BAB III METODE PENELITIAN
C. Jenis dan Sumber Data
1. Jenis Data
a. Data kualitatif, yaitu data yang diperoleh dari Kantor Kesbang pol dan Linmas Kabupaten Pinrang baik dalam bentuk informasi secara lisan maupun secara tertulis.
b. Data kuantitatif, yaitu data yang diperoleh dari Kantor Kesbang Pol dan Linmas Kabupaten Pinrang yang diteliti dalam bentuk angka-angka dan dapat digunakan untuk pembahasan lebih lanjut.
2. Sumber Data
a. Data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari Kesbang Pol dan Linmas Kabupaten Pinrang yang memerlukan pengelolaan lebih lanjut untuk disesuaikan dengan bahasan skripsi ini.
b. Data sekunder, yaitu data bersumber dari Pemda Kabupaten Pinrang sejenis ataupun dan dari instansi/jawatan yang terkait untuk melengkapi data/informasi sehubungan dengan kebutuhan pembahasan skripsi ini.
D. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Menurut Sugiyono (2007:72) Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu.
Kesimpulannya, populasi bukan hanya orang tetapi benda-benda alam yang lain.
Populasi juga bukan jumlah yang ada pada objek yang dipelajari tetapi juga meliputi karakteristik atau sifat maupun pengukuran, baik secara kualititatif maupun kuantitatif daripada karakteristik tertentu mengenai sekelompok objek yang jelas dan lengkap. Tujuan diadakan populasi yaitu agar dapat menentukan besarnya anggota sampel yang diambil dari anggota sampel dan membatasi berlakunya daerah generalisasi adapun jumlah sampel yang diambil sebanyak 35 orang.
2. Sampel
Menurut Sugiyono (2007:73-74) Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah teknik probability sampling yaitu teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Yang meliputi simple random sampling karena pengambilan sampel anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi tersebut. Sampel yang diambil sebanyak 10.
E. Definisi Operasional
1. Pengawasan dimaksudkan disini bukan semata-mata tujuan untuk mencari kesalahan seseorang, akan tetapi adakalanya bisa memperbaiki sebelum kesalahan itu berlanjut, berarti pengawasan adalah bagaimana memperbaiki sesuatu.
2. Pengawasan intern adalah pengawas dari dalam suatu instansi itu sendiri dengan menggunakan pejabat tertentu untuk melakukan kontrol terhadap masing-masing pegawai yang telah diberikan tugas dan wewenang.
Sedangkan pengawasan eksternal adalah pengawasan yang dilakukan oleh instansi terkait misalnya dari Bawasda mengadakan inspeksi mendadak apabila laporan pada instansi yang bersangkutan.
3. Pengawasan tidak langsung yaitu pengawasan prefentif dan suraventif. Kalau pengawasan prefentif adalah mencegah kesalahan sebelum terjadi, sedangkan suraventif adalah dapat memperbaiki kesalahan yang sudah terlanjur.
4. Meningkatkan kinerja, dengan dasar bahwa seseorang dalam dapat meningkatkan produktivitas pegawai karena mempunyai motivasi kerja yang dapat diberikan ditunjangan, kinerja kerja apabila diperhatikan oleh atasan.
5. Evaluasi kinerja adalah tugas dan wewenang yang telah dilimpahkan pada masing-masing pegawai, masih memerlukan evaluasi apakah tugas yang diberikan dapat terlaksana dengan baik atau tidak terjadi tumpang tindis, artinya pekerjaan saling baku harap.
