• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengendalian Vektor

Dalam dokumen MAKALAH KESEHATAN MASYARAKAT MASALAH PEN (Halaman 24-34)

3. Penyakit Bakteri a. Relapsing fever

2.1.14 Pengendalian Vektor

menjadi vektor utama penyakit ini adalah Trombicula akamushi dan T. deliensis. Tungau menularkan penyakit pada tikus ladang di Jepang dan beberapa tikus rumah di Taiwan dan Indonesia.Manusia merupakan hospes secara kebetulan karena larva tugau melekatkan diri pada pekerja di ladang.

Cyclops

Cyclops adalah hospes perantara dari Dracunculus mendinensis, caccing cestoda dan cacing nematoda (Candra,2007).

2.1.14Pengendalian Vektor

Pengendalian vektor dan binatang pengganggu adalah upaya untuk mengurangi atau menurunkan populasi vektor atau binatang pengganggu dengan maksud pencegahan atau pemberantasan penyakit yang ditularkan atau gangguan (nuisance) oleh vektor dan binatang pengganggu tersebut.

Menurut WHO (Juli Soemirat,2009:180), pengendalian vektor penyakit sangat diperlukan bagi beberapa macam penyakit karena berbagai alasan :

a. Penyakit tadi belum ada obatnya ataupun vaksinnya, seperti hamper semua penyakit yang disebabkan oleh virus.

b. Bila ada obat ataupun vaksinnya sudah ada, tetapi kerja obat tadi belum efektif, terutama untuk penyakit parasiter

c. Berbagai penyakit di dapat pada banyak hewan selain manusia, sehingga sulit dikendalikan.

22

e. Penyakit cepat menjalar, karena vektornya dapat bergerak cepat seperti insekta yang bersayap.

Ada beberapa prinsip yang perlu diketahui dalam pengendalian arthropoda antara lain:

Pengendalian Lingkungan

Strategi ini dilaksanakan atas dasar ekologi vektor, sehingga diketahui berbagai karakteristik vektor seperti habitat, usia hidup, probabilitas terjadi infeksi pada manusia, kepekaan vektor terhadap penyakit. Atas dasar ini dapat dibuat strategi pengendalian yang menyeluruh dengan meningkatkan partisipasi masyarakat dan kerjasama sektoral.

Pengendalian lingkungan merupakan cara terbaik untuk mengontrol arthropoda karena hasilnya dapat bersifat permanen. Contoh, membersihkan tempat-tempat hidup atrhropoda (Candra,2007).

Pengendalian Kimia

Pada pengendalian ini, dilakukan penggunaan beberapa golongan insektisida seperti golongan organoklorin dan golongan organofosfatsida. Namun penggunaan insektisida ini sering menimbulkan resistensi dan juga kontaminasi pada lingkungan (Candra,2007).

Pertumbuhan penduduk yang cepat membutuhkan lebih banyak lahan untuk bercocok tanam, bermukim dan berkarya, sehingga terjadi sarang0sarang insekta baru terutama didaerah kumuh, persawahan, persampahan, dan drainase (Juli, 2009).

23 Pengendalian Biologi

Pengendalian biologi ditujukan untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat pemakaian insektisida yang berasal dari bahan-bahan beracun. contoh pendekatan ini adalah pemeliharaan ikan (Candra, 2007).

A compelling motivation for adoption of biological control is reduced ongoing expenditure for pesticides, labor, specialized equipment, and – potentially – a permanent return to ecological conditions more similar to those seen before the arrival of the pest ( Boettner,2000).

Motivasi yang menarik untuk adopsi pengendalian hayati adalah pengeluaran berkelanjutan dikurangi untuk pestisida, keselamatan tenaga kerja, peralatan khusus, dan berpotensi permanen kembali ke kondisi ekologi yang lebih mirip dengan yang terlihat sebelum kedatangan hama. ( Boettner,2000).

Menurut Juli Soemirat; 2009 pengendalian secara biologis dilakukan dengan dua cara, yakni :

a. Memelihara musuh alaminya

Musuh alami insekta dapat berupa pemangsanya ataupun mikroba penyebab penyakitnya. Untuk ini perlu diteliti lebih lanjut pemangsa dan penyebab penyakit mana yang paling efektif dan efisien mengurangi populasi insekta. Untuk ni perlu juga dicari bagaimana caranya untuk melakukan pengendalian pertumbuhan pemangsa dan penyebab penyakit ini apabila populasi vektor sudah terkendali jumlahnya.

