TINJAUAN PUSTAKA
3.7. Potensi Bahaya dan Risiko Terhadap Debu
3.7.9 Pengendalian/Pencegahan
Untuk mencegahnya, pekerja yang terpapar debu harus memakai masker. Sedang bila paparan debu bahan kimia berbahaya diperlukan penggunaan respirator dengan atau tanpa cartridge. Untuk perusahaan garmen, alat pelindung diri yang perlu dipakai adalah masker biasa. Untuk para pekerja, termasuk yang terpapar debu harus diperiksa kesehatan secara berkala dan khusus. Untuk pengguna respirator khusus pemeriksaan fungsi paru (spirometri) menjadi keharusan guna selalu memberikan kesehatan paru yang setinggi-tingginya disamping pekerja mengelola hidup dengan lifestyle yang baik.
Pengontrolan debu di ruang kerja terhadap sumbernya antara lain :
a. Isolasi sumber agar tidak mngeluarkan debu di ruang kerja dengan “ Local Exhauster”atau dengan melengkapi water sprayer pada cerobong asap.
b. Subtitusi alat yang mengeluarkan debu dengan yang tidak mengeluarkan debu. Pencegahan terhadap transmisi, yaitu :
(b) Dengan alat (scrubber, elektropresipitator, ventilasi umum).
Pencegahan terhap tenaga kerjanya antara lain dapat menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yaitu dengan menggunakan masker.
3.8 Kebisingan
Bunyi didengar sebagai rangsangan-rangsangan pada telinga oleh getaran-getaran melalui media elastis dan manakala bunyi-bunyi tersebut tidak dikehendaki, maka dinyatakan sebagai kebisingan. Terdapat dua hal yang menentukan kualitas suatu bunyi yaitu frekuensi dan intensitasnya. Frekuensi dinyatakan dalam jumlah getaran per detik atau disebut Hertz. Intensitas atau arus energi per satuan luas biasanya dinyatakan dalam suatu logaritma.
Gambar. Tipe intensitas kebisingan (dBA), Zenz,C.(1994) Occupational medicine (2en ed) p.260 Jenis-jenis kebisingan yang sering ditemukan:
• Kebisingan yang kontinu dengan spektrum frekuensi yang luas
• Kebisingan kontinu dengan spektrum frekuensi yang sempit
• Kebisingan terputus-putus
• Kebisingan impulsif berulang
Alat utama dalam pengukuran kebisingan adalah soundlevel meter. Alat ini mengukur kebisingan di antara 30-130 dB dan dari frekuensi 20-20.000 Hz.
Pengaruh utama dari kebisingan pada kesehatan adalah kerusakan kepada indera pendengar, yang menyebabkan ketulian progresif dan akibat ini telah diketahui dan diterima umum untuk berabad lamanya. Dengan kemampuan higiene perusahaan dan kesehatan kerja, akibat buruk ini dapat dicegah. Mula-mula efek kebisingan pada pendengar adalah sementara dan pemulihan terjadi secara cepat sesudah dihentikan kerja di tempat bising. Tetapi kerja terus-menerus di tempat bising berakibat kehilangan daya dengar menetap dan tidak pulih kembali. Lingkungan kerja industri, tingkat kebisingan biasanya tinggi sehingga harus ada batas waktu pajanan kebisingan.
