• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KEPAILITAN DIREKSI SECARA PRIBADI SETELAH

C. Tanggung Jawab Direksi Terhadap Kepailitan PT

Pada dasarnya pertanggungjawaban direksi adalah terbatas, akan tetapi dalam keadaan tertentu tanggung jawab terbatas ini menjadi tidak terbatas atau menjadi tanggung jawab pribadi ataupun tanggung renteng sesama anggota direksi, hal ini terutama berkaitan dengan konsep-konsep di bawah ini :

1. Piercing The Corporate Viel

Piercing The Corporate Viel berasal dari sistem hukum anglo saxon yang

diterapkan oleh Negara-negara Inggris dan Amerika, kemudian dalam perkembangannya piercing the coporate viel tersebut masuk ke dalam sistem hukum Eropa Continental (Perancis dan Belanda).94Piercing The Corporate Viel mengajarkan bahwa suatu badan hukum bertanggung jawab secara hukum hanya terbatas harta badan hkum tersebut, tetapi dalam hal-hal tertentu batas tanggung jawab tersebut dapat ditembus (piercing) sehingga tanggung jawab tersebut

94 Munir Fuady, Doktrin-Doktrin Modern dalam Corporate Law, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002, hal. 7

menjadi tidak terbatas. Beberapa contoh fakta yang mestinya dapat diterapkan doktrin Piercing The Corporate Viel adalah permodalan yang tidak layak, penggunaan dana perusahaan secara pribadi, ketiadaan formalitas eksistensi perusahaan dan adanya unsur-unsur penipuan dengan cara menyalahgunakan badan hukum.95

2. Ultra Vires

Apabila direksi telah melanggar kewenangannya sebagaimana telah diwajibkan dalam anggaran dasar, maka direksi telah melanggar asas ultra vires dan dengan demikian harus bertanggung jawab sampai harta pribadinya. Pihak ketiga yang berhubungan usaha dengan perseroan tersebut tetap sah dan dilindungi tanpa memerhatikan Ultra Vires. Ultra Vires adalah perbuatan yang berada di luar kecakapann bertindak (tidak termasuk dalam maksud dan tujuan PT). Dengan kata lain ultravires mengandung arti bahwa perbuatan tertentu itu hakikatnya adalah sah (dalam hubungannya dengan pihak lain) tetapi ternyata di luar kecakapan bertindak PT. Sebagaimana diatur dalam anggaran dasar atau berada di luar ruang lingkup maksud dan tujuannya.96

UUPT menyerahkan sepenuhnya ultra vires kepada pengaturan di dalam anggaran dasar, seperti disebutkan dalam Pasal 92 ayat (2) UUPT, bahwa Direksi berwenang menjalankan pengurusan Perseroan Terbatas sesuai dengan kebijakan

95 Munir Fuady, Hukum Perusahaan dalam Paradigma Hukum Bisnis, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002, hal. 161

96Ali Rido, Doktrin-Doktrin Modern Hukum Perusahaan, Kesaint Blanc Publishing, 2011, hal.19

yang dipandang tepat, dalam batas yang ditentukan dalam undang-undang ini dan/atau anggaran dasar. Setiap kelalaian atau kesalahan yang dilakukan seorang anggota Direksi mengakibatkan anggota direksi tersebut bertanggung jawab secara pribadi atas setiap kerugian perseroan. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 97 ayat (3) UUPT. Perumusan Pasal tersebut berarti bahwa anggota direksi wajib melaksanakan tugasnya dengan penuh itikad baik (in good faith) dan dengan penuh tanggung jawab (and with full sens of responsibility). Selama hal tersebut dijalankan, para anggota direksi tetap mempunyai tanggung jawab yang terbatas yang merupakan ciri utama dari suatu perseroan terbatas. Namun apabila hal tersebut dilanggar, artinya direksi bersangkutan lalai atau bersalah dalam menjalankan tugasnya, maka yang berlaku Pasal 97 ayat (3) tersebut.97

