BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 Pengenalan Umum Mengenai Periode Manajemen
Pada periode manajemen tahun 2001-2003 pengelolaan HPGW dibawah pimpinan Bapak Irdika Mansur. Pada periode ini belum ada usaha peningkatan usaha getah yang maksimal. Hal ini dikarenakan HPGW masih berfokus pada peralihan manajemen yang bersubsidi dari Fakultas Kehutanan IPB menjadi mandiri. Pendanaan HPGW masih mendapat bantuan dari fakultas, sementara untuk memenuhi kebutuhan operasional lain, maka pengembangan usaha dilakukan. Saat itu lebih dititikberatkan pada sektor agroforestri dan koperasi untuk pemasaran hasil pertanian. Sehingga usaha penyadapan kopal relatif belum menjadi prioritas.
Awal produksi getah dengan harga yang dipasarkan Rp 2.500 per kg dan biaya upah sadap Rp 600 per kg. Namun produksi masih relatif sedikit berkisar 900 kg per bulan sehingga dalam perluasan pasar untuk melakukan kontrak langsung ke industri kurang memungkinkan karena membutuhkan bahan baku kopal yang cukup banyak. Untuk menjaga stabilitas pasar dan harga, pihak HPGW menjual bahan baku kopal ke Pak Jefri sebagai distributor kopal untuk industri. Pak Jefri adalah pembeli pertama kopal di HPGW sehingga kopal mulai disadap dalam jumlah besar. Beliau merupakan pengumpul kopal dan mendistribusikannya ke pabrik kemenyan dan pabrik vernis.
20
Sementara itu untuk pemberdayaan masyarakat, pihak HPGW memfasilitasi masyarakat Desa Hegarmanah untuk berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan Hutan Toyota (kerjasama HPGW dengan PT. Toyota Astra Motor). Hal ini membantu perekonomian masyarakat karena upah yang diterima oleh masyarakat sangat membantu dalam mencukupi kebutuhan hidup. Sementara manfaat bagi HPGW adalah masalah pencurian kayu menurun drastis serta meningkatnya hubungan dengan masyarakat desa. Kegiatan pemberdayaan lain ialah Proyek AKECU (Asean-Korean Environmental Cooperation Unit). Proyek ini merupakan kegiatan berupa pelatihan pertanian terpadu yang melibatkan masyarakat sekitar Hegarmanah salah satunya pembuatan pupuk kompos. Proyek ini memfasilitasi terbentuknya pasar tradisional dari hasil tani. Kegiatan pemberdayaan masyarakat berupa peningkatan ekonomi masyarakat lebih ke pertanian daripada penyadapan (pemanfaatan hutan) di HPGW.
5.2.2 Periode Manajemen Tahun 2004-2008
Pada periode manajemen tahun 2004-2008 pengelolaan HPGW dibawah pimpinan Bapak Supriyanto. Pada periode ini usaha peningkatan produksi getah mulai dilakukan. Kegiatan tersebut seperti penambahan frekuensi pengambilan getah (terutama pada saat hari besar lebih banyak mengambil getah karena membutuhkan lebih banyak uang). Kegiatan berikutnya adalah penelitian tentang stimulan untuk memicu lebih banyak getah yang keluar dari pohon. Pada periode ini HPGW mencoba mandiri (tidak ada pendanaan dari fakultas lagi), jika pada periode sebelumnya mencoba mandiri tetapi masih dibantu pendanaanya oleh fakultas.
Periode ini memiliki ciri pada proses produksi yaitu penetapan kelas kualitas (grading). Kualitas getah dibagi dalam tiga kelas yaitu grade A (kualitas getah yang bersih, besar, untuk kebutuhan ekspor), grade B (kualitas getah dengan kandungan kulit pohon kurang dari 5%, agak kecil, untuk pengolahan kembali), dan grade C (kualitas getah dengan kandungan kulit kayu lebih dari 5%,
berbentuk kecil-kecil, untuk kebutuhan lokal). Grade A memiliki harga jual Rp 4.500 per kg dengan upah sadap Rp 800 per kg, grade B memiliki harga jual
Rp 3.750 per kg dengan upah sadap Rp 750 per kg, grade C memiliki harga jual Rp 3.500 per kg dengan upah sadap Rp 700 per kg. Tujuan awal dari sistem grade
21
ini untuk menjaga kualitas di tingkat penyadap serta permintaan pembeli. Tujuan berikutnya untuk meningkatkan harga jual agar harga tidak rendah. Namun proporsi penerimaan getah masih lebih rendah dibandingkan dengan penerimaan di sektor lain.
Pada periode ini dibuka pula penyadapan resin sesuai permintaan Perhutani. HPGW menilai jika hanya dari kopal tidak dapat mencukupi untuk biaya operasional manajemen. Resin menjadi kekuatan baru dengan harga jual sebesar Rp 3.500 per kg dengan upah sadap Rp 850 per kg pada tahun 2007 dan Rp 950 per kg pada tahun 2008.
Pemasaran getah kopal lebih ditekankan pada kepastian pasar. HPGW menginginkan pembeli yang berkelanjutan. Pemasaran hanya dilakukan ke Pak Junaedi (distributor pabrik kemenyan), beliau yang rutin memesan pada HPGW. Ada pembeli lain tetapi dalam bentuk skala kecil dan tidak kontinu. Sementara itu untuk pemasaran resin hanya didistribusikan ke Perhutani sebagai mitra sekaligus produsen getah pinus utama.