Batasan kebisinganyang diberikan oleh The Workplace and Safety (Noise) ComplianceStandar 1995, SL No 381 adalah 8 jam terus menerus pada level tekanansuara 85 dB (A), dengan refrensi 20 micropascal. (20)Berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja No 51/Men/1999tentang kebisingan adalah sebagai berikut :
Kebisingan di tempat kerja dapat menimbulkan gangguan yangdapat dikelompokkan secara bertingkat sebagai berikut :
a. Gangguan fisiologis
Gangguan fisiologis adalah gangguan yang mula-mula timbulakibat bising, dengan kata lain fungsi pendengaran secara fisiologisdapat terganggu. Pembicaraan atau instruksi dalam pekerjaan tidakdapat didengar secara jelas, sehingga dapat menimbulkan gangguanlain seperti: kecelakaan. Pembicaraan terpaksa berteriak-teriaksehingga memerlukann tenaga ekstra dan juga menambahkebisingan. Di samping itu kebisingan dapat juga mengganggu“Cardiac Out Put” dan tekanan darah.Pada berbagai penyelidikan ditemukan bahwa pemaparanbunyi terutama yang
mendadak menimbulkan reaksi fisiologisseperti: denyut nadi, tekanan darah, metabolisme, gangguan tidurdan penyempitan pembuluh darah. Reaksi ini terutama terjadi padapermulaan pemaparan terhadap bunyi kemudian akan kembali padakeadaan semula. Bila terus menerus terpapar maka akan terjadiadaptasi sehingga perubahan itu tidak tampak lagi. Kebisingan dapatmenimbulkan gangguan fisiologis melalui tiga cara yaitu:
1). Sistem internal tubuh
Sistem internal tubuh adalah sistem fisiologis yang penting untuk kehidupan. Sebenarnya proses adaptasi sendiri adalah indikasi dariperubahan fungsi tubuh karenanya tidak begitu disukai.Kebisingan yang tinggi juga dapat mengubah ketetapankoordinasi gerakan, memperpanjang waktu reaksi danmenaikkan respon waktu, semuanya ini dapat berkahir denganhuman error.
b. Gangguaan psikologis
Gangguan fisiologis lama kelamaan bisa menimbulkangangguan psikologis. Kebisingan dapat mempengaruhi stabilitasmental dan reaksi psikologis, seperti rasa khawatir, jengkel, takutdan sebagainya. Stabilitas mental adalah kemampuan seseorangnuntuk berfungsi atau bertindak normal. Suara yang tidak dikehendakimemang tidak menimbulkan mental illness akan tetapi dapatmemperberat problem mental dan perilaku yang sudah ada.
c. Gangguan patologis organis
Gangguan kebisingan yang paling menonjol adalahpengaruhnya terhadap alat pendengaran atau telinga, yang dapatmenimbulkan ketulian yang bersifat sementara hingga permanen.(1)
Kelainan yang timbul pada telinga akibat bising terjadi tahap demi tahap sebagai berikut:
1). Stadium adaptasi
Adaptasi merupakan suatu daya proteksi alamiah dan keadaanyang dapat pulih kembali, atau kata lain sifatnya reversible.
2). Stadium “temporary threshold shiff”
Disebut juga “audtory fatigue” yang merupakan kehilanganpendengaran “reversible” sesudah 48 jam terhindar dari bisingitu. Batas waktu yang diperlukan untuk pulih kembali sesudahterpapar bising adalah 16 jam. Bila pada waktu bekerjakeesokan hari pendengaran hanya sebagian yang pulih makaakan terjadi “permanent hearing lose”.
Dalam stadium ini ambang pendengaran meninggi lebih lama,sekurang-kurangnya 48 jam setelah meninggalkan lingkunganbising, pendengaran masih terganggu.
4). Stadium “permanent trehold shiff” Pada stadium ini meningginya ambang pendengaran menetapsifatnya, gangguan ini banyak ditemukan dan tidak dapatdisembuhkan. Tuli akibat bising ini merupakan tuli persepsiyang kerusakannya terdapat dalam cochlea berupa rusaknyasyaraf pendengaran.
Proses terjadinya gangguan pendengaran terjadi secaraberangsur-angsur, yaitu mula-mula tidak terasa adanya gangguanpendengaran, baru setelah penderita sadar bahwa ia memerlukansuara-suara keras untuk sanggup mendengarkan suatu percakapandiketahui adanya gangguan pendengaran. Pergeseran ambangpendengaran nampak dalam tahun-tahun pertama terpaparkebisingan. Orang yang belum pernah berada dalam kebisinganbiasanya menunjukkan perbaikan yang bagus setelah dipindakan darikebisingan, sedangkan orang yang sudah bertahun-tahun terkenabising dan tuli agak berat sekali kemungkinan untuk pulih.
d. Komunikasi
Kebisingan dapat menganggu pembicaraan. Paling pentingdisini bahwa kebisingan menganggu kita dalam menangkap danmengerti apa yang di bicarakan oleh orang lain, apakah itu berupa: 1). Percakapan langsung (face to face).
2). Percakapan telepon.
3). Melalui alat komunikasi lain, misalnya radio, televisi danpidato.
