, Nunukan, Bener Meriah, Aceh Besar, Manggarai Barat, Kota
Evaluasi Kinerja Pembangunan Hortikultura Tahun 2014 63 Dumai, dan OKU; Kapulaga, lidah buaya dan purwoceng: Tasikmalaya, Ciamis, Bogor, dan Wonosobo; dan Jamur: Indramayu, Cirebon, dan Badung.
B. Sekolah Lapangan Good Agricultural Practices (SL-GAP)
Sekolah Lapangan GAP dilaksanakan untuk mempercepat pelaksanaan registrasi GAP lahan usaha. Peserta sekolah lapangan adalah kelompok tani penerima bantuan sosial kegiatan pengembangan kawasan sayuran. Kegiatan sekolah lapangan dipandu oleh seorang Pemandu Lapang.
Kegiatannya meliputi kegiatan budidaya sayuran dengan menerapkan prinsip-prinsip GAP dengan urutan sesuai dengan tahapan dalam SOP budidaya tanaman yang diusahakan.
Target capaian pelaksanaan SL-GAP tahun 2014 sebanyak 161 kelompok dan telah tercapai 143 kelompok tani (88,82%). Kelompok tani yang mengikuti SL-GAP ini diharapkan dapat menerapkan prinsip-prinsip GAP di dalam pelaksanaan budi dayanya, sehingga lahan usahanya dapat memenuhi syarat untuk diregistrasi.
Beberapa kabupaten tidak dapat melaksanakan SL-GAP, dengan alasan antara lain: kesalahan kode lokasi bayar KPPN, pergantian pejabat pengelola keuangan, mutasi KPA, pemotongan/penghematan anggaran Inpres No. 4 Tahun 2014, dan pemilu legislatif dan presiden, sehingga tidak mencapai 100%.
64 Evaluasi Kinerja Pengembangan Hortikultura Tahun 2014 C. Registrasi Lahan Usaha
Dalam upaya meningkatkan daya saing sayuran dan tanaman obat maka perbaikan budidaya dan penanganan pascapanen perlu dilakukan. Perbaikan ini dilakukan melalui penerapan GAP, penyusunan SOP budidaya komoditas. Registrasi lahan usaha sayuran dan tanaman obat merupakan tahap lanjutan dari pelaksanaan penerapan GAP dalam budidaya.
Penerapan GAP budidaya sayuran dan registrasi lahan usaha merupakan pelaksanaan Permentan No.
48/Pementan/OT.140/10/2009 dan Permentan No.
62/Pementan/OT.140/10/ 2011.
Registrasi lahan usaha diberikan kepada petani/pelaku usaha yang telah menerapkan GAP dan sekaligus sebagai bukti dalam meningkatkan produksi dan mutu hasil. Setelah mendapat nomor registrasi, diharapkan produk dari lahan tersebut mendapat prioritas utama untuk disertifikasi hasil produksinya (PRIMA) oleh lembaga sertifikasi terakreditasi atau yang ditunjuk. Pada tahun 2014 telah ditargetkan lahan yang diregistrasi sebanyak 1.186 lahan usaha dan teregistrasi sebanyak 1.275 lahan usaha (107,50%).
D. Sekolah Lapangan Good Handling Practices