BAB II KAJIAN PUSTAKA
1. Pengertian Agama dan Religiusitas
Berdasarkan sudut pandang kebahasaan-bahasa Indonesia pada umumnya-“agama” dianggap sebagai kata yang berasal dari bahasa sansekerta yang artinya “tidak kacau”. Agama diambil dari dua akar suku kata, yaitu a yang berarti “tidak” dan gama yang berarti “kacau”. Hal itu mengandung pengertian bahwa agama adalah suatu peraturan yang mengatur kehidupan manusia agar tidak kacau. Menurut inti maknanya yang khusus, kata agama dapat disamakan dengan kata religion dalam bahasa
Inggris, religie, dari akar kata religare yang berarti mengikat.29
Agama adalah suatu ciri kehidupan sosial manusia yang universal dalam arti bahwa semua masyarakat mempunyai cara-cara berpikir dan
pola-pola perilaku yang memenuhi syarat untuk disebut “agama”.30 Adapun
agama dalam pengertin sosiologi adalah gejala sosial yang umum dan dimiliki oleh seluruh masyarakat yang ada di dunia ini, tanpa kecuali. Ia merupakan salah satu aspek dalam kehidupan sosial dan bagian dari sistem sosial suatu masyarakat. Agama juga bisa dilihat sebagai unsur dari
kebudayaan suatu masyarakat di samping unsur-unsur yang lain.31
Agama didefenisikan sebagai tingkat moralitas dan cara pandang seseorang dalam memaknai kehidupan. Secara eksplisit, agama berkaitan
29Dadang Kahmad, Sosiologi Agama,( cet. kelima, Bandung: remaja Rosdakarya, 2009), 13.
30Ishomuddin, Sosiologi Agama, (Jakarta Selatan: Ghalia Indonesia, 2002), 29.
dengan tingkat kepercayaan dan nilai-nilai yang dimiliki oleh seseorang dan sejauh mana mereka dapat menerapkan nilai-nilai dna keyakinan tersebut dalam kehidupannya. Agama dapat diukur dari dua hal, yaitu menggunakan kognitif, dimiliki oleh seseorang dan perilaku yang akan ditunjukkan. Dalam konteks kegiatan usaha, agama akan menentukan konsistensi dari perilaku yang ditunjukkan oleh orang yang menjalankan bisnis, seperti praktek bisnis yang memberikan perioritas kepada etika, kejujuran, dan
terpercaya.32
Sedangkan religiusitas berasal dari kata latin religio. Akar kata religio adalah religere yang memiliki arti mengikat. Religere memiliki arti melaksanakan dengan sangat teliti atau menyatukan diri. Kata yang hampir mirip dengan kata religere adalah kata religion yang memiliki arti agama. Agama dan religiusitas merupakan dua hal yang berbeda, tetapi, keduanya tidak dipisahkan karena saling melengkapi dan saling mendukung. Agama lebih menunjuk kepada kelembagaan, kebaktian kepada Tuhan atau dunia atas dalam aspek resi, yuridis, peraturan-peraturan dan sebagainya yang meliputi segi-segi kemasyarakatan. Sedangkan religiusitas lebih melihat aspek-aspek yang ada dalam lubuk hati, sikap personal yang sedikit lebih banyak misteri bagi orang lain karena menafaskan intimitas jiwa yakni cita rasa yang mencakup totalitas
ke dalam pribadi manusia.33
32
Fauzan, Hubungan religiusitas dan kewirausahaan: Sebuah kajian empiris dalam
perspektif Islam, 149.
33Asyari, Religiusitas dan Cultural Belief dalam Perilaku Ekonomi Muslim Minangkabau di Sumatera Barat, 41.