Tempat dimana komunikasi tidak boleh terganggu olehsuara bising adalah sekolah, area latihan dan test, teater, pusatkomunikasi militer, kantor, tempat ibadah, perpustakaan,rumah sakit dan laboratorium. Banyaknya suara yang bisadimengerti tergantung dari faktor seperti : level suarapembicaraan, jarak pembicaraan dengan pendengaran,bahasa/kata yang dimengerti, suara lingkungan danfaktor-faktor lain.
3.9. Cahaya
Cahaya merupakan satu bagian berbagai jenis gelombang elektromagnetis yang terbang ke angkasa dimana gelombang tersebut memiliki panjang dan frekuensi tertentu yang nilainya dapat dibedakan dari energy cahaya lainnya dalam spectrum elektromagnetisnya (Suhadri, 2008). Menurut Kepmenkes no. 1405 tahun 2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri, pencahayaan adalah jumlah penyinaran pada suatu bidang kerja yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efektif.
3.9.1 Sistem Pencahayaan
Menurut Prabu dalam Firmansyah (2010), ada 5 sistem pencahayaan di ruangan, yaitu: 1. Sistem pencahayaan langsung (direct lighting)
Pada sistem ini 90%-100% cahaya diarahkan secara langsung ke benda yang perlu diterangi.Sistem ini dinilai paling efektif dalam mengatur pencahayaan, tetapi ada kelemahannya karena dapat menimbulkan bahaya serta kesilauan yang mengganggu, baik karena penyinaran langsung maupun karena pantulan cahaya.Untuk efek yang optimal, disarankan langi-langit, dinding serta benda yang ada di dalam ruangan perlu diberi warna cerah agar tampak menyegarkan.
2. Pencahayaan semi langsung (semi direct lighting)
Pada sistem ini 60%-90% cahaya diarahkan langsung pada benda yang perlu diterangi, sedangkan sisanya dipantulkan ke langit-langit dan dinding.Dengan sistem ini kelemahan sistem pencahayaan langsung dapat dikurangi.Diketahui bahwa langit-langit dan dinding yang diplester putih memiliki pemantulan 90%, apabila dicat putih pemantulan antara 5%-90%.
3. Sistem pencahayaan difus (general diffuse lighting)
Pada sistem ini setengah cahaya 40%-60% diarahkan pada benda yang perlu disinari, sedangkan sisanya dipantulkan ke langit-langit dan dinding.Dalam pencahayaan sistem ini termasuk sistem direct-indirect yakni memancarkan setengah cahaya ke bawah dan sisanya keatas.Pada sistem ini masalah bayangan dan kesilauan masih ditemui.
4. Sistem pencahayaan semi tidak langsung (semi indirect lighting)
Pada sistem ini 60%-90% cahaya diarahkan ke langit-langit dan dinding bagian atas, sedangkan sisanya diarahkan ke bagian bawah.Untuk hasil yang optimal disarankan langit-langit perlu diberikan perhatian serta dirawat dengan baik.Pada sistem ini masalah bayangan praktis tidak ada serta kesilauan dapat dikurangi.
5. Sistem pencahayaan tidak langsung (indirect lighting)
Pada sistem ini 90%-100% cahaya diarahkan ke langit-langit dan dinding bagian atas kemudian dipantulkan untuk menerangi seluruh ruangan.Agar seluruh langit-langit dapat menjadi sumber cahaya, perlu diberikan perhatian dan pemeliharaan yang baik. Keuntungan sistem ini adalah tidak menimbulkan bayangan dan kesilauan sedangkan kerugiannya mengurangi effisien cahaya total yang jatuh pada permukaan kerja.
