• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN UMUM TENTANG PERBANKAN DAN CSR

2.2. Tinjauan Umum Tentang CSR

2.2.1 Pengertian dan Dasar Hukum CSR

CSR dalam pengertian terbatas dipahami sebagai upaya untuk tunduk dan memenuhi hukum dan aturan main yang ada. Perusahaan tidak bertanggungjawab untuk memahami ”apa yang ada”, (konteks) di sekitar aturan tersebut, karena perusahaan mungkin saja mengeinterpretasikan secara kreatif aturan-aturan hukum untuk kepentingan mereka, terutama ketika aturan tersebut tidak cukup spesifik mengatur apa yang legal dan tidak legal, atau prilaku apa yang diperbolehkan untuk mengantisipasi hal itu. Oleh karena itu, menurut pengusung konsep terbatas ini hanya satu dan hanya satu tanggungjawab sosial bisnis, yaitu menggunakan seluruh sumber dayanya untuk aktivitas yang mengabdi pada akumulasi laba.12 Perusahaan dalam pandangan Friedman adalah alat dari para pemegang saham (pemilik perusahaan). Maka apabila perusahaan akan memberikan sumbangan sosial, hal ini akan dilakukan oleh individu pemilik, atau lebih luas lagi, individu para pekerjanya, bukan oleh perusahaan itu sendiri.13

CSR dalam pengertian yang luas dipahami sebagai konsep yang lebih manusiawi dimana suatu organisasi dipandang sebagai agen moral. Oleh karena itu, dengan atau tanpa aturan hukum, sebuah organisasi bisnis, harus menjunjung tinggi moralitas. Dengan demikian, kendati tidak ada aturan hukum atau etika masyarakat yang mengatur, tanggung jawab sosial dapat dilakukan dalam

12

Friedman and Jones Gareth R, 2001, Organizational Theory, New Jersey, USA: Prentice- Hall.Inc, hal. 151

13

Michael E Porter and Mark R Kramer, 2003, The Competitive Advantage of Corporate Philantropy, Boston : Harvard Business School Publishing Corporation, hal.30

51

berbagai situasi dengan mempertimbangkan hasil terbaik atau yang paling sedikit merugikan stakeholder-nya.14

Di Indonesia Terminologi CSR bukanlah suatu hal yang relatif baru, perkembangan konsep CSR di Indonesia sudah berlangsung pada beberapa dekade. Istilah CSR sendiri juga mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan dunia usaha yang berkembang pesat, dan pembangunan sosial serta hak asasi manusia.

Istilah CSR di Indonesia dikenal tanggung jawab sosial perusahaan, sedangkan di amerika CSR ini seringkali disamakan dengan corporate citizenship.

kedua istilah tersebut pada intinya sebagai upaya perusahaan untuk meningkatkan kepedulian terhadap masalah sosial dan lingkungan disekitar perusahaan dalam kegiatan usaha dan juga pada perusahaan berinteraksi dengan stakeholder yang dilakukan secara sukarela. Selain itu, tanggung jawab sosial perusahaan dapat diartikan sebagai komitmen bisnis para korporasi untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, dengan para karyawan perusahaan, keluarga karyawan dan masyarakat lokal setempat dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Mulai pada saat terminology CSR diperkenalkan tahun 1920 sampai saat ini belum ada definisi tunggal mengenai pengertian CSR. Berikut adalah definisi- definisi dari CSR antara lain :

The World Council for Sustainable Development (WBCSD), yang merupakan lembaga internasional yang berdiri tahun 1995 dan beranggotakan

14

52

lebih dari 180 perusahaan multinasional yang berasal dari 35 negara memberikan

definisi CSR sebagai “continuing commitment while improving the quality of life of the workforce and their family as well as of the local community and society at large”. Apabila diterjemahkan secara bebas kurang lebih berarti komitmen dunia usaha untuk terus menerus bertindak secara etis, beroprasi secara legal dn berkontribusi untuk peningkatan ekonomi, bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan.15

Definisi lain mengenai CSR juga dilontarkan oleh World Bank yang

memandang CSR sebagai “the commitment of business to contribute to sustainable economic development working with employess and their representatives the local community and society at large ti improve quality of life, in ways that are both good for business and development”.