Para direksi melalui prinsip the business judgment rule yaitu aturan yang melindungi para direktur dari tanggung jawab pribadi apabila mereka bertindak berdasarkan itikad baik (in good faith) dan dapat dipercaya bahwa tindakan yang diambil oleh direktur tersebut adalah yang terbaik untuk kepentingan perseroan (the best interests of the corporation).98

97 Zainal Asiqin, Hukum Kepailitan dan Penundaan Pembayaran di Indonesia, Rajawali Press, Jakarta, 2011, hal. 42

98Syarif Bastaman, Tanggung Jawab Direksi, Komisaris, PT dan Beberapa Prinsip-Prinsip di Dalam Buku PT No. 40 Tahun 2007, Bina Ilmu, Jakarta, 2012, hal. 51

Pada dasarnya business judgment rule terbagi dalam dua hal yaitu :

1. Business judgment rute, merupakan konsep dimana direksi harus bertindak sebagai itikad baik dengan informasi yang cukup dan diolah secara cakap berdasarkan kemampuan.

2. Business judgmenet doctrine, yang merupakan konsep dimana tindakan direksi sah dan mengikat sepanjang hal itu memang menjadi kewenangannya, atau tidak bersifat ultra vires (diluar kewenangan perseroan).99

Apabila para direksi bekerja berdasarkan business judgment rule tersebut maka pengadilan tidak akan ragu-ragu untuk melindungi direksi sehingga luput dari sanksi yang bukan seharusnya untuk dirinya. Di dalam ketentuan Pasal 97 ayat (5) Undang-Undang No. 40 tahun 2007 menyatakan bahwa, “Anggota direksi tidak dapat dipertanggung jawabkan atas setiap kerugian apabila dapat dirugikan a. kerugian tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya, b. telah melakukan pengurusan dan itikad baik dan kehati-hatian untuk kepentingan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan, c. tidak mempunyai benturan kepentingan baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan yang mengakibatkan kerugian, d. telah mengambil tindakan untuk mencegah timbulnya atau berlanjutnya kerugian tersebut”.

Dalam hal kepailitan terjadi kesalahan atau kelalaian direksi dan harta pailit tidak cukup untuk membayar seluruh kerugian perseroan dalam kepailitan tersebut, setiap anggota direksi secara tangung renteng bertanggung jawab atas seluruh kewajiban

99 Kartono, Kepailitan dan Penundaan Pembayaran Hutang Berdasarkan Undang-Undang No. 37 Tahun 2004, Pradnya Paramitha, Jakarta, 2009, hal. 28

yang tidak terlunasi dari harta pailit tersebut. Ketentuan tersebut di atas juga berlaku bagi anggota direksi yang salah atau lalai yang pernah menjabat sebagai anggota direksi dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sebelum putusan pernyataan pailit diucapkan.

Di dalam kasus permohonan pailit No. 05/Pailit/2012/PN/NIAGA.SMG dimana PT. Indonesia Antique dan Wahyu Hanggono secara pribadi yang bertindak selaku direktur dinyatakan pailit oleh para krediturnya, dipandang bahwa Wahyu Hanggono sebagai direktur telah lalai / salah dalam menjalankan usahanya sehingga menimbulkan kerugian bagi perusahaan dan dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga.

Oleh karena itu Wahyu Hanggono secara pribadi juga dituntut oleh para krediturnya untuk dinyatakan pailit sehingga tanggung jawab Wahyu Hanggono selaku direktur yang telah salah atau lalai dalam menjalankan perusahaan, adalah bertanggung jawab secara pribadi dalam melunasi seluruh kewajiban (utang perusahaan) dengan menggunakan harta/asset pribadinya yang telah dinyatakan berada dalam pengelolaan/pemberesan kurator di bawah pengawasan hakim pengawas.