3.9.2 Jenis-Jenis Sistem Pencahayaan
Beberapa jenis dan komponen sistem pencahayaan adalah (Suhadri, 2008): 1. Lampu pijar (GLS)
Lampu pijar bertindak sebagai badan abu-abu yang secara selektif memancarkan radiasi, dan hampir seluruhnya terjadi pada daerah nampak. Bola lampu terdiri dari hampa udara atau berisi gas, yang dapat menghentikan oksidasi dari kawat pijar tungsten, namun tidak akan menghentikan penguapan. Warna gelap bola lampu dikarenakan tungsten yang teruapkan mengembun pada permukaan lampu yang relatif dingin. Dengan adanya gas inert, akan menekan terjadinya penguapan, dan semakin besar berat molekulnya akan makin mudah menekan terjadinya penguapan. Untuk lampu biasa dengan harga yang murah, digunakan campuran argon nitrogen dengan perbandingan 9/1.Kripton atau Xenon hanya digunakan dalam penerapan khusus seperti lampu sepeda dimana bola lampunya berukuran kecil, untuk mengimbangi kenaikan harga, dan jika penampilan merupakan hal yang penting.Gas yang terdapat dalam bola pijar dapat menyalurkan panas dari kawat pijar, sehingga daya hantar yang rendah menjadi penting.Lampu yang berisi gas biasanya memadukan sekering dalam kawat timah.Gangguan kecil dapat menyebabkan pemutusan arus listrik, yang dapat menarik arus yang sangat tinggi.Jika patahnya kawat pijar merupakan akhir dari umur lampu, tetapi untuk kerusakan sekering tidak begitu halnya.
Ciri-cirinya adalah:
a. Efficacy 12 lumens/watt b. indeks perubahan warna – 1 A c. Suhu warna hangat (2500K – 2700K) d. Umut lampu – 2000 jam
2. Lampu tungsten – halogen
Lampu halogen adalah sejenis lampu pijar.Lampu ini memiliki kawat pijar tungsten seperti lampu pijar biasa yang digunakan di rumah, tetapi bola lampunya diisi dengan gas halogen.Atom tungsten menguap dari kawat pijar panas dan bergerak naik ke dinding pendingin bola
lampu.Atom tungsten, oksigen dan halogen bergabung pada dinding bola lampu membentuk molekul oksihalida tungsten.Suhu dinding bola lampu menjaga molekul oksihalida tungsten dalam keadaan uap.Molekul bergerak kearah kawat pijar panas dimana suhu tinggi memecahnya menjadi terpisah-pisah. Atom tungsten disimpan kembali pada daerah pendinginan dari kawat pijar – bukan ditempat yang sama dimana atom diuapkan. Pemecahan biasanya terjadi dekat sambungan antara kawat pijar tungsten dan kawat timah molibdenum dimana suhu turun secara tajam.
Ciri-cirinya adalah :
a. Efficacy 18 lumesn/watt b. Indeks perubahan warna – 1 A
c. Suhu warna hangat (3000K – 3200K) d. Umur lampu – 4000 jam
Kelebihan dari lampu ini adalah: a. Lebih kompak
b. Umur lebih panjang c. Lebih banyak cahaya
d. Cahaya lebih putih (suhu warna lebih tinggi) Kekurangan dari lampu ini adalah:
a. Lebih mahal b. IR meningkat c. UV meningkat d. Masalah handling 3. Lampu neon
Lampu neon, 3 hingga 5 kali lebih efisien daripada lampu pijar standar dan dapat bertahan 10 hingga 20 kali lebih awet. Dengan melewatkan listrik melalui uap gas atau logam akanmenyebabkan radiasi elektromagnetik pada panjang gelombang tertentu sesuai dengan komposisi kimia dan tekanan gasnya. Tabung neon memiliki uap merkuri bertekanan rendah, dan akan memancarkan sejumlah kecil radiasi biru/ hijau, namun kebanyakan akan berupa UV pada 253,7nm dan 185nm.
Bagian dalam dinding kaca memiliki pelapis tipis fospor, hal ini dipilih untuk menyerap radiasi UV dan meneruskannya ke daerah nampak.Proses ini memiliki efisiensi sekitar 50%.Tabung neon merupakan lampu ‘katode panas’, sebab katode dipanaskan sebagai bagian dari proses awal.Katodenya berupa kawat pijar tungsten dengan sebuah lapisan barium karbonat. Jika dipanaskan, lapisan ini akan mengeluarkan electron tambahan untuk membantu pelepasan. Lapisan ini tidak boleh diberi pemanasan berlebih sebab umur lampu akan berkurang. Lampu menggunakan kaca soda kapur yang merupakan pemancar UV yang buruk. Jumlah merkurinya sangat kecil, biasanya 12 mg. Lampu yang terbaru menggunakan amalgam merkuri, yang kandungannya sekitar 5 mg. Hal ini menyebabkan tekanan merkuri optimum berada pada kisaran suhu yang lebih luas. Lampu ini sangat berguna bagi pencahayaan luar ruangan karena memiliki fitting yang kompak.
