• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. TINJAUAN UMUM

2.18. Pengendalian Persediaan Apotek

Pengendalian persediaan dalam hal ini berhubungan dengan aktivitas dalam pengaturan persediaan obat di apotek untuk menjamin kelancaran pelayanan pasien di apotek secara efektif dan efisien. Unsur dari pengendalian

persediaan mencakup penentuan cara pemesanan atau pengadaannya hingga jumlah persediaan yang optimum dan yang harus ada di apotek untuk menghindari kekosongan persediaan.

2.18.1 Parameter–Parameter dalam Pengendalian Persediaan 2.18.1.1 Konsumsi Rata-Rata

Konsumsi rata-rata sering juga disebut permintaan (demand). Permintaan yang diharapkan pada pemesanan selanjutnya merupakan variabel kunci yang menentukan berapa banyak stok barang yang harus dipesan (Quick, 1997).

2.18.1.2 Waktu Tunggu/Waktu Tenggang (Lead Time)

Waktu tunggu merupakan waktu tenggang yang dibutuhkan mulai dari pemesanan sampai dengan penerimaan barang. Waktu tunggu ini dapat berbeda-beda untuk setiap pemasok. Faktor-faktor yang dapat berpengaruh pada waktu tunggu adalah jarak antara pemasok dengan apotek, jumlah pesanan, dan kondisi pemasok (Quick, 1997).

2.18.1.3 Persediaan Pengaman (Safety Stock)

Persediaan pengaman merupakan persediaan yang dicadangkan untuk kebutuhan selama menunggu barang datang untuk mengantisipasi keterlambatan barang pesanan atau untuk menghadapi suatu keadaan tertentu yang diakibatkan karena perubahan pada permintaan, misalnya karena adanya permintaan barang yang meningkat secara tiba-tiba (karena adanya wabah penyakit) (Quick, 1997). Persediaan pengaman dapat dihitung dengan rumus (Quick, 1997):

SS= LT xCA

Keterangan: SS = Safety Stock (persediaan pengaman) LT= Lead Time (waktu tunggu)

CA= Average Consumption (konsumsi rata-rata)

2.18.1.4 Persediaan Minimum

Persediaan minimum merupakan jumlah persediaan terendah yang masih tersedia. Apabila penjualan telah mencapai nilai persediaan minimum ini, maka

pemesanan harus langsung dilakukan agar kontinuitas usaha dapat berlanjut. Jika barang yang tersedia jumlahnya sudah kurang dari jumlah persediaan minimum maka dapat terjadi stok kosong (Quick, 1997).

2.18.1.5 Persediaan Maksimum

Persediaan maksimum merupakan jumlah persediaan terbesar yang telah tersedia. Jika jumlah persediaan telah mencapai jumlah maksimum, maka tidak perlu lagi melakukan pemesanan untuk menghindari terjadinya stok mati yang dapat menyebabkan kerugian (Quick, 1997).

2.18.1.6 Perputaran Persediaan

Perputaran persediaan menggambarkan jumlah siklus yang dialami barang mulai dari pembelian hingga penjualan kembali. Jika suatu barang memiliki angka perputaran persediaan yang besar maka barang tersebut dikategorikan sebagai barang fast moving. Sebaliknya, jika angka perputaran persediaan suatu barang terbilang kecil maka barang tersebut termasuk slow moving (Quick, 1997).

Keterangan: So= Persediaan awal P = Jumlah pembelian Sr= Persediaan rata-rata Sn= Persediaan akhir

2.18.1.7 Jumlah Pesanan (Economic Order Quantity/Economic Lot Size)

Di apotek, jumlah persediaan yang harus ada adalah persediaan untuk jangka waktu tertentu dan disesuaikan dengan kebijakan pada pola kebutuhan. Persediaan dirancang agar setiap saat harus tersedia dan sekaligus untuk mengantisipasi permintaan yang tidak menentu, kemampuan suplier yang terbatas, waktu tenggang pesanan yang tidak menentu, ongkos kirim mahal, dan sebagainya. Faktor yang dipertimbangkan untuk membangun persediaan berkaitan dengan biaya dan risiko penyimpanan, biaya pemesanan, dan biaya pemeliharaan (Quick, 1997).

EOQ √2RS PI

Keterangan: R = Jumlah kebutuhan dalam setahun P = Harga barang /unit

S = Biaya memesan tiap kali pemesanan I = % Harga persediaan rata-rata

2.18.1.8 ReOrder Point (ROP/Titik pemesanan)

Titik pemesanan merupakan saat dimana harus diadakan pemesanan kembali sedemikian rupa sehingga penerimaan barang yang dipesan tepat waktu, dimana persediaan di atas stok pengaman sama dengan nol atau saat mencapai nilai persediaan minimum. Pada keadaan khusus (mendesak), dapat dilakukan pemesanan langsung tanpa harus menunggu hari pembelian yang telah ditentukan bersama antara apotek dan pemasok (Quick, 1997).

