BAB II : TINJAUAN TEORITIS TENTANG MANAJEMEN
B. Konsep Pembinaan
2. Pengertian Da’I Cilik
Da’i barasal dari kata bahasa arab yang berarti orang yang mengajak artinya masih umum sifatnya belum terkait dengan unsur lain
15
Peter Salim dan Yanni, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer (Jakarta: Modern English, 1991)
16
Asmuni Syukri, Dasar-dasar Strategis Dakwah Islam (Surabaya: Al-Ikhlas, 1983), Cet. Ke-2, h.17
17
Departemen. Pendidikan. Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi, Ke-3 (Jakarta: Balai Pustaka, t. t), h. 17
18
Bp-4, Pembinaan Keluarga Bahagia Sejahtera (Jakarta: 1984), h. 8
33
yang mengikutinya. Dalam pengertian yang seperti tersebut masih termasuk orang yang mengajak kepada ketidakbaikan. Dalam pengertian khusus (pengertian Islam) dai adalah orang yang mengajak kepada orang lain baik secara langsung maupun secara tidak langsung dengan kata-kata, perbuatan, maupun tingkah laku ke arah kondisi yang baik atau yang lebih baik menurut syariat al-qur’an dan sunnah. Dalam pengertian khusus tersebut da’i identik dengan orang yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar.
Sedangkan Umar hasan mengartikan kata da’i adalah mengundang atau mengajak, mengundang manusia kepada agama Allah SWT, yakni agar manusia mau beriman dan mau melaksanakan ajaran-ajaran Allah SWT.19
Sementara itu M. Syafaat Habib, dalam pedoman dakwah mengatakan bahwa da’i adalah seorang leader atau pemimpin ”(Sayyidul Qoum)”. Dia hidup dalam masyarakat yang terus berubah, dan harus sadar akan perubahan ini kemudian memberikan petunjukknya.20
Bila di ibaratkan da’i adalah seorang guide atau seorang pemandu terhadap orang-orang yang ingin mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat. Ia adalah petunjuk jalan yang lurus mengerti dan memahami terlebih dahulu, mana yang harus dilalui dan mana yang tidak boleh dilalui oleh seorang muslim, sebelum ia memberikan petunjuk jalan pada orang lain. Sebagai orang yang memahami, mengetahui tentang agama islam, ia harus mennyatakan sepenuh hati. Karena setiap muslim mempunyai tanggung jawab atas kelestarian dan kesinambungan islam dan umat islam
19
Umar Hasan, Mencari Ulama Pewaris Nabi (Bekasi: Dakta FFM, 1979), h. 135. 20
di dunia ini. Oleh karena itu kedudukan da’i di tengah masyarakat menduduki kedudukan yang penting, ia adalah seorang pemuka( pelopor) yang selalu diteladani oleh masyarakat sekitarnya, ia adalah seorang pemimpin di tengah masyarakat walaupun tak pernah dinobatkan secara resmi sebagai pemimpin. Itulah sebabnya sebagai da’i harus sadar bahwa tingkah lakunya selalu dijadikan tolak ukur masyarakat.21
Sedangkan Cilik berarti kecil,22 kecil adalah kurang besar keadaanya daripada biasa,23 sedangkan anak adalah manusia yang masih kecil.24 Pada umumnya anak kecil adalah mereka yang berada pada usia dini yaitu usia pra sekolah hingga usia pendidikan sekolah dasar yaitu berkisar antara 3(tiga) sampai 12(dua belas) tahun.
Setelah mengetahui arti dari kedua kata tersebut penulis dapat menyimpulkan bahwa Da’i cilik adalah seorang anak kecil atau anak yang masuk dalam usia sekolah yang mempunyai kemampuan dan kemauan untuk mengajak, mengundang, menyeru manusia bukan hanya dari kalangan umur anak-anak saja tetapi juga usia remaja dan orang dewasa kepada kebaikan dan menyuruh kita untuk menjauhi segala apa yang dilarang oleh Allah SWT agar manusia mau melaksanakan ajaran-ajaran Allah SWT.