3.9.3 Komponen Pencahayaan
Elemen yang paling penting dalam perlengkapan cahaya, selain dari lampu, adalah reflector.Reflektor berdampak pada banyaknya cahaya lampu mencapai area yang diterangi dan juga pola distribusi cahayanya.Reflektor biasanya menyebar (dilapisi cat atau bubuk putih sebagai penutup) atau specular (dilapis atau seperti kaca).Tingkat pemantulan bahan reflector dan bentuk reflektor berpengaruh langsung terhadap efektifitas dan efisiensi fitting.Tabel berikut menggambarkan reflektan sebagai persentase cahaya.
Tabel Reflektan sebagai Persentase Cahaya (Sumber : Suhadri, 2008)
Bahan Warna Reflektan
(%)
Putih 100
Aluminium, kertas putih 80 - 85
Warna gading, kuning lemon, kuning dalam, hijau muda, biru pastel, pink, pale, krim 60 – 65 Hijau lime, abu-abu plae, pink, orange dalam, bluegrey 30 – 35
Biru langit, kayu pale 40 – 45
Pale oakwood, semen kering 30 – 35
Biru gelap, merah purple, coklat tua 10 – 15
Hitam 0
3. 9.4 Dampak Penerangan
Penerangan yang baik adalah penerangan yang memungkinkan seorang tenaga kerja melihat pekerjaaannya dengan teliti, cepat dan tanpa upaya yang tidak perlu serta membantu menciptakan lingkungan kerja yang nikmat dan menyenangkan. Sifat dari penerangan yang baik ditentukan oleh:
• Pembagian luminensi dalam lapangan penglihatan
• Pencegahan kesilauan
• Arah sinar
• Warna
• Panas penerangan terhadap lingkungan
Penerangan yang tidak didesain dengan baik akan menimbulkan gangguan atau kelelahan penglihatan selama kerja. Pengaruh dan penerangan yang kurang memenuhi syarat akan mengakibatkan (Suhadri, 2008):
1. Kelelahan mata sehingga berkurangnya daya dan effisiensi kerja. 2. Kelelahan mental.
3. Keluhan pegal di daerah mata dan sakit kepala di sekitar mata. 4. Kerusakan indra mata dan lain-lain.
Selanjutnya pengaruh kelelahan pada mata tersebut akan bermuara kepada penurunan performansi kerja, termasuk (Suhadri, 2008):
1. Kehilangan produktivitas 2. Kualitas kerja rendah 3. Banyak terjadi kesalahan
4. Kecelakan kerja meningkat
3.9.5 Merancang Sistem Pencahayaan
Menurut Suhadri (2008), setiap pekerjaan memerlukan tingkat pencahayaan pada permukaannya. Pencahayaan yang baik menjadi penting untuk menampilkan tugas yang bersifat visual. Pencahayaan yang lebih baik akan membuat orang bekerja lebih produktif. Membaca buku dapat dilakukan dengan 100 sampai 200 lux.Hal ini merupakan pertanyaan awal perancang sebelum memilih tingkat pencahayaan yang benar.CIE (Commission International de l’Eclairage) dan IES (Illuminating Engineers Society) telah menerbitkan tingkat pencahayaan yang direkomendasikan untuk berbagai pekerjaan.Nilai nilai yang direkomendasikan tersebut telah dipakai sebagai standar nasional dan internasional bagi perancangan pencahayaan.Pertanyaan kedua adalah mengenai kualitas cahaya.Dalam kebanyakan konteks, kualitas dibaca sebagai perubahan warna.Tergantung pada jenis tugasnya, berbagai sumber cahaya dapat dipilih berdasarkan indeks perubahan warna.