6. Peningkatan kinerja pegawai, pegawai kalanya tidak menyadari diri pribadi terhadap posisi dimana ia berada, kadang-kadang bawahan berlagak
pimpinan. Perlu adanya saling pengertian terhadap pimpinan dan bawahan agar terjadi kondisi yang menyenangkan
F. Metode Analisis
Untuk memecahkan masalah dan membuktikan hipotesis yang telah penulis kemukakan, maka penulis menggunakan metode sebagai berikut :
1. Deskriptif yaiyu menjelaskan antara teori pelaksanaan pengawasan.
2. Metode komparatif adalah untuk membandingkan sebelum dan sesudah dilaksanakan pengawasan dalam meningkatkan kinerja pegawai.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Sejarah Terbentuknya Kesbang Pol dan Linmas Kabupaten Pinrang Kantor Kesatuan Bangsa, Politik Dan Perlindungan Masyarakat yang merupakan salah satu dari 15 (lima belas ) Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemerintah Kabupaten Pinrang yang bersifat Lembaga Tekhnis Daerah, Unit Kerja ini baru saja terbentuk sejak bulan Oktober Tahun 2008 dengan suatu Peraturan Daerah Kabupaten Pinrang Nomor 18 Tahun 2008 tentang pembentukan Organisasi Dan tata Kerja Lembaga Tekhins Daerah Pemerintah Kabupaten Pinrang.
Selanjutnya dijabarkan dalam Peraturan Bupati Pinrang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Pinrang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Tekhnis Daerah Pemerintah Kabupaten Pinrang. Sehingga dalam merintis pembentukan Lembaga baru ini, realisasinya baru dilaksanakan pada awal Tahun 2009. Sebelum terbentuk lembaga kantor, segala kegiatan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat dikordinir dan dilaksanakan oleh seorang kepala Bagian yang dibantu oleh beberapa staf yang masih tergabung dalam naungan Sekrettariat Daerah, denagan ruang lingkup kerja yang masih sangat terbatas.
Sekarang dengan Ruang lingkup kerja yang bersifat Kenerja Lembaga Tekhnis, mandiri, dengan akses kompetensi yang transparan dan akuntabel; maka
Masyarakat ini masih sangat jauh dari harapan sebagaiman sebuah unit kerja kantor yang layak dari segi kualitas manajemen Sumber Daya,dan pembiayaan operasionalnya. Apalagi kantor ini baru secara resmi menepati ruangan baru sejak tanggal 29 Mei 2009 di Kantor Bupati lama(Jalan Jend.Sukawati) dan sejak tanggal 7 Juni 2011 di Kantor Bupati baru(Jalan Bintang No.1), dengan kondisi Interior dan Eksterior pelayanan Administrasi Perkantoran sangat minimal dan terbatas.
1. Visi
Masyrakat Anggropolitan Yang Nasionalis Dan Religius, Harmonis Dan Demokratis,Serta Aman Dan Bersatu Dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia Berdasarkan Pancasila Dan UNDANG-UNDANG DASAR 1945.
2. Misi
Transformasi Masyarakat Anggropolitan Yang Nasionalis dan Religius a. Revitalisasi Masyarakat Anggropulitan Yang Harmonis dan Demokratis.
b. Rekonstelasi Masyarakat Anggroplitan Yang Aman dan Bersatu
B. Struktur Organisasi Kelembagaan
GAMBAR 2. STRUKTUR ORGANISASI Sumber : Kesbang Pol dan Linmas Kabupaten Pinrang
C. Susunan Organisasi
1. Kepala Kantor : Melaksanakan penyusunan dan kebijakan kepala daerah dalam penyelenggaraan politik,dan perlindungan masyarakat.
2. Kelompok Jabatan Fungsional : Mempunyai tugas pokok, fungsi dan kewajiban melaksanakan sebagian tugas di bidang kesatuan bangsa,poltik dan lingkungan masyarakat.
4. Seksi Kesatuan Bangsa : Membantu kepala kantor dalam melaksanakan kegiatan bina ideologi kebangsaan,penanganan konflik,dan penanganan masalah konflik daerah.
5. Seksi Organisasi politik dan kemasyarakatan : membantu kepala kantor dalam melaksanakan kegiatan fasilitasi dan mediasi partai politik,organisasi kemasyarakatan,kemitraan dan hubungan antar lembaga.
6. Seksi perlindungan maasyarakat : melaksanakan kegiatan perlindungan masyarakat,keamanan ketertiban dan kewaspadaan dini masyarakat.