3. Sistem Pembinaan Karantina Pildacil
a. Pembina
21
Slamet Muhaimin Abda, Prinsip-prinsip Metodologi Dakwah (Surabaya: Usaha Nasional, 1994), Cet Ke-1.
22
Pusat pembinaan dan pengembangan Bahsa Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan,
Kamus umum Bahasa Indonesia (Jakarta :Balai Pustaka, 1986), cet.ke-IX, h. 205. 23
Ibid. h. 457. 24
35
Pembina atau murobbi adalah seorang da’i, ia bisa bertindak sebagai qiyadah (pemimpin), ustadz (guru), walid (orang tua), dan Shohabah (sahabat) bagi sang mad’u. Peran yang multi fungsi ini yang menyebabkan seorang pembina atau murobbi perlu memiliki berbagai keterampilan memimpin, mengajar, membimbing, dan bergaul.25 Pembina juga adalah orang yang memberi materi untuk mengajak kepada kebaikan, untuk itu harus orang-orang yang mempunyai kemampuan berdakwah dengan memahami unsur-unsur dakwah. Dan dalam buku Ilmu Pendididkan Islam, pendidik atau pembina merupakan orang yang dengan sengaja mempengaruhi orang lain untuk mencapai tingkat kemanusiaan yang lebih tinggi. Atau dengan kata lain, pendidik adalah orang yang lebih dewasa yang mampu membawa peserta didik ke arah kedewasaan.26
b. Terbina (mad’u atau peserta didik)
Orang yang menjadi objek dakwah, orang yang masih belum mengenal islam secara baik, orang yang mempunyai kemauan untuk memperbaiki diri dan orang yang belum masuk islam maupun orang yang sudah masuk islam. Mad’u atau peserta didik dapat juga diartikan sebagai anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu.27
25
Satria Hadi Lubis, Menjadi Murobbi Sukses (Jakarta: Kreasi Cerdas Utama, 2002), Cet. Ke-1, h. 3.
26
Hj. Zurinal Z, Wahdi Sayuti, Ilmu Pendidikan Islam : Pengantar dan Dasar-dasar pelaksanaan Pendidikan (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), Cet. Ke-1, h. 70-71.
27
c. Materi Pembinaan
Materi merupakan isi yang harus disampaikan dalam proses pendidikan. Materi juga dapat diartikan segala sesuatu yang langsung diberikan oleh pendidik kepada peserta didik dalam rangka mencapai tujuan.28 Secara umum materi yang diberikan dalam pembinaan meliputi hal-hal sebagai berikut :
1). Aqidah
Aqidah merupakan pondasi seorang muslim, kedudukannya sangat sentral karena aqidah menjadi asas dan sekaligus sangkutan atau gantungan segala sesuatu dalam islam. Arti Aqidah secara etimologis adalah ikatan, sangkutan. Dalam pengertian teknis artinya iman atau keyakinan. Aqidah islam ditentukan dengan rukun iman yang menjadi asas seluruh ajaran islam.29
2) Akhlak
Pembinaan akhlak sangat penting dan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Akhlak adalah mutiara hidup yang membenarkan manusia dengan hewan. Perkataan akhlak adalah jamak dari kata ”khuluk” yang artinya menurut bahasa adat kebiasaan, tabiat dan perangai. Dan menurut Ali Abdul Halim Mahmud, akhlak adalah suatu sistem yang lengkap yang terdiri dari karakteristik-karakteristik akal atau tingkah laku yang membuat seseorang menjadi istimewa. Karakteristik ini membentuk kerangka psikologi seseorang dan
28
Ibid, h. 74. 29
M. Daud Ali, Pendidikan Agama Islam (Jakart : PT. Raja Grafindo Persada, 2000), h. 199
37
membuatnya berperilaku sesuai dirinya dan nilai-nilai yang cocok dengan dirinya dalam kondisi yang berbeda-beda.30
3) Ibadah
Ibadah adalah hubungan dengan allah dalam melakukan kewajiban sebagai seorang muslim. Menurut ajaran islam ibadah dibagi menjadi dua yaitu a. Ibadah khusus(mahdoh) adalah ibadah yang ketentuan pelaksanaannya sudah pasti ditetapkan oleh allah dan dijelaskan oleh rasulnya, misalnya ibadah shalat, puasa, zakat dan haji b. Ibadah Umum (ghairo Mahdoh) adalah perbuatan yang mendatangkan kebaikan kepada diri sendiri dan orang lain dan dilaksanakan dengan niat karena allah misalnya : belajar, mencari nafkah, menolong orang yang susah dan sebagainya.31
d. Metode Pembinaan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, metode diartikan sebagai cara teratur untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki, cara kerja yang bersistem unuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang dikehendaki.32
Sedangkan menurut M. Arifin, metode secara harfiah adalah jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Namun pengertian hakiki dari metode adalah segala sarana yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Adapun metodenya menurut M. Arifin adalah :
30
Ali Abdul Halim Mahmud, Akhlak Mulia (Jakarta: Gema Insani Press, 2004), Cet. Ke-1, h. 26.