Apabila diterjemahkan kurang kebih berarti komitmen dunia usaha memberikan sumbangan untuk menopang bekerjanya pembangunan ekonomi bersama karyawan dan perwakilan-perwakilan mereka dalam komunitas setempat dan masyarakat luas untuk meningkatkan taraf hidup, intinya CSR tersebut adalah baik bagi keduanya, untuk dunia usaha dan pembangunan.

CSR forum juga memberika definisi, “CSR mean open transparent business practice that are based on ethical values and respect for employees, communities and environment”. Apabila diterjemahkan secara bebas, CSR berarti

keterbukaan dan transparan dalam pelaksanaan usahanya yang dilandasi nilai-nilai

15

53

etika dan penghargaan terhadap karyawan-karyawan, masyarakat setempat, dan lingkungan hidup.

Para ahli juga mendefinisikan CSR sebagai berikut : a. Menurut Yusuf Wibisono

CSR didefinisikan sebabai tanggung jawab perusahaan kepada para pemangku kepentingan untuk berlaku etis, meminimalkan dampak negative dan memaksimalkan dampak positif yang mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan (triple bottom line) dalam rangka mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.16

b. Menurut Suhandari M. Putri

CSR adalah komitmen perusahaan atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi yang berkelanjutan dengan memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan dan menitikberatkan pada keseimbangan antara perhatian terhadapa aspek ekonomis, sosial dan lingkungan.17

CSR dapat dibagi ke dalam dua skema, yaitu voluntary dan mandatory. Skema voluntary merupakan skema yang berada pada area kesukarelaan dan kesadaran perusahan maupun institusi terhadap tanggung jawab sosial dan lingkungan. Sedangkan skema mandatory merupakan skema yang berdasarkan mandat dari Undang-Undang Perseroan Terbatas No. 40 tahun 2007. Skema

mandatory, digunakan untuk mengatur dengan paksaan supaya perusahaan mau

16

Yusuf Wibisono,2007, Membedah Konsep dan Aplikasi Corporate Social Responsibility, Penerbit Salemba Empat, hal. 10

17

Suhandari M. Putri, 2007, Schema CSR, Jakarta, Penerbit Sinar Grafika, hal. 25.

54

bertanggung jawab terhadap apa yang menjadi kewajibannya. Sehingga sangat boleh jadi skema voluntary memilki nilai (moral) lebih daripada skema

mandatory, karena memilki kesadaran tanpa paksaan dari pihak manapun.

UUPT juga mengatur ketentuan mengenai CSR. Pengertian CSR diatur dalam Pasal 1 butir (3) UUPT, dalam hal ini CSR disebut sebagai tanggung jawab sosial dan lingkungan (CSR) yang berkomitmen perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya.

Pelaksanaan CSR ini harus dimuat dalam laporan tahunan persero yang disampaikan oleh direksi dan ditelaah oleh dewan komisaris yang mengharuskan memuat laporan pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan (Pasal 66 ayat (2) huruf c UUPT). Dalam hal ini, UUPT mewajibkan bagi setiap perseroan yang menjalankan kegiatan di bidang usaha dan atau berkaitan dengan sumber daya alam untuk melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Hal ini ditegaskan juga dalam Pasal 74 ayat (1) UUPT yang menyatakan bahwa perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Dalam hal ini, tanggung jawab sosial dan lingkungan menimpakan kewajiban perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelakasakannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran (Pasal 74 ayat (2) UUPT). Selanjutnya, dinyatakan bahwa

55

perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban dikenai sanksi sesuai dengan kepatutan peraturan perundang-undangan (Pasal 74 ayat (3) UUPT).18

Dalam Pasal 4 Peraturan pemerintah No. 47 tahun 2012 Tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas, dikatakan bahwa CSR dilaksanakan oleh Direksi berdasarkan rencana kerja tahunan perseroan setelah mendapat persetujuan Dewan Komisaris atau Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sesuai dengan anggaran dasar perseroan. Rencana kerja tahunan perseroan tersebut memuat rencana kegiatan dan anggaran yang dibutuhkan untuk pelaksanaan CSR.. Pelaksanaan CSR tersebut dimuat dalam laporan tahunan perseroan dan dipertanggungjawabkan kepada RUPS (Pasal 6 Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 2012 Tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas).

Selanjutnya pada Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaan Modal, pasal 15 huruf (b) diatur bahwa setiap penanam modal wajib melaksanakan CSR. Yang dimaksud dengan CSR menurut Penjelasan Pasal 15 huruf (b) adalah tanggung jawab yang melekat pada setiap perusahaan penanaman modal untuk tetap menciptakan hubungan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat setempat.