Jelas kiranya bahwa struktur organisasi itu memegang peranan penting dalam bentuk sikap organisasi. Tuntutan fungsi kepada individu ialah harus taat pada tata tertib organisasi. Dan lain halnya mungkin terjadi apabila segala tindakan dari setiap individu dilakukan demi kepentingan organisasi sesuai dengan kode organisasi yang ada seperti :
a. Organisasi adalah sekelompok orang-orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu.
b. Organisasi adalah struktur organisasi antara hubungan-hubungan pribadi yang berdasarkan wewenang formil dan kebiasaan dalam suatu sistem administrasi.
c. Organisasi adalah suatu sistem dari aktivitas - aktivitas atau tenaga manusia yang dikoordinir dengan rasa kesadaran.
Jadi organisasi menurut definisi di atas adalah suatu kelompok manusia yang secara sadar bekerja sama dalam hubungan secara pribadi dan kebiasaan dari suatu sistem yang telah digariskan untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu
hubungan fungsi dan wewenang serta tanggung jawab yang secara secara tegas telah ditentukan dalam struktur organisasi.
Kalau di pemerintahan pusat pimpinan pemerintahan dipegang oleh seorang pejabat yang disebut kepala negara atau Presiden, sedangkan di Tingkat Kabupaten dipegang oleh seorang Bupati Kepala Daerah. Dengan demikian, tibalah penulis akan mengutarakan susunan organisasi pada Kantor Pemerintahan Kabupaten Pinrang Propinsi Sulawesi Selatan secara garis besarnya dapat disimpulkan, sebagai berikut :
1. Kepala Kantor
Pucuk pimpinan yang merupakan pula jabatan tertinggi dalam pemerintahan daerah berada ditangan Pimpinan mempunyai fungsi yang sangat penting di dalam men- jalankan kegiatan pemerintahan daerah sebagai bahan eksekutif yang bergerak dibidang urusan rumah tangga, juga menjadi ata rantai yang bergerak dalam organisasi pemerintah Pusat.
Oleh sebab itu Bupati Kepala Daerah merupakan salah satu alat yang sangat penting dari pemerintah daerah yang merupakan titik pengharapan utama pula dari pemerintah pusat.
Sebagai Kepala Pimpinan adalah orang dari pemerintah pusat dipercayakan untuk melaksanakan tugas-tugas didaerah.
Di dalam melaksanakan tugas sebagai organisasi pemerintah pusat Bupati Tingkat Kabupaten dibantu oleh Sekertaris Daerah berfungsi sebagai :
a. Koordinasi dalam arti mengatur dan membina kerja sama dalam hal mengintegrasikan seluruh dministrasi dan mengkoordinasikan penyusunan peraturan perundang-undangan.
b. Pelayanan dalam arti memberikan pelayanan teknis dan administrasi bagi satuan organisasi dalam lingkungan pemerintah daerah yang bersangkutan.
c. Perencanaan dalam arti mempersiapkan rencana penyusunan program dan menilai pelaksanaan rencana berdasarkan kebijaksanaan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
d. Pembinaan administrasi dalam arti membina urusan tata usaha mengelola dan membina kepegawaian, pengelolaan keuangan dan perbekalan serta mengadakan hubungan dengan lembaga resmi dan masyarakat.
e. Pembinaan organisasi dan tata laksana dalam arti melakukan penelitian dan pengembangan dalam rangka membina serta memelihara seluruh kelembagaan dan ketata laksa- naan.
f. Keamanan dan ketertiban dalam arti memelihara dan membina keamanan serta ketertiban dalam hal hubungannya dengan pelaksanaan administrasi.
2. Asisten
Asisten berfungsi untuk mengkoordinasikan, membimbing dan mengendalikan serta mengadakan evaluasi atas kegiatan pada bagian-bagian dalam rangka pelaksanaan tugas pokoknya dan melakukan tugas, tugas lain diserahkan kepadanya.