31
Ibid. h. 247 32
Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), Cet. Ke-3, h. 415.
1. Wawancara
Yaitu salah satu cara memperoleh fakta-fakta kejiawaan yang dapat dijadikan bahan pemetaan tentang bagaimana sebenarnya hidup kejiwaan anak bimbing pada saat tertentu yang memerlukan bantuan.
2. Metode Group Guidance (bimbingan secara berkelompok)
Yaitu cara pengungkapan jiwa atau batin serta pembinaannya melalui kegiatan kelompok seperti ceramah, diskusi, dan sebagainya. Metode ini menghendaki bahwa setiap anak bimbing atau mad’u melakukan hubungan timbal balik dengan teman-temannya dan bergaul melalui kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi peningkatan pembinaan pribadi.
3. Metode Non Direktif (cara yang mengarahkan) Metode ini dibagi menjadi 2 macam yaitu :
a. Client Cantered yaitu pembimbing menggunakan sistem pemancingan yang berupa satu dua pertanyaan yang terarah, dan mad’u atau anak bimbing diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk menyampaikan unek-unek.
b. Educatif, yaitu cara pembimbing kepada anak bimbing untuk mengungkapkan perasaan yang menyebabkan hambatan dan ketegangan yang diperdalam melalui pertanyaan yang motivatif dan persuasif (meyakinkan).
4. Metode Psikoanalitis ( Penganalisaan Jiwa )
Yaitu menganalisa kejiwaan melalui gejala tingkah laku baik melalui mimpi yang menyenangkan atau yang mengerikan yang
39
muncul pada saat tertentu dalam diri ataupun melalui tingkah laku yang kadang salah, salah yang tak disengaja atau yang tidak disadari. Misalnya salah ucapan, salah meletakkan benda, salah tulis dan lain sebagainya.
5. Metode Direktif ( Metode yang Bersifat Mengarahkan )
Dalam hal ini pembimbing memberikan secara langsungkepada anak bimbing, jawaban-jawaban yang diperlukan dalam penyelesaian yang dihadapi, saran-saran diberikan kepada anak bimbing bagaimana seharusnya ia berbuat.
6. Metode Sosio Metri
Yaitu suatu cara yang dipergunakan untuk mengetahui kedudukan anak bimbing dalam hubungan kelompok.33
e. Media atau alat pembinaan
Alat pembinaan merupakan sesuatu hal yang tidak saja membuat kondisi-kondisi yang memungkinkan bagi terlaksananya pekerjaan mendidik, tetapi juga mewujudkan diri sebagai perbuatan atau situasi yang membantu tujuan pembinaan.34
f. Faktor Lingkungan
Lingkungan pendidikan meliputi lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Situasi lingkungan berpengaruh pada proses dan hasil pendidikan.Situasi lingkungan ini meliputi lingkungn fisik, lingkungan teknis dan lingkungan sosio-kultural. 35
33 Ibid, h. 44-50. 34 Ibid, h. 74. 35 Ibid, h. 75.
40
TINJAUAN UMUM PT LATIVI MEDIA KARYA
DAN KARANTINA PILDACIL 5
A. Sejarah Berdirinya Lativi
PT. LATIVI Mediakarya yang berdiri dengan izin prinsip Deppen No. 799/MP/PM/1999 tertanggal 25 Oktober 1999 menghadirkan LATIVI yang dipancarkan melalui 7 kota besar di Indonesia : Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Jogyakarta,Surabaya, dan Medan.
