Citra merupakan sebuah representasi yang mirip dengan sebuah objek dan terdiri dari sebuah array dua dimensi (Phillips, 2000). dapat dibentuk oleh variasi yang menerus dalam shading, warna, bentuk dan tekstur, yang dapat didefinisikan secara geometris dan kompleks (Simarmata, 2006). Citra sebagai output sistem perekam data dapat bersifat optik berupa foto, bersifat analog yang berupa sinyal video seperti layar televisi, dan juga bersifat digital yang dapat langsung disimpan pada suatu media penyimpanan atau pita magnetik (Sutoyo et al. 2009).

2.1.1 Citra Analog

Citra analog adalah citra yang masih dalam bentuk sinyal analog yang bersifat berkesinambungan, seperti citra pada tampilan televisi ataupun monitor yang dapat dilihat pada Gambar 2.1. Gambar-gambar yang terekam pada pita kaset juga termasuk ke dalam citra analog, juga foto yang tercetak pada kertas atupun poster dan lain sebagainya (Gambar 2.2). Citra analog tidak dapat dipresentasikan dalam komputer sehingga tidak bisa diproses oleh komputer secara langsung. Oleh karena itu, agar citra dapat diproses di komputer maka dilakukan proses konversi dari analog ke digital secara langsung.

Gambar 2.1 Contoh Citra Analog pada Televisi

Gambar 2.2 Contoh Citra Analog hasil Scanner

2.1.2 Citra Digital

Citra yang akan digunakan pada penelitian ini menggunakan format citra digital. Proses digitalisasi pada citra juga merupakan proses pengubahan bentuk citra analog menjadi citra digital, sehingga dapat diolah menggunakan komputer. Pada Gambar 2.3 merupakan gambar elemen sistem pemrosesan citra digital.

Gambar 2.3 Elemen Pemrosesan Citra Digital

Media Penyimpanan Komputer Piranti Tampilan Digitizer Citra Analog

ke-digital yang berfungsi melakukan pengubahan dak kuantitasi.

Hasil dari digitizer adalah matriks yang elemen-elemennya menyatakan nilai intensitas cahaya pada suatu titik. Contoh digitizer adalah kamera digital dan scanner. Komputer lalu digunakan untuk sistem permorsesan citra dan bervariasi dari komputer mikro sampai kamputer besar yang mampu melakukan bermacam fungsi digital dengan resolusi tinggi. Hasil pengolahan ini kemudian direpresentasikan kepada piranti tampilan yang dapat dilihat oleh manusia, sedangkan media penyimpanan berfungsi untuk menyimpan hasil konversi citra menjadi citra digital sehingga dapat disimpan secara permanen sehingga dapat diproses lagi.

Citra digital tersusun dalam bentuk kisi yang berisi nilai yang dipresentasikan dengan deretan bit. Sebuah citra dapat didefinisikan sebagai fungsi f(x,y), yang menyatakan derajat keabuan (gray level) pada koordinat x dan y. Koordinat x dinyatakan sebagai kolom dan y dinyatakan sebagai baris. Perpotongan antara baris dan kolom disebut dengan piksel (picture element), yaitu elemen terkecil dalam sebuah citra. Gambar 2.4 menunjukan posisi koordinat citra digital.

Citra digital berbentuk empat persegi panjang dan ukurannya dinyatakan sebagai tinggi x lebar (baris x kolom). Citra digital dengan tinggi N, lebar M dan memiliki derajat keabuan (grey level) L dapat disusun dengan fungsi sebagai berikut:

( , ) =

0 ≤ ≤ 0≤ ≤ 0≤ ≤

(2.1)

Nilai yang terdapat pada koordinat (x.y) adalah besar dari piksel di titik itu yang dinyatakan dengan f(x,y). Oleh karena itu, sebuah citra digital dapat dilihat pada Gambar 2.5 berikut:

Gambar 2.5 Fungsi Matriks pada Citra

Dicontohkan sebuah citra memiliki ukuran sebesar 100 x 100 piksel dengan nilai yang beragam pada setiap pikselnya. Maka matriks yang terdiri dari 100 baris dan 100 kolom dapat dipresentasikan pada Gambar 2.6.