Pertanggung jawaban pribadi direksi dalam hal melunasi seluruh kewajiban (hutang perusahaan) dengan menggunakan harta / aset pribadinya adalah pada saat adanya putusan pengadilan yang mengatakan bahwa kepailitan perseroan tersebut akibat adanya kesalahan direksi. Dengan adanya kesalahan direksi yang menyebabkan kepailitan perseroan maka direksi bertanggung jawab secara pribadi dengan menggunakan harta / asetnya apabila harta / aset perusahaan tidak mencukupi untuk membayar / melunasi hutang-hutang perseroan tersebut. Sejak saat itu maka aset atau

harta direksi secara pribadi wajib diberikan oleh direksi tersebut untuk melunasi hutang perusahaan. Disamping itu direksi secara pribadi juga dapat dimohonkan pailit ke Pengadilan Niaga oleh kreditur minimal 2 (dua) kreditur, dan apabila permohonan pailit tersebut telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap maka harta/aset debitur dapat disita dalam melunasi hutang-hutang perseroan yang mengalami kepailitan tersebut.

Dengan demikian dapat dikatakan di dalam suatu kepailitan PT apabila harta/asset dari PT tersebut tidak mencukupi untuk melakukan pembayaran / pelunasan atas utang-utang dari PT tersebut maka direksi secara pribadi dapat pula dipaiitkan oleh para kuratornya melalui suatu permohonan pernyataan pailit ke Pengadilan Niaga. Hal ini bertujuan agar harta / aset dari direksi secara pribadi dapat pula diletakkan di bawah kewenangan kurator dan pengawasan hakim pengawas untuk digunakan dalam melakukan pelunasan terhadap utang-utang dari PT tersebut.

Hal ini disebabkan karena Hari Hanggono selaku direktur telah salah / lalai dalam menjalankan perusahaan sehingga menimbulkan kerugian bagi perusahaan dan perusahaan dinyatakan pailit oleh para krediturnya.

C. Kepailitan Direksi Secara Pribadi Setelah Terjadinya Kepailitan Perseroan Terbatas

Pasal 90 ayat (1) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas menyatakan bahwa, “Direksi menjalankan pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud tujuan Perseroan”. Pasal 95 Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 menyatakan bahwa, “Direksi bertanggung jawab

atas pengurusan perseroan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 ayat (1) Undang No. 40 Tahun 2007 tersebut di atas”. Selanjutnya Pasal 95 ayat (2) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 menyebutkan bahwa, “Pengurusan sebagaimana dimaksud pada Pasal 95 ayat (1), wajib dilaksanakan setiap anggota direksi dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab”.

Setiap anggota direksi bertanggung jawab secara pribadi atas kerugian perseroan, apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya sesuai dengan ketentuan yang dimaksud pada Pasal 95 ayat (2) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007. Dalam hal direksi terdiri dari 2 (dua) anggota atau lebih, maka tanggung jawab tersebut berlaku secara tanggung renteng bagi setiap anggota direksi. Anggota direksi tidak dapat dipertanggung jawabkan atas kerugian perseroan apabila dapat membuktikan :

1. Kerugian tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya

2. Telah melakukan pengurusan dengan itikad baik dan kehati-hatian untuk kepentingan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan.

3. Tidak mempunyai benturan kepentingan baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan yang mengakibatkan kerugian.

4. Telah melakukan tindakan untuk mencegah timbul atau berlanjutnya kerugian tersebut.100

100 Siti Sunarto Hartono, Hukum Kepailitan dan Penundaan Pembayaran, FH UGM, Yogyakarta, 2009, hal. 57

Direksi adalah salah satu organ PT yang memiliki tugas serta tanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik di dalam dan di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggra dasar.

Direksi mempunyai fungsi dan peranan yang sangat sentral dalam paradigma perseroan terbatas hal ini karena Direksi yang menjalankan kepengurusan dan perwakilan perseroan terbatas, ketentuan normatif dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas maka fungsi direksi adalah melakukan pengurusan dan perwakilan.

