• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Nuklir Sebagai Langkah Pre-Emptive MELAWAN AS Dan

BAB IV ALASAN ATAU FAKTOR YANG MENYEBABKAN IRAN TETAP

5. Pengembangan Nuklir Sebagai Langkah Pre-Emptive MELAWAN AS Dan

Kurang lebih telah melewati masa empat tahun krisis nuklir Iran menjadi perbincangan khalayak dunia Internasional. Sepanjang itu pula masyarakat dunia Internasional seakan-akan disuguhkan tentang permasalahan konfrontasi yang terbangun antara Iran-AS dan UE. Disisi lain pendekatan pemecahan masalah yang dilakukakan oleh AS dan UE terjadi perbedaan pendapat. Uni Eropa bersikap lebih lunak dalam menghadapi isu nuklir Iran tersebut. Berbeda dengan Amerika yang sampai kepada keputusan untuk membawa permasalahan ini ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Meskipun permasalahan isu yang berkembang mengenai tuduhan Amerika bahwa Iran mengembangkan proyek bom nuklir sampai detik ini pun belum bisa dibuktikan secara konkret. Yang padahal Iran selama ini selalu bersifat kooperatif dengan melalui badan IAEA sebagai fasilitator ataupun badan yang mengurusi permasalahan energi atom Internasional dalam memperlihatkan transparansi dan Itikad baiknya, dalam hal ini program nuklir Iran memang untuk tujuan nasional.

118

Tempo, 3 Oktober 2004, hal. 114

119

Selama ini, diantara negara yang berani berbicara menyangkut tindakan politik luar negeri dan hubungan internasional Amerika dan Israel secara frontal dan transparan salah satunya adalah Iran. Iran selama ini dikenal dengan pernyataan-pernyataannya yang radikal dan apa adanya mengenai pandangan-pandangannya tentang Amerika. Seperti pernyataan Imam Khomeini yang mengatakan bahwasannya Amerika merupakan ‘Setan Besar’ sampai kepada pernyataan-pernyataan yang dilontarkan presiden Iran saat ini yaitu Mahmoud Ahmadinejad yang sering berbuah menjadi pernyataan-pernyataan yang penuh kontroversi.

Pengembangan nuklir Iran dalam hal ini bisa merupakan sebagai langkah preventif negara tersebut dalam upaya menghadang hegemoni barat khususnya Amerika. seperti yang diungkapkan Ahmadinejad ketika berkunjung ke kuala Lumpur Malaysia dalam rangka kampanye Iran untuk menggalang dukungan menjelang sidang Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Beliau menuduh kekuatan barat berusaha mengontrol minyak dunia, Beliau juga menambahkan bahwasannya barat ingin menguasai sumber-sumber energi dunia dan sudah menguasai titik-titik strategis dunia. Oleh karena itu Ahmadinejad mengajak negara-negara lain untuk melawan arus hegemoni ini. Beliau mengajak untuk menentang tuntutan yang berlebihan dari kekuatan-kekuatan ini (hegemoni Barat).

Menurut Ahmadinejad, upaya dunia barat semacam Amerika serikat menentang habis-habisan program nuklir Iran merupakan bukti penghinaan atas bangsa Islam. Gaya mereka yang arogan menekan negara-negara kecil lebih berbahaya dibandingkan dengan permasalahan keterbelakangan. Ahmadinejad mengatakan, Iran bakal bertahan mati-matian dan tidak akan menyerah untuk mempertahankan prinsipnya soal teknologi nuklir. Sebab,

jika Iran mundur, bakal menginjak dan menilai itu sebagai perdamaian. Menurut beliau teknologi merupakan kunci utama sebuah bangsa untuk menjadi maju.120

Menteri Luar Negeri Iran Manouchehr Mottaki mengatakan yang disampaikannya pada pidato pembukaan pertemuan tingkat menteri kelompok delapan negara berkembang (D-8) di Nusa Dua Bali (12/5/2006), bahwa kepentingan negara-negara berkembang hanya bisa dijamin dengan baik bila mereka bersatu, sehingga memiliki suara yang lebih keras dalam interaksi internasional, karena saat ini ada kekuatan-keuatan dominan dunia yang berusaha mengeksploitasi globalisasi untuk memperkuat hegemoni mereka. Beliau menambahkan negara-negara anggota D-8 harus bersatu dalam menghadapi hegemoni Barat.121

Keberanian Iran tampaknya bukan tanpa kalkulasi. Dalam urusan kekuatan militer Iran dikabarkan akan membeli 29 sistem pertahanan udara yang bisa berpindah dengan nilai kontrak lebih dari USS 700 juta (sekitar Rp 7 triliun) dari Rusia dalam waktu dekat. Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Ivanov mengatakan, kontrak untuk mengirimkan peluru kendali (rudal) TOR-MI sudah ditanda tangani negerinya dengan Iran. Ivanov mengatakan bahwasannya kesepakatan tersebut berakibat pada keseimbangan persenjataan di negeri para Mullah tesebut.

122

Ahmadinejad bahkan mengancam akan menahan penjualan minyaknya sebagai perlawanan terhadap resolusi Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Tinadakan ini diambil sebagai bentuk balasan atas rencana AS yang akan membawa Iran ke meja Dewan Keamanan PBB karena program nuklirnya.123

120

Tempo, 12 Mei 2006.

121

Ibid, Tempo, 12 Mei 2006

122

Tempo, 25 Desember 2005, hal.139

123

Dalam hal ini mengindikasikan tentang kekhawatiran-kekhawatiran yang dirasakan oleh Amerika mengenai permasalahan program nuklir Iran tersebut. Ini merupakan sebuah reaksi (AS) dari timbulnya aksi (Iran). Amerika kemungkinan besar membaca hal ini bahwasannya Iran memang benar-benar salah satu bentuk embrio perlawanan dari dunia timur terkhusus Islam dalam menghadapi hegemoni barat. Sehingga dalam kacamata Bush Iran merupakan salah satu diantara negara yang harus ‘dilumpuhkan’ dan merupakan ancaman yang nyata. Seperti yang ditegaskannya dalam pidato kenegaraan State of the Union dihadapan kongres pada 3 Februari 2005.124

Amerika Serikat meyakini bahwasannya Iran memiliki ambisi untuk menjadi salah satu Nuclear State di Timur Tengah disamping negara Israel. Oleh karena itu, Iran dipersepsikan sebagai ancaman yang nyata bagi kepentingan AS untuk menjadi hegemoni di Timur Tengah. Seperti yang dikatakan Bush dalam pidato kenegaraannya tersebut, beliau mengatakan bahwasannya Iran merupakan negara paling utama dalam mendukung terorisme, terutama dengan keputusan Iran untuk terus mengupayakan nuklir. Iran juga telah mengabaikan kemerdekaan yang sebenarnya justru dinginkan dan pantas untuk didapatkan rakyat Iran.

Bush menegaskan, untuk menciptakan perdamaian di Timur Tengah, AS harus melakukan konfrontasi terahadap rezim-rezim yang dianggap mendukung terorisme dan memiliki senjata pemusnah massal. Sehingga isu kepemilikan senjata nuklir menjadi alasan AS untuk menyeret Iran ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk diberi sanksi.

125

Dengan demikian, merupakan suatu hal yang masih berada dalam batas kewajaran apabila Iran mati-matian untuk mempertahankan program nuklirnya. Disamping merupakan pemanfaatan tekhnologi untuk kepentingan nasional dan untuk pemenuhan listrik dalam

124

Kompas, 2 Februari 2005

125

negeri seperti yang telah disinggung diatas dan bisa membangun suatu negara kearah yang lebih berkembang dan maju karena memiliki teknologi canggih dalam hal ini pemanfaatan dan pengembangan sumber energi yang tidak terbatas yaitu nuklir, juga bisa menjadi kekuatan penyeimbang (balance of power) untuk negara berkembang dengan negara-negara yang sudah maju seperti Amerika seperti yang telah dimaksud Morgenthau dalam teori realisme. Hal ini dimaksudkan supaya menghindari terjadinya hegemoni suatu negara kapada negara yang lainnya. Yang selama ini pengembangan energi nuklir hanya didominasi oleh negara-negara yang telah maju saja yang memang didukung dengan sumber ekonomi yang memadai.

KESIMPULAN

Di tengah dunia saat ini di bawah ancaman menipisnya sumber energi minyak yang mengarah pada krisis energi, maka sudah sepatutnya bila Iran telah mengembangkan energi alternatif selain dari sumber energi dari minyak bumi yakni energi nuklir. Maka berdasarkan uraian-uaraian pada bab-bab sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa

• Isu nuklir Iran ini tidak lepas dari berbagai kepentingan lain yang tidak diungkap, khususnya kepentingan ekonomi dan hankam (defense and security) nasional dan regional buat negara-negara tertentu, khususnya Israel dan Amerika Serikat beserta sekutunya. Di samping itu, isu nuklir Iran ini, di bawah permukaan, juga merupakan benturan antar peradaban (class of civilization), serta sosial budaya antara konservatif dan moderat, Barat dan Timur serta agama antara Islam dan Non-Islam (Kristen-yahudi).