Proses pendekatan ke masyarakat dilakukan dengan patroli intensif sehingga pencurian kayu berkurang, melalui kegiatan sosial seperti kegiatan mahasiswa, serta bantuan sosial untuk kegiatan hari besar. Sistem pemberian insentif (reward system) diberlakukan terhadap penyadap dengan produksi baik, namun hanya bertahan 10 bulan karena penyadap tidak antusias.
5.2.3 Periode Manajemen Tahun 2009-sekarang
Pada periode manajemen tahun 2009-sekarang pengelolaan HPGW dibawah pimpinan Bapak Budi Prihanto. Pada periode ini terdapat peningkatan yang signifikan pada usaha getah. Peningkatan pesat ini karena terdapat usaha-usaha untuk meningkatkan produksi getah seperti kelola sosial, insentif, perluasan kapasitas, dan pelatihan. Dalam penentuan target produksi didasarkan pada tren yang ada, selagi masih bisa dipacu akan terus dikejar. Langkah pertama dengan mengoptimalkan penyadap.
Dasar penetapan upah sesuai rataan jumlah produksi penyadap dan melihat kebutuhan hidup penyadap. Untuk upah sadap sebesar Rp 1.000 per kg dengan tambahan Rp 200 per kg kelebihan dari target (untuk kopal dan resin). Target
22
Rp 6.500 per kg, sementara itu harga jual resin Rp 4.000 per kg (data hingga Juni 2010).
Pemasaran ditujukan kepada pembeli yang skema pembayarannya jelas dan tidak mengambil resiko. Kontinuitas penting, tetapi lebih ditekankan pada kejelasan pembayaran. Saat ini untuk pemasaran kopal hanya ke Pak Lukman (trader Cirebon) untuk selanjutnya ke pabrik di Surabaya. Beliau dinilai lebih aman (save) dalam pembayaran. Sementara itu jika resin tetap pemasarannya ke Perhutani.
Periode ini kembali menggunakan satu kualitas getah kopal (tanpa grade). Hal ini bertujuan untuk menyelamatkan harga. Kualitas A (grade A) jumlahnya semakin sedikit, sehingga jika terus produksi maka harga yang diperoleh akan rendah. Sementara itu grade C memiliki peningkatan kuantitas, sehingga jika masih diterapkan sistem grade maka pemasukan yang diterima menjadi lebih sedikit karena harga jual grade C lebih rendah. Untuk itu diambil jalan tengah untuk menaikan harga grade C dan sedikit menurunkan grade A sehingga ditemukan nilai tengah. Hal ini juga untuk menyelamatkan grade C yang banyak namun harga rendah.
Tahun 2009 pendapatan getah masih 37% dari pendapatan total, namun untuk target 2010 pendapatan getah mencapai 50% dari pendapatan total. Karena yang menjadi prioritas ialah getah untuk pendapatan dasar, yang kedua ialah penerimaan pelayanan jasa seperti wisata permainan (out bond), sepeda gunung, penyewaan aula dan camp dan lain sebagainya . Meski kedepannya pelayanan jasa yang berpotensi lebih besar.
5.2.4 Periode Manajemen Tahun 1996-2001
Pada periode manajemen tahun 1996-2001 pengelolaan HPGW dibawah pimpinan Bapak Endang Husaeni. Untuk periode manajemen tahun 1996-2001 ditempatkan di akhir karena tidak termasuk dalam analisis untuk penelitian ini. Pada periode ini dimulai penyadapan pada Februari 2001. Awal penyadapan dikarenakan ada pembeli dari Sukabumi (Pak Jefri) yang ingin membeli kopal HPGW. Tetapi HPGW belum melakukan penyadapan, sehingga dilakukan percobaan dan pelatihan penyadapan dengan mencontoh agathis di Situ Gunung.
23
Direktur HPGW mencontohkan penyadapan kepada mandor, kemudian mandor memberi arahan ke masyarakat yang ingin menyadap (awal ada penyadap). Percobaan dimulai tahun 1998 dengan personel 5 orang yang terdiri dari para mandor HPGW. Masing-masing melakukan percobaan 60 pohon (di 3 plot) sehingga total 900 pohon. Percobaan bertujuan untuk mengetahui potensi awal getah yang ada. Selanjutnya datang pembeli dari Sukabumi (Pak Jefri).
Pada akhir kepemimpinan Pak Endang Husaeni dilakukan produksi penyadapan sekitar 2 bulan dengan hasil 350 kg dan 800 kg, upah sadap Rp 400 per kg dan harga jual Rp 1.500 per kg. Peralatan produksi dibeli pada periode ini seperti kapak sadap, timbangan, ember dan peralatan sadap lainnya. Pada saat dimulai produksi sudah memberdayakan penyadap. Jumlah penyadap kopal sebanyak 20 orang.
Pada awal periode ini tahun 1996, HPGW tidak memiliki uang sama sekali. Segala macam hal yang bisa menjadi uang akan dikerjakan, bahkan uang pribadi pernah dikeluarkan. Ada pengembangan agroforestri untuk pemasukan HPGW seperti kopi, aren, dan lain-lain.
Namun pada tahun 1998-1999 krisis moneter yang terjadi di Indonesia berpengaruh terhadap keadaan HPGW, sehingga Fakultas Kehutanan IPB dan Departemen-Departemen yang berada di Fakultas Kehutanan IPB turut mengucurkan dana. Pada tahun 2001 dimulailah penyadapan seiring datangnya pembeli (Pak Jefri). Pada periode ini rawan terjadinya pencurian kayu, bahkan kopal hasil sadapan.
5.3 Pendapatan Pengelola HPGW