• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR GAMBAR

PENGEMBANGAN MASYARAKAT : SUATU ANALISIS

Pesantren merupakan lembaga keagamaan yang tangguh dan sampai saat ini masih bias bertahan serta terus menerus memperbaiki dirinya. Pesantren yang cukup besar bagi peradaban bangsa bahkan semenjak jaman penjajahan. Pesantren sebagai lembaga pendidikan memiliki basis sosial yang sudah sangat jelas dan sangat akrab dengan masyarakat.

Di saat lembaga lain belum berjalan secara fungsional, pesantren berada pada garda depan sebagai pusat aktivitas masyarakat, mulai dari belajar agama, bela diri, megobati orang sakit, konsultasi pertanian, mencari jodoh bahkan menyusun strategi untuk melawan penjajah. Pesantren juga merupakan lembaga yang memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Pada jaman dahulu pesantren bahkan memproduksi tinta dan kertas yang dibuat dari bahan tradisional untuk menulis pelajaran. Namun seiring perkembangan jaman yang terjadi, kegiatan produksi tersebut terhenti karena tergantikan oleh kertas dan tinta yang diproduksi oleh pabrik yang harganya lebih murah dengan kualitas yang lebih baik.

Pesantren hidup dari, oleh dan untuk masyarakat, hal ini menuntut adanya peran pesantren yang sejalan dengan situasi dan kondisi masyarakat, bangsa dan Negara yang terus berkembang. Pesantren dapat berperan sebagai motor penggerak perubahan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan berbagai metode yang dimilikinya.

Secara umum, hasil penelitian ini membuktikan bahwa pesantren sangat berperan pada peningkatan kualitas hidup masyarakat. Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ merupakan salah satu pesantren yang menambah panjang seretan pesantren yang memiliki andil dalam memperbaiki lingkungannya ke arah yang lebih baik.

Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ merupakan salah satu pesantren yang mengembangkan agribisnis di Kabupaten Cianjur. Fokus utama pesantren mengembangkan agribisnis adalah sebagai upaya turut serta dalam mengembangkan pertanian dan sebagai upaya memberantas kemiskinan. Mengingat sebagian besar wilayah Desa Kertajaya yang dikelilingi oleh lahan pertanian yang cukup luas dan sebagian besar masyarakanya pun bermata pencaharian sebagai petani maka program yang disusun tidak jauh dari bidang agribisnis yang memang sudah lekat dengan masyarakat.

Berangkat dari keprihatinan terhadap Negara Indonesia yang merupakan negara agraris namun saat ini negara belum mampu memenuhi kebutuhan pangan bagi rakyatnya dan masih mengimpor dari negara lain yang notabene bukanlah negara yang memiliki sumberdaya yang banyak seperti Indonesia. Oleh karena itu, sebagai lembaga yang mandiri pesantren mencoba untuk memulai dan mengembangkan pertanian dalam skala kecil yang diharapkan nantinya akan memberikan sumbangan besar bagi bangsa.

Pemberdayaan santri merupakan salah satu upaya yang dilakukan Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ dalam pengembangan kelembagaannya. Santri diberikan pengetahuan tidak hanya ilmu agama tapi juga diberikan keterampilan yang bersifat umum seperti komputer dan pertanian. Santri bekerja pada lahan

pertanian setelah mereka belajar sehingga tidak mengganggu aktivitas utama mereka di pesantren.

Selain memberdayakan santri, pesantren juga memberikan kesempatan pada masyarakat khususnya masyarakat golongan menengah ke bawah untuk ikut serta dalam pengembangan kelembagaan pesantren. Pemberdayaan santri dan masyarakat ini menunjukan bahwa pesantren tidak “egois” dalam melakukan perbaikan, karena pesantren bukanlah lembaga eksklusif yang tertuttup bagi dunia luar.