Sebagai nuansa baru pertelevisian nasional, LATIVI hadir dengan sentuhan teknologi mutakhir untuk dinikmati oleh keluarga generasi baru.
LATIVI dirasa tepat hadir di era reformasi saat ini, karena fungsi utama televisi adalah untuk menghibur masyarakat dengan program hiburan maupun informasi yang faktual, aktual serta ikut menyelesaikan masalah, LATIVI dirancang untuk mereka yang tidak lagi perlu keluar rumah untuk mendapatkan hiburan dan berita yang bermanfaat. Dengan formulasi siarannya adalah 60% erisi tentang hiburan, 20% tentang berita dan 20% info komersial.1
B. Visi dan Misi Lativi Visi
Lativi, pilihan baru televisi Indonesia, selalu terdepan dalam teknologi dan terbaik dalam penyajian program hiburan dan informasi.
1
41
Misi
LATIVI selalu terdepan, selangkah lebih maju dalam teknologi. Menayangkan program berkualitas dan memiliki nilai tambah. Menyajikan informasi faktual, aktual, dan berimbang serta memberi pemecahan masalah. LATIVI memberi manfaat bagi perusahaan dan masyarakat.2
C. Maksud dan Tujuan Berdirinya Lativi
1. Berorientasi kepada kepuasan pemirsa melalui penyajian program acara yang berkualitas baik di bidang hiburan, berita, dan values oriented program.
2. Membangun dan mengembangkan kekuatan melalui penerapan dan pembangunan sumber daya manusia yang professional.
3. Membangun kepemimpinan positif di kalangan industri pertelevisian.
4. Mengedepankan kepuasan pengiklan melalui penerapan Quality Programming Strategy, Creative Advertising dan Teknologi Mutakhir. 5. Turut mendorong terbentuknya generasi baru berkualitas.3
D. Area Jangkauan, Studio dan Kebijakan Program. 1. Area Jangkauan
Dari 6 lokasi stasiun transmisi, LATIVI akan menjangkau pemirsa hingga pada area di sekitar ke 6 lokasi tersebut yang menjangkau sekitar 80 juta pemirsa yaitu : 2 Ibid, h. 2. 3 Ibid, h. 3
a. Jakarta meliputi : Jabotabek, Subang, Banten, dan Lampung.
b. Bandung meliputi : Bandung dan sekitarnya, Sukabumi, Cianjur dan Garut.
c. Jogyakarta meliputi : Jogyakarta dan sekitarnya, Solo, Magelang dan Sleman.
d. Surabaya meliputi : Surabaya dan sekitarnya, Madura, Tuban, Pasuruan, Probolinggo, Mojokerto dan Jombang.
e. Semarang meliputi : Semarang dan sekitarnya, Kudus, Rembang, Tegal dan Pekalongan.
f. Medan meliputi : Medan dan sekitarnya, Binjai, Deli, Serdang, Belawan dan Tebing Tinggi.
2. Studio
Untuk dapat merealisasikan program siaran, LATIVI membangun sarana dan prasarana Studio penyiaran serta pemancar Jakarta.
Adapun sarana dan prasarana studio penyiaran tersebut di Kawasan Industri Pulogadung, Jl.Rawa terate II No.2 Jakarta menempati luas lahan 20.000 m2 dengan luas bangunan mencapai 30.000 m2.
Diawali dengan studio pemberitaan yang kemudian akan dikembangkan dengan studio produksi. Semuanya didukung dengan perangkat yang serba mutakhir dengan teknologi digital.