24

Paul DeBach, a student of Smith’smade major experimental contributions towards evaluating natural enemy impact on target pest populations. Most notably DeBach used pesticide exclusion (i.e., removal of natural enemies with insecticides to demonstrate their regulatory effect), physical exclusion (i.e., the use of field cages to exclude natural enemy access to pest populations), and biological exclusion (i.e., the removal of ants to allow natural enemies access to honeydew producing pests). Current research efforts use similar experimental techniques and use refined theoretical concepts to build upon this historical foundation (Hoddle, 2012).

Paul DeBach, seorang mahasiswa dari Smith’s membuat eksperimental kontribusi terhadap mengevaluasi dampak musuh alami pada populasi hama sasaran. Terutama DeBach digunakan pengecualian pestisida (yaitu, penghapusan musuh alami dengan insektisida untuk mendemonstrasikan efeknya peraturan), pengecualian fisik (yaitu, penggunaan Lapangan kandang untuk mengecualikan alam musuh akses ke populasi hama) dan pengecualian biologis (yaitu, penghapusan semut untuk membolehkan akses musuh alami ke penghasil hama Melon). Upaya penelitian saat ini menggunakan teknik eksperimental yang sama dan menggunakan konsep teoritis halus untuk membangun atas dasar ini sejarah (Hoodle,2012).

25

b. Mengurangi fertilitas insekta

Untuk cara kedua ini pernah dilakukan dengan meradiasi insekta jantan sehingga steril dan menyebarkannya di antara insekta betina. Dengan demikian telur yang dibuahi tidak dapat menetas. Cara kedua ini masih dianggapa terlalu mahal dan efisiensinya masih perlu dikaji.

Pengendalian Rekayasa

Pengendalian rekayasa pada hakekatnya ditujukan untuk mengurangi sarang insekta dengan melakukan pengelolaan lingkungan, yakni melakukan manipulasi dan modifikasi lingkungan. Manipulasi adalah tindakan sementara sehingga keadaan tidak menunjang kehidupan vektor. Sebagai contoh adalah niveau air atau membuat pintu air sehingga salinitas air dapat diatur.

Modifikasi adalah tindakan untuk memperbaiki kualitas lingkungan secara permanen, seperti pengeringan, penimbunan genangan, perbaikan tempat pembuangan sampah sementara atau akhir (TPS, TPA), dan kontruksi serta pemeliharaan saluran drainase (Juli Soemirat, 2009).

Pengendalian genetik

Dalam pendekatan ini, ada beberapa tekhnik yang dapat digunakan diantaranya steril technique, cytoplasmic incompatibility, dan choromosomal translocation.

26 Pengendalian Arthropoda

Berikut beberapa tekhnik pengendalian yang dapat diterapkan pada masing-masing arthropoda.

Pengendalian nyamuk

Didalam upaya pengendalian nyamuk, beberapa metode yang dapat digunakan antara lain tindakan anti larva, tindakan terhadap nyamuk dewasa, dan tindakan terhadap gigitan nyamuk. Untuk tindakan anti larva, metode berikut dapat diterapkan yaitu:

1. Pengendalain lingkungan

2. Pengendalian kimia debgan menggunakan mineral oils, paris green, insektisida sintesis, misalnya fenthion dan malathion.

3. Pengendalian biologi

Sementara itu, didalam upaya pengendalian terhadap nyamuk dewasa, beberapa metode yang dapat dilakuakn yaitu:

1. Residual sprays

2. Space sprays yaitu penyemprotan ruang menggunakan ekstrak pyrethrum ataupun residual insektisida.

3. Pengendalian genetik dengan menggunakan steril male technique dan sex distortion.

27

Untuk pengendalian terhadap gigitan nyamuk, dapat dilakukan tindakan-tindakan berikut ini.

1. Pemasangan kelambu 2. Pelaksanaan screening

3. Penggunaan repellent (penolak nyamuk) yang mengandung zat kimia diethyltoluamide, indalon atau dimethyl karbote.

Pengendalian Lalat Rumah

Didalam upaya pengendalian lalat rumah, beberapa metode yang dapat dilakukan yaitu pengendalian lingkungan, pengendalian insektisida, fly papers, perlindungan terhadap lalat, dan pendidikan kesehatan. Berkaitan dengan pengendalian yang menggunakan insektisida, teknik-teknik berikut dapat digunakan yaitu:

1. Residual sprays yang menggunakan bahan kimia DDT 5 %, methoxychlor 5%, lindane 0,5 %, dan chlordane 2,5 %.

2. Baits yang menggunakan bahan kimia diazinon, malathion dan dichlorvos.

3. Cords and ribbons

Cord dan ribbon dapat mengandung bahan diazinon, fenthion, atau dimethoate.

