• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN LINGKUNGAN SEHAT

IV. SITUASI DERAJAT KESEHATAN

5.4 PENGEMBANGAN LINGKUNGAN SEHAT

Faktor terbesar yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat adalah lingkungan. Faktor lingkungan mempunyai peran yang sangat besar dalam proses timbulnya gangguan kesehatan baik secara individual maupun masyarakat umum.

Upaya pembinaan kesehatan lingkungan pada prinsipnya dimaksudkan untuk mengurangil dan mengendalikan faktor resiko terjadinya penyakit atau gangguan kesehatan akibat dari lingkungan yang kurang sehat. Bentuk upaya yang dilakukan dalam pembinaan kesehatan lingkungan, antara lain melakukan pembinaan kesehatan lingkungan pemukiman pada masyarakat, pengawasan hygiene sanitasi Tempat Pengolahan Makanan (TPM) dan pengawasan Tempat-Tempat Umum (TTU).

90

Gambaran beberapa faktor resiko lingkungan yang dapat disajikan di bawah ini antara lain cakupan rumah sehat, cakupan layak sanitasi, cakupan jamban keluarga, cakupan keluarga dengan air bersih dan air minum, Angka bebas jentik dan cakupan Tempat-Tempat Umum (TTU) dan Tempat Pengolahan Makanan (TPM) serta Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

5.4.1 Cakupan Rumah Sehat

Rumah Sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat kesehatan, yaitu rumah yang mempunyai layak sanitasi, mempunyai sarana air bersih, mempunyai tempat pembuangan sampah, mempunyai sarana pembuangan limbah, mempunyai ventilasi rumah yang baik, memiliki kepadatan hunian rumah yang sesuai dan mempunyai lantai rumah yang tidak terbuat dari tanah.

Cakupan rumah sehat di Kabupaten Bogor tahun 2018 adalah 904.511 rumah (91,06%). Kecamatan di Kabupaten Bogor yang mempunyai cakupan rumah sehat tertinggi adalah puskesmas Citapen dan Cisarua sebesar (98,00%).

Sedangkan kecamatan terendah cakupan rumah sehat nya adalah Kecamatan Cibening (69,06%). Semakin tinggi cakupan rumah sehat di suatu wilayah, maka akan semakin kecil resiko penghuni tersebut menjadi sakit. Angka bebas jentik merupakan salah satu indikator dari rumah sehat dihitung dari jumlah rumah atau bangunan yang bebas jentik nyamuk aedes pada kurun waktu tertentu. Rumah tangga bebas jentik berhubungan dengan kasus DBD, korelasinya bahwa rumah tangga dengan angka bebas jentik (ABJ) di bawah 95% akan berpotensi terhadap penyebaran kasus DBD. Untuk kegiatan Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) di Kabupaten Bogor pada tahun 2018 didapatkan hasil bahwa jumlah rumah yang diperiksa atau dilakukan PJB sejumlah 555.103 rumah (55,88%) dari 993.304 rumah dengan hasil sejumlah 476.247 rumah (85,79%) bebas jentik.

5.4.2 Cakupan Layak Sanitasi

Sanitasi berhubungan dengan kesehatan lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Buruknya kondisi sanitasi akan berdampak negatif di banyak aspek kehidupan, mulai dari turunnya kualitas lingkungan hidup masyarakat, tercemar nya sumber air minum bagi masyarakat, meningkatnya jumlah kejadian diare dan muncul nya penyakit. Berbagai alasan digunakan oleh masyarakat untuk buang air besar sembarangan diantaranya adalah anggapan

membangun jamban keluarga itu mahal, lebih enak buang air besar di sungai, tinja dapat digunakan sebagai pakan ikan, dan lain-lain. Perilaku ini harus diubah karena dapat meningkatkan resiko terkena penyakit menular. Berdasarkan pencatatan dan pelaporan puskesmas, cakupan layak sanitasi di Kabupaten Bogor tahun 2018 adalah sebesar 4.320.111 jiwa (73,96%).

Puskesmas di Kabupaten Bogor yang mempunyai cakupan layak sanitasi tertinggi tahun 2018 adalah puskesmas Dramaga dan Bantarjaya (100%).

Sedangkan puskesmas terendah cakupan layak sanitasi nya adalah puskesmas Cimandala (18,4%).

5.4.3 Cakupan Keluarga Dengan Akses Air Minum Berkualitas (Layak)

Alternatif masyarakat untuk mendapatkan sumber air minum berkualitas (layak) di 40 Kecamatan yang ada di Kabupaten Bogor sangat bervariasi. Masyarakat perkotaan sebagian besar sudah menggunakan jasa PDAM untuk memenuhi kebutuhan sumber air minum. Sedangkan masyarakat di pedesaan relatif lebih bervariasi dari mulai yang menggunakan sumur terlindung, sumur gali, sumur pompa dengan tangan, mata air terlindung, penampungan air hujan sampai yang memanfaatkan badan air seperti danau, sungai untuk memenuhi kebutuhan sumber air minumnya. Sumber mata air tersebut ada yang terlindung ada yang tidak terlindung, sumber air PDAM, sumur gali,sumur pompa relatif lebih terlindung dan memenuhi persyaratan kesehatan. Sedangkan sumber air danau, sungai, mata air relatif tidak terlindung dan tidak memenuhi persyaratan kesehatan. Sumber air bersih yang terlindungi adalah sumber air minum keluarga yang bersumber dari sarana air bersih yang telah memenuhi persyaratan baik biologis, kimia, dan fisik (permenkes), di Kabupaten Bogor dari 144 sampel air bersih yang diperiksa diketahui yang memenuhi syarat sebesar 109 sampel (75,69%).

