BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Dana Desa (DD)
2.3.3 Tahapan-Tahapan Pengelolaan Dana Desa
Pengelolaan merupakan istilah yang dipakai dalam ilmu manajemen secara etimologi pengelolaan berasal dari kata “kelola” (to manage) dan biasanya merujuk pada proses mengurus atau menangani sesuatu untuk mencapai tujuan. Meskipun banyak ahli yang memberikan pengertian tentang pengelolaan yang berbeda-beda, namun pada prinsipnya memiliki maksud dan tujuan yang sama.
Menurut (Adisasmita, 2011:25) bahwa pengelolaan yaitu menggerakkan, mengorganisasikan, dan mengarahkan usaha manusia untuk memanfaatkan secara efektif material dan fasilitas untuk mencapai suatu tujuan.
Paradigma baru pengelolaan keuangan negara sesuai dengan perundang-undangan dibidang keuangan negara meliputi undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara, Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Pembendaharaan Negara, dan Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara setidaknya mengandung tiga kaidah manajemen keuangan yaitu: orientasi pada hasil, profesionalitas, serta akuntabilitas dan transparansi. Paradigma ini dimaksudkan untuk memangkas ketidak efisienan.
Dalam Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 menyebutkan bahwa :
34
Pengelolaan Keuangan Desa Adalah Merupakan Keseluruhan Kegiatan yang Meliputi Perencanaan, Pelaksanaan, Penatausahaan, Pelaporan dan Pertanggung jawaban Keuangan Desa.
Pada Pasal 2 tentang asas pengelolaan Dana Desa (DD), dana desa dikelola berdasarkan asas-asas transparan, akuntanbel, partisipatif serta dilakukan dengan tertib dan disiplin anggaran. Dalam pengelolaan Dana Desa (DD) sebagaimana dimaksud dalam masa 1 (satu) tahun anggaran yakni mulai tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember. Pemerintah pusat dalam memberikan hak otonom kepada daerah dalam urusan keuangan tentu mengharapkan mampu membenahi sistem pemerintahan yang selama ini dianggap sebagai birokrasi yang tidak efisien, lambat, dan tidak efektif.
Adapun tahap tahap dalam proses pengelolaan keuangan meliputi : 1) Perencanaan
Perencanaan pengelolaan keuangan desa diwujudkan dalam bentuk Rancangan APBDesa yang ditetapkan melalui Peraturan Desa mengenai APBDesa. Secara umum, pembentukan sebuah peraturan desa yang baik setidaknya harus memenuhi tiga syarat yang diantaranya adalah :
1. Berlaku secara filosofis yakni apabila isi peraturan tersebut sesuai dengan nilai-nilai tertinggi atau norma yang berlaku dan dihormati di dalam masyarakat tersebut.
2. Berlaku secara sosiologis yakni apabila isi peraturan tersebut berhubungan dengan kebutuhan riil di dalam masyarakat tersebut.
3. Berlaku secara yuridis yakni apabila peraturan tersebut disusun sesuai dengan prosedur atau tatacara pembentukan peraturan yang
35
berlaku didalam masyarakat tersebut dan tidak boleh bertentangan dengan peraturan diatasnya.
Oleh karena itu, dalam penyusunan Peraturan Desa mengenai APBDesa setidaknya, pemerintah desa dalam hal ini Kepala Desa dengan unsur teknisnya dan juga BPD memperhatikan pola-pola penyusunan Peraturan Desa yang baik dengan tujuan terealisasinya program kerja desa guna mewujudkan pembangunan desa. Berdasarkan Pasal 20 Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Dana Desa (DD) menyebutkan bahwa perencanaan RAPBDesa disusun oleh Sekertaris Desa yang kemudian disampaikan kepada Kepala Desa. Kepala Desa bersama-sama dengan BPD membahas dan menyepakati RAPBDesa.
Pasal 20 Permendagri menjelaskan bahwa setelah kepala desa melakukan pembahasan bersama dengan BPD terkait dengan penyusunan RAPBDesa oleh Sekertaris Desa, rancangan tersebut kemudian diajukan kepada Bupati/Walikota oleh Camat. Pengajuan ini dilakukan selambat-lambatnya tiga hari kerja. Bupati/Walikota dalam hal ini akan mengevaluasi RAPBDesa dan hasil evaluasi ditetapkan paling lama dua puluh hari kerja.