Hasil penelitian ini menunjukkan beberapa fakta bahwa pesantren telah turut serta memperbaiki kehidupan masyarakat desa pada bidang pendidikan, pertanian, ekonomi dan sosial keagamaan. Pada tataran pendidikan Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ memiliki program Wajar Dikdas 9 tahun yang tidak hanya diperuntukkan bagi santri tapi juga bagi masyarakat sekitar. Pengembangan kelembagaan ekonomi dan pertanian memberikan dampak pada peningkatan pendapatan bagi masyarakat desa. Pengembangan kelembagaan dalam bidang sosial keagamaan memberikan kontribusi terhadap perubahan akhlak dan moral masyarakat desa melalui pengajian yang semakin berkembang.

Pengembangan kelembagaan pesantren dalam rangka pengembangan masyarakat sebagai cikal bakal perubahan yang nantinya akan menciptakan perubahan yang lebih besar pada masyarakat, bangsa dan negara. Hal yang pertama dilakukan adalah memaksimalkan potensi-potensi yang ada, mulai dari sumberdaya alam sampai sumberdaya manusianya.

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosio kultural karena pesantren pesantren merupakan lembaga yang sangat dekat dengan masyarakat. Pendekatan ini dinilai lebih bisa diterima dan melibatkan seluruh elemen masyarakat dalam menciptakan perubahan. Hal yang membuat pendekatan ini berhasil adalah karena program yang selama ini dilakukan pemerintah dangat kuat ditandai oleh model yang sentralistis dan mengikuti jalur birokratis. Dalam sistem semacam ini kendati elit politik selalu mengatakan bahwa pembangunan mengutamakan bottom up planning, mendahulukan musyawarah dari bawah, namun pada kenyataannya pembangunan lebih didominasi oleh keinginan dan kepentingan pemerintah (Usman, 2003).

Hal yang menjadikan pesantren berbeda dengan lembaga lain adalah dimana dalam pesantren, dengan kepemipinan kiai dan paar ustadz serta pengelolaan yang khas, tercipta satu komunikasi tersendiri yang di dalamnya terdapat semua spek kehidupan, mulai dari pendidikan, ekonomi, budaya dan organisasi. Dalam perkembangan selanjutnya dipengaruhi oleh perkembangan dan tuntutan dinamika masyarakat.

Saat ini perhatian pemeritah pada upaya pesantren dalam rangka turut serta dalam pengembangan masyarakat dinilai masih belum optimal. Hal ini terbukti di Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ yang merasa kurang mendapatkan penyuluhan pertanian padahal penyuluhan merupakan hal yang sangat dibutuhkan bagi bidang pertanian yang saat ini sedang digalakkan. Pemerintah masih cenderung memberikan perhatian pada pesantren yang lebih modern yang berada di kota besar dibandingkan dengan pesantren tradisional yang berada di desa.

Oleh karena itu, pesantren tradisional harus sekuat tenaga mengoptimalkan potensinya dan berjalan sendiri tanpa ada perhatian dari pemerintah.

Pada saat ini, keberadaan pesantren tidak memiliki kewenangan langsung untuk merumuskan aturan sehingga perannya dapat dikategorikan sebagai partisipasi. Dalam hal ini, pesantren melalui kiai dan santri didikannya cukup potensial untuk menggerakan masyarakat secara umum.

Oleh karena itu, untuk lebih mengembangkan potensi pesantren, maka diperlukan dukungan dari berbagai elemen mulai dari masyarakat maupun pemerintah. Melalui kerjasama ini dapat berupa dukungan moril dan materil yang akan mempercepat perubahan.

Sebagai lembaga yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, pesantren harus terus disegarkan agar tidak kehilangan relevansi pada jaman yang telah berubah dengan sangat cepat. Pesantren harus lebih peka dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di lingkungannya sehingga pengembangan kelembagaan yang dilakukan adalah benar-benar hal yang dibutuhkan masyarakat.

8.1 Kesimpulan

Pesantren memiliki peran yang besar bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Saai ini telah banyak pesantren yang memiliki program pengembangan masyarakat dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat ke arah lebih baik. Program pengembangan masyarakat dibuat dengan memperhatikan kebutuhan dari masyarakat itu sendiri, sehingga program yang dibuat benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.