D. Penyusunan Program Pengembangan Dalam Meningkatkan Kinerja Pemda Pinrang pengembangan sumber daya manusia dalam meningkatkan kinerja pegawai dilaksanakan dengan cara melaksanakan pendidikan dan pelatihan (Diklat) merupakan kegiatan awal dari manjemen personalia. Kegiatan ini di awali dengan penetapan peserta pelatihan (Diklat) secara efektif dan merupakan penugasan instansi yang bersangkutan untuk memenuhi persyaratan kompensasi seleksi peserta pelatihan (Diklat) dilakukan oleh Kabupaten dan Kepangkatan (Bapenjakat) beserta tim seleksi peserta pelatihan (Diklat) instansi (TSDDI) dan ditetapkan oleh pejabat pembina kepegawaian.
Peserta yang akan diikutsertakan dalam pelatihan dengan persyaratan sebagai berikut :
1. Memiliki potensi untuk berkembang
2. Memiliki motivasi tinggi untuk pengembangan diri
3. Mampu menjaga reputasi dan kreadibilitas sebagai Pegawai 4. Memiliki dedikasi dan loyalitas terhadap tugas dan organisasi 5. Berprestasi baik dalam melaksanakan tugas.
Persyaratan diklat merupakan kegiatan pembinaan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang berorientasi pada peningkatan kompetensi jabatan PNS, perencanaan diklat di dasarkan pada kebutuhan diklat dan rencana pembinaan karier Pegawai Negeri Sipil, perencanaan diklat dilakukan oleh unit Kerja ( Biro atau bagian Kepagawaian) yang secara fungsional bertanggung jawab dalam pembinaan
Penyelenggaraan diklat diselenggaraakan secara klasikal dan non klasikal, dalam penyelenggaraan diklat secara non klasical dapat dilakukan dengan pelatihan di alam bebas, pelatihan di tempat kerja dan pelatihan dengan sistem jarak jauh. Cara penyelenggaraan untuk setiap jenis jenjang dan program diklat tertetu di atur dalam pedoman penyelenggaraan diklat yang bersangkutan.
Hubungan pengembangan sumber daya manusia dengan peningkatan produktivitas kerja Pegawai Negeri Sipil dan instansi Kabupaten Pinrang, diperlukan dan dituntut adanya pelatihan dan kursus sebagai jenjang pengembangan pegawai.
Penyelenggaraan diklat diselenggarakan secara klasikal dan non klasikal, penyelengaraan diklat secara non klasikal dapat dilakukan dengan pelatihan di alam bebas, pelatihan di tempat kerja, dan pelatihan dengan sistem jarak jauh.
Dengan cara penyelenggaraan untuk setiap jenis kegiatan, jenjang program diklat tertentu diatur dalam pedoman penyelenggaraan diklat yang bersangkutan.
Peserta yang akan diikut sertakan tidak memilih apakah pegawai lama atau baru yang penting pegawai tersebut sudah bersedia dan sudah memenuhi kriteria dalam mengembangkan karier dengan ikut pelatihan sebagai dasar untuk meningkatkan produktivitas kerjanya. Namun pada pegawai yang belum sempat diikutkan dalam program pelatihan tersebut, harus secara bertahap setiap pegawai pasti mendapat giliran untuk mengikuti pelatihan.
Maksud dan tujuan diadakan pelatihan pada suatu instansi adalah suatu tindakan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, sikap seseprang pegawai dalam melaksanakan pekerjaan yang telah diberikannya. Demkian juga
metode pelatihan adalah suatu cara yang dipergunakan oleh pimpinan sebagai usaha untuk meningkatkan keterampilan dan sikap pegawai dalam melaksanakan suatu pekerjaan tertentu.
Untuk mengembangkan pelatihan ada beberapa macam metode latihan yang dipergunakan dalam usaha meningkatkan mutu pegawai, baik pengetahuan, keterampilan maupun sikapnya, menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 101 Tahun 2000 Pasal 17 Tentang kurikulum dan metode Diklat dijelaskan bahwa :
1. Kurikulum diklat mengacu pada standar kompetensi jabatan.
2. Penyusunan dan pengembangan lulusan, penyelenggaraan diklat, peserta dan alumni diklat, serta unsur ahli lain.
3. Kurikulum diklat prajabatan dan diklatpim ditetapkan oleh instansi pembina.
4. Kurikulum diklat fungsional ditetapkan oleh instansi pembinaan jabatan fungsional
5. Kurikulum diklat teknis ditetapkan oleh instansi teknis yang bersangkutan.
Pelaksanaan diklat disesuaikan dengan metode dan tujuan serta program diklat bagi orang dewasa. Diklat dapat diselenggarakan secara klasikal dan atau non klasikal. Penyelenggaraan diklat secara klasikal dilakukan dengan tatap muka, sedangkan penyelenggaraan diklat secara non klasikal dapat dilakukan dengan pelatihan di alam bebas, pelatihan kerja dan pelatihan dengan sistem jarak jauh.