Banyak ahli yang memberikan pengertian religiusitas. Religiusitas didefinisikan sebagai tingkat keyakinan yang spesifik dalam nilai-nilai agama dan cita-cita yang diselenggarakan dan dipraktekkan oleh seorang individu. Religiusitas juga digambarkan sebagai kepercayaan kepada Tuhan (iman) yang disertai dengan komitmen untuk mengikuti prinsip-prinsip
yang diyakini akan ditetapkan oleh Allah.34
Religiusitas juga sebagai tingkat ketundukan terhadap praktik dan
kepercayaan (shafranske). Religiusitas adalah derajat seseorang
menggunakan nilai-nilai keagamaan, keyakinan dan praktik keagamaan dalam kehidupan sehari-hari (Warthington). Ahli psikologi memberikan pengertian religiusitas yaitu sesuatu yang dirasakan sangat dalam, yag bersentuhan dengan keinginan seseorang, membutuhkan ketaatan dan memberikan imbalan atau mengikat seseorang dalam masyarakat (Muctharam). Dari berbagai pengertian yang disampaikan para ahli, religiusitas merupakan konsep yang berkaitan dengan keyakinan seseorang kepada Tuhan yang dimanifestasikan melalui ketatan dan kepatuhan terhadap segala perintah-Nya. Religiusitas lebih merupakan
sikap dan perilaku.35
Menurut Suhardiyanti, religiusitas adalah hubungan pribadi dengan pribadi Ilahi Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang berkonsekuensi hasrat untuk berkenan kepada pribadi yang ilahi itu dengan
34Fauzan, Pengaruh Religiusitas Terhadap Etika Berbisnis (Studi pada Rumah Makan Padang di Kota Malang), 149.
35Asyari, Religiusitas dan Cultural Belief dalam Perilaku Ekonomi Muslim Minangkabau
melaksanakan kehendak-Nya dan menjauhi yang tidak dikehendaki-Nya. Hubungan pribadi yang baik dengan pribadi yang ilahi ini menurut Suhardiyanto memampukan orang untuk meihat kebaikan Tuhan dalam sesama, suatu sikap yang setelah tumbuh dan berkembang dalam diri seseorang akan membuahkan cinta tidak hanya pada Tuhan saja teapi juga pada sesama ciptaan Tuhan, baik itu manusia maupun alam ciptaan lain sehingga dalam hidup sehari-hari sebagai buahnya bagi manusia akan tumbuh atau muncul sikap saling menghargai, saling mencintai, dan muncul rasa sayang pada alam lingkungannya, sehingga kesejahteraan bersama,
lahir batin dapat terwujud.36
Asyari juga mengutip beberapa pendapat ahli yang mengartikan
tentang religiusitas, di antaranya:37 Menurut Delener (1990), yaitu derajat
keyakinan pada nilai-nilai agama dan pelaksanaanya dalam kehidupan oleh individu. Menurut Burnett (1990), religiusitas merupakan komitmen untuk mengikuti prinsip-prinsip yang diyakininya telah ditetapkan oleh Tuhan. Religiusitas juga sebagai tingkat ketundukan terhadap praktik dan kepercayaan (Shafranske, 1990). Menurut Warthington (2003), religiusitas adalah derajat seseorang menggunakan nilai-nilai keagamaan, keyakinan dan praktik keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Dari berbagai pengertian yang disampaikan para ahli, religiuitas merupakan konsep yang
36
Fauzan, Hubungan Religiusitas dan kwirausahaan: Sebuah kajian empiris dalam
perspektif Islam,56.
37Ibrahim Dwi Santoso, Analisis Religiusitas dan Praktik Berdagang pedagang Muslim, Malang, 1.
berkaitan dengan keyakinan seseorang kepada Tuhan yang dimanifestasikan
melalui ketaatan dan kepatuhan terhadap segala perintah-Nya.38
Dari beberapa pendapat di atas maka dapat dipahami religiusitas adalah perilaku terhadap agama yang berupa penghayatan terhadap nilai-nilai agama yang dapat ditandai tidak hanya melalui ketaatan dalam menjalankan ibadah ritual tetapi juga dengan adanya keyakinan, pengalaman, dan pengetahuan mengenai agama yang dianutnya.