• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORI

A. Pengertian Belajar dan Pembelajaran

Dalam bukunya yang berjudul “Psikologi Belajar”, Muhibbin (1999:

64–69) mencoba mengumpulkan beberapa pendapat mengenai pengertian belajar. Skinner berpendapat bahwa

…… a process of progressive behavior adaptation.” (Belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progresif.).

Chaplin menyatakan pendapatnya dalam dua pernyataan berikut, yaitu bahwa

…… acquisition of any relatively permanent change in behavior as a result of practice and experience.” (Belajar adalah perolehan

perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman.)

…… process of acquiring responses as a result of a special practice.” (Belajar adalah proses memperoleh respon-respon sebagai akibat adanya latihan khusus.)

Hintzman berpendapat bahwa

Learning is a change in organism due to experience which can affect the organism’s behavior.” (Belajar adalah suatu perubahan

yang terjadi dalam diri organisme, manusia atau hewan, disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku tersebut.) Jadi, perubahan yang ditimbulkan oleh pengalaman tersebut dapat dikatakan belajar apabila mempengaruhi organisme.

Arno F. Wittig menyatakan bahwa

…… any relatively permanent change in a organism’s behavioral repertoire that occurs as a result of experience.” (Belajar adalah

perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil

pengalaman.) Yang dimaksud dengan behavioral repertoire change

adalah perubahan yang menyangkut seluruh aspek psiko-fisik organisme.

Reber menyatakan bahwa

…… the process of acquiring knowledge.” (Belajar adalah proses

memperoleh pengetahuan.)

…… a relatively permanent change in response potentiality with occurs as a result of reinforced practice.” (Belajar adalah suatu

perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat.)

Sedangkan Biggs mengemukakan pendapatnya berdasarkan beberapa sudut

pandang, yaitu secara kuantitatif, institusional, dan kualitatif.

Secara kuantitatif (ditinjau dari sudut jumlah), belajar dalam hal ini dipandang dari sudut berapa banyak materi yang dikuasai oleh siswa.

Secara intitusional (tinjauan kelembagaan), belajar dipandang sebagai proses validasi (pengabsahan) terhadap penguasaan siswa atas

materi-materi yang telah ia pelajari.

Pengertian belajar secara kualitatif (tinjauan mutu) difokuskan pada tercapainya daya pikir dan tindakan yang berkualitas untuk

memecahkan masalah-masalah yang kini dan nanti dihadapi siswa.

Dari pendapat dan pengertian tersebut, Muhibbin menyimpulkan

bahwa belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku

individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan

lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Secara lebih rinci, belajar adalah

b. Aktivitas itu menghasilkan perubahan dimana perubahan tersebut diperoleh

akibat adanya suatu latihan khusus dan pengalaman.

c. Perubahan tersebut menyangkut seluruh aspek psiko-fisik.

d. Perubahan tersebut relatif bersifat langgeng sebagai hasil dari latihan yang

diperkuat.

Pendapat yang sama juga dicoba diungkapkan oleh Dimyati dan

Mudjiono (2006: 9–13), dalam bukunya yang berjudul “Belajar dan Pembelajaran”. Dalam buku tersebut, penulis mencoba mengumpulkan beberapa

pandangan mengenai belajar.

a. Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang

belajar, maka responsnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak

belajar maka responsnya menurun. Dalam belajar ditemukan adanya hal

berikut, yaitu (1) kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan

respons pebelajar; (2) respons si pebelajar; dan (3) konsekuensi yang bersifat

menguatkan respons tersebut. Pemerkuat terjadi pada stimulus yang

menguatkan konsekuensi tersebut. Sebagai ilustrasi, perilaku respons si

pebelajar yang baik diberi hadiah. Sebaliknya, perilaku respons si pebelajar

yang tidak baik diberi teguran atau hukuman.

b. Gagne berpendapat bahwa belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil

belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki keterampilan,

pengetahuan, sikap, dan nilai. Timbulnya kapabilitas tersebut adalah dari (1)

dilakukan oleh pebelajar. Dengan demikian, belajar adalah seperangkat

proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati

pengolahan informasi, menjadi kapabilitas baru.

Menurut Gagne, belajar terdiri dari tiga komponen penting, yaitu kondisi

eksternal, kondisi internal, dan hasil belajar. Komponen tersebut dijabarkan

sebagai berikut, (1) belajar merupakan interaksi antara “ keadaan internal dan proses kognitif siswa” dengan “stimulus dari lingkungan”.; dan (2)

proses kognitif tersebut menghasilkan suatu hasil belajar. Hasil belajar

tersebut terdiri dari informasi verbal, keterampilan intelek, keterampilan

motorik, sikap dan siasat kognitif.

Kelima hasil belajar tersebut merupakan kapabilitas siswa. Kapabilitas siswa

tersebut berupa:

1) Informasi verbal adalah kapabilitas untuk mengungkapkan

pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis.

Pemilikan informasi verbal memungkinkan individu berperanan

dalam kehidupan.