Gambaran cakupan keluarga dengan akses air minum berkualitas (Layak) di Kabupaten Bogor dapat dilihat pada grafik dibawah ini.

92

81,69%

59,13%

41,01%

65,96%

8,28%

69,05%

GRAFIK 5.24

Cakupan Sarana Air Minum Berkualitas (Layak) di Kabupaten Bogor Tahun 2018

Sumur Gali Terlindung Sumur Gali dengan pompa Sumur Bor dengan Pompa Terminal Air

Mata Air Terlindung Perpipaan (PDAM, BPSPAM)

Sarana air minum yang paling banyak digunakan di masyarakat dan berkualitas Tahun 2018 adalah Sumur Gali Terlindung (81,69%).

Cakupan Keluarga dengan Akses Air Minum Berkualitas (layak) di Kabupaten Bogor Tahun 2018 sebesar 73,46%. Dimana 62 puskesmas dari 101 puskesmas memiliki cakupan lebih tinggi dari cakupan Kabupaten.

Cakupan Keluarga dengan Air Minum Berkualitas (layak) memenuhi syarat tertinggi dicapai oleh puskesmas Gunung Putri sebesar 99,24 dan puskesmas Tajurhalang (99,09%). Sedangkan untuk cakupan terendah terdapat di puskesmas Purwasari sebesar 19,30%, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran tabel 59 profil kesehatan.

5.4.4. Cakupan Tempat-Tempat Umum dan Tempat Pengolahan Makanan Dalam upaya mengurangi resiko Tempat-Tempat Umum (TTU) menjadi tempat penularan / sumber penyakit, maka dilakukan pemantauan terhadap sarana TTU tersebut. Beberapa TTU yang rutin dilakukan pemantauan di Wilayah Kabupaten Bogor antara lain sarana pendidikan, sarana kesehatan dan sarana hotel.

Berdasarkan pencatatan dan pelaporan puskesmas di Kabupaten Bogor Tahun 2018, tercatat ada 4.421 buah Tempat-Tempat Umum (TTU) yang terdiri dari sarana pendidikan, sarana kesehatan dan sarana hotel, dimana sebanyak 1.448 buah (32,75%) diantaranya sudah dinyatakan memenuhi sarana kesehatan.

Hal itu berarti masih terdapat 2.973 buah (67,20%) TTU yang belum memenuhi syarat kesehatan. Cakupan TTU yang tertinggi untuk puskesmas Ciawi (84,0%)

dan Kecamatan yang terendah cakupan TTU nya adalah puskesmas Cihideung Udik (17,2%).

Untuk cakupan Tempat Pengolahan Makanan (TPM) DI Kabupaten Bogor Tahun 2018 yang terdiri dari jasa boga, rumah makan/restoran, Depot Air Minum (DAM) dan makanan jajanan tercatat sebanyak 5.890 buah, dimana sebanyak 3.042 buah (51,65%) TPM sudah memenuhi syarat kesehatan. Hal itu berarti bahwa masih terdapat 3.144 buah (53,38%) TPM yang belum memenuhi syarat kesehatan dan perlu dilakukan pembinaan dan pengawasan.

Dari jumlah 3.144 buah TPM yang belum memenuhi syarat kesehatan dilakukan pembinaan sebanyak 869 buah (27,64%), hal ini masih tercatat 2.275 buah (72,36%) tidak dilakukan pembinaan. Dari jumlah 3.042 buah TPM yang memenuhi syarat kesehatan, maka yang dilakukan uji petik hanya pada 767 buah (25,21%)

5.4.5. Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) adalah pendekatan untuk merubah perilaku hygien dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan. Komunitas merupakan kelompok masyarakat yang berinteraksi secara sosial berdasarkan kesamaan kebutuhan dan nilai-nilai untuk meraih tujuan. Cakupan desa/kelurahan yang telah melaksanakan STBM tahun 2018 di Kabupaten Bogor sebesar 100% (435 desa STBM dari 435 desa). Jumlah target desa yang dilaksanakan kegiatan pemicuan pada tahun 2018 berjumlah 116 desa dengan hasil desa ODF (Open Defecation Free) sampai dengan Tahun 2018 berjumlah 45 desa. Desa yang sudah melaksanakan stop Buang Air Besar Sembarangan (stop BABS) sebanyak 45 desa. Strategi untuk mewujudkan lingkungan yang sehat melalui gerakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang terdiri dari 5 pilar yaitu STOP BABS, Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), Penyediaan Air Minum Rumah Tangga (PAM-RT), Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga.