BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Landasan Teori
2.2.1. Sistem Informasi
2.2.1.2. Pengembangan Sistem Informasi dan Tujuannya
Pengembangan sistem informasi adalah proses memodifikasi atau mengubah bagian-bagian atau keseluruhan sistem informasi. Proses ini membutuhkan komitmen substansial mengenai waktu dan sumber daya dan merupakan aktifitas yang berkesinambungan. Menurut Burch, dkk (1991) dalam Aplonia Lau (2003), hal penting yang harus diperhatikan dalam pengembangan sistem informasi adalah manusia. Pernyataan ini diperkuat oleh Baronas, dkk (1988) dalam Aplonia Lau (2003), bahwa apabila suatu sistem mengalami kegagalan, salah satu penyebabnya adalah ketidakmampuan sistem informasi itu memenuhi harapan stakeholder yang meliputi : analisis sistem, sponsor dan pelanggan. Dengan demikian untuk mengurangi resiko kegagalan sistem informasi, dibutuhkan kemampuan memprediksi outcome dari upaya yang telah dilakukan dalam pengembangan sistem informasi. Prediksi lebih awal ini dapat dibuat dalam tahap–tahap proyek pengembangan sistem Ginzberg (1981) dalam Aplonia Lau (2003).
Setiap proyek pengembangan sistem akan melalui siklus hidup pengembangan sistem SDLC (System Development Life Cycle). Pendekatan dengan SDLC ini biasanya digunakan oleh divisi sistem informasi untuk memberikan pengertian yang jelas tentang apa yang seharusnya disertakan dalam pengembangan suatu sistem. Untuk
lebih mudah dipahami tahap-tahap dalam SDLC dapat ditunjukkan dalam gambar berikut ini :
Tabel 2.2
Tahap-Tahap Dalam SDLC A System Development Life Cycle
General Phase Detail Phase Analysis Feasibility Assessment
Information Analysis Design System Design
Program Development Procedure Development Implementation Conversion
Operation and Maintenance Audit and Review
Sumber : Jurnal Elfreda Aplonia Lau (2003)
Pengembangan sistem ini merupakan aspek-aspek kritis dalam penggunaan teknologi informasi, maka akan dijelaskan secara terinci mengenai SDLC.
1.Feasibility Assessment mendefinisikan dengan jelas apa yang harus dilakukan oleh sistem, Out-put apa yang harus dihasilkan, in-put apa yang harus diterima, bagaimana in-put data diperoleh, basis data seperti apa yang diperlukan, dan seberapa cepat out-put harus tersedia. Tahap Feasibility Assessment ini akan menghasilkan dokumen proposal sistem yang berisi seluruh analisis yang telah dilakukan.
2.Information Analysis dilakukan pendefinisian sistem secara rinci tentang apa saja yang diperlukan untuk penulisan komputer bagi sistem yang akan dikembangkan. Tahap Information Analysis ini
menghasilkan dokumen kebutuhan sistem yang menyeluruh, yang berisi diagram kamus data dan spesifikasi pemakai.
3.System Design melibatkan keputusan hardware dan software apa saja yang akan digunakan, mendesain isi dan struktur basis data, dan mendefinisikan modul (program) pengembangan sistem dan bagaimana hubungan antara modul yang satu dengan modul yang lain. Tahap ini akan menghasilkan dokumen yang menerangkan secara detail bagaimana sistem akan bekerja.
4.Program Development yaitu membuat program komputer dan mendesain rinci basis data dan file-file yang digunakan oleh sistem. Pada tahap ini akan disusun dokumen yang memuat deskripsi naratif mengenai program, bagan arus program, daftar sumber program, dan deskripsi jelas mengenai format data yang digunakan dan keluaran yang dihasilkan.
5.Procedure Development merupakan tahap penyusunan kumpulan dokumen yang terorganisasi yang berkaitan dengan prosedur operasi yang mencakup aplikasi-aplikasi tertentu dan instruksi operasi. Instruksi operasi merupakan pedoman menjalankan program bagi pemakai, personal operasi, komputer dan orang lainnya yang terlibat dalam operasi sistem.
6.Conversion dalam tahap implementasi, personal-personal operasi perlu dikoordinasikan, dilatih ulang, dan perubahan fisik yang berasal dari sistem yang baru juga perlu dibuat. Perubahan sistem
baru, mencakup bentuk-bentuk pemotongan dan penggandaan aktivitas pemerosesan. Penjadwalan merupakan pertimbangan tahap ini. Perubahan fisik yang utama mencakup penyiapan letak dan pengubahan file.
7.Operation and Maintenance merupakan tahap penyusunan skedul operasi yang berhubungan dengan pemrosesan data perusahaan serta pemeliharaan sistem. Pemeliharaan sistem ini nantinya akan juga mengikuti aliran SDLC, dapat merupakan perbaikan sistem yang lama dan dapat pula berupa pembuatan sistem yang baru. 8.Audit and Review menspesifikasikan hakekat setiap audit yang
akan dilakukan untuk mengevaluasi operasi sistem serta mengumpulkan dan menelaah tanggapan-tanggapan pemakai dalam sistem setelah sistem dioperasikan.
2.2.1.1. Definisi BNS (Bumiputera New System)
BNS (Bumiputera New System) adalah progam aplikasi yang berbasis web sehingga dapat menggunakanya hanya membutuhkan “ Internet Eplorer “. Dimana system ini mempermudah nasabah untuk langsung mengakses melalui internet dengan menggunakan fasilitas yang di sediakan. Dengan system ini maka nasabah dapat langsung melihat sendiri polis,saldo, dan lain lain
2.2.2. Dukungan Manajer atau Manajemen Puncak 2.2.2.1. Manajemen
2.2.2.1.1.Pengertian Manajemen
Menurut Stoner dalam Handoko (1999: 8), mengemukakan bahwa manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha–usaha para anggota organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
Dari pendapat diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa pada dasarnya manajemen dapat didefinisikan sebagai bekerja dengan orang–orang untuk menentukan, menginterpretasikan dan mencapai tujuan–tujuan organisasi dengan pelaksanaan fungsi–fungsi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penyusunan personalia atau kepegawaian (staffing), pengarahan dan kepemimpinan (leading) dan pengawasan (controlling).
Gambar 2.1 : Arti Manajemen
Sumber : Handoko, Hani T, 1999, Manajemen, edisi kedua, BPFE, Yogyakarta, halaman 10. Manajemen Perencanaan Pengorganisasian Penyusun personalia Pengarahan Pengawasan Anggota Organisasi (bawahan) Tujuan Organisasi
2.2.2.1.2.Tingkatan Manajemen
Menurut tingkatan manajemen dalam organisasi dibagi menjadi tiga golongan yang berbeda, yaitu :
1. Manajer lini pertama
Tingkatan paling rendah dalam suatu organisasi yang memimpin dan mengawasi tenaga–tenaga operasional. Sebutan lain bagi manajer lini adalah pimpinan (leader), mandor (foreman) dan penyedia (supervisor).
2. Manajer menengah
Para manajer menengah dibawahi dan mengarahkan kegiatan– kegiatan para manajer lainnya dan kadang–kadang juga karyawan operasional. Sebutan lain bagi manajer menengah adalah manajer departemen, kepala pengawas (superintendents). 3. Manajer puncak
Manajer puncak bertanggung jawab atas keseluruhan manajemen organisasi. Sebutan lain bagi manajer puncak adalah direktur, presiden, kepala devisi, wakil presiden senior dan sebagainya.
Gambar 2.2 : Tingkat Manajemen dalam Suatu Organisasi
Sumber : Handoko, Hani T, 1999, Manajemen, edisi kedua, BPFE, Yogyakarta, halaman 18.
2.2.2.1.3.Fungsi – Fungsi Manajemen
Menurut Handoko (1999: 21), mendefinisikan fungsi–fungsi manajemen sebagai berikut :
1.Perencanaan : pemilihan dan penentuan tujuan organisasi dan penyusunan strategi, kebijakan, program dan lain–lain.
2.Pengorganisasian : penentuan sumber daya dan kegiatan yang dibuat, menyusun organisasi atau kelangsungan kerja, penugasan wewenang dan tanggung jawab serta koordinasi.
3.Penyusunan personel : seleksi, latihan, pengembangan, penempatan dan orientasi karyawan.
Karyawan Operasional Non Manajerial Manajer Puncak
Manajer Lini Menengah Manajer Menengah
Tingkatan Manajer
4.Pengarahan : motivasi, komunikasi, kepemimpinan untuk mengarahkan karyawan mengerjakan sesuatu yang ditugaskan kepadanya.
5.Pengawasan : penetapan, pengukuran pelaksanaan dan pengambilan tindakan kolektif.
2.2.2.1.4.Tugas dan Ketrampilan Manajer
Definisi manajer sebelumnya menyebutkan beberapa fungsi dari manajemen sedangkan tugas–tugas dari manajer itu sendiri menurut Handoko (1999: 29), :
a.Manajer bekerja dengan dan melalui orang lain. Manajer tidak hanya berhubungan dengan para bawahan dan atasan tapi juga manajer lainnya dalam organisasi dan berhubungan dengan individu–individu diluar organisasi.
b.Manajer memadukan dan menyeimbangkan tujuan–tujuan yang saling bertentangan dan menetapkan prioritas–prioritas.
c.Manajer bertanggung jawab dan mempertanggung jawabkan atas kegiatan–kegiatan yang harus diselesaikan dan tugas para bawahan. Sukses atau kegagalan bawahan adalah cermin langsung sukses atau kegagalan manajer.
d.Manajer harus berpikir secara analitis dan konseptual. Mampu memilah–milah masalah, menganalisa komponen–komponen
permasalahan dan memberikan solusi permasalahan tersebut dan menjadi pemikir konseptual dengan memandang keseluruhan tugas dan mengaitkan dengan tugas yang lain.
e.Manajer adalah mediator atas permasalahan dalam organisasi baik dalam hal individual maupun antar unit kerja.
f.Manajer adalah politisi, yaitu mengkampanyekan program, mengembangkan hubungan untuk mendapatkan dukungan atas kegiatan–kegiatan, usulan–usulan dan keputusan–keputusannya. g.Manajer adalah diplomat, manajer mampu menjadi wakil
(represen-tatif) pada pertemuan organisasional ataupun dengan pihak luar organisasi.
h.Manajer mengambil keputusan–keputusan yang sulit. Organisasi selalu menghadapi permasalahan yang banyak. Oleh karena itu manajer diharapkan dapat menemukan pemecahan berbagai permasalahan dan mengambil keputusan yang tepat.
Setelah melihat demikian berat tugas dari seorang manajer terhadap organisasi yang dipimpinnya, maka diperlukan keahlian atau ketrampilan dalam mengorganisasikan perusahaan secara efektif. Ketrampilan– ketrampilan tersebut seperti yang dikemukakan oleh Handoko (1999: 35), sebagai berikut :
1.Ketrampilan konsepsual ( conceptual skills ), adalah kemampuan mental untuk mengkoordinasikan dan mengintegrasikan seluruh kepentingan dan kegiatan organisasi.
2.Ketrampilan kemanusiaan ( human skills ), adalah kemampuan untuk bekerja dengan memahami dan memotivasi orang lain, baik secara individu maupun kelompok.
3.Ketrampilan administratif ( administrativef skills ), adalah seluruh ketrampilan yang berkaitan dengan perencanaan, pengorganisasian, penyusunan kepegawaian dan pengawasan.