• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengendalian Hama dan Penyakit Rumput Laut

Dalam dokumen BUdidaya rumput laut di kabupaten lembat (Halaman 41-52)

3.5 Kegiatan Pembesaran Rumput Laut 1 Persiapan Lokasi Pembesaran

4.2.5 Pengendalian Hama dan Penyakit Rumput Laut

Dalam melakukan usaha budidaya rumput laut, pengendalian hama dan penyakit perlu diperhatikan karena serangan hama dan penyakit akan sangat berpengaruh terhadap produksi dan produktifitas rumput laut yang dibudidayakan.

Menurut Partosuwiryo dan Hermawan (2008), hama yang menyerang tanaman budidaya rumput laut dikelompokkan menjadi dua macam berdasarkan ukurannya yaitu hama mikro micro garzer dan hama makro macro grazer .

Dalam proses perawatan/pemeliharaan rumput laut selama kegitan PKL banyak ditemukan berbagi macam jenis hama yang mengganggu dalam kegiatan budidaya. Beberapa jenis hama tersebut adalah larva teripang, yang merupakan salah satu jenis hama mikro. Sedangkan hama makro yang menyerang rumput laut di lokasi budidaya selama kegiatan PKL adalah ikan baronang, penyu hijau, ikan- ikan kecil, rumput laut penggangu dan teritip. Keberadaan hama makro pada lokasi budidaya rumput laut sudah dalam bentuk dewasa/besar.

1) Larva teripang Holothuria sp.

Pertumbuhan rumput laut menjadi terhambat karena ada hama berupa larva teripang yang menempel pada thallus. Hama tersebut akan berkembang menjadi hama makro dan memakan thallus rumput laut. Dalam pelaksanaan kegiatan PKL, hama teripang yang menyerang rumput laut di lokasi dikendalikan dengan cara membersihkan hama larva teripang dari thallus rumput laut agar hama tersebut tidak berkembang dan memakan rumput laut. Karena ukuran larva ini sangat kecil, yaitu kurang dari dua cm maka larva ini akan jatuh dan tidak menempel lagi pada rumput laut apabila ada arus dan gelombang yang kuat.

2) Penyu hijau Chelonia mydas

Penyu mempunyai paruh bawah yang bergerigi dan tajam. Paruh tersebut terletak di bagian depan mulutnya. Paruh ini yang digunakan untuk memotong thallus rumput laut, (Gambar 13).

Gangguan dari penyu hijau tidak jarang ditemukan pada budidaya rumput laut. Hal ini sesuai dengan pendapat Zatnika dan Anggadiredja (2002), hama makro yang paling ganas dan dapat menghabiskan tanaman Eucheuma sp yaitu penyu hijau.

Hasil pengamatan dalam PKL ini memperlihatkan bahwa rumput laut yang dimakan oleh penyu hijau mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: thallus seperti terpotong pisau; thallus yang tersisa adalah bonggol atau thallus utama; thallus bekas paruh kadang menjadi lembek bahkan membusuk. Penyu hijau memakan langsung tanaman rumput laut pada percabangan thallus yang baru tumbuh/muda, sehingga yang tersisa hanya thallus atau bonggol utama yang paling tua dan keras, seperti tampak pada gambar 14 dibawah ini.

Sumber : Data Lapangan PKL 2015

Gambar 14 Rumput laut yang terserang penyu hijau

Hama penyu merupakan hama terbesar yang biasa menyerang selain ikan baronang, dan menyerang pada malam hari dalam waktu yang cepat. Penyu hijau melakukan penyerangan di daerah tepi atau dekat perairan yang dalam.

pada minggu kedua. Walaupun rumput laut tidak seluruhnya habis, dari kedelapan longline yang dipakai, lima longline yang diserang penyu hijau. Akibat serangan dari biota ini yaitu banyak rumput laut yang habis dimakan dan tidak bisa dipanen.

Penyu hijau hanya makan pada bagian percabangan thallus saja karena penyu menyukai thallus yang muda, sehingga yang tersisa hanya thallus atau bonggol utama yang paling tua. Cabang thallus yang terpotong akibat gigitan penyu akan sulit untuk berkembang atau tumbuh cabang muda baru lagi. Hal ini mengakibatkan pertumbuhan dari rumput laut menjadi lambat dan menimbulkan kerugian yang besar bagi para pembudidaya. Jenis hama ini dikendalikan dengan cara mengusir hama tersebut dari lokasi budidaya akan tetapi frekuensi serangan hama ini lebih banyak terjadi pada malam hari, sehingga menyulitkan para pembudidaya untuk mengusir hama tersebut.

3) Ikan baronang Siganus spp.