Masyarakat Desa Kertajaya merupakan masyarakat yang memiliki karakteristik yang beragam. Kondisi geografis yang sebagian besar masih didominasi oleh areal pertanian adalah hal yang menjadikan desa ini sama seperti desa-desa pada umumnya namun adanya dua agama menjadikan masyarakat Desa Kertajaya memiliki kekhasan yang berbeda dengan desa-desa lainnya. Mayoritas penduduk desa masih berada pada tingkat pendidikan dan ekonomi yang masih rendah.

Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ mengembangkan kelembagaan pada beberapa bidang. Pada bidang sosial keagamaan, kelembagaan yang dikembangkan adalah pengajian-pengajian dengan strategi penyebaran santri ke pelosok desa maupun mengadakan pengajian di lingkungan pesantren. Pada bidang pendidikan kelembagaan yang dikembangkan adalah mengembangkan sistem pendidikan dasar bagi anak-anak usia dini dan juga program Wajar Dikdas 9 tahun. Strategi yang dilakukan pesantren dalam pengembangan kelembagaan pendidiikan adalah pesantren memiliki kerjasama dengan International Center for

Islam and Pluralism (ICIP) dengan dibantu oleh Ford Foundation mengadakan Program Pendidikan Jarak Jauh Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT-Information & Communications Technology). Pada bidang pertanian kelembagaan yang dikembangkan adalah sistem maro dan sistem bagi hasil dengan strategi pemberdayaan masyarakat dan juga santri. Sedangkan pada bidang ekonomi, kelembagaan yang dikembangkan adalah unit simpan pinjam dengan strategi melalui kerjasama dengan pihak luar dalam hal ini pesantren memiliki kerjasama dengan Bank Syariah Mandiri untuk lebih memperlancar pengadaan kredit lunak untuk masyarakat.

Upaya pengembangan kelembagaan ini menemukan berbagai macam kendala yang memperlambat program. Kendala tersebut mulai dari kurangnya modal sampai kondisi alam yang tidak menentu. Kendala yang dirasa sangat berpengaruh adalah kurangnya dukungan dari pemerintah atas upaya pengembangan masyarakat yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’.

Terdapat perubahan kualitas kehidupan masyarakat ke arah yang lebih baik, misalnya pada bidang pertanian dan ekonomi, masyarakat yang terlibat dalam program mengalami peningkatan pendapatan setelah turut serta mengambil bagian dalam program pesantren. Pada bidang pendidikan membawa dampak pada masyarakat golongan ekonomi bawah untuk bisa mengenyam pendidikan secara gratis dan akses internet yang terbuka bagi masyarakat desa menjadikan masyarakat lebih bisa terbuka kepada teknologi. Melalui pengembangan program pendidikan dan fasilitas yang memadai tersebut memungkinkan masyarakat desa mengalami peningkatan pengetahuan. Pengembangan kelembagaan Pengajian

membawa dampak pada akidah masyarakat yang merupakan agama Nasrani. Tidak sedikit umat Nasrani yang ada di Desa Kertajaya yang memang dulunya beragama Islam dan kemudian memeluk agama Nasrani kembali memeluk agama Islam.

8.2 Saran

Bagi pesantren, sebaiknya pesantren lebih giat membangun jejaring dengan pesantren lain yang sudah terbukti berhasil dalam upaya pengembangan masyarakatnya. Melalui kerjasama tersebut diharapkan nantinya akan terbentuk kekuatan yang kokoh dan tercipta perubahan sosial yang lebih besar dan berawal dari lembaga keagamaan.

Bagi pemerintah, dukungan baik moril dan materil sangat dibutuhkan demi terciptanya kelancaran pengembangan kelembagaan yang dilakukan oleh pesantren. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan diharapkan lebih bekerjasama dan memberikan perhatian khusus pada pesantren agar perubahan dapat berjalan dengan lancar sehingga perubahan kehidupan masyarakat ke arah lebih baik bisa cepat terlaksana.