• Isu nuklir Iran bukan saja merupakan persoalan kepentingan nasional satu negara tetapi juga merupakan kepentingan keamanan internasional. Untuk itu berbagai mekanisme dan upaya internasional patut dikedepankan (all options are still on the table) guna mencegah berbagai kemungkinan buruk yang mungkin terjadi yang dapat merugikan stabilitas dan keamanan internasional. Dalam konteks ini mekanisme diplomatis multilateralisme patut mendapat dukungan semua pihak agar berbagai kemungkinan buruk tidak memperoleh ruang untuk terjadi. Solusi diplomatik yang bersifat damai terhadap isu nuklir Iran tidak saja akan menguntungkan Iran sendiri namun juga akan berdampak positif pada keamanan Internasional. Jadi dalam diplomasi ini Iran sebagai penandatangan dan sekaligus sebagai anggota NPT (non proliveration treaty)

memiliki hak legal untuk mengembangkan program nuklirnya tujuan kepentingan nasional dan dalam tujuan damai tanpa diskriminasi.

• Meskipun kebijakan program nuklir Iran mendapat kecaman dunia internasional : Amerika Serikat dan Uni Eropa (Inggris-Prancis dan Jerman), namun Iran tetap melanjutkan penggunaan dan pengembangan haknya untuk kepentingan nasional mereka yaitu, pertama, pemenuhan kebutuhan listrik sipil dalam negeri. Kedua, pengembangan nuklir merupakan salah satu bentuk perlawanan pre-emptive menghadapi AS dan Uni-Eropa.

• Hubungan Amerika Serikat dengan Iran sangat panas. Amerika Serikat merasa terancam dengan adanya pengembangan nuklir di Iran yang sebenarnya bukanlah sebagai senjata pemusnah massal seperti yang dituduhkan Amerika Serikat sehingga membuat Amerika Serikat terus memberikan tekanan kepada pemerintah Iran untuk segera menghentikan aktivitas nuklir mereka, namun pemerintah Iran bersikeras untuk tetap melanjutkan program nuklir mereka maka menimbulkan ketegangan diantara kedua negara sehingga hubungan antara Amerika Serikat dan Iran dalam konteks nuklir menjadi sangat kontradiktif bahkan sampai menimbulkan ketegangan di dunia internasional. Namun, dalam perkembangannya konflik nuklir Iran dengan Amerika Serikat semakin lama semakin berkembang ke arah yang lebih baik. Hal ini dapat dibuktikan semakin terbukanya Iran untuk melakukan diplomasi damai dengan Amerika Serikat. Selama pertengahan Tahun 2008 Iran mulai melakukan perbincangan dengan Amerika Serikat untuk kemungkinan memperbolehkan Amerika Serikat membuka kembali kedutaan besarnya di Iran setelah kurang

lebih 30 tahun semenjak revolusi Islam Iran kedutaan besar Amerika Serkat tidak pernah ada di Iran.

DAFTAR PUSTAKA

BUKU- BUKU :

Abdulhakim Mahally, membongkar Ambisi Global AS, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 2003.

Abd Rahman, Musthafa, Iran Pasca Revolusi, Fenomena Pertarungan Kubu Reformis dan Konservatif, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2003.

Akbar Etemed, “IRAN”, European Non-Proliferation Policy, Oxford: Oxford University Press, 1987.

Alcaff, Muhammad, Perang Nuklir Militer Iran, Zahra Publishing, jakarta, 2008.

El-Gogary, Adel, Ahmadinejad The Nuclear Savior of Tehran, Pustaka Iiman, Depok, 2006.

Jakson, Robert & George Sorensen, Teori-Teori Hubungan Internasional, Jakarta, Grafindo, 2005.

Jatmika, Sidik, AS Penghambat Demokrasi, Jakarta, Bigraf Publishing, 2000.

Jemadu, Aleksius, Politik Global Dalam Teori dan Praktik, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2008.

Judith Perera, The Nuclear Industry in The Former Soviet Union : Transsition From Crisis to Opportunity, London, Financial Times Energy Publising, 1997.

Kenneth, Timmerman, “Iran : Ever More Threatening”, National Security Quarterly, Vol 1, 1993.

Labib, Muhsin dkk, Ahmadinejad, David di Tengah Angkara Goliat Dunia, Penerbit Hikmah, Jakarta, 2006.

Leonard S. Spector, Nuclear Ambition, Boulder Colorado, Westview press, 1990.

Maulana Mirza, Ar-Rusyidi, Mahmoud Ahmadinejad Singa Persia Vs Amerika Serikat, Penerbit Garasi, Yogyakarta, 2007.

Misbach Hidayat, Khairul Umam, Fatwa-Fatwa Sayyid Ali Khamaini, Humaniora Press, Jakarta, 2004.

Morgenthau, Hans J., Politik Antar Bangsa, buku cetakan pertama, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, April 1990.

• Nasution, Dahlan, Politik Internasional Konsep dan Teori, Erlangga, Bandung, 1989.