Apabila Bupati/Walikota tidak memberikan hasil evaluasi dalam waktu yang telah ditentukan maka RAPBDesa akan berlaku dengan sendirinya.
Sedangkan apabila hasil evaluasi oleh Bupati/Walikota menyatakan bahwa RAPBDesa tidak sesuai maka harus ada perbaikan atau penyempurnaan oleh Kepala Desa dan BPD yang dilaksanakan paling lama tujuh hari kerja. Dalam hal ini apabila perbaikan atas hasil evaluasi Bupati/Walikota tidak
36
ditindaklanjuti atau tidak disempurnakan oleh Kepala Desa dan BPD maka RAPBDesa tersebut dibatalkan melalui Peraturan Bupati/Walikota dan Kepala Desa menggunakan APBDesa tahun anggaran sebelumnya.
RAPBDesa yang telah dievaluasi oleh Bupati/Walikota baik dengan perbaikan atau tidak akan disetujui menjadi Peraturan Desa tentang APBDesa.
2) Pelaksanaan
Pelaksanaan dapat dipahami sebagai semua penerimaan dan pengeluaran desa dalam rangka pelaksanaankewenangan desa melalui rekening kas desa. Teknisnya adalah pelaksana kegiatan mengajukan pendanaan untuk melaksanakan kegiatan yang mengharuskan ikut sertanya dokumen yang antara lain adalah rencana Anggaran Biaya. Berdasarkan hal ini Nampak sangat jelas bahwa setiap program kerja desa harus menggunakan anggaran yang telah dirancang sebelumnya dan pengeluaran desa yang mengakibatkan beban APBDesa tidak dapat dilakukan sebelum rancangan peraturan desa tantang APBDesa ditetapkan menjadi Peraturan Desa.
Pelaksana kegiatan inilah yang bertanggungjawab terhadap tindakan pengeluaran yang menyebabkan atas beban anggaran belanja kegiatan. Dalam hal pengajuan pendanaan untuk melaksanakan kegiatan, pelaksana kegiatan mengajukan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) kepada Kepala Desa yang mana SPP tersebut terdiri atas:
a. Surat Permintaan Pembayaran b. Pernyataan tanggungjawab belanja
37
c. Lampiran bukti transaksi
SPP yang dirancang oleh pelaksana kegiatan berdasarkan Rencana Anggaran Biaya diajukan kepada Kepala Desa dan diteliti oleh Sekretaris Desa untuk selanjutnya diverifikasi. Dalam hal ini Sekertaris Desa berdasarkan Pasal 30 ayat (1) Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 berkewajiban untuk :
1) Meneliti kelengkapan permintaan pembayaran diajukan oleh pelaksana kegiatan
2) Menguji kebenaran perhitungan tagihan atas beban APBDesa yang tercantum dalam permintaan pembayaran
3) Menolak pengajuan permintaan pembayaran oleh pelaksana kegiatan apabila tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
Pelaksanaan kegiatan dalam pengelolaan Dana Desa (DD) harus sebangun dengan penggunaannya. Hal ini dijelaskan dalam PP Nomor 60 Tahun 2014 PP Nomor 22 Tahun 2015 tentang Dana Desa yang menyebutkan bahwa penggunaan dana desa diperuntukkan untuk penyelenggaran pemerintahan, pembangunan, pemberdayaan masyarakat dan kemasyarakatan. Penggunaan dana desa ini mengacu kepada Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan Rencana Kerja Pemerintah Desa.
3) Pelaporan
Pelaporan merupakan salah satu unsur yang tidak dapat ditinggalkan dalam sistem pengelolaan keuangan. Laporan mengenai pengelolaan keuangan desa dilaksanakan oleh Kepala Desa sebanyak dua kali yakni
38
laporan realisasi pelaksanaan APBDesa pada semester pertama dan yang kedua laporan realisasi pelaksanaan APBDesa semester akhir tahun. Laporan realisasi pelaksanaan APBDesa tersebut disampaikan kepada Bupati/Walikota Laporan realisasi pelaksanaan APBDesa pada semester pertama paling lambat disampaikankepada Bupati/Walikota pada akhir bulan Juli tahun berjalan sedangkan laporan realisasi akhir tahun paling lambat disampikan kepada Bupati/Walikota pada akhir bulan Januari tahun berikutnya. Perlu diketahui pula bahwa pelaporan terkait pengelolaan realisasi APBDesa tidak berhenti sampai dengan tingkat daerah kabupaten/kota.