Pengurusan berkaitan dengan tugas-tugas internal suatu Perseroan Terbatas untuk kepentingan dalam rangka pencapaian maksud tujuan perseroan sedangkan perwakilan adalah berkaitan dengan tugas mewakili perseroan dalam berinteraksi dengan pihak ketiga maupun mewakili di luar dan di dalam perusahaan.

Direksi dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab harus menjalankan tugas untuk kepentingan dan usaha perseroan. Direksi dapat digugat secara pribadi ke Pengadilan Negeri jika perseroan mengalami kerugian yang disebabkan karena kelalaiannya. Begitu juga dalam kepailitan yang terjadi karena kesalahan atau kelalaian direksi dan kekayaan perseroan tidak cukup untuk menutup kerugian akibat kepailitan tersebut, maka setiap anggota direksi bertanggung jawab secara tanggung renteng atas kerugian tersebut.101

Apabila harta kekayaan PT tidak cukup untuk membayar hutang perusahaan yang telah dinyatakan pailit diakibatkan perbuatan para direksi yang telah bersalah

101 Bagus Irawan, Aspek-Aspek Hukum Kepailitan Perusahaan dan Asuransi, Alumni, Bandung, 2009, hal. 20

atau lalai dalam menjalankan tugasnya tersebut maka kreditur dapat melakukan tuntutan atas harta kekayaan direksi secara pribadi agar dapat terpenuhi seluruh hutang-hutang dari pada perusahaan tersebut. Apabila harta kekayaan PT tersebut tidak cukup dalam melunasi hutang-hutang kepada kreditur setelah PT dinyatakan pailit, maka kreditur yang telah jatuh tempo piutangnya tersebut (minimal 2 kreditur) dapat pula mengajukan gugatan pailit kepada direksi secara pribadi, apabila direksi secara pribadi tidak bertanggung jawab atas hutang-hutang PT yang telah dinyatakan pailit oleh pengadilan tersebut, setelah seluruh harta kekayaan PT ternyata tidak mencukupi untuk membayar hutang-hutang tersebut.

Prinsip manajemen perseroan yang baik yang telah diakomodasi dalam ketentuan undang-undang Perseroan Terbatas masih harus dijabarkan secara detail dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Ketentuan dalam Undang-Undang tersebut hanya menjelaskan tanggung jawab Direksi secara umum berdasarkan hubungan kepercayaan (fiduciary of relationship) antara Direksi dan perseroan. Jika diperjelas hubungan tersebut mengandung tiga faktor penting yaitu :

1. Prinsip kehati-hatian dalam bertindak (duty of skill and care)

2. Prinsip itikad baik untuk bertindak semata-mata demi kepentingan dan tanggung jawab perseroan (duty of loyality).

3. Prinsip tidak mengambil keuntungan pribadi atas suatu kesempatan yang sebenarnya milik atau diperuntukkan bagi perseroan (no secret profit rule doctrine of corporate opportunity).102

Menentukan keadaan direksi dianggap melanggar prinsip tersebut secara detail merupakan hal yang tidak mudah. Berdasarkan prinsip tersebut di atas direksi dapat menggunakan konsep yang dikenal sebagai the business judgement rule, yang merupakan suatu prinsip yang memberikan perlindungan bagi direksi atas dakwaan pelanggaran ketiga prinsip tersebut. Dengan menggunakan prinsip the business judgement rule direksi dapat dibebaskan dari tanggung jawab secara pribadi,

sekalipun tindakannya merugikan perseroan, asalkan tindakannya dilakukan sebagai keputusan bisnis yang dibuat berdasarkan itikad baik semata-mata untuk kepentingan perusahaan.