Sehubungan dengan pelaksanaan metode diklat dengan menggunakan cara pembelajaran bagi orang dewasa (ondragogi), serta disesuaikan dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang menggambarkan :
1. Kebutuhan praktis dan pengembangan diri peserta.
2. Interaktif antara peserta dengan widyaiswara dan peserta.
3. Suasana belajar orang dewasa yang menyenangkan, dinamis dan fleksibel Pelatihan yang bertujuan untuk menambah wawasan dan pengembangan pendidikan, sehingga diharuskan mengikuti pelatihan, kursus, penataran setiap pegawai yang belum pernah mengikuti program pelatihan baik dilaksanakan oleh instansi itu sendiri maupun ikut pada instansi lain (bergabung).
Pemerintah Kabupaten Pinrang yang setiap tahun mengutus pegawainya untuk mengikuti pelatihan, seminar, kursus yang harus mendapat sertifikat agar dapat diabadikan kepada nusa bangsa dan lebih khusus pada instansi itu sendiri.
E. Kriteria dan Manfaat Program Pengembangan
Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebagai abdi negara yang mempunyai sumber daya untuk berkarier pada suatu instansi baik pemerintah maupun swasta yang menjadi fokus perhatian dalam penelitian adalah tentang jumlah pegawai pada instansi tersebut yang layak untuk menambah wawasan dalam meningkatkan produktivitas kerja. Pegawai yang masih bisa mengembangkan diri dalam pendidikan biasanya tergantung pada tingkat usia, dan adakalanya umur yang
sudah lanjut memberikan kesempatan pada umur yang masih mudah agar bisa menopang segala aktivitas di suatu instansi.
Kriteria dari suatu kegiatan merupakan hal yang sangat penting untuk dijadikan sebagai pedoman dasar dalam melakukan kegiatan dalam kaitannya dengan pengembangan sumber daya manusia.
Adapun kriteria yang mendasar di dalam pelaksanaan diklat pegawai adalah :
1. Perbedaan Individu ; yaitu perbedaan yang menyangkut latar belakang pendidikan, pengalaman dan peminat pegawai. Hal ini merupakan faktor penting didalam mengikutsertakan para pegawai/stafnya untuk menerima materi yang diberikan dan dipraktekkan pada tempat kerjanya.
2. Hubungan Latihan dengan Analisa Jabatan, yaitu dalam melaksanakan pembinaan terhadap pegawai perlu diperhatikan tentang tugas sehari-hari. Ini berarti bahwa pendidikan dan latihan yang diberikan pada pegawai sesuai dengan jenis pekerjaannya setiap hari.
3. Motivasi terhadap pegawai ; yaitu karyawan yang diikutkan pada suatu pembinaan dan pengembangan perlu diberikan motivasi atau dorongan agar mereka giat bekerja dan tidak merasa bosan. Hal ini dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi perusahaan serta kemampuan pegawai.
4. Partisipasi aktif ; yaitu merupakan hal yang memerlukan andil yang besar dalam proses belajar mengajar karena akan menambah minat dan motivasi para pegawai yang diikutkan dalam pengembangan.
5. Pemilihan pegawai yang akan diikutkan dalam suatu diklat. Hal ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan jenis pekerjaan yang dibutuhkan.