Asmani, Jamal Ma’mur. 2003. Dialektika pesantren dengan Tuntutan Zaman, dalam Hasyim, M. Affan et al. Menggagas Pesantren Masa Depan: Geliat Suara Santri Untuk Indonesia Baru. Qirtas: Jakarta.

Assa, Mosses Caesar. 2007. Pesantren Dalam Sistem Pendidikan Nasional. http://fpks-dpr.or.id/new/main.php?op=isi&id=2948. Diakses pada tanggal 4 Januari 2008.

A'la, Ach Syaiful. 2007. www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0705/07/0806.htm - 22k. Diakses pada tanggal 8 Januari 2008.

Amir, Syafrudin. 2005. Pesantren Sebagai Pembangkit Moral Bangsa. www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/072006/03/11wacana01.htm. Diakses pada tanggal 28 Oktober 2007.

Anwar dan Matahari. 2006. Peranan Pondok Pesantren Al-Basyariyah Dalam Mempersiapkan Santri Memiliki Daya Saing Tinggi. www.depdiknas.go.id. Diakses tanggal 28 Oktober 2007.

Anonim. 2007. Perguruan Tinggi Pesantren dalam Persaingan Global. http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0705/07/0806.htm. Diakses pada tanggal 8 Januari 2008.

Anonim. Tanpa Tahun. Direktori Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri. Tidak diterbitkan: Cianjur.

Aziz, Moh. 2005. Model-model Pemberdayaan. LKiS Pelangi Aksara: Jakarta. Bodgan, Robert C dan Biklen, Sari Knopp. 1990. Qualitatif Research for

Education: An Introduction to Theory and Theory (Riset Kualitatif untuk Pendidikan: Pengantar ke Teori dan Metode). Penerjemah : Munandir. Universitas Terbuka. Jakarta.

Bungin, Burhan. 2006. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Raja Grafindo Persada: Jakarta.

Depag, 2004. Profil Pondok Pesantren Mu’adalah. Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam/Direktorat Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren Departemen Agama: Jakarta.

Haedari, Amin. 2007. Perluasan Peran Pesantren. http://tabloid_info.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id =87&Itemid=27 . Diakses pada tanggal 4 Januari 2008.

Hafidhudin, Didin. 1998. Dakwah Aktual. Gema Insani Press: Jakarta. ---,---. 2003. Islam Aplikatif. Gema Insani Press: Jakarta.

Hikmat, Harry. 2001. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. Humaniora Utama: Bandung.

Horikoshi, Hiroko. 1987. Kiai dan Perubahan Sosial. P3M: Jakarta.

Koentjaraningrat. 1979. Pengantar Ilmu Antrolopogi. Rineka Cipta: Jakarta. Landas. 2006. Program Comdev Upaya Mendukung Kesejahteraan.

http://menotimika.wordpress.com/2007/11/02/program-comdev-upaya- mendukung-kesejahteraan/. Diakses tanggal 25 Januari 2008.

Mastuhu. 1994. Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren.INIS: Jakarta.

Maulana, Ilham. 2007. Pemberdayaan Masyarakat Desa Melalui Penyadaran

Alokasi Dana Desa (ADD).

http://www.geocities.com/lokkie2005/pk220306.htm. Diakses tanggal 15 Januari.

Nandika, Dodi. 2005. Pesantren Sebagai Basis Pembangunan Wilayah. http://www.republika.co.id/kolomdetail.asp?id=188820&kat_id=6. Diakses pada tanggal 28 Oktober 2007.

Nasdian, Fredian Tonny. 2003a.Diktat Kuliah Pengembangan Masyarakat.Tidak Diterbitkan. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Institut Pertanian Bogor:Bogor.

Nasdian, Fredian Tonny. 2003b. Kelembagaan Sosial dalam Sosiologi Umum. Tidak Diterbitkan.Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Institut Pertanian Bogor: Bogor.

Rahayu, Budi Ana MG. 2007. Pemberdayaan Masyarakat Desa.http. http://www.binaswadayaoneline.htm. Diakses tanggal 25 Januari 2008. Sasmita, Adi. 2006. Membangun Desa Partisipatif. Graha Ilmu: Jakarta.