Demikian juga tanggung jawab direksi dalam hal terjadi kepailitan adalah sama dengan tanggung jawab direksi yang perusahaannya tidak mengalami kepailitan. Prinsipnya direksi tidak bertanggung jawab secara pribadi terhadap perbuatan yang dilakukannya untuk dan atas nama perusahaan berdasrkan kewenangan yang dimiliki. Hal ini karena perbuatan direksi dipandang sebagai perbuatan perseroan terbatas yang merupakan subyek hukum mandiri sehingga perseroan yang bertanggung jawab terhadap perbuatan perseroan sendiri yang dalam hal ini dipresentasikan oleh direksi. Namun dalam beberapa hal direksi dapat pula

102 Kartono, Kepailitan dan Pengunduran Pembayaran Hutang, Pradnya Paramitha, Jakarta, 2008, hal. 71

dimintai pertanggungjawabannya secara pribadi dalam kepailitan perseroan terbatas.

Pasal 104 ayat (2) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang PT menyebutkan dalam hal kepailitan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terjadi karena kelalaian atau kesalahan direksi dan harta pailit tidak cukup untuk membayar seluruh kewajiban perseroan dalam kepailiatn tersebut setiap anggota direksi secara tanggung renteng bertanggung jawab atas seluruh kewajiban yang terlunasi dari harta pailit tersebut. Bukan hal yang mudah untuk membuktikan bahwa direksi telah melakukan kesalahan / kelalaian sehingga menyebabkan suatu perseroan mengalami kebangkrutan yang berujung pada kepailitan.

Mengenai tanggung jawab direksi yang perseroannya, mengalami kepailitan, Munir Fuady menyatakan bahwa, “Apabila suatu perseroan pailit, maka sekonyong-konyong (tidak demi hukum) pihak direksi harus bertanggung jawab secara pribadi.

Agar dapat dimintakan pertanggung jawaban pribadi ketika perusahaan pailit harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut” :103

1. Terdapatnya unsur kesalahan (kesengajaan) atau kelalaian dari direksi (dengan pembuktian biasa)

2. Untuk membayar utang dan ongkos-ongkos kepailitan haruslah diambil terlebih dahulu dari asset-aset perseroan. Bila asset tidak mencukupi barulah diambil asset pribadi direksi.

103 Artomo Rooseno, Hukum Kepailitan dan Pertanggung Jawaban Direksi Berdasarkan Undang-Undang No. 37 Tahun 2004, Eresco, Bandung, 2012, hal. 18

3. Diberlakukan pembuktian terbalik (omkering van bewijslast) bagi anggota direksi yang membuktikan bahwa kepailitan perseroan bukan karena kesalahan (kesengajaan) atau kelalaiannya.

Permasalahan berikutnya adalah mengenai mekanisme permintaan pertanggung jawaban direksi yang karena kesalahannya atau karena kelalaiannya menyebabkan perseroan tersebut pailit. Apakah prosedur hukum gugatan permohonan pailit terhadap PT dapat digabungkan dengan permohonan palit terhadap direksi, dimana kurator langsung meminta pertanggung jawaban pribadi terhadap direksi atau diperlukan suatu acara gugatan di pengadilan? Undang-undang Kepailitan tidak mengatur hal ini demikian juga dengan Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang PT. Pasal 1365 KUH Perdata tentang perbuatan melanggar hukum (onrechtmatige daad) bisa dijadikan alternatif untuk meminta pertanggung jawaban direksi yang

telah melakukan kesalahan sehingga mengakibatkan kerugian pihak ketiga.

Pasal 1365 KUH Perdata menyatakan bahwa, “Setiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya untuk menggantikan kerugian tersebut”. Dengan demikian gugatan kepada direksi secara pribadi dapat diajukan oleh para kreditur dengan menggunakan Pasal 1365 KUH Perdata dalam meminta pertanggung jawaban direksi secara pribadi dalam hal pelunasan pembayaran hutang PT yang telah dinyatakan pailit oleh pengadilan, dimana harta kekayaan PT tersebut tidak mencukupi untuk melunasi seluruh hutang yang dimiliki PT terhadap para krediturnya tersebut. Kewajiban untuk bertanggung jawab secara tanggung renteng

dari direksi atas kesalahan atau kelalaian dari direksi yang mengakibatkan terjadinya kerugian terhadap PT merupakan dasar diajukannya gugatan ganti rugi tersebut oleh para kreditur tersebut. Namun demikian dapat pula diajukan gugatan kepailitan kepada direksi secara pribadi apabila direksi tidak memiliki itikad baik untuk bertanggung jawab secara pribadi dalam hal pelunasan utang PT yang telah dinyatakan pailit tersebut, dan harta kekayaan PT yang tela dinyatakan pailit tersebut tidak mencukupi untuk membayar hutang-hutangnya kepada kreditur.

