• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJ AUAN PUSTAK A

2.2. Landasan Teori

2.2.1. Corporate Governance

2.2.1.1. Pengertian Corporate Governance . 15

Istilah Corporate governance itu sendiri untuk pertama kali diperkenalkan oleh Cadbury Committee di tahun 1992 yang menggunakan istilah tersebut dalam laporan mereka yang kemudian dikenal sebagai Cadbury Report. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Corporate governance merupakan:

1. Suatu struktur yang mengatur pola hubungan harmonis tentang perandewan komisaris, direksi, pemegang saham dan para stakeholder lainnya.

2. Suatu sistem pengecekan dan perimbangan kewenangan atas pengendalian perusahaan yang dapat membatasi munculnya dua peluang: pengelolaan yang salah dan penyalahgunaan aset perusahaan.

3. Suatu proses yang transparan atas penentuan tujuan perusahaan, pencapaian, berikut pengukuran kinerjanya.

Berdasarkan definisi-definisi tersebut diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwacorporate governance pada intinya adalah mengenai suatu, sistem, proses dan seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antar berbagai pihak yang berkepentingan (stakeholder) terutama dalam arti sempit hubungan antara pemegang saham, dewan komisaris dan dewan direksi demi tercapainya tujuan perusahaan.

Corporate governance dimaksudkan untuk mengatur hubungan-hubungan ini dan mencegah terjadinya kesalahan-kesalahan yang signifikan dalam stategi korporasi dan untuk memastikan bahwa kesalahan-kesalahan yang terjadi dapat diperbaiki dengan segera.

Johnson, dkk (2000: 25) memberikan bukti bahwa rendahnya kualitas corporate governance dalam suatu negara berdampak negatif pada pasar saham dan nilai tukar mata uang negara yang bersangkutan pada masa krisis di Asia. Johnson, dkk (2000) mendefinisikan corporategovernance sebagai efektivitas mekanisme yang bertujuan meminimisasi konflik keagenan, dengan penekanan khusus pada mekanisme legal yang mencegah dilakukannya ekspropriasi atas pemegang saham minoritas.

Klapper dan Love (2002: 96) menemukan adanya hubungan positif antara corporate governance dengan kinerja perusahaan yang diukur dengan Return OnAssets (ROA) dan Tobin’s Q. Penemuan penting lainnya adalah bahwa penerapan corporate governance di tingkat perusahaan lebih memiliki arti dalam negara berkembang dibandingkan dalam negara maju. Hal tersebut menunjukkan bahwa perusahaan yang menerapkan corporate governance yang baik akan memperoleh manfaat yang lebih besar di negara-negara yang lingkungan hukumnya buruk.

Dey Report (1994: 32) dalam Kusumawati (2005: 43) mengemukakan bahwa corporate governance yang efektif dalam jangka

panjang dapat meningkatkan kinerja perusahaan dan menguntungkan pemegang saham. Peningkatan kinerja perusahaan tersebut tidak hanya untuk kepentingan pemegang saham namun juga untuk kepentingan publik secara umum. Sunarto (2003: 55) juga menyatakan apabilacorporate governance tercapai maka kinerja saham perusahaan tersebut akan semakin meningkat. Penerapan corporate governancemembawa manfaat besar bagi perusahaan.

Shleifer dan Vishny (1997) menyatakanbahwa investor institusional memiliki perananyang penting dalam menciptakan sistem corporate governance yang baik dalam suatu perusahaan,dimana mereka dapat secara independen mengawasitindakan manajemen dan memiliki votingpower untuk mengadakan perubahan pada saatmanajemen sudah dianggap tidak efektif lagidalam mengelola perusahaan (Ashbaugh et al.2004).

Corporate governance (CG) secara definitif merupakan sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan yang menciptakan nilai tambah (value added) untuk semua stakeholder (Monks,2003: 102). Ada dua hal yang ditekankan dalam konsep ini, pertama, pentingnya hak pemegang saham untuk memperoleh informasi dengan benar dan tepat pada waktunya dan, kedua, kewajiban perusahaan untuk melakukan pengungkapan (disclosure) secara akurat, tepat waktu, transparan terhadap semua informasi kinerja perusahaan, kepemilikan, dan stakeholder. Definisi Corporate Governance sesuai dengan Surat

Keputusan Menteri BUMN No Kep-117/M-MBU/2002 tanggal 31 Juli 2002 tentang penerapan praktik GCG pada BUMN adalah: “Suatu proses dan struktur yang digunakan oleh BUMN untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan nilai-nilai etika”. Definisi ini menekankan pada keberhasilan usaha dengan memperhatikan akuntabilitas yang berlandaskan pada peraturan perundangan dan nilai-nilai etika serta memperhatikan stakeholders yang tujuan jangka panjangnya adalah untuk mewujudkan dan meningkatkan nilai pemegang saham.