2) Keterampilan intelektual adalah kecakapan yang berfungsi untuk

berhubungan dengan lingkungan hidup serta mempresentasikan

konsep dan lambang. Keterampilan intelek terdiri dari diskriminasi

3) Stategi kognitif adalah kemampuan menyalurkan dan mengarahkan

aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan

konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.

4) Keterampilan motorik adalah kemampuan melakukan serangkaian

gerak jasmani dalam urusan koordinasi, sehingga terbentuk

otomatisme gerak jasmani.

5) Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak obyek berdasarkan

penilaian terhadap obyek tersebut.

c. Piaget berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab

individu melakukan interaksi terus-menerus dengan lingkungan. Lingkungan

tersebut mengalami perubahan. Dengan adanya interaksi dengan lingkungan

maka fungsi intelek semakin berkembang.

Perkembangan intelektual melalui tahap-tahap berikut:

1) Tahap sensori motor (0,0–2,0 tahun)

Pada tahap ini, anak mengenal lingkungan dengan kemampuan

sensorik dan motorik. Anak mengenal lingkungan dengan

penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, dan

menggerak-gerakkannya. Anak banyak bereaksi reflek, reflek tersebut belum

terkoordinasikan. Pada tahap ini, terjadi perkembangan perbuatan

sensori motor ke yang relatif lebih kompleks.

Pada tahap ini, anak mengandalkan diri pada persepsi tentang realitas.

Ia telah mampu menggunakan simbol, bahasa, konsep sederhana,

berpartisipasi, membuat gambar, dan menggolong-golongkan. Hal ini

ditandai dengan:

a) Memperoleh pengetahuan/konsep-konsep

b) Kecakapan yang didapat belum tetap (konsisten)

c) Kurang cakap memikirkan tentang apa yang sedang

dipikirkannya, kurang cakap merencanakan sesuatu yang

dilakukan, masih berdasarkan pengalaman-pengalaman yang

diamati dengan menggunakan tanda-tanda atau perangsang

sensori

d) Bersifat egosentris, dalam arti memandang dunia berdasarkan

pengalamannya sendiri, dan berdasarkan pengamatannya pada

masa itu saja.

3) Tahap operasional konkret (7,0–11,0 tahun)

Pada tahap ini, pikiran anak sudah mulai stabil dalam arti aktivitas

batiniah (internal action), dan skema pengamatan mulai diorganisasikan menjadi sistem pengerjaan yang logis (logical operational system). Anak mulai dapat berpikir lebih dulu akibat-akibat yang mungkin terjadi dari perbuatan yang akan dilakukannya,

ia tidak lagi bertindak coba-coba salah (trial and error). Menjelang akhir periode ini, anak telah menguasai prinsip menyimpan

(conservational principles). Anak masih terikat pada obyek-obyek konkret.

4) Tahap operasi formal (11,0 tahun keatas)

Pada tahap ini, anak dapat berpikir abstrak seperti pada orang dewasa.

Kecakapan anak tidak lagi terbatas pada obyek-obyek yang konkret

serta:

a) Ia dapat memandang kemungkinan-kemungkinan yang ada

melalui pemikirannya (dapat memikirkan

kemungkinan-kemungkinan),

b) Dapat mengorganisasikan situasi/masalah,

c) Dapat berpikir dengan betul (dapat berpikir yang logis, mengerti

hubungan sebab-akibat, memecahkan masalah/berpikir secara

ilmiah).

Ada beberapa pendapat mengenai tahap-tahap dalam proses belajar

(Muhibbin, 2003: 109–113). Pendapat-pendapat itu adalah: a. Menurut Jerome S. Bruner

Ada tiga tahap dalam proses belajar, yaitu:

1) Tahap informasi (tahap penerimaan materi)

Dalam tahap ini, seorang siswa yang sedang belajar memperoleh

sejumlah keterangan mengenai materi yang sedang dipelajari. Di antara

sendiri, ada pula yang berfungsi menambah, memperhalus, dan

memperdalam pengetahuan yang sebelumnya telah dimiliki.

2) Tahap tranformasi (tahap pengubahan materi)

Dalam tahap ini, informasi yang telah diperoleh itu dianalisis, diubah,

atau ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrak atau konseptual

supaya kelak pada gilirannya dapat dimanfaatkan bagi hal-hal yang lebih

luas.

3) Tahap evaluasi (tahap penilaian materi)

Dalam tahap ini, seorang siswa menilai sendiri sampai sejauh mana

informasi yang telah ditransformasikan tadi dapat dimanfaatkan untuk

memahami gejala atau memecahkan masalah yang dihadapi.

b. Menurut Arno F. Wittig

Belajar selalu berlangsung dalam tiga tahap, yaitu:

1) Acquisition (tahap perolehan/penerimaan informasi)

Pada tingkatan ini, seorang siswa mulai menerima informasi sebagai

stimulus dan melakukan respons terhadapnya, sehingga menimbulkan

pemahaman dan perilaku baru. Pada tahap ini terjadi pula asimilasi antara

pemahaman dengan perilaku baru dalam keseluruhan perilakunya. Proses

acquisition dalam belajar merupakan tahapan yang paling mendasar. Kegagalan dalam tahap ini akan mengakibatkan kegagalan pada

tahap-tahap berikutnya.

