• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Misi Jejaring Pengamatan Hilal dan Video Streaming

D. O. A. Irawan1*, M. Yusuf1, A. Nasrulloh1, dan H. L. Malasan1

1Observatorium Bosscha, FMIPA – ITB,Bandung, Indonesia

*Email: [email protected]

ABSTRAK

Misi jejaring Pengamatan Hilal yang sudah berlangsung sejak tahun 2007, terus mengalami perkembangan hingga sekarang. Tujuan dari kegiatan ini adalah menyajikan informasi gambar bagi masyarakat luas melalui tayang langsung sekaligus membangun suatu sistem informasi hisab dan rukyat dengan basis data yang dikembangkan secara berkelanjutan. Observatorium Bosscha sebagai penggagas, dalam pengembangannya sekarang menggandeng beberapa instansi dari pemerintah, BUMN, agency, ormas, dan institusi pendidikan yang menganut sistem konsorsium.

Rangkaian kegiatan dari misi ini meliputi pemberian bimbingan teknis dan pelatihan pengamatan, penyuluhan bagi masyarakat di daerah, serta pengamatan hilal Ramadhan dan Syawal. Segi instrumentasi dari pengembangan misi ini terletak pada ragam teleskop, jenis detektor, dan aplikasi video streaming yang digunakan. Melalui misi ini juga diharapkan masyarakat di daerah mampu melakukan pengamatan hilal dan obyek astronomi lainnya secara mandiri.

Kata Kunci: Jejaring Pengamatan Hilal – Video streaming – Pengamatan mandiri

1 PENDAHULUAN

Hilal atau new moon adalah obyek yang sangat berpengaruh bagi kehidupan masyarakat Indonesia.

Hilal berfungsi sebagai penanda masuknya bulan baru dalam kalender Islam yang erat kaitannya dengan masa dimulai dan diakhirinya puasa serta hari besar keagamaan lainnya.

Misi dimulai sejak tahun 2007 dengan Observatorium Bosscha sebagai inisiator, yang bekerja sama dengan dua instansi pemerintah yang terkait, yaitu Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Kementerian Agama Republik Indonesia (Hidayat et al. 2010). Instrumentasi yang digunakan menganut prinsip teknologi murah dan sederhana sehingga masyrakat awam bisa memiliki, merangkai, dan mengoperasikannya secara mandiri.

Kegiatan ini bertujuan untuk menyajikan informasi gambar dan tayang langsung bagi masyarakat luas dan membangun sistem informasi hisab dan rukyat yang terus dikembangkan secara berkesinambungan.

2 PENGEMBANGAN MISI JEJARING PENGAMATAN HILAL DAN VIDEO STREAMING

Sejak 2010 hingga sekarang, misi ini terus mengalami perkembangan. Prinsip konsorsium berbagai instansi, agency, dan institusi pendidikan ikut dilibatkan dalam kegiatan ini. Dari segi instrumentasi, mengalami modifikasi dan optimalisasi yang masih mengacu pada teknologi murah, mudah, dan sederhana. Aplikasi video streaming yang digunakan merupakan aplikasi

tidak berbayar atau freeware dan mudah diunduh melalui media internet.

Daerah yang digunakan sebagai titik pengamatan mengalami penambahan. Hingga 2011, terdapat 12 kota yaitu Lhok Nga - Aceh, Pekanbaru, Bandar Lampung, Bandung, Garut, Yogyakarta, Bangkalan, Pontianak, Kupang, Mataram, Makassar, dan Biak

Sejak dimulainya misi ini hingga sekarang, tercatat dua daerah, Aceh dan Yogyakarta, telah mampu melakukan pengamatan secara mandiri dengan sistem yang dijalankan.

2.1 Konsorsium

Beberapa instansi yang dilibatkan dalam misi ini merupakan multi-instansi, mulai dari pemerintahan, BUMN, agency, ormas, dan instansi pendidikan tingkat universitas. Masing-masing organisasi tersebut memiliki fungsi tersendiri yang berguna untuk menyokong dan kelanjutan misi ini ke depannya. Instansi tersebut adalah Kemeterian Komunikasi dan Informatika RI, Kementerian Agama RI, PT. Telkom Tbk, LAPAN, BMKG, Rukyatul Hilal Indonesia (RHI), UNILA Lampung, UNHAS Makassar, UNRAM Mataram, UPI Bandung, dan Observatorium Lhok Nga Aceh.

2.2 Rangkaian Kegiatan

Rangkaian kegiatan dari misi jejaring pengamatan hilal dan video streaming adalah:

1. Bimbingan Teknis. Yaitu sosialisasi, pemberian materi, serta pelatihan teknis pengamatan hilal kepada instansi yang terlibat.

