Pemerintah (Open
4.2. Pengentasan Korupsi Melalui Pemerintahan Terbuka
Terbangunnya komitmen antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan organisasi masyarakat sipil tersebut bisa dikatakan sebagai salah satu langkah strategis dan berani yang dibuat untuk menyelesaikan persoalan-persoalan berulang yang menyumbat pemerintahan melayani masyarakat. Disebutkan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah
8 Rekaman video dapat dilihat di https://goo.gl/PdHiKD
9 Rekaman video dapat dilihat di https://goo.gl/WfmJEH
Daerah (RPJMD) DKI Jakarta 2013-2017, terdapat 20 permasalahan pembangunan daerah yang secara turun-menurun terus berulang. Di bidang sistem transportasi, misalnya, masih dihadapkan pada masalah kapasitas jalan yang tidak mencukupi, ketersediaan dan pelayanan angkutan umum yang terbatas, serta moda transportasi umum yang belum terintegrasi. Ruang terbuka hijau yang sangat minim dan digunakan untuk kepentingan pemukiman, pencemaran lingkungan, pengelolaan air bersih, reformasi birokrasi yang belum maksimal, hingga tata kelola anggaran daerah yang rawan korupsi (Pemprov DKI Jakarta, 2013).
Dalam pandangan Gubernur DKI Jakarta terpilih hasil Pilkada tahun 2012, Joko Widodo dan wakilnya Basuki Tjahja Purnama, persoalan pembangunan DKI Jakarta yang terus berulang dan belum terpecahkan setidaknya disebabkan oleh dua hal. Pertama, informasi yang diterima oleh pimpinan tertinggi daerah kurang akurat sehingga kebijakan yang dibuat untuk menyelesaikan masalah tidak tepat. Kedua, tata kelola anggaran daerah yang kurang mendukung dalam implementasi kebijakan karena besarnya potensi penyalahgunaan anggaran pembangunan. Oleh karenanya, sejak awal menjalankan roda pemerintahan di DKI Jakarta, Joko Widodo dan Basuki Tjahja Purnama terlihat jelas membagi tugas untuk menyelesaikan dua penyebab utama yang menghambat pembangunan daerah. Di satu sisi, Joko Widodo sering melakukan kegiatan “blusukan” atau datang ke lapangan untuk melihat langsung persoalan.
Misalnya ketika daerah Thamrin, Sudirman, dan Bunderan Senayan mengalami banjir yang menyebabkan terhentinya aktivitas ibukota pada pertengahan tahun 2012, Joko Widodo masuk ke gorong-gorong untuk mengetahui langsung persoalan (Basuki, 2012). Di sisi yang lain, Wakil Gubernur Basuki Tjahja Purnama lebih memberikan perhatian dalam reformasi birokrasi dan perbaikan tata kelola anggaran daerah seperti yang dapat dilihat pada sejumlah video pembahasan anggaran yang diunggah ke internet10. Tujuannya adalah untuk mempromosikan transparansi dan pemerintahan terbuka yang kemudian mengurangi tingkat penyalahgunaan serta korupsi anggaran daerah.
Gambar 10 Joko Widodo sebagai Gubernur DKI Jakarta Memeriksa Gorong-gorong di Sudirman.
10 Lihat kembali video Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama yang membahas anggaran Dinas PU, https://goo.gl/PdHiKD
Sumber: (Basuki, 2012)
Selain menunjukan pemerintahan yang tidak alergi dengan organisasi masyakarat sipil, kerja sama dengan ICW juga mengindikasikan bahwa persoalan besar yang ingin ditangani oleh pimpinan dalam pemerintahan DKI Jakarta adalah korupsi dan penyalahgunaan anggaran daerah. Di antara modusnya adalah penggelembungan (mark up) anggaran untuk dinikmati untuk kepentingan personal dan kelompok tertentu. Saat telah menjadi Gubernur DKI Jakarta menggantikan Joko Widodo, Basuki Tjahja Purnama bahkan pernah menyatakan bahwa korupsi yang terjadi di Jakarta masuk dalam kategori yang sangat canggih. Sebagai contoh, sebuah gedung di daerah Pancoran yang menghabiskan dana Rp 43 Miliar ternyata, menurut arsitektur yang ditanya langsung oleh Basuki Tjahja Purnama, sudah bisa dibangun dengan dana Rp 35 Miliar atau Rp 8 Miliar lebih murah dari yang dianggarkan11.