Saefurrohman. 2005.Peranan Pesantren dalam Pemberdayaan Umat. http://www republika.co.id/kolomdetail.asp?id=17890&kat_id=6. Diakses tanggal 4 Januari 2008.

Siregar, Halimah. 1995. Peranan Pesantren Sebagai Agen Perubahan (Agent Of Development) Bagi Masyarakat Desa (studi kasus: Pesantren Darrunnajjah Cipining, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat). Skripsi. Program Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Tidak dipublikasikan.

Soekanto, Soerjono. 2002. Sosiologi Suatu Pengantar. Raja Grafindo Persada: Jakarta.

Suharto, Edi. 2005. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat, Kajian Strategis pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial. Refika Aditama: Bandung.

Sunito, Satyawan. 2003. Perubahan Sosial dalam Sosiologi Umum. Tidak Diterbitkan.Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Institut Pertanian Bogor: Bogor.

Syahyuti. 2006. Tiga Puluh Konsep Penting dalam Pembangunan Pedesaan dan Pertanian. Bina Rena Pariwara: Jakarta.

Turmudi, Endang. 2004. Perselingkuhan Kiai dan Kekuasaan.LkiS: Yogyakarta. Usman, Sanyoto. 2003. Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat. Pustaka

Pelajar: Yogyakarta.

Wahyoetomo. 1997. Perguruan Tinggi Pesantren Pendidikan Alternatif Masa Depan.Gema Insani Press: Jakarta.

Gambar 3. Gambar Dokumentasi Penelitian

Peternakan bebek Santri sedang tandur

Lahan perkebunan Koperasi Pondok Pesantren

Aktivitas santri Peneliti (kiri) sedang beriteraksi dengan santri

No Pertanyaan Penelitian Informan/Responden A. Karakteristik Masyarakat

1 Berapa jumlah penduduk Desa Kertajaya? Aparat desa 2 Apa pekerjaan sebagian besar penduduk Desa

Kertajaya?

Aparat desa 3 Apa agama mayoritas penduduk Desa Kertajaya? Aparat desa 4 Apa pendidikan sebagian besar penduduk? Aparat desa 5 Apakah masyarakat masih sering melakukan

kegiatan secara gotong-royong misalnya kerja bakti?

Aparat desa, tokoh masyarakat 6 Apakah masyarakat masih sering saling membantu

misalnya jika ada tetangga yang kesulitan?

Tokoh masyarakat 7 Bagaimana keadaan ekonomi masyarakat Desa

Kertajaya?

Aparat desa 8 Apakah di Desa Kertajaya masih banyak

pengangguran?

Aparat desa 9 Jika ya, mengapa hal itu terjadi? Aparat desa 10 Apakah para pemuda masih mau melaksanakan

kegiatan pertanian?

Tokoh masyarakat, masyarakat desa 11 Apakah penduduk Desa Kertajaya ada yang

migrasi keluar desa misalnya untuk bekerja?

Aparat desa, tokoh masyarakat 12 Jika ya, apakah ada perubahan perilaku dari

penduduk tersebut setelah mereka kembali ke desa?

Tokoh masyarakat 13 Apakah perubahan perilaku tersebut menyebabkan

penduduk lain mengikuti?

Tokoh masyarakat 14 Apakah masyarakat Desa Kertajaya masih sering

mengikuti kegiatan keagamaan?

Tokoh masyarakat, masyarakat desa 15 Apakah masyarakat Desa Kertajaya masih banyak

yang mempercayai takhayul?misalnya percaya pada dukun dan sebagainya

Tokoh masyarakat, masyarakat desa 16 Apakah masyarakat Desa Kertajaya masih sering

melakukan kegiatan upacara seremonial?misalnya acara tujuh bulanan

Tokoh masyarakat, masyarakat desa B. Peran pesantren dalam pengembangan masyarakat

1 Kapan dibentuknya Biro Hubungan Masyarakat di yayasan Miftahulhuda Al-Musri’?

Pengurus HUMAS 2 Apa alasan di bentuknya Biro Hubungan

Masyarakat?