2. Pelatihan Pengamatan Hilal. Aplikasi dari kegiatan sebelumnya yang dilakukan di masing-masing daerah dengan melakukan pengamatan hilal sya’ban.

Misi Jejaring Pengamatan Hilal D. O. A. Irawan et al.

3. Penyuluhan. Berupa mini-bimbingan teknis yang diberikan kepada masyarakat sebelum pengamatan hilal dilangsungkan (Gambar 1).

4. Pengamatan Hilal. Pengamatan hilal yang dilakukan adalah pengamatan hilal Ramadhan dan Syawal.

2.3 Instrumentasi dan Aplikasi Video

Streaming

Pengembangan pada bagian ini terletak pada beberapa hal, yaitu ragam teleskop yang digunakan, detektor dan penopangnya, serta aplikasi video streaming yang digunakan.

Mounting Sphinx tetap digunakan sebagai mesin utama dari teleskop yang digunakan. Jika pada misi sebelumnya teleskop yang digunakan hanya teleskop merek William Optic 66 SD APO (Gambar 2 atas) dalam misi kali ini digunakan juga teleskop Vixen VMC110L (Gambar 2 bawah).

Rincian teleskop yang digunakan adalah 6 teleskop merek William Optic 66 SD APO dan 2 teleskop merek Vixen VMC110L.

Untuk keperluan akuisisi dan pengiriman data

(video streaming), detektor yang digunakan adalah webcam. Webcam dinilai lebih ringan namun tetap kokoh, lebih murah namun kualitas sama dengan kamera saku digital yang digunakan sebelumnya, dan mudah diperoleh di pasaran. Webcam yang digunakan adalah Webcam merek Genius eFace 2025. Pemilihan webcam untuk kegiatan semacam ini tidak terlalu rumit, parameter utamanya adalah fokusnya yang dapat diatur secara manual.

Sehingga dapat dihasilkan kualitas citra yang setajam mungkin. Guna keperluan pengiriman data, webcam tersebut harus diintegrasikan dengan peranti lunak Splitcam 5.4.3. agar akuisisi dan pengiriman data dapat dilakukan secara simultan.

Webcam yang ditopang dengan handmade attachment (Gambar 3) ini diletakkan di belakang lensa okuler teleskop sebelum akhirnya dihubungkan dengan komputer melalui sambungan USB (konfigurasi lengkap dari sistem ini ditunjukkan dalam Gambar 4).

Untuk aplikasi video streaming, digunakan Gambar 1. Penyuluhan di daerah.

Gambar 3. Webcam Genius eFace 2025 yang terintegrasi dengan handmade attachment yang diletakkan di belakang lensa okuler.

Gambar 4. Konfigurasi instrumen. Kiri: Teleskop William Optic 66 SD APO; Kanan: Teleskop Vixen VMC110L.

Gambar 2. Atas: Teleskop William Optic 66 SD APO; Bawah: Teleskop Vixen VMC110L.

Misi Jejaring Pengamatan Hilal D. O. A. Irawan et al.

Red5 Server. Aplikasi tidak berbayar ini mampu mengirimkan video dengan format dasar flash yang merupakan format umum pemutar video yang banyak beredar di pasaran. Sehingga tidak memerlukan pemutar video khusus untuk menampilkannya.

3 HASIL PENGAMATAN

Hasil pengamatan dari beberapa daerah ditampilkan dalam Gambar 5.

4 PENUTUP

Hingga tahun 2011, terdapat dua daerah yang telah dapat melakukan pengamatan secara mandiri, yaitu Yogyakarta (RHI) dan Aceh (Observatorium Lhok Nga).

Semua data hasil pengamatan disimpan dalam sistem data yang dikembangkan oleh Observatorium Bosscha, yang akan terus dikembangkan secara berkesinambungan agar data dapat diakses publik guna keperluan penelitian yang relevan ke depannya.

Ucapan Terima Kasih

Riset ini mendapat dukungan dari Leids Kerkhoven Bosscha Foundation yang bekerja sama dengan Observatorium Bosscha. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada para Staf Teknisi Observatorium Bosscha yang telah kreatif membuat handmade attachment.

5 PUSTAKA

Hidayat et. al. 2010, ITB J. Sci., 42 A, No. 1, 67-80

<http://www.geniusnet.com/wSite/ct?xItem=16761&ct Node=161>

<http://www.softpedia.com/get/Multimedia/Video/

Other-VIDEO-Tools/SplitCam.shtml>

<http://wiki.red5.org/wiki/0_9_1>

Gambar 5.

