• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA ........................................................................ 15-49

2.2. Pengertian Belajar

Motivasi eksterinsik sering digunakan karena bahan pelajaran kurang menarik perhatian anak didik atau karena sikap tertentu pada guru atau orang tua. Baik motivasi ekstrinsik yang positif maupun motivasi ekstrinsik yang negatif, sama-sama mempengaruhi sikap dan perilaku anak didik. Diakui, angka, pujian, hadiah, dan sebagainya berpengaruh positif dengan merangsang anak didik untuk giat belajar.

2.2 Pengertian Belajar

Menurut Syah (2002) belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenejang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di sekolah, maupun dilingkungan rumah atau keluaganya sendiri. Skinner (dalam Syah, 2002) berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif.

2.2.1 Motivasi mempengaruhi prestasi belajar

Menurut Djamarah (2002), tinggi rendahnya motivasi selalu dijadikan indikator baik-buruknya prestasi belajar seseorang anak didik. Menurut Sudirman (dalam Iskandar, 2009) kegiatan belajar sangat memerlukan motivasi. Hasil belajar

21 akan menjadi optimal, kalau ada motivasi. Semakin tepat motivasi yang diberikan, akan semakin baik pula pelajaran-pejaran yang dipelajarinya. Oleh karena itu, motivasi mempunyai peranan yang strategis dalam mencapai tujuan atau hasil dari pembelajaran.

2.2.2 Fungsi motivasi dalam belajar

Dalam kegiatan belajar mengajar pasti ditemukan anak didik yang malas berpartisipasi dalam belajar. Sementara anak didik yang lain aktif berpartisipasi dalam kegiatan. Ada anak didik yang duduk di dalam kelas, tetapi perhatian atau pikirannya tidak berada di dalam kelas.

Kurangnya motivasi intrinsik ini merupakan masalah yang memerlukan bantuan yang tidak bisa ditunda-tunda. Guru harus memberikan dorongan dalam bentuk motivasi ekstrinsik. Sehingga dengan bantuan itu anak didik dapat keluar dari kesulitan belajar. Bila motivasi ekstrinsik yang diberikan itu dapat membantu anak didik keluar dari lingkaran masalah kesulitan belajar, maka motivasi ekstrinsik dapat diperankan dengan baik oleh guru.

Menurut Djamarah (2002) baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik sama-sama berfungsi sebagai pendorong, penggerak dan penyeleksi perbuatan. Untuk jelasnya ketiga fungsi motivasi dalam belajar tersebut, diuraikan dalam pembahasan sebagai berikut:

22 1. Motivasi sebagai pendorong perbuatan

Sesuatu yang belum diketahui oleh anak didik akan mendorongnya untuk belajar dalam rangka mencari tahu.

2. Motivasi sebagai penggerak perbuatan

Yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

3. Motivasi sebagai pengarah perbuatan

Yakni kearah tujuan yang hendak di dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.

2.2.3 Bentuk-bentuk motivasi dalam belajar

Menurut Djamarah (2002), ada beberapa bentuk motivasi yang dapat dimanfaatkan dalam rangka mengarahkan belajar anak didik di kelas, sebagai berikut: 1. Memberi angka

Angka-angka yang baik bagi siswa merupakan motivasi yang kuat. Tetapi ada juga, siswa yang belajar hanya ingin naik kelas saja. Ini menunjukkkan motivasi yang

23 dimilikinya kurang berbobot bila dibandingkan siswa yang menginginkan nilai yang baik. Namun, pemberian angka-angka harus mampu dikaitkan dengan nilai yang terkandung di dalam setiap pengetahuan yang diajarkan kepada siswa, sehingga tidak sekedar kognitif saja tetapi juga keterampilan dan afeksinya.

2. Hadiah

Hadiah juga dapat digunakan sebagai motivasi, Tetapi tidak selalu demikian. Karena hadiah untuk suatu pekerjaan, mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak senang dan tidak berbakat untuk pekerjaan tersebut.

3. Saingan atau kompetisi

Saingan atau kompetisi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. Persaingan, baik persaingan individual maupun persaingan kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini dapat meningkatkan kegiatan belajar siswa.

4. Ego- involvement

Seseorang akan berusaha dengan segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya. Penyelesaian tugas dengan baik adalah simbol kebanggaan dan harga diri.

24 5. Memberi ulangan.

Para siswa akan menjadi giat belajar kalau mengetahui ada ulangan. Oleh karena itu, memberi ulangan ini juga merupakan sarana motivasi.

6. Mengetahui hasil

Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apabila kalau terjadi kemajuan, akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar. Semakin mengetahui bahwa grafik hasil belajar meningkat, maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar, dengan suatu harapan hasilnya terus meningkat.

7. Pujian

Pujian ini adalah bentuk reinforcement yang positif sekaligus merupakan motivasi yang baik. Dengan pujian yang tepat akan memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi gairah belajar.

8. Hukuman

Hukuman sebagai reinforcement yang negatif, tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi. Oleh karena itu seorang guru harus memahami prinsp- prinsip pemberian hukuman.

25 9. Hasrat untuk belajar

Hasrat untuk belajar berarti pada diri siswa memang ada motivasi untuk belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik.

10. Minat

Motivasi muncul karena ada kebutuhan, begitu juga dengan minat. 11. Tujuan yang diakui

Dengan memahami tujuan yang harus dicapai akan menimbulkan gairah untuk terus belajar.

2.2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar

Abror (1993) mengungkapkan bahwa ada faktor-faktor yang menyebabkan siswa tidak memiliki motivasi belajar, antara lain:

1. Kehidupan diluar lingkungan sekolah menawarkan banyak bentuk rekreasi yang lebih memuaskan, sekalipun hanya sementara sifatnya.

2. Pengaruh dari teman sebaya yang tidak menghargai prestasi yang tinggi dalam belajar disekolah dibandingkan dengan bidang-bidang lainnya.

3. Kekaburan mengenai cita-cita hidup.

26 5. Sikap kritis sebagian orang muda terhadap masyarakat, sehingga mereka meragukan kegunaan belajar disekolah yang mempersiapkan mereka terjun ke masyarakat itu.

Dari penjelasan faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar di atas, penulis melihat bahwa komunikasi efektif orang tua-anak merupakan lingkup kecil dari faktor nomor empat, yakni keadaan keluarga yang tidak menguntungkan. Sedangkan orientasi tujuan merupakan lingkup kecil dari faktor nomor tiga, yakni kekaburan mengenai cita-cita hidup.

2.2.5 Indikator motivasi belajar

Menurut Iskandar (2009), indikator atau petunjuk yang dapat dijadikan sebagai acuan bagi motivasi belajar siswa adalah sebagai berikut:

1. Adanya hasrat dan keinginan untuk berhasil dalam belajar 2. Adanya keinginan, semangat dan kebutuhan dalam belajar 3. Memiliki harapan dan cita-cita masa depan

4. Adanya pemberian penghargaan dalam proses belajar

Dokumen terkait