4. Space Sprays yaitu metode penyemprotan ruangan menggunakan pyrethrine, DDT, atau BHC

28

Tabel. Pengendalian lalat rumah dengan insektisida

Residual spray Dosis g/ m2 Durasi (bulan)

DDT 1-2 12-26

Lindane 0,5 3

Malathion 2 3

Pengendalian Lalat Pasir

Teknik yang digunakan dalam pengendalian lalat pasir adalah penggunaan insektisida dan sanitasi lingkungan. DDT 1-2 g/m2 dan Lindane dapat digunakan sebagai insektisida untuk mengendaliakn populasi lalat pasir (Heru,1995).

Pengendalian Lalat Tsetse

Terdapat 4 teknik dalam pengendalian lalat tsetse diantaranya penggunaan insektisida, pembabatan tumbuhan, game destruction stsu lombs pemusnahan lalat tsetse secara besar-besaran di benua Afrika, dan pengendalian genetik.  Pengendalian Tuma

Pengendalian dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida yaitu DDT dan Maalthion 0,5 % atau dengan menerapkan personal higiene pada setiap individu.

Pengendalian Skabies

Penyebaran penyakit skabies dapat dikendalikan melalui penggunaan bahan-bahan kimia antara lain benazyl benzoate 25%, BHC 0,5%, tetmosol 5 %, dan sulfur ointment 2,5-10%.

29 Pengendalian Pinjal

Upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan penggunaan insektisida DDT, Diazinon 2 %, dan Malathion 5%, penggunaan repellent, dan pengendalian terhadap hewan pengerat.

Pengendalian Sengkenit dan Tungau

Insektisida, pengendalian lingkungan dan perlindungan terhadap pekerja merupakan tindakan yang tepat untuk mengendalikan penyebaran penyakit yang disebabkan sengkenit dan tungau.

Pengendalian Cyclops

Untuk mengendalikan populasi cyclops yaitu dengan pengendalian fisik melalui penyaringan dan pemasakan air (minimak sampai suhu 600 C), pengendalian kimia yaitu dengan penggunaan khlorine 5 ppm, lime (batu kapur), dan Abate (1mg/liter) dan pengendalian biologis melalui pemeliharaan ikan.

Pemantauan

Pengendalian vektor penyakit ini merupakan konsep yang relative baru. Pada awalnya orang berpikir tentang pembasmian vektor. Akan tetapi kemudian tampak bahwa pembasmian itu sulit dicapai dan kurang realistis dilihat dari sisi ekologis. Oleh karenanya pengendalian vektor saat ini akan ditujukan untuk mengurangi dan mencegah penyakit bawaan vektor sejauh dapat dicapai dengan keadaan social-ekonomi yang ada serta keadaan endemic penyakit yang ada. Oleh karenanya pemantauan keadaan populasi insekta secara kontinu menjadi sangat penting.

30

Pengendalian secara terpadu direncanakan dan dilaksanakan untuk jangka panjang, ditunjang dengan pemantuan yang kontinu. Untuk ini diperlukan berbagai parameter pemantauan dan pedoman tindakan yang perlu diambil apabila didapat tanda-tanda akan terjadinya kejadian luar biasa/wabah.

Parameter vektor penyakit yang dipantau antara lain adalah : 1. Indeks lalat untuk kepadatan lalat

2. Indeks pinjal untuk kepadatan pinjal

3. Kepadatan nyamuk dapat dinyatakan sebagai Man Biting Rate (MBR), indeks container, indeks rumah, dan/atau indeks Breteau

Tindakan khusus diambil apabila kepadatan insekta meningkat cepat dan dikhawatirkan akan terjadi wabah karenanya. Tindakan sedemikian dapat berupa :

a. Intensifikasi pemberantasan sarang seperti perbaikan saluran drainase, kebersihan saluran dan reservoir air, menghilangkna genangan, mencegah pembusukan sampah, dan lain-lain.

b. Mobilisasi masyarakat untuk berperan serta dalam pemberantasan dengan memelihara kebersihan lingkungan masing-masing

c. Melakukan penyemprotan insektisida terhadap vektor dewasa didahului dengan uji resistensi insekta terhadap insekta yang akan digunakan (Juli,2009).

31 2.2Masalah Pengawasan Rodentia

Dalam dokumen MAKALAH KESEHATAN MASYARAKAT MASALAH PEN (Halaman 24-34)

Dokumen terkait