3. Kebijakan Program
LATIVI adalah sebuah brand, dengan positioning yang sangat jelas. Karena itulah, LATIVI akan melakukan penilaian terhadap setiap program (program Assessment) dengan mempertimbangkan hal-hal berikut:
43
a. Dinamika program
b. Menghargai integritas pemirsa (The Intelligence) c. Unik namun familiar
d. Memiliki educational values (values oriented driven) e. Menampilkan ide yang fantastic
f. Original
g. Informasi yang faktual, aktual & seimbang4
D. Sekilas tentang Pildacil dan Karantina Pildacil V
Pemilihan Da’I Cilik atau Pildacil merupakan salah satu program keagamaan bagi anak-anak sebagai ajang pengembangan bakat khususnya dalam berda’i. Acara Pildacil ini berdurasi 90 menit dan pertama kali disiarkan tanggal 08 oktober 2005 disiarkan langsung dari studio 4 lativi Pasaraya grande lt 9, inilah yang kemudian dikenal dengan Pildacil.
Pemilihan Da’i Cilik atau popular dengan nama Pildacil adalah program reality Show pertama dari Lativi. Yang misi dan tujuannya adalah mengutamakan pengembangan moral Fositif dan pendidikan bagi masyarakat. Lativi menyadari misi dan tujuan yang mulia ini akan lebih optimal jika dilakukan sejak usia dini dan kepedulian ini diwujudkan melalui program Pildacil. Pildacil adalah bentuk kompetisi dakwah untuk anak dengan syarat-syarat sebagai berikut:
1. Dapat diikuti oleh laki-laki dan perempuan 2. Usia 6 – 9 tahun
4
3. Mempersiapkan materi dakwah bebas dengan durasi 3 menit 4. Memahami al-qur’an dan pendalaman agama secara baik
5. Membawa foto diri ukuran post card 3R (close up) sebanyak 1 lembar 6. Mengisi Formulir pendaftaran
Pola audisinya pun hampir sama dengan kompetisi lainnya, keputusan juri dan panitia tidak dapat diganggu gugat. Dan kriteria penjuriannya adalah sebagai berikut :
1. Orator 2. Komedian 3. Cute 4. Multitalent5
Pemilihan Daí Cilik yang sudah dilakukan sejak dua tahun yang lalu, memberikan dampak yang positif buat anak-anak dan orang tua. Hal ini terlihat dengan ke antusiasan anak-anak, untuk mengikuti Audisi Pemilihan Daí Cilik di seluruh Indonesia. Kalau di Data terlihat sekali kemajuan anak-anak yang mendaftar. Mulai dari Pildacil 1 yang hanya diselenggarakan di beberapa kota di pulau jawa saja, telah menarik simpati masyarakat Indonesia, untuk mengikuti Audisi pildacil selanjutnya. Disetiap pemilihan hampir di setiap kota terjadi peningkatan 2 sampai 3 kali lipat peserta yang daftar, bahkan di Pildacil 5 jumlah peserta yang mendaftar cukup banyak hingga audisi yang di bandung harus ditutup karena banyaknya peserta yang ingin mendaftar.
5
Wawancara dengan Kepala Sekolah Pildacil, M. Ilham Sembodo, Jakarta, November 2007.