Dalam persepktif pembangunan, pelaporan mempunyai unsur penting karena dengan laporan dapat diketahui hasil dari pelaksanaan atau realisasi dari perencanaan. Dalam PP Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa, laporan yang diterima oleh Bupati/Walikota sebanyak dua kali dalam satu tahun anggaran tersebut kemudian disampaikan kepada Menteri dan juga Gubernur. Sifat imperatif dalam aturan ini juga terlihat jelas bahwa jika Kepala Desa ataupun Bupati/Walikota terlambat menyampaikan laporan realisasi APBDesa dan/atau APBD Kab/Kota maka penyaluran dana desa ditangguhkan sampai dengan laporan realisasi penggunaan dana desa disampaikan.
Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 menunjukkan bahwa laporan pertanggungjawaban yang harus dibuat oleh Kepala Desa harus terintegrasi secara utuh, tidak melihat sumber dana yang diperoleh desa. Misalnya adalah penggunaan Alokasi Dana Desa (ADD) dibuat laporan realisasi penggunaan
39
ADD secara terpisah dengan penggunaan Dana Bantuan dari Provinsi atau Kabupaten/Kota yang perlu juga dibuat laporan realisasi penggunaannya. Hal demikian dirasa memperingan beban adminsitrasi perangkat desa tanpa mengurangi substansi pelaksanaan pertanggungjawaban.
4) Pengawasan
Menurut (Handoko, 2013:359) Pengawasan adalah penemuan dan penerapan cara dan peralatan untuk menjamin bahwa rencana telah dilaksanakan sesuai dengan yang telah ditetapkan. Untuk menilai keberhasilan suatu proses kegiatan apakah sudah sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan atau menyimpang dari rencana, maka dibutuhkan suatu pengawasan (Controlling). Dengan demikian bahwa fungsi pengawasan meliputi aktivitas-aktivitas dan tindakan-tindakan untuk menggunakan rencana dan keputusan yang telah dibuat dan sedang dilaksanakan serta diselenggarakan. Dalam fungsi pengawasan tersebut terdapat tindakan pelaporan yang merupakan bagian atau siklus manajemen. Pelaporan penting dilakukan agar tindak lanjut pengawasan dapat dilakukan karenaakan diketahui tahapan tahapan pelaksanaan sesuaui dengan kenyataan dilapangan sehingga lebih mudah untuk mengadakan pengendalian. Dengan demikian fungsi pengawasan dalam keuangan secara berdisiplin berarti penyimpangan dan kebocoran penggunaan dana yang merugikan pemerintah yang dapat dicegah atau dikurangi menjadi seminimal mungkin, yang berarti pula value of money (nilai uang) dapat ditingkatkan. Value of money, meliputi 3 E yaitu ekonomis, efisien dan efektivitas.
40
5) Pertanggungjawaban
Kepala desa sebagai unsur pemimpin di Desa mempunyai tugas untuk mengatur keuangan desa yang berasal dari dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) melalui Anggaran Pendapatan belanja Desa (APB Desa). Tugas yang dijalankan Kepala desa dan dibantu oleh Perangkat desa lainnya tidak terlepas dari tanggung jawab setelah melakukan segala kegiatan desa. Sebagaimana pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2014 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 bahwa bentuk pertanggung jawaban Kepala Desa terhadap pengelolaan Dana Desa (DD) meliputi:
1. Melaporkan penyelenggaraan pemerintahan Desa yang disampaikan kepada Bupati/Walikota melalui Camat atau sebutan lain palinglambat 3 bulan setelah berakhirnya tahun anggaran.
2. Melaporkan penyelenggaraan Pemerintah Desa paling sedikit memuat:
a. Pertanggung jawaban penyelenggaraan Pemerintah Desa b. Pertanggung jawaban pelaksanaan pembangunan
c. Pelaksanaan pembinaan kemasyarakatan d. Pelaksanaan pemberdayaan masyarakat.