Pengurus HUMAS 3 Program apa saja yang dilaksanakan Biro

Hubungan Masyarakat?

Pengurus HUMAS 5 Apakah Biro Hubungan Masyarakat memiliki

kerjasama dengan pihak lain (misalnya: Bank, perusahaan) ?

Pengurus HUMAS

6 Jika ada, bagaimana bentuk kerjasama tersebut? Pengurus HUMAS 7 Siapa sasaran program Biro Hubungan Masyarakat? Pengurus HUMAS 8 Apakah masyarakat binaan diberikan pelatihan

khusus terkait dengan program pengembangan

masyarakat yang dilakukan Biro Hubungan Masyarakat?

9 Apa bentuk timbal balik antara masyarakat yang mengikuti program dengan Biro Hubungan Masyarakat?

Pengurus HUMAS, warga binaan. 10 Apakah masyarakat dilibatkan langsung dalam

program pengembangan masyarakat Biro Hubungan Masyarakat mulai dari perencanaan sampai pengambilan keputusan?

Pengurus HUMAS, warga binaan.

11 Apakah pengurus dalam Biro Hubungan Masyarakat merupakan orang-orang yang kompeten dalam bidangnya?

Pengurus HUMAS

12 Apakah Biro Hubungan Masyarakat melakukan pengawasan terhadap masyarakat binaan?

Pengurus HUMAS, warga binaan. 13 Bagaimana teknis pengawasan tersebut? Pengurus HUMAS,

warga binaan. 14 Bagaimana strategi pesantren untuk menjamin

keberlanjutan program?

Pengurus HUMAS 15 Bagaimana peran aparat desa dalam program

pemberdayaan?

Pengurus HUMAS, aparat desa

16 Apakah pengurus pesantren menarik dana dari masyarakat dalam setiap programnya?

Pengurus HUMAS, warga binaan. 17 Apakah pesantren memiliki standar keberhasilan

program?

Pengurus HUMAS 18 Bagaimana ukuran atau kriteria keberhasilan

program pengemas menurut pesantren?

Pengurus HUMAS 19 Kendala apa yang selama ini dihadapi selama

menjalankan program?

Pengurus HUMAS C. Partisipasi Masyarakat dan Dampak Program

1 Apakah masyarakat mendaftarkan diri untuk menjadi warga binaan Biro Hubungan Masyarakat yayasan Miftahulhuda Al-Musri’ atau pengurus yayasan yang mendatangi?

Pengurus HUMAS, warga binaan, aparat desa.

2 Mengapa Anda tertarik untuk bergabung dengan program biro Hubungan Masyarakat yayasan Miftahulhuda Al-Musri’?

Warga binaan

3 Apakah masyarakat dilibatkan dalam penyusunan program pengembangan masyarakat yang dilakukan oleh Biro Hubungan Masyarakat yayasan Miftahulhuda Al-Musri’?

Pengurus HUMAS, warga binaan.

4 Apakah program yang selama ini dilakukan Biro Hubungan Masyarakat yayasan Miftahulhuda Al- Musri’ merupakan program yang masyarakat butuhkan?

Pengurus HUMAS, aparat desa, warga binaan.

5 Apakah masyarakat pernah mengujukan usul terhadap program yang mereka inginkan?

Pengurus HUMAS, warga binaan. 6 Apakah Biro Hubungan Masyarakat menerima usul

masyarakat tersebut?

Pengurus HUMAS, warga binaan. 7 Apakah masyarakat dilibatkan dalam pengambilan

keputusan yang berkaitan dengan program?

Pengurus HUMAS, warga binaan. 8 Apakah masyarakat merasa sistem bagi keuntungan Warga binaan.

yang ditetapkan pesantren sudah cukup adil?(jika responden terlibat dalam bidang pengembangan ekonomi)

9 Apakah ada hal-hal yang memberatkan Ibu/Bapak selama mengikuti program pengembangan masyarakat yang dilakukan Hubungan Masyarakat yayasan Miftahulhuda Al-Musri’?