45
Pemilihan Daí Cilik, mulai dari Pildacil I sampai pildacil 4 tampak sekali ke khasan setiap episodenya. Contohnya : Pildacil I peserta yang tergabung di pildacil I dibentuk menjadi seorang Daí yang penuh dengan keseriusan berdaí untuk sasaran orang tua, dan bisa membuka katup otak pemirsa seluruh Indonesia tentang Pildacil. Pildacil II mulai merekrut daí-daí cilik yang berkompeten dari beraneka macam sisi, ada yang mengedepankan kedaerahannya, bakat seninya, bakat suaranya, bahkan performance dirinya. Pada pildacil III, membentuk daí-dai cilik yang kuat akan nilai entrepreneur. Sehingga pada Daí cilik III terlihat karakter yang lepas ketika menguasai masa dan tidak ada beban, karena karantina membentuk mereka sesuai dengan adapatasinya di atas panggung. Pada pildacil IV, karantina menyelami lebih dalam tentang karakter yang dimiliki oleh Daí-daí yang lolos audisi. Pada pildacil 4 terlihat keluarnya karakter alami yang dimiliki anak-anak sesuai tahap perkembangannya. Ada yang mempunyai karakter berani, maka mewujudkan performance ceramahnya dengan berani tanpa ada beban hafalan sedikitpun. Pada Pildacil Best of The Best, penggabungan dari semua konsep dari pildacil I sampai pildacil IV, dan yang muncul sebagai bintang dari semua bintang adalah anak yang mengedepankan metode berceramahnya dengan karakter-karakter yang mereka miliki dan keluar dengan alami pada saat berceramah, dan itu dibuktikan dengan munculnya 2 orang Daí cilik yang berasal dari Pildacil IV.6 Maka dari itu di Pildacil V ini dari keempat konsep yang pernah dilaksanakan di pildacil sebelumnya akan digabungkan dan para pembimbing sangat berharap dapat menghasilkan yang terbaik dari pildacil V
6
bukan hanya dari segi anak-anak tapi juga faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi pembinaan mereka di karantina agar kelak menjadi da’i yang menmberikan tauladan bukan hanya baik di depan para pemirsa televisi atau bukan hanya ingin mendapatkan hadiahnya tapi lebih dari itu, karantina berharap menjadikan mereka dan membentuk karakter mereka untuk menjadi seorang da’i cilik yang dapat memberikan manfaat dan tauladan yang baik dengan gaya mereka yang masih anak-anak bukan malah memaksakan mereka menjadi da’i yang dewasa sebelum waktunya.
Karantina Pildacil V yang berada di jalan cinere raya, komplek perumahan Panorama bukit cinere, depok jawa barat. Dalam memenuhi keperluan karantina pihak Lativi menyewa 3 rumah yang cukup besar yang mempunyai 2(dua) lantai, 1(satu) rumah untuk anak-anak Pildacil dan para pembimbingnya dan 2(dua) rumah lainnya untuk para orang tua dan kru lativi, berbeda dengan karantina Pildacil IV pada saat itu yang memakai Asrama di daerah Cibubur, pada Pildacil V ini seluruh anak-anak Pildacil berada dalam satu rumah, bergabung dengan para pembimbing yang berjumlah 6(enam) orang, dengan komposisi 1(satu) orang kepala sekolah dan 5(lima) pembimbing yang terdiri dari 3 orang ikhwan dan 2 orang akhwat, sehingga kedekatan antara pembimbing dengan para anak-anak dacil dapat dengan cepat terbangun karena intensitas yang cukup sering dan membuat pembimbing dapat dengan mudah membaca karakter masing-masing anak hingga dapat dengan cepat membangun pola komunikasi dan pola pembinaan yang sesuai untuk setiap karakter anak.7 Bahkan anak-anak di pisah dari orang
7
Wawancara dengan Kepala Sekolah Pildacil, M. Ilham sembodo, Jakarta, November 2007.
47
tua dari latihan sampai tidur, ada saat-saat tertentu para orang tua dapat menemani anak-anaknya tapi tidak secara penuh, ini dilakukan karena untuk menghindari preasure atau tekanan dari orang tua yang berlebihan sehingga dapat mengganggu penampilan mereka dan proses pembentukan mereka selama di karantina Pildacil V. 8
E. Stuktur Organisasi Karantina Pildacil V
STRUKTUR ORGANISASI KARANTINA PILDACIL LATIVI9
8
Wawancara dengan Kepala Sekolah Pildacil, M. Ilham Sembodo, Jakarta, November 2007.