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa pengajuan gugatan kepailitan wajib terlebih dahulu dilakukan terhadap PT oleh minimal dua orang kreditur karena PT tersebut telah mempunyai dua hutang yang jatuh tempo namun PT tidak melaksanakan kewajibannya dalam melakukan pembayaran terhadap hutang tersebut.

Pengajuan gugatan kepailitan terhadap direksi secara pribadi dapat dilakukan oleh para kreditur minimal dua oarng kreditur apabila harta kekayaan PT secara keseluruhan tidak mencukupi untuk melunasi hutang-hutang PT tersebut kepada para krediturnya. Tujuan pengajuan gugatan pernyataan pailit terhadap direksi secara pribadi oleh para krediturnya bertujuan agar harta kekayaan direksi secara pribadi dapat disita dan dimasukkan ke dalam harta budel pailit PT.

Dalam upaya melakukan pelunasan hutang-hutang PT secara keseluruhan terhadap pra krediturnya agar direksi secara pribadi dapat digugat ke Pengadilan Niaga untuk dinyatakan pailit maka harus dapat dibuktikan bahwa direksi dalam melaksanakan tugasnya tidak sesuai dengan asas-asas pengurusan atau pengelolaan perusahaan yang baik terdapat kesalahan dari direksi dalam pengambilan keputusan

sehingga mengakibatkan terjadinya kepailitan PT. Hal ini harus dapat dibuktikan oleh para krediturnya di Pengadilan Niaga dalam proses pemeriksaan persidangan.

Apabila ternyata direksi dalam melaksanakan tugasnya melakukan pengurusan dan pengelolaan PT menyimpang dari asas-asas pengelolaan dan pengurusan perusahaan yang baik dan terbukti pula bahwa kesalahan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh direksi mengakibatkan terjadinya kepailitan PT maka dapat dinyatakan bahwa direksi turut bertanggung jawab atas kepailitan PT dan Pengadilan Niaga dapat melakukan penyitaan terhadap harta kekayaan pribadi direksi untuk dimasukkan ke dalam budel pailit PT agar dapat melunasi seluruh hutang-hutang PT kepada para krediturnya.104

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa pengajuan pernyataan pailit direksi secara pribadi dapat dilakukan oleh para krediturnya, apabila PT selaku badan hukum telah dipailitkan terlebih dahulu oleh Pengadilan Niaga dan telah memiliki hukum yang tetap (inkracht van gewijsde). Pengajuan permohonan pernyataan pailit direksi secara pribadi oleh para krediturnya disebabkan karena harta kekayaan PT tidak mencukupi untuk membayar / melunasi hutang-hutang PT terhadap pra krediturnya tersebut. Disamping itu terdapat kesalahan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh direksi yang mengakibatkan terjadinya kepailiatn PT yang dijadikan dasar hukum pengajuan pernyataan pailit direksi secara pribadi ke Pengadilan Niaga oleh para krediturnya. Tujuan mengajukan permohonan pernyataan pailit direksi secara

104 Agus Budiarto, Kedudukan Hukum dan Tanggung Jawab Pendiri PT, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2014, hal. 36

pribadi oleh para krediturnya tersebut ke Pengadilan Niaga adalah agar harta kekayaan direksi secara pribadi dapat disita oleh Pengadilan Niaga dan dimasukkan ke dalam harta budel pailit PT sehingga mencukupi untuk membayar seluruh hutang-hutang PT kepada para krediturnya tersebut.