Prosidings Seminar Himpunan Astronomi Indonesia

Aula Barat – ITB, Bandung 27 Oktober 2011 (Dermawan et al., Eds.) R. Nugraha

Informasi Hilal BMKG

R. Nugraha1*

1Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Jakarta, Indonesia

*E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Sebagai institusi pemerintah yang salah satu tupoksinya dalam hal pelayanan informasi tanda waktu, sejak 2011 Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara rutin setiap menjelang pergantian bulan qomariah menyampaikan Informasi Hilal bagi kepentingan penentuan awal bulan Hijriah. Dasar sistem perhitungan yang digunakan dalam informasi ini adalah ELP 2000-82B (Chapront-Touzé dan Chapront, 1983; Chapront, Chapront-Touzé

& Francou, 2002) untuk posisi Bulan, dan VSOP-87 (Bretagnon & Francou, 1988) untuk posisi Matahari. Dasar perhitungan ini dipadukan dengan algoritma lain (Meeus, 1998; Siedelmann, 1992) untuk menghasilkan informasi Hilal yang disampaikan. Informasi tersebut adalah waktu konjungsi (ijtima’) dan waktu terbenam Matahari, data Hilal dan Matahari untuk beberapa kota di Indonesia, peta ketinggian Hilal, peta elongasi, peta umur Bulan, peta lag dan peta fraksi illuminasi. Selain itu, diinformasikan juga keberadaan objek astronomis selain Bulan dan Matahari yang berpotensi mengacaukan rukyat Hilal. Semua informasi ini dapat diakses pada http://www.bmkg.go.id/

BMKG_Pusat/Geofisika/Tanda_Waktu/. Kata Kunci: Hilal – Hisab – Peta

1 PENDAHULUAN

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) adalah salah satu institusi pemerintah yang terkait dengan tanda waktu. Hal ini terekam dalam sejarah tanda waktu BMKG (misalnya, Husni dan Nugraha, 2010), yaitu

a. Penentuan sistem waktu standar dengan teleskop transit.

b. Informasi tanda waktu dengan jam atom Cesium.

c. BMKG merupakan salah satu anggota Badan Hisab Rukyat (BHR) Pusat sejak BHR didirikan pada tahun 1972.

Dengan mengacu kepada Undang-undang no.

31 tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, keterkaitan tersebut dipertegas bahwa salah satu tugas pokok dan fungsi BMKG terkait tanda waktu adalah:

1. Melakukan pengamatan a. posisi Bulan dan Matahari;

b. penentuan sistem waktu;

2. Melakukan pelayanan informasi tanda waktu.

Mengingat hisab dan rukyat Hilal berkaitan erat dengan posisi Bulan dan Matahari, dapat dikatakan BMKG berkepentingan dengan hisab-rukyat Hilal.

Untuk itu, pada setiap menjelang pergantian tahun masehi, BMKG menerbitkan buku Peta Ketinggian Hilal setiap Awal Bulan Qomariah untuk tahun Hijriah yang bertepatan dengan tahun masehi yang akan dilalui.

Mengingat Informasi Hilal bukan hanya tinggi Hilal saja, sejak tahun 2011 BMKG rutin

menyebarluaskan Informasi Hilal di situs BMKG setiap menjelang pergantian bulan qomariah.

Informasi yang disajikan ini jauh lebih komprehensif daripada buku tersebut. Pada makalah inilah akan diuraikan metode perhitungan yang digunakan dan konsep informasi yang disampaikan dalam Informasi Hilal tersebut.

2 METODE PERHITUNGAN

Metode perhitungan yang digunakan dalam Informasi Hilal tersebut di atas adalah perhitungan semi-analitik, dengan dasar perhitungan dari ELP 2000-82B (Chapront-Touzé dan Chapront, 1983;

Chapront, Chapront-Touzé & Francou, 2002) untuk posisi Bulan dan VSOP-87 (Bretagnon &

Francou, 1988) untuk posisi Matahari. Mengingat dalam Informasi Hilal diperlukan juga informasi waktu konjungsi, waktu terbenam Matahari dan Bulan, dan informasi lainnya, dasar perhitungan tersebut dipadukan dengan perhitungan lain yang diperoleh dari Meeus (1998) dan Siedelmann (1992). Adapun Delta T diperoleh dari http://eclipse.gsfc.nasa.gov/SEhelp/deltatpoly2004.

html.

Masukan dalam perhitungan ini hanyalah tanggal masehi dan posisi lokasi yang dihitung.

Dalam proses perhitungan, masukan tersebut ditransformasikan dengan algoritma yang ada untuk menghasilkan Julian Date, waktu sideris, penanggalan Hijriah, saat konjungsi, dan waktu terbenam Matahari dan Bulan di lokasi yang dihitung. Proses berikutnya adalah menghitung posisi Matahari dan Bulan pada saat Matahari

Informasi Hilal BMKG R. Nugraha terbenam untuk tanggal yang dihitung bagi lokasi

pengamat yang diandaikan berada di pusat Bumi.