9 Ibid.
Lativi
PIC Karantina
Kepala Rumah Tangga PILDACIL
Wakil Ka. RT Pildacil
Driver Pengurus Rumah
Juru Masak
Juru Cuci Piring
Pembimbing
Kepsek Karantina Penanggung Jawab Materi/Psikologi
Karantina
F. Program pembinaan pada karantina Pildacil V
PROGRAM PEMBINAAN PILDACIL V10
No Program Sebab Diperlukan Waktu PJ Uraian Kegiatan Pronogsa
01 IBADAH Adanya kebutuhan mengenalkan, mengerjakan dan membiasakan ibadah kepada peserta 04.00 sampai jam 04.00 pagi lagi Bapak Asrama dkk
Shalat Fajar, Shalat duha, Shalat Sunat rawatib dan Zikir, Doa, Tilawah, Kultum serta Qiyamulail dll. Insya Allah program jadi milik peserta Akselarasi program 02 20 KARAKTER Kebutuhan mendesak agar ada internalisasi karakter kepada peserta Terutama dalam memberikan kekuatan dalam materi 07.30 – 09.30 ( rutin ) dan Setiap kesempatan Bapak Asrama dkk Empati – Penolong – Terbuka – Toleransi – Peduli – Humor – Respek – Loyal – Sabar – Damai – Penuh motivasi – Tanggungjawab – Jujur – Disiplin – Kooperatif - Perubahan pada tingkah laku peserta Peserta semakin dalam mengenal karakter tokoh dalam materinya 03 MATERI TAMBAHAN (konsep diri) Kebutuhan peserta akan kuatnya penampilan dan sejenisnya
15.00 – 17.30 Idem Olah Tubuh – Olah Vokal – Olah Tempat
Peserta lebih enak dan mudah dalam penampilan 04 COMMUNITI ES SERVICE LEARNING Peserta membutuhkan bentuk kongkrit dari nilai-nilai
Setiap hari selasa atau kamis
Idem Conditioning Magang, kerja di tempat umum Hands On dari Minds on materi 05 TOUR PERFOMANC E Peserta membutuhkan wahana ekspresi Setiap ada kesempatan Idem Conditioning Kunjungan dan Penampilan di SD Islam sejenis, Majlis Ta’lim dan sejenis Peserta bangkit harga diri Pembiasaan 06 EDUCATION AL FIELD TRIPS Peserta membutuhkan keseimbangan aktifitas Tiga kali selama program
Idem Kunjungan ke tempat yang sdh ditentukan Sharing dan Jurnal
Peserta senang dan tetap semangat 07 TEMU TOKOH Peserta membutuhkan idola Setiap hari jumat Idem Persiapan Kunjungi Tokoh untuk memberikan dukungan motivasi Peserta mendapat semangat 08 PELAJARAN SEKOLAH Sebagian peserta di tengah ujian sekolah
Setiap rabu dan kamis
Idem Pendampingan KBM Anak-anak
merasa tenang dalam berlomba 09 MATERI ORANG TUA Orang tua membutuhkan konsep parenting yang patut
Tiga sampai empat kali selama program Tim Parenting Assesment Pelatihan Komunikasi dan Pendidikan Anak Patut Konsultasi Orang tua mendapat paradigma baru 10 Modul Pildacil 5, h.
49
G. Sarana dan prasarana yang ada di Karantina Pildacil V
Sarana dan prasarana yang ada di karantina pildacil 5 sebagai berikut : 1. 2 (dua) buah mobil operasional Lativi.
2. 1 (satu) buah Laptop.
3. Ratusan buku cerita anak dan remaja serta novel islami untuk menambah wawasan para penghuni karantina dari anak-anak, kakak pembimbing, orang tua hingga kru lativi.
4. Puluhan mainan anak-anak yang menunjang kegiatan karantina mulai dari fuzzle sampai permainan melatih otak.
5. Bola basket, bola tendang, bola voly dan raket serta matras untuk menunjang kegiatan olah raga anak-anak.
6. Alat-alat penambah kreatifitas seperti ( buku gambar, pulpen, pensil, rautan, penghapus, crayon, cat air dan lain-lain).
7. 1 (satu) buah printer untuk menujang pembuatan naskah.
8. 2 (dua) buah radio untuk menunjang program pelatihan konsep diri dan latihan menari di karantina.