Warga binaan.

10 Apakah keberadaan pesantren membawa perubahan terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat?

Warga binaan, aparat desa

11 Apakah pesantren menjalin hubungan baik baik dengan masyarakat maupun aparat desa?

Warga binaan, aparat desa

12 Bagaimana bentuk hubungan tersebut? Tokoh masyarakat, warga binaan, aparat desa

13 Bagaimana keadaan desa sebelum dan sesudah ada pesantren?

Tokoh masyarakat, aparat desa

14 Hal apa yang mendasari penyusunan suatu program?

Pengurus HUMAS

15 Apakah yayasan Miftahulhuda Al-

Musri’melaporkan setiap program yang telah disusun kepada aparat desa?

Aparat desa, pengurus HUMAS

Lampiran 4

Teknik Pengumpulan Data

No Kebutuhan

Data/Informasi

Sumber data/Informasi Teknik Pengumpulan

Data 1 Profil lokasi

•Administrasi geografi dan topografi desa

•Karakteristik masyarakat

Data sekunder: Potensi desa dan data monografi

Data primer: Aparat desa, tokoh masyarakat, masyarakat desa •Analisis dokumen •Wawancara mendalam 2 Sejarah desa

•Asal-usul nama desa

•Waktu terbentuknya Desa Kertajaya

Data primer : Aparat desa, tokoh masyarakat

Wawancara mendalam

3 Sejarah pesantren

•Pendiri pesantren

•Alasan berdiri Pesantren

•Jumlah santri dan pengajar

Data sekunder : Direktori Pesantren

Data primer : pimpinan pondok pesantren, sesepuh pesantren, tokoh masyarakat.

•Analisis dokumen •Wawancara mendalam 4 Sistem pendidikan pesantren •Metode pengajaran •Aktivitas rutin

•Hubungan santri dengan ustadz dan kiai

Data sekunder : Direktori Pesantren

Data primer : pimpinan pondok pesantren, sesepuh pesantren, santri. •Analisis dokumen •Wawancara mendalam •Pengamatan berperan serta 5 Peran pesantren •Ekonomi •Pendidikan •Sosial

Data primer : pimpinan pondok pesantren, sesepuh pesantren, pengurus BIRO HUMAS, santri, tokoh masyarakat, warga binaan

•Wawancara mendalam

•Pengamatan berperan serta 6 Program pengembangan

masyarakat oleh pesantren

•Alasan pembentukan

•Program yang disusun

•Sasaran program

•Target program

Data sekunder : Direktori Pesantren

Data primer : pimpinan pondok pesantren, pengurus BIRO HUMAS, sesepuh pesantren, tokoh masyarakat, warga binaan •Analisis dokumen •Wawancara mendalam •Pengamatan berperan serta 7 Perkembangan desa •Kebiasaan masyarakat yang tidak berubah

•Kebiasaan masyarakat yang berubah

•Hal-hal yang

menyebabkan perubahan

Data primer : pimpinan pesantren, sesepuh

pesantren, aparat desa, tokoh masyarakat Wawancara mendalam 8 Perubahan kehidupan masyarakat (pendidikan, sosial, ekonomi) •Perubahan ekonomi

Data primer : pengurus BIRO HUMAS, aparat desa, warga binaan, tokoh

masyarakat, pimpinan

Wawancara mendalam

masyarakat •Tingkat pendidikan masyarakat desa •Perubahan nilai-nilai masyarakat •Faktor yang menyebabkan perubahan pesantren. 9 Partisipasi masyarakat •Tingkat keterlibatan masyarakat dalam penyusunan program •Tingkat keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan

Data primer: pengurus BIRO HUMAS, pimpinan

pesantren, warga binaan.

•Wawancara mendalam •Pengamatan berperan serta 10 Kendala program •Faktor penghambat program

•Upaya mengatasi faktor penghambat

Data primer : pengurus BIRO HUMAS, pimpinan pesantren

Wawancara mendalam

Lampiran 5

Dokumen terkait