Mengingat posisi Hilal harus dinyatakan untuk pengamat di permukaan Bumi, dilakukan transformasi posisi Bulan dari pengamat yang diandaikan di pusat Bumi ke pengamat di permukaan Bumi serta koreksi ketinggian Hilal akibat refraksi atmosfer Bumi dan ketinggian lokasi dari permukaan laut. Selain itu, dilakukan juga perhitungan elongasi, umur Bulan, lag, dan fraksi iluminasi Hilal. Mengingat pengamat Hilal dimungkinkan untuk dikacaukan oleh objek astronomis non-Hilal yang dianggapnya sebagai Hilal, dilakukan juga perhitungan untuk menghasilkan informasi posisi objek astronomis non-Hilal yang berpotensi mengacaukan rukyat Hilal.

Prosedur di atas hanyalah untuk satu lokasi yang dihitung. Agar dapat dilakukan pemetaan, prosedur di atas harus diulangi untuk lokasi lainnya. Dalam hal ini, untuk pemetaan di seluruh dunia, perhitungan dilakukan untuk setiap lokasi yang terpisah 10o dari lokasi lainnya, baik dalam lintang maupun bujur. Adapun untuk pemetaan di Indonesia, perhitungan dilakukan untuk setiap lokasi yang terpisah 2o dari lokasi lainnya. Sebagai catatan, pemetaan di seluruh dunia hanya dilakukan untuk lokasi di lintang 60o LU sampai dengan 60o LS mengingat deklinasi Bulan selalu antara ± 58,7o.

3 HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari perhitungan di atas, diperoleh hasil yang dipergunakan untuk Informasi Hilal yang disampaikan oleh BMKG kepada masyarakat luas.

Untuk memudahkan masyarakat memahami informasinya, dibuat struktur Informasi Hilal sebagai berikut.

ƒ Waktu Konjungsi dan Waktu Terbenam Matahari di Indonesia.

ƒ Data Hilal untuk Beberapa Kota di Indonesia

ƒ Objek Astronomis Lainnya yang Berpotensi Mengacaukan Rukyat Hilal

Perbandingan waktu konjungsi dan waktu terbenam Matahari di Indonesia dilakukan untuk memperhitungkan pergantian bulan qomariah bagi pengguna hisab dan/atau rukyat. Adapun data Hilal untuk beberapa kota di Indonesia adalah informasi yang berisi nama dan lokasi kota, waktu konjungi, waktu terbenam Matahari dan Bulan, azimuth Matahari dan Bulan, tinggi Hilal, elongasi, dan fraksi illuminasi Hilal di setiap kota pada saat Matahari terbenam. Selain itu disampaikan juga contoh perhitungan untuk mengetahui posisi Hilal dengan memperhitungan refraksi atmosfer dan ketinggian lokasi dari permukaan laut. Dalam Informasi Hilal tersebut, setiap istilah selalu dijelaskan definisi yang digunakan untuk memudahkan pengguna dalam memahaminya.

Semua informasi ini dapat diakses pada http://www.bmkg.go.id/BMKG_Pusat/Geofisika/

Tanda_Waktu/.

4 KESIMPULAN

BMKG telah menerapkan dasar sistem perhitungan semi-analitik untuk keperluan Informasi Hilal BMKG yang disampaikan kepada publik melalui situs BMKG.

Ucapan Terima Kasih

RN menyampaikan terima kasih kepada rekan-rekan di Sub-bidang Gravitasi dan Tanda Waktu BMKG atas kerjasamanya dalam penyusunan Informasi Hilal BMKG.

5 PUSTAKA

Bretagnon, P. & Francou, G. 1988, Astron.

Astrophys., 202, 309-315

Chapront-Touzé, M. & Chapront, J. 1983, Astron.

Astrophys., 124, 50-62

Chapront, J., Chapront-Touzé, M. & Francou, G. 2002, Astron. Astrophys., 387, 700-709

<http://eclipse.gsfc.nasa.gov/SEhelp/deltatpoly2004.

html>, diakses pada 29 Juni 2010

Husni, M. & Nugraha, R. 2010, in Perspektif Sains dan Syariah, 19 Desember 2009, Obs. Bosscha ITB, Bandung, pp. 79-83

Meeus, J. 1998, Astronomical Algorithms (2nd ed.), Willmann-Bell, Richmond, VA

Seidelmann P. K. (ed.), 1992, Explanatory Supplement to the Astronomical Almanac, University Science Books, Mill Valley

Prosidings Seminar Himpunan Astronomi Indonesia

Aula Barat – ITB, Bandung 27 Oktober 2011 (Dermawan et al., Eds.) D. Herdiwijaya et al.

Penentuan Waktu Gerhana Bulan Total 16 Juni 2011 Berdasarkan Sky Quality

Dokumen terkait