Dalam hal pertanggung jawaban Kepala desa penyelenggaraan Pemerintah desa bertujuan sebagai bahan evaluasi oleh Bupati/Walikota untuk dasar pembinaan dan pengawasan.
41
2.3.4 Tujuan dan Prinsip Pengelolaan Dana Desa (DD)
Akhir tahun 2017, Kementrian Desa, Daerah tertinggal dan Transmigrasi mengeluarkan Peraturan Menteri Desa Nomor 21 Tahun 2017 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa (DD) 2018. Peraturan ini menjadi salah satu dasar hukum serta pedoman pengelolaan dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Secara umum, prioritas penggunaan Dana Desa (DD) 2018 tetap ditujukan pada dua bidang yakni pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa.
Selain kedua bidang kewenagan ini, pendanaannya dari sumber lain seperti Pengelolaan Dana Desa (DD) yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), bagi hasil pajak dan retribusi daerah, serta pendapatan asli desa. Prioritas kegiatan, anggaran dan belanja desa disepakati dalam Musyawarah Desa yang partisipatif. Hasil musyawarah desa inilah yang menjadi acuan dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDesa) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa).
Pada penjabaran Peraturan Menteri ini ditegaskan bahwa “Peraturan Menteri disusun guna menjadi pedoman umum Pengelolaan Dana Desa (DD).
Pedoman umum ini tidak dimaksudkan untuk membatasi prakarsa lokal dalam merancang program/kegiatan pembangunan prioritas yang diruangkan dalam dokumen RKPDesa dan APBDesa, melainkann memberikan pandangan prioritas Pengelolaan Dana Desa (DD), sehingga desa tetap meiliki ruang untuk berkreasi membuat program/kegiatan desa sesuai dengan
42
kewenangannya, analisa kebutuhan prioritas dan sumber daya yang dimilikinya”.
Pernyataan ini menguatkan tafsir pada Pasal 2 dan 3 tentang Tujuan dan Prinsip Pengelolaan Dana Desa (DD) 2017. Adapun tujuan pengaturan prioritan Pengelolaan Dana Desa (DD) ,yaitu :
a. Menentukan program dan kegiatan bagi penyelenggaraan Hak Asal Usul dan Kewenangan Lokal Berskala Desa yang dibiayai Dana Desa (DD);
b. Sebagai acuan bagi Pemerintah Kabupaten/Kota dalam menyusun pedoman teknis pengelolaan Dana Desa (DD);
c. Sebagai acuan bagi Pemerintah dalam pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pengelolaan Dana Desa.
Sementara, pada Pasal 3 disebutkan prinsip Pengelolaan Dana Desa (DD) : a. Keadilan,dengan mengutamakan hak atau kepentingan seluruh
warga desa tanpa membeda-bedakan;
b. Kebutuhan Prioritas, dengan mendahulukan kepentingan desa yang lebih mendesak, lebih dibutuhkan dan berhubungan langsung dengan kepentingan sebagian besar masyarakat desa;
c. Tipologi Desa, dengan mempertimbangkan keadaan dan kenyataan karakteristik geografis, sosiologis, antropologis, ekonomi dan ekologi desa yang khas, serta perubahan atau perkembangan kemajuan desa.
Adapun prioritas pengelolaan Dana desa (DD), yaitu :
43
1. Bidang Pembangunan Desa
Pengelolaan Dana Desa (DD) untuk pembangunan desa bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, peningkatan kualitas hidup serta penganggulangan kemiskinan. Untuk itu, pengelolaan Dana Desa (DD) untuk pembangunan desa diarahkan pada program-program seperti :
a. Pembangunan, pengembangan, dan pemeliharaan infrastruktur atau sarana dan prasarana fisik atau penghidupan, termasuk ketahanan pangan dan permukiman;
b. Pembangunan, pengembangan dan pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan, sosial dan kebudayaan;
c. Pembangunan, pengembangan dan pemeliharaan sarana dan prasarana kesehatan masyarakat;
d. Pengembangan usaha ekonomi masyarakat meliputi pembangunaan dan pemeliharaan sarana produksi dan distribusi;
e. Pembangunan dan pengembangan sarana prasarana energi terbarukan serta kegiatan pelestarian ingkungan hidup.
2. Bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa
Prioritas pengelolaan Dana Desa (DD) 2017 di bidang pemberdayaan masyarakat desa bertujuan untuk meningkatkan kapasitas warga dalam pengembangan wirausaha, peningkatan pendapatan serta perluasan skala ekonomi individu warga, kelompok masyarakat, antara lain :
44
a. Peningkatan investasi ekonomi desa melalui pengadaan, pengembangan atau bantuan alat-alat produksi, permodalan dan peningkatan kapasitas melalui pelatihan dan pemagangan;
b. Dukungan kegiatan ekonomi baik yang dikembangkan oleh BUMDesa atau BUMDesa Bersama, maupun oleh kelompok dan/atau lembaga ekonomi masyarakat desa lainnya;
c. Bantuan peningkatan kapasitas untuk program dan kegiatan ketahanan pangan desa;
d. Pengorganisasian masyarakat, fasilitas dan pelatihan paralegal dan bantuan hukum masyarakat desa termasuk pembentukan kader pemberdayaan masyarakat desa dan pengembangan kapasitas ruang belajar masyarakat desa;
e. Promosi dan edukasi kesehatan masyarakat serta gerakan hidup bersih dan sehat termasuk peningkatan kapasitas pengelolaan posyandu, poskedes, polindes dan ketersediaan atau keberfungsian tenaga medis/swamedikasi di desa;
f. Dukungan terhadap kegiatan pengelolaan hutan/pantai/desa dan hutan/pantai kemasyarakatan;
g. Peningkatan kapasitas kelompok masyarakat untuk energi pelestarian lingkungan hidup;
h. Bidang kegiatan pemberdayaan ekonomi lainnya yang sesuai dengan analisa kebutuhan desa dan telah ditetapkan dalam musyawarah desa.
45
Yang baru dalam pengaturan pengelolaan Dana Desa (DD) 2017 ialah tentang tipologi desa dan perkembangan kemajuan desa. Tipologi desa ini didasarkan pada :
a. Kekerabatan Desa; (desa genealogis, desa teritorial dan desa campuran)
b. Hamparan; (desa pesisir/pantai, desa dataran rendah/lembah, desa dataran tinggi, dan desa pembukitan/ pegunungan)
c. Pola Pemukiman; (menyebar, melingkar, mengumpul dan memanjang)
d. Mata Pencaharian; (pertanian,nelayan,industri,jasa)
e. Tingkat perkembangan kemajuan desa; didasarkan pada Indeks Desa Membangun (IDM) yang ditetapkan oleh Kementrian Desa, yang meliputi :
1) Desa Tertinggal dan/atau sangat tertinggal, mengutamakan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang beriorientasi pada membuka lapangan kerja dan usaha baru, serta bantuan penyiapan infrastruktur bagi terselenggaranya kerja dan usaha warga atau masyarakat baik dari proses produksi sampai pemasaran produk, serta pemenuhan kebutuhan atau akses kehidupan masyarakat desa.
2) Desa Berkembang, memprioritaskan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas kerja dan/atau proses produksi sampai pemasaran
46
produk serta pemenuhan kebutuhan atau akses modal/fasilitas keuangan;
3) Desa Maju dan/atau Mandiri, mengembangkan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang visioner dengan menjadikan desa sebagai lumbung ekonomi atau kapital rakyat dimana desa dapat menghidupi dirinya sendiri atau memiliki kedaulatan ekonomi, serta mampu mengembangkan potensi atau sumberdaya ekonomi atau manusia dan kapital desa secara berkelanjutan.
2.3.5 Hak dan Kewajiban Pemerintah Desa dalam Pengelolaan Dana Desa
Menurut UU Nomor 6 Tahun 2004 Pasal 27 dan Pasal 71 ayat (5) mengatakan bahwa melaksanakan tugas, kewenangan, hak dan kewajiban terkait Mengelola Dana Desa Pemerintah desa wajib:
a. Menyampaikan laporan penyelenggaraan Pemerintahan Desa setiap akhir tahun anggaran kepada Bupati/Walikota;
b. Menyampaikan laporan penyelenggaraan Pemerintahan Desa pada akhir masa jabatan kepada Bupati/Walikota;
c. Memberikan laporan keterangan penyelenggaraan pemerintahan secara tertulis kepada Badan Permusyawaratan Desa (BPD) setiap akhir tahun anggaran;
dan
d. Memberikan dan/atau menyebarkan informasi penyelenggaraan pemerintahan secara tertulis kepada masyarakat Desa setiap akhir tahun anggaran.