6. Para pelatih atau instruktur ; hal ini merupakan faktor yang harus diperlihatkan oleh pihak perusahaan karena sudah umum diketahui bahwa salah satu faktor penentu dalam keberhasilan pendidikan dan latihan adalah pelatih/instruktur
. Dengan demikian sukses tidaknya program pembinaan yang diberikan tergantung dari sikap dan tingkah laku karyawan terhadap pembina yang diberikan, kemampuan pihak perusahaan dalam mengalokasikan pegawai untuk didik dan dilatih serta kemampuan pihak pelaksana.
Sehubungan dengan adanya perubahan yang terjadi didalam maupun diluar instansi, sehingga program pembinaan dan pengembangan pegawai dilakukan dalam bentuk pendidikan dan latihan. Salah satu tujuan diadakan pelatihan dan kursus pada pegawai yang tidak mempunyai keterampilan yaitu bagaimana pegawai bisa menyesuaikan diri dalam mengerjakan pekerjaan yang diberikan oleh pimpinan masing-masing dan mempunyai rasa tanggung jawab.
Pemerintah Kabupaten Pinrang akan dijelaskan secara terperinci tentang program pelatihan, sebagai berikut :
1. Tingkat kemampuan pegawai
Berdasarkan tingkat kemampuan pegawai yang dimiliki oleh instansi Pemerintah Kabupaten Pinrang cukup banyak sesuai dengan jenis kegiatan yang dikerjakan. Sesuai dengan hasil penelitian penulis diperoleh jumlah pegawai yang dimiliki oleh pada bagian perekonomian sebanyak 35 orang, termasuk pegawai kontrak.
TABEL 1 JUMLAH PEGAWAI PADA PEMERINTAH KABUPATEN PINRANG
Jenis Kelamin Jumlah Pegawai (orang)
Laki – laki 24
Perempuan 11
Jumlah 35
Sumber : Bagian Kepegawaian Kabupaten Pinrang
TABEL 2 JUMLAH PEGAWAI BERDASARKAN TINGKAT PENDIDIKAN No Pendidikan 2009 2010 2011 2012 2013
1 Strata Tiga (S-3) 1 1 1 1 1
2 Strata Dua (S-2) 2 1 1 1 1
3 Strata Satu (S-1) 4 3 2 3 3
4 Sarjana Muda/D-3 1 0 0 0 0
5 SLTP/SMK 1 1 2 3 1
6 SLTP 0 0 0 0 0
7 SD 0 0 0 0 0
Jumlah 9 6 6 8 6
Sumber : Bagian Kepegawaian Kabupaten Pinrang
TABEL 3 JUMLAH PEGAWAI BERDASARKAN GOLONGAN
No Golongan 2009 2010 2011 2012 2013
1 I (satu) 1 0 0 0 0
2 II (dua) 2 2 2 2 3
3 III (Tiga) 3 2 3 5 5
4 IV (Empat) 1 1 1 1 1
Jumlah 7 5 6 8 9
Sumber : Bagian Kepegawaian Kabupaten Pinrang
Dari tabel 1 di atas menunjukkan bahwa pada instansi tersebut masih dominasi oleh pegawai laki-laki sebanyak 22 orang, sedangkan pegawai perempuan sebanyak 13 orang, hanya saja tingkat kepedulian terhadap peningkatan produktivitas kerja perempuan lebih memperhatikan terhadap pendidikan dan kursus.
Dalam rangka usaha meningkatkan produktivitas kerja pegawai pihak Pemerintah Kabupaten Pinrang menempuh suatu kebijaksanaan untuk melaksanakan pembinaan dan pengembangan yang dimaksudkan untuk menyesuaikan pengetahuan dan kemampuan pegawai dengan jenis pekerjaan yang selalu mengalami perubahan. Kebijakan ini ditempuh dengan tujuan menjadikan pegawai lebih produktif sesuai dengan perubahan, dan diharapkan mampu memenuhi target yang telah ditentukan.
Pelaksanaan program pembinaan dan pengembangan kinerja pegawai yang dilakukan lebih diarahkan untuk meningkatkan disiplin dan prestasi kerja dalam rangka mewujudkan Sumber Daya Manusia yang profesional. Sehubungan dengan itu, kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam upaya meningkatkan disiplin
hari pada pukul 16.00. Disamping itu penulis mendapatkan data dari hasil wawancara yaitu selain dari absensi yang diperketat juga diadakan berbagai pendekatan persuasif serta pemberian motivasi dan sanksi-sanksi yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku senantiasa dilakukan oleh setiap atasan langsung.