Sedangkan yang dimaksud dengan penanam modal adalah perseorangan atau badan usaha yang melakukan penanaman modal yang dapat berupa penanam modal dalam negeri dan penanam modal asing (Pasal 1 angka (4) Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaan Modal). Selain itu dalam Pasal 16

18

56

Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaan Modal juga diatur bahwa setiap penanam modal bertanggung jawab untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup. Ini juga merupakan bagian dari CSR.

Jika penanam modal tidak melakukan kewajibannya untuk melaksanakan CSR, maka berdasarkan Pasal 34 UU 25/2007, penanam modal dapat dikenai sanksi adminisitatif berupa:

a. peringatan tertulis;

b. pembatasan kegiatan usaha;

c. pembekuan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal; atau d. pencabutan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal.

Selain dikenai sanksi administratif, penanam modal juga dapat dikenai sanksi lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (Pasal 34 ayat (3) Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaan Modal).

Dalam bebagai wacana Coorporate Social Responsibility dapat diartikan secara luas dan universal seperti berikut :

1. World Business Coincil for Suistainable Development

Komitmen berkesinambungan dari kalangan bisnis untuk berperilaku etis dan member kontribusi bagi pembangunan ekonomi, seraya meningkatkan kualitas kehidupan karyawan dan keluarganya, serta komunitas local dan masyarakat luas pada umumnya.

2. International Finance Corporation

Komitmen dunia bisnis untuk member kontribusi terhadap pembangunan ekonomi berkelanjutan melalui kerjasama dengan karyawan, keluarga

57

mereka, komunitas local dan masyarakat luas untuk meningkatkan kehidupan mereka melalui cara-cara yang baik bagi bisnis maupun pembangunan.19

3. Instutute of Chartered Accountants, England and Wales

Jaminan bahwa organisasi-organisasi pengelola bisnis mampu memberika dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan, seraya memaksimalkan nilai bagi para pemegang saham (shareholders) berdasarkan prinsip kesukarelaan.

4. European Commission

Sebuah konsep dengan mana perusahaan mengintegrasikan perhatian terhadap sosial dan lingkungan dalam operasi bisnis mereka dan dalam interaksinya dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) berdasarkan prinsip kesukarelaan.20

5. CSR Asia

Komitmen perusahaan untuk beroprasi secara berkelanjutan berdasarkan prinsip ekonomi, sosial dan lingkungan, seraya meyeimbangkan beragam kepentingan para stakeholder.

6. ISO 26000 mengenai Guidance on Social Responsibility

19

Arif Budimanta, 2008, Coorporate Social Responsibility: Alternatif bagi Pembangunan Indonesia, Jakarta, Penerbit ICSD, Hal.67

20

Isa Wahyudi, Busyra Azheri, 2008, Corporate Social Responsibility,

58

Tanggung jawab sebuah organisasi terhadap dampak-dampak dari keputusan-keputusan dan kegiatan-kegiatannya pada masyarakat dan lingkungan yang diwujudkan dalam bentuk perilaku transparan dan etis yang sejalan dengan pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat; mempertimbangkan harapan pemangku kepentingan, sejalan dengan hukum yang ditetapkan dan norma-norma perilaku internasional; serta terintegrasi dengan organisasi secara menyeluruh.

Tanggung jawab sosial merupakan pasal yang tidak dapat dipisahkan dari

good corporate governance karena pelaksanaan Corporate Social Responsibility

merupakan pasal dari salah satu prinsip yang berpengaruh dalam good corporate governance. Sampai dengan sekarang belum ada kata sepakat tentang definisi

good corporate governance atau tata kelola perusahaan yang baik. Akan tetapi, pada umunya GCG dipahami sebagai suatu sistem, dan seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antaraberbagai pihak yang berkepentingan terutama dalam arti sempit hubungan antara pemegang saham dan dewan komisaris serta dewan direksi demi tercapainya tujuan perusahaan, sedangkan dalam arti luas, GCG digunakan untuk mengatur hubungan seluruh kepentingan stakeholder secara proposional dan mencegah terjadinya kesalahan-kesalahan signifikan dalam strategi perusahaan sekaligus memastikan bahwa kesalahan-kesalahan yang terjadi dapat diperbaiki dengan segera.21