47
e. Mengelola Dana Desa (DD) secara transparan, akuntabel, partisipatif serta dilakukan dengan tertib dan disiplin.
48
49
BAB 3
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
3.5 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 3.5.1 Gambaran Umum Kecamatan Sibulue
Kecamatan Sibulue terbentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah tingkat II di Sulawesi Selatan. Kecamatan Sibulue termasuk kedalam wilayah Pemerintah Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan. Wilayahnya merupakan tanah datar dan bukit.
a. Kondisi Geografis
Kecamatan Sibulue merupakan salah satu kecamatan diantara 27 kecamatan yang ada di kabupaten Bone. Kecamatan Sibulue memiliki luas wilayah 155,80 km2. Kecamatan Sibulue berjarak 81,3 km dari Ibukota Kabupaten Bone. Dimana secara administratif Kecamatan Sibulue terdiri dari 19 desa dan 1 kelurahan.
Tabel 1.1 Luas Wilayah Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan Sibulue, 2018
Desa/Kelurahan Luas (km2 ) Persentasi
001 Balieng Toa 002 Pasaka 003 Bulie
004 Tunreng Tellue 005 Massenreng Pulu 006 Mabbiring 007 Malluse Tasi 008 Pattiro Sompe
4,31 5,28 7,83 8,28 3,10 11,30 13,41 16,59
2,77 3,39 5,03 5,31 1,99 7,25 8,61 10,65
50
009 Pakkasalo 010 Pattiro Bajo 011 Maroanging 012 Cinnong 013 Polewali 014 Kalibong 015 Tadang Palie 016 Ajang Pulu 017 Letta Tanah 018 Pattiro Riolo 019 Sumpang Minangae 020 Manajeng
4,65 4,60 3,81 16,29 7,08 7,52 7,56 7,55 3,36 15,40 3,31 4,57
2,98 2,95 2,45 10,46 4,54 4,83 4,85 4,85 2,16 9,88 2,12 2,93 Sibulue 155,80 100,00 Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Bone 2018
b. Kondisi Geografis
Dengan mengetahui letak wilayah Kecamatan Sibulue, maka akan lebih memperjelas dan memahami situasi masyarakat Kecamatan Sibulue. Berdasarkan registrasi penduduk 3 tahun terakhir meningkat.
Tabel 1.2 Pertumbuhan Penduduk Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan Sibulue, 2017 - 2019
No Tahun Pertumbuhan Penduduk Persentasi
1 2017 32.515 3,6
2 2018 34.206 3,8
3 2019 35.993 2,9
Jumlah 102.714 100%
Sumber: Proyeksi Penduduk Kabupaten Bone 2017-2019
51
3.6 Gambaran Umum Kebijakan Dana Desa (DD)
Bantuan langsung Dana Desa yang selanjutnya disebut DD adalah dana bantuan langsung dari APBN yang dialokasikan kepada Pemerintah Desa digunakan untuk meningkatkan sarana pelayanan masyarakat, kelembagaan dan prasarana desa yang diperlukan serta diprioritaskan oleh masyarakat, yang pemanfaatan dan administrasi pengelolaannya dilakukan dan dipertanggungjawabkan oleh Kepala Desa.
Bantuan langsung Dana Desa (DD) dimaksudkan sebagai bantuan stimulant atau dana perangsang untuk mendorong dalam membiayai program pemerintah desa yang ditunjang dalam partisipasi swadaya gotong royong masyarakat dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan dan pemberdayaan.
Penelitian ini bermaksud untuk memberikan masukan terkait asas transparansi dan akuntabilitasi Pengelolaan Dana Desa. Salah satu kelemahan pelaporan dan pertanggungjawaban dalam pengelolaan dana desa adalah masih digunakannya pendekatan pencatatan Single Entry, yaitu sistem catatan tunggal, yaitu setiap transaksi keuangan hanya dicatat (dijurnal) sekali. Artinya penerimaan kas dicatat sebagai kas masuk, sedangkan pembayaran kas dicatat sebagai kas keluar. Penyusunan peraturan menteri dalam negeri berikutnya yang menindaklanjuti Undang-Undang maupun Peraturan Pemerintah tentang Desa hendaknya harus menggunakan pencatatan Double Entry, yaitu suatu transaksi ekonomi akan dicatat dua kali yaitu pada sisi debet dan sisi kredit. Perubahan
52
sistem pencatatan ke double entry perlu diterapkan agar proses pelaporan dan pertanggungjawaban lebih lengkap, transparan, akuntabel dan auditable.