Plano, Jack., dan Roy Olton. Kamus Hubungan Internasional, terj. Drs. Wawan Juanda, Jakarta : Putra A. Bardin, 1999.

Petherick, The CIA In Iran 1953 Coup. American Free Press, Washington DC, 2005.

Shoelhi, Mohammad, Di Ambang Keruntuhan Amerika, Grafindo, Jakarta, 2007.

Shyam Bhatia, Nuclear Rivals in The Middle East, London, Routledge, 1987.

• The Statemen of Director General of IAEA, Implementation of the NPT Safeguards of the Islam Republik of Iran, 26 Agustus 2003.

Ward, Terrence, The Hidden face of Iran, Rajut publishing, jakarta, 2007.

William D. Coplin, Pengantar Politik Internasional : Suatu Telaah Teoritis, Sinar Baru, Bandung, 1992.

MAJALAH

• Majalah Islam Sabili, No 7 TH. XII 22 Oktober 2004 / 8 Ramadhan 1425. Hlm : 58- 61. (Mengeroyok Nuklir Iran)

• Majalah Islam Sabili, No 11 TH. XXII 17 Desember 2004 / 5 Dzulqa’dah 1425. Hlm : 98-105 (Mengungkap Skandal Nuklir Israel)

• Majalah Islam Sabili, No 15 TH. XII. 10 Februari 2005 / 1 Muharam 1426. Hlm : 52- 55. (Bersiap Menggempur Iran)

Mark Hibbs. “Minatom says It Can Complete One Siemens PWR in Iran in Five Years”, Nucleonics Week, 29 September 1994.

Nucleonics Week, 28 Maret 1996.

Nucleonics Week, 8 Oktober 1992.

Nucleonics Week, 1 Oktober 1992.

TEMPO, 22 Februari 2004. Hlm : 128-129 (Jaringan Pasar Gelap Nuklir).

TEMPO, 3 Oktober 2004. (Nuklir Dalam Kalender).

SURAT KABAR • Iran News, 13 juli 2003.

• Kompas, 07 Juni 2003.

• Pikiran Rakyat, 8 September 2004.

Kompas, Jumat, 13 Januari 2006, dalam “Sengketa Nuklir Iran Meruncing”

Kompas, Selasa, 24 Januari 2006, dalam “Barat Hadapi Dilema Soal Iran”

Kompas, Kamis, 19 Januari 2006, dalam “Kekuatan Dunia Terbelah Soal Nuklir Iran”

The Washington Times, 13 Agustus 1992 The Washington Times, 25 September 1995

The Washington Times, 13 Desember 1995 “Rafsanjani’s Bombs”, The Washington Post, 17 April 1995

The Washington Post, 30 September 1995

New York Times, 30 September 1995

The Sunday Telegrap, 16 Desember 1996

The Iran Brief, 6 mei 1996 Mednews, 8 Juni 1992 INTERNET • • • •

Mohammad Sahini, “Iran Nuclear Program” Part I (It’s History),

“Tak ada bukti nuklir Iran untuk bom atom”

”Isfahan Alloy Steel Complex Goes on Stream,” Iranian Business Digest,

Antony Barnett, ”How Pakistan fuels Nuclear Arms Race”

http//observe.guardian.co.uk/international/story/06903/1125614 html.

”Saling tuding senjata nuklir Iran”, http//www.antara.co.id/senws/?id+3258.

Mustafa Abdul Rahman, “Iran Antara Ambisi Nuklir dan Tekanan As”. http;//www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0306/26/ln/379597.htm.

JURNAL

• ANALISA, Masalah Strategi Nuklir, 1986, CSIS.

• ANALISA, Perkaitan Strategi Nuklir, 1986, CSIS.

• Jurnal Analisis Administrasi dan Kebijakan, Volume 3 Nomor I, Januari April 2006.

Lampiran-lampiran

GBR.1 : Fasilitas Instalasi Nuklir Isfahan di ambil dari Udara.

GBR. 2 – 3 – 4 : Pipa penyulingan Uranium Ringan.

GBR. 4

. GBR. 5 : Manometer pengukur tekanan air kelas ringan Uranium

GBR. 6 : Area tanda bahaya

GBR. 7: Proses pemisahan isotop menggunakan mesin sentrifugal hingga terjadi pemisahan isotop sampai pengayaan selesai.

GBR.. 8 : Para ilmuwan nuklir sedang melakukan pengujian bahan uranium tingkat rendah yang sudah diperkaya, dan bisa dipergunakan sebagai bahan reaktor nuklir pembangkit tenaga listrik.

GBR. 9 : Proses lanjutan mesin sentrifugal sementara uranium tingkat tinggi yang sudah diperkaya bisa digunakan sebagai bahan bom nuklir.

Dokumen terkait