ROP= SS+LT

Keterangan: ROP= ReOrder Point (titik pemesanan kembali) SS= Safety Stock (stok pengaman)

LT= Lead Time (waktu tunggu)

Berbagai parameter pengendalian persediaan tersebut saling berkesinambungan satu sama lain untuk dapat menjamin ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan. Jika produk berada dalam kuantitas persediaan rata-rata, kebutuhan permintaan produk oleh konsumen akan terpenuhi.

Gambar 2.6. Diagram model pengendalian persediaan ROP

Model siklus pengendalian persediaan obat yang ideal dapat dilihat pada Gambar 2.6. Idealnya, kuantitas persediaan rata-rata dari suatu produk di apotek perlu mempertimbangkan dua komponen, yaitu stok kerja (working stock) dan stok pengaman (safety stock). Jika tingkat persediaan sudah semakin menurun dan berada dalam level persediaan minimum, diperlukan pemesanan kembali terhadap produk tersebut. Pemesanan kembali harus memperhitungkan waktu tunggu kedatangan obat agar tidak terjadi kekosongan persediaan obat ketika menunggu obat yang dipesan datang. Saat obat yang dipesan datang (Qo), maka tingkat persediaan meningkat kembali pada level persediaan maksimum SS+Qo. Dengan berjalannya waktu, persediaan akan kembali turun dan perlu dilakukan pemesanan kembali dan begitu seterusnya. Siklus ini akan terus berputar untuk menjamin ketersediaan obat.

2.18.2 Penentuan Prioritas Pengadaan

Metode ini mengelompokan obat berdasarkan nilai kepentingan dan vitalitas obat terhadap pelayanan kesehatan untuk melayani permintaan untuk pengobatan. Dalam melakukan pengadaan, dibutuhkan penentuan prioritas barang yang akan dipesan. Pemilihan prioritas pengadaan dapat dilakukan dengan berbagai metode. Penyusunan prioritas dapat dilakukan dengan menggunakan metode sebagai berikut (Quick, 1997):

a. Analisis VEN (Vital, Esensial, Non-esensial) 1. V (Vital)

Obat yang tergolong dalam kategori vital adalah obat untuk menyelamatkan hidup manusia atau untuk pengobatan karena penyakit yang mengakibatkan kematian. Pengadaan obat golongan ini diprioritaskan.

2. E (Esensial)

Kategori esensial digunakan untuk obat-obat yang banyak diminta untuk digunakan dalam tindakan atau pengobatan penyakit terbanyak di masyarakat. Dengan kata lain, obat golongan ini adalah obat-obat yang fast-moving.

3. N (Non-esensial)

Kategori non-esensial untuk obat-obat pelengkap yang sifatnya tidak esensial, tidak digunakan untuk penyelamatan hidup ataupun pengobatan penyakit terbanyak. Contohnya suplemen vitamin. b. Analisis Pareto (ABC)

Analisa pareto disusun berdasarkan penggolongan persediaan yang mempunyai nilai harga yang paling tinggi. Pareto membagi persediaan berdasarkan atas nilai rupiah (volume persediaan yang dibutuhkan dalam satu periode dikalikan harga per unit). Kriteria kelas dalam klasifikasi ABC adalah:

1. Kelas A

Persediaan yang memiliki volume rupiah yang tinggi. Kelas ini mewakili sekitar 75-80% dari total nilai persediaan, meskipun jumlahnya hanya sekitar 10-20% dari seluruh item. Kelas A memiliki dampak biaya yang tinggi terhadap biaya pengadaan. Pengendalian khusus dilakukan secara intensif (Quick, 1997).

2. Kelas B

Persediaan yang memiliki volume rupiah yang menengah. Kelas ini mewakili sekitar 15-20 % dari total nilai persediaan, meskipun jumlahnya hanya sekitar 10-20% dari seluruh item (Quick, 1997). 3. Kelas C

Persediaan yang memiliki volume rupiah yang rendah. Kelas ini mewakili sekitar 5-10% dari total nilai persediaan, tetapi terdiri dari sekitar 60-80% dari seluruh barang (Quick, 1997).

Analisis pareto dilakukan dengan menghitung nilai investasi dari tiap sediaan obat dengan cara :

1. Menghitung total investasi tiap jenis obat.

2. Mengelompokan obat berdasarkan nilai investasi dan diurutkan mulai dari nilai investasi terbesar hingga terkecil.

c. Analisis VEN-ABC

Metode analisis ini mengombinasi kedua metode sebelumnya. Dalam metode ini, pengelompokan barang berdasarkan volume dan nilai

penggunaannya selama periode waktu tertentu. Analisa VEN-ABC menggabungkan analisa pareto dan VEN dalam suatu matriks sehingga analisis menjadi lebih tajam (Quick, 1997). Matriks analisis ABC-VEN dapat dilihat pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2. Matriks analisis ABC-VEN

V E N

A VA EA NA

B VB EB NB

C VC EC NC

Dokumen terkait