3.7 Pelaksanaan Asas Transparansi di Desa Balieng Toa
Asas Transparansi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah terbentuknya akses bagi masyarakat dalam memperoleh informasi mengenai perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan. Berikut uraian dari hasil penelitian penulis :
a. Perencanaan
Perencanaan diawali dengan penyusunan rencana kegiatan penggunaan APBDesa pada tahun 2018 yang dilakukan oleh pihak pemerintah desa dan BPD. Untuk menyusun rencana kegiatan tersebut harus melibatkan partisipasi seluruh komponen yang ada di desa baik lembaga kemasyarakatan maupun masyarakat umum melalui forum musyawarah tingkat desa. Hasil dari musyawarah penyusunan rencana kegiatan yang telah dilaksanakan kemudian dibuatkan berita acara dan dituangkan dalam Rencana Kegiatan Pembangunan Desa (RKPDes).
Hal tersebut dibuktikan dari hasil wawancara dengan Bapak Mansur sebagai Kepala Desa Desa Balieng Toa:
Dalam rangka menjamin asas transparansi pengelolaan APBDesa, diadakan rapat antara Sekertaris Desa, BPD, Kepala Dusun, Ketua RT/RW dan tokoh masyarakat minimal enam bulan sekali untuk melakukan evaluasi atas pelaksanaan APBDesa. (hasil wawancara pada tanggal 17 Februari 2019).
53
Pada perencanaan, penyusun rencana program dan kegiatan yang akan dilaksanakan pada awal tahun anggaran dengan mengadakan musyawarah tingkat dusun dan tingkat desa yang menjadi RKPDesa.
Rencana kegiatan akan disetujui dan mengesahkan APBDesa oleh BPD apabila dalam musyawarah penyusunan telah mencapai kesepakatan, selanjutnya diserahkan kepada pihak kecamatan untuk mendapatkan rekomendasi, disampaikan kepada Bapemas, RKPDesa diterima oleh tim verifikasi, kemudian RKPDesa disahkan dan selanjutnya RKPDesa harus masuk ke dalam komponen belanja APBDesa.
Berdasarkan hasil wawancara diatas bahwa Asas transparansi dalam hal perencanaan pengelolaan keuangan desa sudah baik, dimana pemerintah desa di Desa Balieng Toa dalam perencanaan melibatkan masyarakat. Sehingga masyarakat mengetahui perencanaan yang dibuat dan dapat berpartisipasi dalam pembuatan perencanaan pengelolaan keuangan desa.
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan-kegiatan atau program kerja yang pembiayaannya bersumber dari APBDesa tahun 2018 sepenuhnya dilaksanakan oleh Kepala Desa dan Tim Pelaksana Desa. Guna mendukung keterbukaan dan penyampaian informasi secara jelas kepada masyarakat, maka dibuatkan spanduk yang berisikan besaran anggaran dari APBDesa maupun swadaya masyarakat, dan waktu pelaksanaan
54
program kerja sebagaimana disampaikan oleh Mansur selaku Kepala desa Balieng Toa, sebagai berikut :
Kami membuat baliho/spanduk program kerja desa, anggaran serta pengggunaan dana desa supaya mempermudah masyarakat mengakses informasi terkait pengelolaan dana desa. (hasil wawancara pada tanggal 17 Februari 2019).
