BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN KONSEPTUAL
B. Pembelajaran Kooperatif
1. Pengertian Belajar dan Pembelajaran
Belajar adalah kunci yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan.20 Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Disebabkan oleh kemampuan berubah karena belajarlah, maka manusia dapat berkembang lebih jauh daripada makhluk-makhluk lainnya, sebagai khalifah Tuhan di muka bumi.
20
Secara umum, belajar dapat dimaknai dengan suatu proses bagi seseorang untuk memperoleh kecakapan, keterampilan, dan sikap.21Beberapa pendapat yang mengemukakan tentang pengertian belajar. Belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan munculnya perubahan perilaku.22 Hilgrad mengungkapkan bahwa “Belajar itu adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan di dalam laboratorium maupun dalam lingkungan alamiah.”23 Sedangkan Cronbach berpendapat bahwa :”learning is shown by a change in behavior as a result of experieence”. Belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.24Pengalaman tersebut diperoleh individu dalam interaksi dengan lingkungannya baik yang menyangkut ranah kognitif, afektif maupun psikomotor.
Belajar menurut pandangan konstruktivis merupakan hasil konstuksi kognitif melalui kegiatan seseorang. Pandangan ini memberikan penekanan bahwa pengetahuan kita adalah bentukan kita sendiri.25Belajar adalah suatu proses, dan bukan hasil. Karena itu belajar berlangsung secara aktif dan integrative dengan menggunakan berbagai bentuk perbuatan untuk mencapai suatu tujuan.26
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti, bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri.
21
Zurinal dan Wahyu Sayuti, Ilmu Pendidikan Pengantar dan Dasar-dasar Pelaksanaan Pendidikan, (UIN Jakarta Press, 2006), Cet. 1, h. 117
22
Wina Sanjaya, Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi,
(Kencana Prenada Media Grup, 2005), Cet. 3, Ed. 1, h. 89
23
Zurinal dan Wahyu Sayuti, Ilmu Pendidikan Pengantar dan Dasar-dasar…………., Cet. 1, h. 117
24
Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2008), Ed. 2, h. 13
25
Triyanto, Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007), h. 28
26
Wasti Soemanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006), Cet. 5, h. 104-105
Gagne’, seperti yang dikutip oleh Meriana (1999: 25) menyatakan untuk terjadinya belajar pada diri siswa diperlukan kondisi belajar, baik kondisi internal maupun kondisi eksternal. Kondisi internal merupakan peningkatan memori siswa sebagai hasil belajar terdahulu. Memori siswa yang terdahulu merupakan komponen kemampuan yang baru dan ditempatkannya bersama-sama. Kondisi eksternal meliputi aspek atau benda yang dirancang atau ditata dalam suatu pembelajaran. Sebagai hasil belajar (learning outcomes).27
Berdasarkan perbedaan-perbedaan pendapat mengenai belajar, namun prinsipnya sama, yakni adanya perubahan tingkah laku, hanya berbeda cara atau usaha pencapaiannya. Sehingga penulis dapat menyimpulkan bahwa belajar adalah tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif, afektif maupun psikomotor. Segala aktivitas dan prestasi hidup manusia tidak lain adalah hasil dari belajar hanya berbeda cara dan usaha pencapaiannya.
Sedangkan proses yang terjadi yang membuat seseorang melakukan proses belajar disebut pembelajaran. Kata “pembelajaran” adalah terjemahan dari “instruction” yang banyak dipakai dalam dunia pendidikan Amerika Serikat. Istilah ini bayak dipengaruhi oleh aliran psikologi kognitif-wholistik, yang menempatkan siswa sebagai sumber dari kegiatan.28
Istilah pembelajaran merupakan istilah baru yang digunakan untuk menunjukkan kegiatan guru dan siswa. Sebelumnya kita menggunakan istilah “proses belajar-mengajar” dan “pengajaran”. Menurut Gagne, Bringgs, dan Wager (1992), ”pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa.”29Oleh karena itu, mengajar atau “teaching” merupakan bagian dari pembelajaran (instruction), dimana peran guru lebih ditekankan kepada
27
Triyanto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007), h. 12
28
Wina Sanjaya. 2005. Kurikulum dan pembelajaran Tori dan Praktek Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, . (Jakarta : Kencana Prenada Grup), h. 213
29
Prof. Dr. Udin S. Wiranataputra, dkk, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007), h. 1.6
bagaimana merancang atau mengaransemen berbagai sumber dan fasilitas yang tersedia untuk digunakan atau dimanfaatkan siswa dalam mempelajari sesuatu. 30
Pembelajaran lebih mengacu pada segala kegiatan yang berpengaruh langsung terhadap proses belajar siswa. Sementara yang dimaksud dengan “kegiatan pembelajaran adalah satu usaha dan proses yang dilakukan secara sadar dengan mengacu pada tujuan (pembentukan kompetensi), yaitu dengan sistematik dan terarah pada terwujudnya perubahan tingkah laku.”31 “Kalau kita menggunakan kata “pengajaran”, kita membatasi diri hanya pada konteks tatap muka guru dan siswa di dalam kelas. Sedangkan dalam istilah pembelajaran, interaksi siswa tidak dibatasi oleh kehadiran guru secara fisik.” 32 Siswa dapat belajar melalui bahan ajar cetak, program radio, program televisi, atau media lainnya. Namun guru tetap memainkan peranan penting dalam merancang setiap kegiatan pembelajaran. Dengan demikian pengajaran merupakan salah satu bentuk kegiatan pembelajaran.
“Pembelajaran berarti upaya membelajarkan siswa (Degeng, 1989).”33 Berdasarkan pernyataan tersebut berarti pembelajaran menuntut adanya interaksi. Interaksi tersebut antara siswa yang belajar dengan lingkungan belajarnya, baik dengan guru, siswa lainnya, tutor, media, atau sumber lainnya. “Ciri lain dari pembelajaran adalah adanya komponen-komponen yang saling berkaitan satu sama lain. Komponen-komponen tersebut adalah tujuan, materi, kegiatan, dan evaluasi pembelajaran.34
Penulis dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses yang sengaja dirancang dengan tujuan untuk menciptakan suasana lingkungan yang memungkinkan seseorang atau pelajar melaksanakan kegiatan belajar, dan proses tersebut dirancang oleh guru sebagai fasilitator sementara siswa
30
Wina Sanjaya. 2005. Kurikulum dan pembelajaran Tori dan Praktek..., h. 213
31
Zurinal dan Wahyu Sayuti, Ilmu Pendidikan Pengantar dan Dasar-dasar…………., Cet. 1, h. 117
32
Prof. Dr. Udin S. Wiranataputra, dkk, Belajar dan………., h. 1.6
33
Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2009), h. 2
34
diposisikan sebagai subjek belajar yang memegang peranan utama dalam proses belajar.
Setelah membahas tentang belajar dan pembelajaran, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa proses belajar bersifat internal dalam diri siswa, maksudnya proses belajar merupakan peningkatan memori siswa itu sendiri sebagai hasil belajar terdahulu. Sedangkan, pembelajaran bersifat eksternal yaitu kegiatan yang sengaja direncanakan dan dirancang oleh guru dalam proses belajar.