Biota yang mengganggu selain penyu adalah ikan baronang. Ikan spesies ini mempunyai kebiasaan makan bergerombol. Tanda serangan ikan baronang ditemukan sejak awal minggu. Hasil wawancara dengan pembudidaya, dan juga pengamatan langsung selama kegiatan PKL, hal ini disebabkan lokasi budidaya yang merupakan tempat penyebaran ikan baronang.

Ikan baronang memiliki tubuh yang membujur dan memipih lateral, dilindungi oleh sisik-sisik yang kecil, mulut kecil posisinya terminal. Rahangnya dilengkapi dengan gigi-gigi kecil. Punggungnya dilengkapi sebuah duri yang tajam mengarah ke depan antara neural pertama dan biasanya tertanam dibawah kulit, (Gambar 15).

Sumber : Data Lapangan PKL 2015

Gambar 15 Hama Ikan Baronang.

muda. Tanda pada rumput laut yang termakan ikan baronang adalah terdapat bekas potongan kecil pada ujung thallus, tidak semua thallus termakan habis dan rumput laut tidak mengalami pembusukan seperti terlihat pada Gambar 16.

Sumber : Data Lapangan PKL 2015

Gambar 16 Rumput laut yang dimakan baronang

Biota ini menjadi salah satu pengganggu pada budidaya rumput laut karena sifat makannya yang bergerombol dan mencari tumbuhan hijau. Hal ini sesuai dengan pendapat Zatnika dan Anggadiredja (2002), bahwa hewan pengganggu berukuran lebih dari 2 cm merupakan hama makro dan hama yang sering mengganggu budidaya rumput lautadalah ikan baronang.

Ikan baronang mempunyai mulut yang kecil. Biota ini juga tidak memakan rumput laut sebagai makanan utama sehingga rumput laut yang dimakan hanya cabang thallus yang baru tumbuh atau yang muda saja. Berbeda dengan thallus yang dimakan penyu, ujung thallus yang termakan akan mudah tumbuh lagi. Kerugian yang ditimbulkan oleh serangan ikan baronang lebih ringan dibandingkan dengan penyu hijau.

4) Ikan-ikan kecil

Jumlah hama berupa ikan-ikan kecil sangat banyak ditemukan di lokasi budidaya kelompok Kuda Laut selama kegiatan PKL (Gambar 17). Ada sekitar lima jenis ikan kecil yang biasa menyerang dan serangannya terjadi pada hari ke 5 setelah penanaman.

34 4

Hal ini sesuai dengan pendapat Zatnika dan Anggadiredja (2002), bahwa hewan pengganggu berukuran kurang dari dua cm merupakan hama mikro dan dapat menjadi hama pada proses budidaya rumput laut.

Hama ikan-ikan kecil biasanya berukuran kecil sehingga penanggulangan dengan cara memasang jaring keliling areal budidaya. Akan tetapi ukuran mata jaring harus lebih kecil dari ukuran tubuh ikan sehingga ikan yang berukuran kecil tidak dapat masuk dan menyerang tanaman budidaya. Jenis hama ini hanya menyerang ujung-ujung thallus yang masih muda. Frekuensi serangan hama ini setiap hari dalam jumlah yang banyak. Akibat dari serangan hama ini pertumbuhan rumput laut menjadi terhambat atau pertumbuhannya lambat atau kerdil seperti tampak pada Gambar 18.

Sumber : Data Lapangan PKL 2015

Gambar 18 Rumput laut yang terserang ikan-ikan kecil

5) Rumput laut penggangu

Jenis hama ini hidup bersama-sama dengan rumput laut atau menempel pada thallus dan mengambil makanaan dari tanaman budidaya tersebut. Selama kegiatan PKL, rumput laut pengganggu tidak begitu banyak ditemukan. Hal ini dikarenakan selama masa pemeliharaan Penulis dan pembudidaya lainnya melakukan kontrol secara baik dan teliti, serta rumput laut penggangu yang ditemukan menempel pada komoditas budidaya langsung dibersihkan karena

dengan rumput laut penggangu. Keberadaan jenis hama ini biasanya dibawa oleh arus dan jenis rumput laut penggangu yang biasa menyerang adalah gelidium (Gambar 19) dan sargasum (Gambar 20).

Sumber : Data Lapangan PKL 2015 Sumber : Data Lapangan PKL 2015

Gambar 19 Sargasum Gambar 20 Gelidium 6) Teritip Ballanus sp

Teritip bukan hama predator rumput laut, namun merupakan crustacea penempel. Teritip jarang dijumpai pada budidaya rumput laut. Biota ini menempel karena faktor lingkungan yang sesuai untuk perkembangannya. Penempelan larva dari teritip ini diduga karena larva ini terbawa arus atau gelombang hingga menempel pada thallus rumput laut. Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa hewan ini ditemukan sedikitnya dua ekor yang menempel pada tiap rumput laut yang ditanam. Biota ini merupakan hama. Menurut Zatnika dan Anggadiredja (2002), bahwa hama yang berukuran lebih dari dua cm merupakan hama makro (Gambar 21) .