⎣ ⎢ ⎢ ⎢ ⎢ ⎡ 00 25524 14389 100 0 1 … … 243 … … 12 … … 89 ⋮ ⋮ ⋮ ⋮ ⋮ ⋮ 105 102 103 ⋮ ⋮ ⋮ ⋮ ⋮ ⋮ … … 100⎦ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎤

Gambar 2.6 Presentasi Matriks pada Citra

Piksel pertama pada koordinat (0,0) memiliki nilai sebesar 0, yang berarti berwarna hitam. Sedangkan piksel yang berada pada koordinat (0,1) memiliki nilai 255, yang berarti berwarna putih, dan koordinat (0,3) memiliki nilai 143 yang artinya warna piksel berada diantara hitam dan putih, begitulah membaca piksel seterusnya.

Untuk mendapatkan citra digital dibutuhkan sebuah alat yang dapat mengubah sinyal analog menjadi digital, seperti scanner, foto digital, dan kamera digital. Dalam tugas akhir ini, penulis akan menggunakan citra digital berformat JPG.

Warna hitam diwakili dengan 0 dan warna putih diwakili dengan 1. Contoh citra biner dapat dilihat pada Gambar 2.7 di bawah ini.

Gambar 2.7 Contoh Binary Image

2. Citra grayscale (grayscale image) merupakan citra yang memiliki warna hitam, keabuan dan putih dalam setiap pikselnya. Citra ini memiliki kedalaman piksel 8 bit, dengan rentang sebanyak 256 warna (28 = 256). Contoh citra grayscale dapat dilihat pada Gambar 2.8.

3. Citra warna (true color) merupakan citra yang menggunakan kombinasi dari tiga warna, yaitu: Red, Green dan Blue, sehingga disebut sebagai citra RGB. Setiap komponen warna yang terdapat pada piksel dapat mencapai 8 bit (28 = 256 warna) dengan format warna dapat dilihat pada Gambar 2.9.

Gambar 2.9 Format Warna RGB

Hal ini menyebabkan setiap piksel pada citra RGB membutuhkan media penyimpanan 3 byte. Jumlah kemungkinan kombinasi warna pada citra RGB adalah 224 atau lebih dari 16 juta warna. Contoh citra warna dapat dilihat pada Gambar 2.10.

lalu menyimpulkan isi suatu citra (Bhatia & Chabbra, 2011). Corner dapat didefinisikan sebagai perpotongan dari dua buah edge atau titik yang menghasilkan dua arah edge dominan yang berbeda pada sebuah local neighbor (Burger, 2008). Untuk mengenali corner dapat dilakukan dengan menggeser window ke segala arah sehingga pada satu waktu tertentu didapatlah sebuah perbedaan yang besar yang kemudian diindentifikasikan sebagai corner, seperti yang dapat dilihat pada Gambar 2.11.

Gambar 2.11 Cuplikan Windowing

Apabila window digeser ke segala arah tetapi menghasilkan simpulan bagian flat dari objek dan tidak mendapat nilai apapun, maka hasilnya akan menjadi Gambar 2.12 bagian A, karena tidak terjadi perubahan dalam arah manapun. Pada Gambar 2.12 bagian B terjadi bila window digeser ke segala arah dan menghasilkan simpulan yang menyatakan bagian tepi dari objek yang disebut edge. Bila terjadi perubahan intensitas yang tertumpu pada satu sudut dari berbagai arah atau edge ketika window digeser maka akan dihasilkan sudut dari objek yang disebut sebagai corner, seperti yang ditujukan pada Gambar 2.12 bagian C.

Window

A B C

Dalam dokumen Pengenalan Pola Citra Menggunakan Metode Corner Detection Dan Backpropagation (Halaman 48-55)