Dalam kaitannya dengan upaya peningkatan prestasi kerja pegawai, selain tetap mengirim pegawai untuk mengikuti diklat-diklat juga senantiasa memperhatikan peningkatan karier pegawai.
2. Kemampuan pendidikan
Tingkat kemampuan pendidikan sangat mempengaruhi kedudukan seorang pegawai dalam suatu instansi. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang dan didukung oleh profesional kerja yang tinggi dan bekal keterampilan bisa menjadikan pegawai tersebut untuk memperoleh posisi atau kedudukan yang lebih baik dalam instansi tersebut.
3. Kelompok Usia
Tingkat usia pada pegawai turut juga berpengaruh terhadap produktivitas kerja pada suatu instansi, demikian pula dijumpai pada kantor Pemerintah Kabupaten Pinrang yang tentunya membutuhkan pegawai dengan tingkat usia yang masih produktif, diharapkan dapat menjadi pemicu bagi pegawai dalam bekerja.
Kelompok usia dianggap tidak produktif artinya kelompok usia lanjut dan tidak mempunyai keterampilan dengan wawasan kurang disertai dengan tidak menerima saran. Hasil penelitian penulis pada Kantor Kesbang Pol dan Linmas
Kabupaten Pinrang menunjukkan bahwa jumlah pegawai berdasarkan tingkat usia berada 29 tahun hingga 45 tahun dianggap produktif.
Kelompok usia 46 tahun ke atas biasanya malas dan menganggap dirinya senior pada suatu instansi, sehingga seorang pimpinan biasanya acu terhadap orang dianggap serba bisa padahal keterampilan dimiliki sama sekali tidak ada.
F. Pengawasan Dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai
Dalam setiap organisasi baik instansi pemerintahan maupun perusahaan swasta, terutama dalam organisasi pemerintahan fungsi pengawasan adalah sangat penting karena pengawasan merupakan suatu usaha untuk menjamin adanya keselarasan antara penyelenggaraan tugas pemerintah oleh daerah-daerah dan oleh pemerintah agar dapat menjamin kelancaran penyelenggaraan pemerintah secara berdaya guna dan berhasil guna, dengan demikian berarti pembagian tugas untuk menjalankan suatu usaha senantiasa disertai pengawasan untuk menjamin bahwa kegiatan itu mencapai tujuannya.
Pengawasan dalam meningkatkan kinerja dalam kaitannya produktivitas kerja setelah ditetapkan dalam peraturan pemerintah Undang-Undang 5 Tahun 1999, sebagai berikut :
1. Pejabat-pejabat kepala daerah diserahi tugas dan tanggung jawab atau pelaksanaan pengawasan setelah tugas dari masing-masing pegawai telah ditetapkan fungsinya, maka top leader tetap mengawasi dan pemeriksa sesuai
dengan ketentuan-ketentuan termasuk dalam peraturan pemerintah ini dan peraturan-peraturan pelaksanaannya.
2. Tanpa mengurangngi kewenangan termasuk pejabat-pejabat dalam ayat (1) pejabat-pejabat dari aparatur pengawasan ini yang berhak berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan persetujuan Bupati melakukan pengawasan dan pemeriksaan kegiatan sehari-hari.
Kemudian dalam hal pengawasan pelaksanaan kegiatan sehari dalam kaitannya peningkatan produkvitas kerja pegawai ditempuh dengan 2 (dua) cara sebagai berikut :
a. Pengawasan preventif
Pengawasan ini bermaksud pengawasan yang dilakukan sebelum terjadinya tindakan penyimpangan, artinya pengawasan itu berjalan sebelum terjadinya suatu hal yang tidak diingini, sehingga hal-hal penyimpangan bisa terhindar.
b. Pengawasan represif
Represif adalah pengawasan yang dilakukan pada saat sedang atau
Represif adalah pengawasan yang dilakukan pada saat sedang atau