Tabel 1.4 Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Balieng Toa Tahun 2018 Kabupaten Bone
No. Uraian Jumlah (Rp)
1
Pendapatan Transfer - Dana Desa 2018
- Alokasi Dana Desa 2018
- Bagian Dari Hasil Pajak & Retribusi 2018
1.053.428.800 735.195.000 305.430.000 12.803.800
2 Fisik Bidang Pelaksanaan Pembangunan
Desa
707.995.000
3
Non Fisik
Bidang Penyelenggaraan Pemerintah
an Desa 298.896.800
Bidang Pemberdayaan Masyarakat 27.200.000 Bidang Pembinaan Kemasyarakatan 19.337.000 Sumber : APBD 2018 Desa Baling Toa Kabupaten Bone
Adapun hasil wawancara dengan Abdul Kadir selaku salah satu tokoh masyarakat mengatakan bahwa :
Terkait transparansi pengelolaan Dana Desa sudah berjalan dengan baik. Apalagi Kepala desa sangat terbuka dalam menerima saran dan keluhan warga. Masyarakat pun diikutsertakan yang berkaitan dengan pengelolaan dana desa. (Hasil wawancara pada tanggal 17 Februari 2019).
Berdasarkan hasil wawancara tersebut menunjukkan pelaksanaan asas transparansi terkait pelaksanaanya berjalan dengan baik dan sesuai
55
ketentuan. Hal tersebut dilakukan dalam rangka melaksanakan Asas transparansi pembangunan desa, sehingga masyarakat secara bebas dapat mengetahui tentang program APBDesa maupun memberikan kritik dan saran kepada Tim Pelaksana Desa demi kesempurnaan pengelolaan Dana APBDesa. Dalam hal pelaksanaan program APBDesa juga harus menjunjung tinggi prinsip partisipatif dalam pengambilan keputusan dan transparansi.
c. Pelaporan
Pengelolaan APBDesa dituangkan dalam bentuk laporan pertanggungjawaban yang disusun oleh kepala desa dan dibantu oleh PTPKD atau sekertaris desa itu sendiri. Pertanggungjawaban keuangan APBDesa terintegrasi dengan dengan pertanggungjawaban APBDesa.
Pertanggungjawaban pelaksanaan program APBDesa kepada pemerintah tingkat atasnya dilakukan melalui sistem pelaporan yang dilakukan secara periodik. Laporan pertanggungjawaban ini bertujuan untuk menunjukkan adanya penerapan Asas Transparansi dalam perencanaan APBDesa yang dapat diketahui oleh masyarakat secara umum. Seperti yang diungkapkan oleh Susi Susanti selaku Sekertaris Desa Balieng Toa :
Kami membuat laporan keuangan yang memuat seluruh rencana penggunaan APBDesa dan dana-dana lain yang dikelola oleh pemerintah desa. Hal tersebut untuk memberikan informasi kepada siapapun masyarakat yang ingin mengetahuinya. dan kami tertib dan rutin menyerahkan LPJ ke BPMD sebagai syarat untuk
56
pengajuan pencairan tahap berikutnya.(hasil wawancara pada 17 Februari 2019).
Sebagai sebuah program atau kegiatan bersiklus tahunan, APBDesa dilaksanakan setiap tahun. Oleh karena hal itu, proses pelaksanaan APBDesa, mulai dari perencanaan, implementasi sampai pada monitoring dan evaluasi juga dilakukan setiap tahun. Semua pengeluaran dan penggunaan dari APBDesa di bukukan sedemikian rupa oleh bendahara desa walaupun ada beberapa format pembukuan yang tidak mengikuti petunjuk pembukuan dari APBDesa yang ada sebenarnya.
Seperti penuturan hasil wawancara dengan Susi Susanti sebagai sekertaris desa Balieng Toa :
Untuk melakukan pembukuan sebenarnya kami mengikuti petunjuk yang ada dari kabupaten namun hal tersebut kami lakukan saat hal tersebut memungkinkan untuk kami laksanakan, dan kami mengerti dari petunjuk pembukuan yang dianjurkan oleh pemerintah tapi jika kami kerepotan untuk melakukan/atau mengikuti petunjuk yang ada kami kerjakan sesuai kemampuan kami. (hasil wawancara pada 17 Februari 2019).
Berdasarkan hasil wawancara tersebut bahwa pelaporan APBDesa tahun 2018 yang dibuat oleh aparat desa tidak sesuai dengan format pembukuan yang sebenarnya.
1.4 Pelaksanaan Asas Akuntabilitasi di Desa Balieng Toa
Asas Akuntabilitasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hal-hal mengenai pengawasan dan pertanggung jawaban terkait pengelolaan dana desa.. Berikut uraian dari hasil penelitian penulis :
a. Pengawasan