Tingkat Penerangan (Lux)
Area Kegiatan
Pencahayaan umum untuk ruangan dan area yang jarang digunakan dan/atau tugas-tugas atau visual sederhana
20 Layanan penerangan yang minimum dalam area sirkulasi luar ruangan, pertokoan di daerah terbuka, halaman tempat penyimpanan
50 Tempat pejalan kaki dan panggung
70 Ruang boiler
100 Halaman trafo, ruangan tungku
150 Area sirkulasi di industri, pertokoan dan ruang penyimpan Pencahayaan umum
untuk interior
200 Layanan penerangan yang minimum tugas
300 Meja dan mesin kerja ukuran sedang, proses umum dalam industri kimia dan makanan, kegiatan membaca dan membuat arsip
450 Gantungan baju, pemeriksaan, kantor untuk menggambar, perakitan mesin dan bagian yang halus, pekerjaan warna, tugas menggambar kritis
Tabel 2.5 Area Kegiatan dan Tingkat Penerangan (Lanjutan) Tingkat
Penerangan (Lux)
Area Kegiatan
Pencahayaan tambahan setempat untuk tugas visual yang tepat
1500 Pekerjaan mesin dan di aras meja yang sangat halus, perakitan mesin presisi kecil dan instrumen, komponen elektronik, pengukuran dan pemeriksaan. Bagian kecil yang rumit (sebagian mungkin diberikan oleh tugas pencahayaan setempat)
(Sumber : Suhadri, 2008)
Sedangkan menurut PMP no. 7 tahun 1964, tingkat penerangan atau NAB (Nilai Ambang Batas) di tempat kerja tercantum dalam tabel 2.4
Tabel 2.6 Tingkat Penerangan atau NAB (Nilai Ambang Batas) di Masing-Masing Area Kerja
Area Kegiatan
Tingkat Penerangan Minimal (Lux)
Penerangan darurat 5 lux
Penerangan untuk halaman dan jalan dalam lingkungan perusahaan 20 lux Pekerjaan yang membedakan barang kasar, seperti:
1. Mengerjakan bahan-bahan kasar 2. Mengerjakan arang atau abu
3. Mengerjakan barang-barang yang besar 4. Mengerjakan bahan tanah atau batu
5. Gang-gang, tangga di dalam gedung yang selalu dipakai
6. Gudang-gudang untuk menyimpan barang-barang besar dan kasar
50 lux
Pekerjaan yang membedakan barang-barang kecil secara sepintas, seperti: 1. Mengerjakan barang-barang besi dan baja yang setengah selesai 2. Pemasangan yang kasar
3. Penggilingan padi
4. Pengupasan/pengambilan dan penyisihan bahan kapas 5. Mengerjakan bahan-bahan pertanian
6. Kamar mesin dan uap
7. Alat pengangkut orang dan barang
8. Ruang-ruang penerimaan dan pengiriman dengan kapal 9. Tempat menyimpan barang-barang sedang dan kecil 10. Kakus, tempat mandi dan tempat kencing
Tabel 2.6 Tingkat Penerangan atau NAB (Nilai Ambang Batas) di Masing-Masing Area Kerja (lanjutan)
Area Kegiatan
Tingkat Penerangan Minimal (Lux)
Pekerjaan membeda-bedakan barang-barang kecil agak teliti, seperti: 1. Pemasangan alat-alat yang sedang (tidak kasar)
2. Pekerjaan mesin dan bubut yang kasar
3. Pemeriksaan atau percobaan kasar terhadap barang-barang 4. Menjahit tekstil atau kulit yang berwarna muda
5. Pemasukan dan pengawetan bahan-bahan makanan dalam kaleng 6. Pembungkusan daging
7. Mengerjakan kayu 8. Melapis perabot
200 lux
Pekerjaan perbedaan yang teliti daripada barang-barang kecil, seperti: 1. Pekerjaan mesin yang teliti
2. Pemeriksaan yang teliti
3. Percobaan-percobaan yang teliti dan halus
4. Pembuatan tepung
5. Penyelesaian kulit dan penenunan bahan-bahan katun atau wol berwarna muda
6. Pekerjaan kantor yang berganti-ganti menulis dan membaca, pekerjaan arsip dan seleksi surat-surat
Pekerjaan membeda-bedakan barang-barang halus dengan kontras sedang dan dalam waktu yang lama, seperti:
1. Pemasangan yang halus
2. Pekerjaan-pekerjaan mesin yang halus 3. Pemeriksaan yang halus
4. Penyemiran yang halus dan pemotongan gelas kaca 5. Pekerjaan kayu yang halus (ukir-ukiran)