Ada lima unsur penting dalam corporate governance yang merupakan prinsip-prinsip dalam corporate governance, yaitu (FCGI) : 1. Keterbukaan informasi, yaitu keterbukaan dalam melaksanakan

proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materiil dan relevan mengenai perusahaan. 2. Akuntabilitas, yaitu kejelasan fungsi, struktur, sistem, dan pertanggung jawaban organ perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksanasecara efektif.

3. Pertanggungjawaban, yaitu kesesuaian (kepatuhan) di dalam pengelolaan perusahaan terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan perundangan yang berlaku.

4. Kemandirian, yaitu suatu keadaan dimana perusahaan dikelola secara professional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh atau tekanan dari pihak manajemen yang tidak sesuai dengan peraturan dan perundangan-undangan yang berlaku dan prinsipprinsip korporasi yang sehat.

5. Kesetaraan dan kewajaran, yaitu perlakuan yang adil dan setara di dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian serta peraturan perundangan yang berlaku.

Berkaitan dengan masalah keagenan, corporate governance yang merupakan konsep yang didasarkan pada teori keagenan, diharapkan bisa berfungsi sebagai alat untuk memberikan keyakinan kepada para investor bahwa mereka akan menerima return atas dana yang telah mereka investasikan. Corporate governance berkaitan dengan bagaimana para investor yakin bahwa manajer akan memberikan keuntungan bagi mereka, yakin bahwa manajer tidak akan mencuri atau menggelapkan atau menginvestasikan ke dalam proyek-proyek yang tidak mengutungkan berkaitan dengan dana atau kapital yang telah ditanamkan oleh investor, dan berkaitan dengan bagaimana para investor mengontrol para manajer.

2.2.1.2. Mekanisme Corporate Governance

Corporate governance sebagai variabel independen diukur dengan menggunakanmekanisme corporate governance. Mekanisme

corporate governance adalah syarat-syarat pelaksanaan sistem dalam suatu badan usaha di mana berbagai pihak yangberkepentingan terhadap badan usaha tersebut dapat memastikan bahwa pihak manajerdan pihak internal badan usaha lainnya dapat memenuhi kepentingan stakeholder (Sandaet al., 2005). Mekanisme corporate governance yang baik akan menghasilkan kinerja badan usaha yang lebih baik. Mekanisme corporate governance terdiri dari dimensi-dimensi corporate governance. Mekanisme tersebut terbagi menjadi mekanisme internal dan mekanisme eksternal (Sanda et al., 2005).Yang termasuk dalam mekanisme internal adalah kepemilikan manajerial, ukuran dewan komisaris, komisaris independen, dan konsentrasi kepemilikan.Utang (leverage) merupakan mekanisme eksternal corporate governance. Selain menggunakan mekanisme corporate governance, Sanda et al. juga memasukkan variabel kontrol dalam penelitiannya, yaitu CEO ekspatriat, ukuran badan usaha, dan sektor.

2.2.2. Kesempatan Pertumbuhan

Kesempatan pertumbuhan (growth opportunity). Perusahaan yang memiliki kesempatan tumbuh yang tinggi pada umumnya membutuhkan dana eksternal (infestor)untuk melakukan ekspansi, sehingga mendorong perusahaan untuk melakukan perbaikan dalam penerapan corporate governance dalam rangka untuk menurunkan biaya modal (La Porta dkk., 1999; Klapper dan Love, 2002;Himmelberg dkk., 1999; Himmelberg,

Hubbard dan Love 2001: 46). Jika nilai Tobin’s Q lebih tinggi untuk perusahaan yang memiliki kesempatan tumbuh tinggi, hal ini bisa disebabkan adanya endogenitas pada variabel corporate governance dalam asosiasi antara corporate governance dengan kinerja. Dengan demikian, penelitian ini memasukkan variabel kesempatan pertumbuhan sebagai variabel kontrol. Kesempatan pertumbuhan diukur dengan menggunakan ratarata pertumbuhan penjualan selama tiga tahun terakhir (Klapper dan Love. 2002).

Dokumen terkait