Sumber : Data Lapangan PKL 2015

Gambar 21 Rumput laut yang terserang Ballanus sp

putih dan bisa menyebabkan lembek, sehingga thallus yang lembek ini akan membusuk dan mudah patah. Kegiatan pembersihan terhadap rumput laut menjadi terganggu karena adanya biota ini. Pada saat panen, thallus yang ditempeli teritip pun akan sulit dibersihkan dan bisa menurunkan kualitas rumput laut.

Dari semua hama yang menyerang, hama yang frekuensi serangannya lebih banyak dan merugikan adalah hama ikan baronang. Jenis hama ini memakan tanaman budidaya rumput laut pada bagian ujung thallus/thallus muda sehingga tanaman budidaya ini kesulitan untuk bertumbuh. Data serangan hama dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini.

Tabel 3 Hasil pengamatan jenis dan jumlah hama yang menyerang.

N

o Jenis hama

Jumlah/ minggu

I II III IV V VI VII VIII

1 Ikan baronangSiganus spp - - 49 32 - - - -

2 Penyu hijau Chelonia mydas

- 1 - - - -

3 Larva teripang Holothuria sp.

- - - 1 - - 1 -

4 Ikan-ikan kecil. ± 50 ±70 ±10

0 ± 60 50 ± 70 ±50 < 50

5 Rumput laut penggangu - 1 - 2 1 - 1

6 Teritip Ballanus sp - 1 - 1 - - - -

Sumber : Data Primer PKL

Berdasarkan pengamatan di lokasi budidaya kelompok Kuda Laut selama kegiatan PKL, tanda yang ditinggalkan akibat gangguan hama adalah terdapat bekas potongan pada percabangan dan ujung thallusnya serta adanya pembusukan akibat potongan tersebut. Sedangkan kerusakan yang disebabkan akibat penempelan teritip adalah timbulnya lumut di sekitar thallus.

b. Penyakit .

37 7

kelompok Kuda Laut adalah penyakit ice-ice, penyakit bakterial dan penyakit whitespot. Munculnya penyakit rumput laut ini ditandai dengan perubahan anatomi dan lambannya pertumbuhan. Menurut Partosuwiryo dan Hermawan (2008), penyakit merupakan suatu gangguan fungsi atau terjadinya perubahan anatomi yang abnormal.

1) Penyakit ice-ice

Penyakit yang ditemukan pada budidaya rumput laut di kelompok Kuda Laut yaitu ice-ice. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa, ice-ice tidak menyerang seluruh rumput laut yang dibudidayakan. Tanaman rumput laut Eucheuma cottoni yang terserang ice-ice terlihat menjadi berwarna putih pada thallusnya. Kemudian thallus yang berwarna putih lama kelamaaan menjadi lembek dan akhirnya putus. Zatnika dan Anggadiredja (2002), menjelaskan pula bahwa penyakit ini ditandai dengan adanya bercak putih pada sebagian thallus. Bercak ini yang lama kelamaan menyebabkan thallus kehilangan warna sampai menjadi putih, dan akhirnya mudah putus /rontok (Gambar 22). Gejala klinis dari penyakit ice-ice mulai terlihat pada minggu kedua sampai ketiga atau hari ke 15 sampai hari ke 20 setelah penanaman rumput laut dilakukan.

Sumber : Data Lapangan PKL 2015

Gambar 21 Rumput laut yang terserang ice-ice

Penyakit ini diduga berkaitan dengan adanya perubahan kondisi yang cukup lama dan tidak sesuai untuk pertumbuhan rumput laut. Pada PKL ini, kondisi

Maret dan bulan April.

Hasil pengukuran parameter kualitas air menunjukkan bahwa terjadi penurunan suhu hingga 20°C yang tidak sesuai dengan kondisi optimal. Menurut Zatnika dan Anggadiredja (2002), suhu yang optimal untuk pertumbuhan rumput laut berkisar antara 23°-26°C. Pengukuran salinitas juga menunjukkan penurunan mencapai 21‰. Zatnika dan Anggadiredja (2002), menerangkan bahwa salinitas yang tinggi akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan daya tahan terhadap penyakit, sehingga pada salinitas rendah akan menyebabkan rumput laut mudah terkena penyakit.