6. Penjahit bahan-bahan wol yang berwarna tua
7. Akuntan, pemegang buku, pekerjaan steno, mengetik atau pekerjaan kantor yang lama dan teliti
500-1000 lux
Pekerjaan yang membedakan barang-barang yang sangat halus dengan kontras yang sangat kurang untuk waktu yang lama, seperti:
1. Pemasangan ekstra halus (arloji, dll)
2. Pemeriksaan yang ekstra halus (ampul obat) 3. Percobaan alat-alat yang ekstra halus
4. Tukang mas dan intan
5. Penilaian dan penyisihan hasil-hasil tembakan
6. Penyusunan huruf dan pemeriksaan copy dalam percetakan 7. Pemeriksaan dan penjahitan bahan pakaian berwarna tua
Paling sedikit 1000 lux
Nilai pantulan (Reflektan) yang dianjurkan menurut Suma’mur dalam Firmansyah (2010) dapat dilihat pada tabel:
Tabel 2.7 Nilai Pantulan (Reflektan) (Sumber : Suma’mur dalam Firmansyah, 2010)
N
o Jenis Permukaan Reflektan (%)
1 Langit-langit 80 -90
2 Dinding 40 – 60
3 Perkakas (mebel) 25 – 45
4 Mesin dan perlengkapannya 30 – 50
5 Lantai 20 – 40
3.9.6 Pendekatan Aplikasi Penerangan di Tempat Kerja
Menurut Suhadri (2008), aplikasi penerangan di tempat kerja, secara umum dapat dilakukan melalui 4 (empat) pendekatan, yaitu:
1. Desain tempat kerja untuk menghindari masalah penerangan.
Kebutuhan intensitas penerangan bagi pekerja harus selalu dipertimbangkan pada waktu mendesain bangunan, pemasangan mesin-mesin, alat dan sarana kerja. Desain instalasi penerangan harus mampu mengontrol cahaya kesilauan, pantulan dan bayang-bayang serta untuk tujuan kesehatan dan keselamatan kerja
2. Identifikasi dan penilaian problem dan kesulitan penerangan.
Agar masalah penerangan yang muncul dapat ditangani dengan baik, faktor-faktor yang harus diperhitungkan adalah: sumber penerangan, pekerja dalam melakukan pekerjaannya, jenis pekerjaan yang dilakukan dan lingkungan kerja secara keseluruhan.
3. Penggunaan pencahayaan alami siang hari
Manfaat dari pemakaian cahaya alami pada siang hari sudah dikenal dari pada cahaya listrik, namun cenderung terjadi peningkatan pengabaian terutama pada ruang kantor modern yang berpenyejuk dan perusahaan komersial seperti hotel, plaza perbelanjaan dan sebagainya.
Sebuah rancangan yang bagus yang memadukan kaca atap dengan bahan FRP bersamaan dengan langit-langit transparan dan tembus cahaya dapat memberikan pencahayaan bagus bebas silau; langit-langit juga akan memotong panas yang datang dari cahaya alami.
Pemakaian atrium dengan kubah FRP pada arsitektur dasar dapat menghilangkan penggunaan cahaya listrik pada lintasan gedung-gedung tinggi.
Cahaya alam dari jendela harus juga digunakan.Walau begitu, hal ini harus dirancang dengan baik untuk menghindari silau.Rak cahaya dapat digunakan untuk memberikan cahaya alami tanpa silau.
Menurut Kepmenkes no. 1405 tahun 2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri, agar pencahayaan memenuhi persyaratan kesehatan, perlu dilakukan tindakan sebagai berikut:
1. Pencahayaan alam maupun buatan diupayakan agar tidak menimbulkan kesilauan dan memiliki intensitas sesuai dengan peruntukannya.
2. Kontras sesuai dengan kebutuhan, hindarkan terjadinya kesilauan atau bayangan.
3. Untuk ruang kerja yang menggunakan peralatan berputar dianjurkan untuk tidak menggunakan lampu neon.
4. Penempatan bola lampu dapat menghasilkan penyinaran yang optimum dan bola lampu sering dibersihkan.
5. Bola lampu yang mulai tidak berfungsi dengan baik segera diganti. 3.9.7 Pengukuran Intensitas Cahaya di Dalam Ruang Kerja
Menurut SNI 16-7062-2004 tentang Pengukuran Intensitas Penerangan di Tempat Kerja,