Pada tingkatan ini, seorang siswa secara otomatis akan mengalami proses

penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang ia peroleh ketika

menjalani proses acquisition. Peristiwa ini melibatkan fungsi short term memory (memori jangka pendek atau disimpan sesaat atau lewat dalam tempat penyimpanan) dan long term memory (memori jangka panjang atau permanen).

3) Retrieval (tahap mendapatkan kembali informasi)

Pada tingkatan ini, seorang siswa akan mengaktifkan kembali

fungsi-fungsi sistem memorinya, misalnya ketika ia menjawab pertanyaan atau

memecahkan masalah. Proses retrieval pada dasarnya adalah upaya atau peristiwa mental dalam mengungkapkan dan memproduksi kembali

apa-apa yang tersimpan dalam memori berupa informasi, simbol, pemahaman,

dan perilaku tertentu sebagai respons atas stimulus yang sedang dihadapi.

c. Menurut Albert Bandura

Urutan tahapan peristiwa belajar meliputi:

1) Tahap perhatian (attentional phase)

Pada tahap ini, para siswa pada umumnya memusatkan perhatian pada

obyek materi atau perilaku model yang lebih menarik terutama karena

keunikannya dibanding dengan materi atau perilaku lain yang

sebelumnya telah mereka ketahui.

Informasi berupa materi dan contoh perilaku model itu ditangkap,

diproses, dan disimpan dalam memori.

3) Tahap reproduksi (reproduction phase)

Segala bayangan/citra mental (imagery) atau kode-kode simbolis yang berisi informasi pengetahuan dan perilaku yang telah disimpan dalam

memori para peserta didik itu diproduksi kembali.

4) Tahap motivasi (motivation phase)

Tahap motivasi dalam proses terjadinya peristiwa atau perilaku belajar

adalah tahap penerimaan dorongan yang dapat berfungsi sebagai

reinforcement, „penguatan‟ bersemayamnya segala informasi dalam

memori para peserta didik. Pada tahap ini, guru dianjurkan untuk

memberi pujian, hadiah, atau nilai tertentu kepada para peserta didik yang

berkinerja memuaskan. Sementara itu kepada mereka yang kinerjanya

kurang memuaskan perlu diyakinkan akan artinya penguasaan materi atau

perilaku yang disajikan model (guru) bagi kehidupan mereka. Seiring

dengan upaya ini, ada baiknya ditunjukkan pula bukti-bukti kerugian

orang yang tidak menguasai materi atau perilaku tersebut.

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa agar terjadi proses

belajar atau terjadinya perubahan tingkah laku sebelum kegiatan belajar mengajar

di kelas seorang guru perlu menyiapkan atau merencanakan berbagai pengalaman

belajar yang akan diberikan pada siswa dan pengalaman belajar tersebut harus

dan bersifat pribadi dalam diri siswa, agar proses belajar tersebut mengarah pada

tercapainya tujuan dalam kurikulum maka guru harus merencanakan dengan

seksama dan sistematis berbagai pengalaman belajar yang memungkinkan

perubahan tingkah laku siswa sesuai dengan apa yang diharapkan. Aktivitas guru

untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan proses belajar siswa

berlangsung optimal disebut dengan kegiatan pembelajaran.

Pembelajaran diartikan sebagai proses penciptaan lingkungan yang

memungkinkan terjadinya proses belajar. Jadi, dalam pembelajaran yang

utama adalah bagaimana siswa belajar. Belajar dalam pengertian aktivitas

mental siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan yang menghasilkan

perubahan perilaku yang bersifat relatif konstan. Dengan demikian, aspek

yang menjadi penting dalam aktivitas belajar adalah lingkungan. Bagaimana

lingkungan ini diciptakan dengan menata unsur‐unsurnya sehingga dapat mengubah perilaku siswa. Tujuan-tujuan pembelajaran telah dirumuskan dalam

kurikulum yang berlaku. Peran guru di sini adalah sebagai pengelola proses

belajar mengajar tersebut.

Rogers (dalam Dimyati dan Mudjiono, 2006: 16–17) mengatakan bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik seorang guru perlu

memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai berbagai prinsip-prinsip

a. Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan wajar untuk belajar. Siswa tidak

harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.

b. Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya.

c. Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide

baru, sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.

d. Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang

proses-proses belajar, keterbukaan belajar mengalami sesuatu, bekerja sama

dengan melakukan pengubahan diri terus-menerus.

e. Belajar yang optimal akan terjadi, bila siswa berpartisipasi secara

bertanggung jawab dalam proses belajar.

f. Belajar mengalami (experiential learning) dapat terjadi bila siswa mengevaluasi dirinya sendiri. Belajar mengalami dapat memberi peluang

untuk belajar kreatif, self evaluation dan kritik diri. Hal ini berarti bahwa evaluasi dari instruktur bersifat sekunder.

g. Belajar mengalami menuntut keterlibatan siswa secara penuh dan

sungguh-sungguh.

Dokumen terkait