BAB IV

TANGGUNG JAWAB DIREKSI TERHADAP KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS

A. Kasus Posisi Dalam Putusan Pengadilan Niaga No.

05/Pailit/2012/PN/NIAGA.SMG Dalam Perkara Perdata Permohonan Pernyataan Pailit antara Kreditur (Hendrianto Muliawan dan Agung Hariyono) Melawan PT. Indonesia Antique dan Wahyu Hanggono

Hendrianto Muliawan dan Agung Hariyono adalah para pemohon pailit yang telah memasukan surat pailitnya tertanggal 7 Mei 2012 terhadap para termohon pailit yaitu PT. Indonesia Antique sebagai Termohon I yaitu perusahaan dan atau perseroan yang didirikan berdasarkan hukum dan perundang-undangan yang bergerak di bidang produksi dan di bidang meuble, dimana dalam hal ini Termohon II yaitu Saudara Wahyu Hanggono menjabat selaku direktur di perusahaan PT. Indonesia Antique tersebut bertindak dalam jabatannya dan juga secara pribadi telah membuat dan menandatangani hutang piutang dengan pemohon I dengan nilai utang piutang sebesar Rp 55.000.000,- (lima puluh lima juta rupiah), sebagaimana dimaksud dalam perjanjian tertanggal 10 Januari 2010. Dalam perjanjian dimaksud telah disepakati pengembalian dan atau pembayaran hutang sebesar Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah), akan dilakukan seketika pada tanggal 10 April 2010 dan oleh karenanya dalam hal ini telah disepakati tanggal jatuh tempo pada tanggal 10 April 2010.

Pada saat utang telah jatuh tempo pemohon I telah meminta para termohon untuk melakukan pembayaran atas utang dimaksud, namun demikian ternyata pada tanggal 1 jatuh tempo para termohon belum melakukan pembayaran. Pemohon I telah

111

mengirimkan dua surat peringatan (somatie) kepada para termohon yaitu pada tanggal 1 April 2010 (somatie I) namun tidak diindahkan oleh termohon, selanjutnya surat peringatan (somatie II) tanggal 2 Mei 2010 namun juga tidak diindahkan oleh para termohon. Pemohon I juga telah melakukan serangkaian upaya penagihan yang patut, namun para termohon tidak juga mengindahkan dan melaksanakan pembayaran.

Selain memiliki utang kepada pemohon I para termohon juga memiliki utang kepada pemohon II sebesar Rp 90.000.000,- (sembilan puluh juta rupiah) sebagaimana terbukti dalam perjanjian utang piutang tertanggal 15 April 2011 yang telah disepakati pengambalian utang tersebut sebesar 90.000.000,- (sembilan puluh juta rupiah) dilakukan pada tanggal 15 Oktober 2011 secara seketika. Namun pada saat jatuh tempo utang yang telah diperjanjikan yaitu 15 Oktober 2011 para termohon tidak melaksanakan pembayaran utangnya. Pemohon II telah melakukan penagihan kepada para termohon, namun pihak para termohon belum dapat melakukan pembayaran dengan alasan pembayaran terdapat kesulitan berbisnis. Pemohon II juga

Selain memiliki utang kepada pemohon I para termohon juga memiliki utang kepada pemohon II sebesar Rp 90.000.000,- (sembilan puluh juta rupiah) sebagaimana terbukti dalam perjanjian utang piutang tertanggal 15 April 2011 yang telah disepakati pengambalian utang tersebut sebesar 90.000.000,- (sembilan puluh juta rupiah) dilakukan pada tanggal 15 Oktober 2011 secara seketika. Namun pada saat jatuh tempo utang yang telah diperjanjikan yaitu 15 Oktober 2011 para termohon tidak melaksanakan pembayaran utangnya. Pemohon II telah melakukan penagihan kepada para termohon, namun pihak para termohon belum dapat melakukan pembayaran dengan alasan pembayaran terdapat kesulitan berbisnis. Pemohon II juga