Menurut Partosuwiryo dan Hermawan (2008), penyakit ice-ice yang menyerang rumput laut terutama disebabkan oleh adanya perubahan lingkungan (arus, suhu, kecerahan, dll.) di lokasi budidaya dan berjalan dalam waktu yang cukup lama. Pencegahan penyakit ini adalah dengan memotong thallus yang terserang ice-ice agar tidak menyebar ke seluruh thallus.

Penyakit ini lebih banyak ditemukan pada budidaya rumput laut dengan metode longline sedangkan dengan metode kandang jaring hanya susunan rumput laut bagian atas saja yang terserang penyakit ice-ice.

2) Penyakit bakterial

Selama kegiatan PKL di lokasi budidaya kelompok Kuda Laut jenis penyakit bakterial tidak banyak ditemukan. Hanya ditemukan sekitar empat rumpun rumput laut yang terserang. Gejala dari penyakit ini adalah thallus berwarna hitam dan membusuk sebagaimana ditunjukan pada Gambar 23.

Gambar 23 Rumput laut yang terserang penyakit bacterial

Penyakit bakterial pada tanaman rumput laut sangat sedikit terjadi. Meskipun demikian dekomposisi bakteri dari tanaman yang mati di perairan pantai sangat cepat terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri ada pada komunitas tanaman hidup. Akan tetapi patogenesitas bakteri pada tanaman rumput laut masih belum dapat dibuktikan.

Penyakit bakterial yang biasa dijumpai pada tanaman rumput laut antara lain macrocystis pyrifera, yaitu sejenis bakteri yang menyerang tanaman rumput laut yang mana rumput laut yang terserang akan berwarna hitam dan membusuk (Partosuwiryo dan Hermawan, 2008).

3) Penyakit whitespoot

Selama proses budidaya di lokasi kelompok Kuda Laut ditemukan penyakit whitespoot, namun serangan penyakit ini lebih sedikit dibandingkan dengan penyakit ice-ice.

Gejala timbulnya penyakit whitespoot terlihat dari warna sebagian thallus yang coklat kekuning-kuningan menjadi putih kemudian menyebar keseluruh thallus dan pada akhirnya seluruh bagian tanaman membusuk dan terlepas/rontok dari tali pengikat bibit (Gambar 24).

Sumber : Data Lapangan PKL 2015

Gambar 24 Rumput laut yang terserang penyakit whitespot

cukup lama dan tidak sesuai untuk pertumbuhan rumput laut. Menurut Tim Penulis Penebar Swadaya (2007), cara pencegahan dari penyakit ini adalah dengan memonitor adanya perubahan-perubahan lingkungan, terutama pada saat terjadinya perubahan lingkungan. Di samping itu dilakukan penurunan posisi tanaman lebih dalam untuk mengurangi penetrasi cahaya sinar matahari. Dengan menerapkan metode budidaya ini serangan hama menjadi berkurang akan tetapi masih ada hama yang berukuran kecil yang masih menyerang.

Hal ini dikarenakan jaring pembungkus kandang yang berfungsi sebagai penghambat hama menyerang rumput laut secara langsung masih berukuran lebih besar dari ukuran hama. Jenis hama yang masih menyerang pada metode budidaya ini adalah ikan-ikan kecil yang tergolong dalam hama mikro.

Untuk melindungi rumput laut dari serangan hama mikro maka jaring yang dipakai pada metode kandang jaring diganti denga waring. Setelah pergantian jaring dengan mengunakan waring tidak ada lagi hama berupa ikan kecil yang menyerang.

Penyakit yang masih menyerang rumput laut di lokasi budidaya kelompok Kuda Laut dengan metode kandang jaring adalah penyakit ice-ice, namun pengaruh penyakit ini bukan pada kualitas air atau lokasi budidaya yang tidak tepat melainkan karena penyakit tersebut terbawa dari kebun bibit dan waktu pemilihan dan penyeleksian bibit tidak dilakukan pemilihan bibit dengan baik dan benar dan tidak memperhatikan kriteria bibit yang baik.

Rumput laut yang terserang penyakit ice-ice ditanggulangi dengan cara memotong bagian yang terkena penyakit agar tidak menyerang thallus yang lain. Pada saat pergantian metode budidaya longline dengan metode kandang jaring penyakit ice-ice tidak banyak menyerang sehingga penanganannya sekedar pemotongan rumput laut yang terserang. Namun menurut informasi yang didapatkan dari hasil wawancara dengan ketua kelompok Kuda Laut dan pembudidaya lain di Desa Mahal II, apabila terjadi serangan penyakit ice-ice yang sangat besar maka seluruh kegiatan budidaya sebaiknya dihentikan sementara karena akan menyerang rumput laut pada lokasi budidaya yang lainnya.

Dalam dokumen BUdidaya rumput laut di kabupaten lembat (Halaman 41-52)

Dokumen terkait