Pada tahun 2015, Basuki Tjahja Purnama yang sudah menjabat sebagai menjadi Gubernur DKI Jakarta menggantikan Joko Widodo yang terpilih sebagai Presiden RI pada pemilu 2014, sempat bersitegang dengan DPRD DKI Jakarta karena adanya anggaran sebesar Rp 12,1 Triliun dalam APBD. Masalah ini bermula ketika Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan untuk menyerahkan Rancangan APBD DKI Jakarta tahun 2015 kepada Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang bukan hasil persetujuan dari pihak DPRD. Hal ini diketahui setelah Dirjen Bina Anggaran dan Keuangan Daerah Kemendagri mengembalikan Rancangan APBD 2015 kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta karena adanya kekurangan syarat administratif dan tidak sesuai dengan PP 58 Tahun 2005 serta Permendagri No. 13 Tahun 2006. Mengetahui hal ini, pihak DPRD geram, bahkan sempat menyatakan akan mengajukan interpelasi dan menurunkan Gubernur dari posisinya. Namun hal ini tidak mengurungkan niat Gubernur DKI Jakarta karena menurutnya, DPRD DKI Jakarta telah sewenang-wenang dengan
11 Lihat detik.com, 2015, “Ahok: Korupsi di Jakarta sudah Tingkatan Canggih”, https://goo.gl/cGAF8v
berbuat memotong anggaran program unggulan yang sudah disusun oleh SKPD sebesar 10%-15% dan merealokasikannya untuk pengadaan Uninterruptible Power Supply (UPS) di Kantor Kelurahan dan Kecamatan di Jakarta Barat dengan anggaran sebesar Rp 12,1 Triliun. Proses realokasi ini terjadi setelah sidang paripurna pembahasan Rancangan APBD yang disepakati oleh Eksekutif dan Legislatif. Basuki Tjahja Purnama menyebut anggaran Rp 12,1 Triliun tersebut sebagai ‘anggaran siluman’. Karena, dana tersebut tidak pernah muncul dalam pembahasan anggaran di eksekutif-yang notabenenya bertugas untuk menyusun anggaran, dan baru muncul setelah paripurna pembahasan anggaran12. Terungkapnya ‘dana siluman’ ini terjadi setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah menggunakan sistem penganggaran elektronik (e-budgeting) pada penyusunan APBD 2015.
Sebelumnya, ketika penganggaran masih dilaksanakan secara manual, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kerap tidak memantau perubahan anggaran setelah paripurnah pembahasan Rancangan APBD. Hal ini sempat disampaikan oleh Mardiasmo, saat menjabat sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Pemerintah (BPPKP), kepada Basuki Tjahja Purnama. Pada tahun 2014 misalnya, terdapat anggaran siluman sebesar Rp 330 milyar untuk 55 kegiatan pengadaan Uninterruptible Power Supply (UPS) di sejumlah SMK/SMA/SMU di Jakarta. Kegiatan ini tidak ada di saat pembahasan anggaran berlangsung dan baru muncul setelah sidang paripurna. Hal ini terjadi karena penganggaran tahun 2014 belum menggunakan sistem secara elektronik yang memungkinkan untuk mengetahui setiap perubahan pagu anggaran kegiatan. Oleh karenanya, implementasi e-budgeting di dalam pengelolaan anggaran daerah perlu diterapkan13.
4.3. Dinamika Pengembangan Open Government Partnership di DKI Jakarta