Dalam keputusan Menteri Negara/ Kepala Badan Penanaman Modal dan Pembinaan Badan Usaha Milik Negara No. Kep-23/MPM.PBUMN/2000, tanggal

21

Emrizon, Joni, 2007, Prinsip-prinsip Good Corporate Goverance, Yogyakarta, Genta Press, hal.67

59

31 Mei 2000, tentang pengembangan praktik Good Corporate Governance dalam, prinsip persero, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan GCG adalah prinsip perusahaan yang sehat yang diterapkan dalam pengelolaan perusahaan yang dilaksanakan semata-mata demi menjaga kepentingan perusahaan dalam rangka mencapai maksud dan tujuan perusahaan. GCG adalah prinsip yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan agar mencapai keseimbangan antara kekuatan serta kewenangang perusahaan dalam memberikan pertanggungjawabannya kepada para stakeholder khususnya dan stakeholder pada umumnya. Tentu saja hal ini dimaksudkan pengaturan kewenangan direktur, manajer, pemegang saham, dan pihak lain yang berhubungan dengan perkembangan perusahaan di lingkungan tertentu.

Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) mendefinisikan GCG sebagai cara-cara manajemen perusahaan bertanggung jawab para stakeholder-nya. Para pengambil keputusan diperusahaan haruslah dapat dipertanggungjawabkan, dan keputusan tersebut mampu memberikan nilai tambah bagi stakeholder lainnya. Oleh karena itu, focus utama disini terkait dengan proses pengambilan keputusan dari perusahaan yang mengandung nilai- nilai transparency, responsibility, accountability, dan tentu saja fairness.

Di Indonesia istilah GCG biasa diartikan sebagai tata kelola perusahaan yang baik. Dalam hal ini, GCG kemudian didefinisikan sebagai suatu pola hubungan sistem, dan proses yang digunakan oleh organ perusahaan guna memberikan nilai tambah kepada pemegang saham secara berkesinambungan dalam jangka panjang, dengan tetap memperhatikan kepetingan stakeholder

60

lainnya, dengan berlandaskan peraturan perundang-undangan dan norma yang berlaku. Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa GCG merupakan :

1) Suatu struktur yang mengatur pola hubungan harmonis tentang peran dewan komisaris, direksi, pemegang saham dan para stakeholder lainnya.

2) Suatu sistem pengecekan dan perimbangan kewenangan atas pengendalian perusahaan yang dapat membatasi munculnya dua peluang : pengelolaan yang salah dan penyalahgunaan aset perusahaan.

3) Suatu proses yang transparan atas penentuan tujuan perusahaan, pencapaian, berikut pengukuran kinerjanya.22

Prinsip-prinsip yang terkandung dalam GCG antara lain : 1) Transparency (keterbukaan informasi)

Secara sederhana bisa diartikan sebagai keterbukaan informasi. Dalam mewujudkan prinsip ini, perusahaan dituntut untuk menyediakan informasi yang cukup, akurat, tepat waktu kepada segenap stakeholdersnya.

2) Accountability (Akuntabilitas)

Akuntabilitas berarti adanya kejelasan fungsi, struktur, sistem dan pertanggungjawaban elemen perusahaan. Apabila prinsip ini diterapkan secara efektif, maka akan ada kejelasan akan fungsi, hak, kewajiban, dan wewenang serta tanggung jawab antara pemegang saham, dewan komisaris, dan dewan direksi.

3) Responsibility (Pertanggungjawaban)

22

Hamud M. Balfas, 2006, Hukum Pasar Modal Indonesia, Jakarta, Penerbit PT Tatanusa, hal.231.

61

Bentuk pertanggungjawaban perusahaan adalah kepatuhan perusahaan terhadap peraturan yang berlaku, diantaranya termasuk masalah pajak, hubungan industrial, kesehatan dan keselamatan kerja, perlindungan lingkungan hidup, memelihara lingkungan bisnis yang kondusif bersama masyarakat dan sebagainya. Dengan menerapkan prinsip ini diharapkan akan menyadarkan perusahaan bahwa dalam kegiatan operasionalnya, perusahaan juga mempunyai peran untuk bertanggungjawab selain kepada shareholder

juga kepada stakeholders lainnya. 4) Independency (kemandirian)

Prinsip ini mensyaratkan agar perusahaan dikelola secara profesional tanpa ada benturan kepentingan dan tekanan atau intervensi dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku.

5) Fairness (kesetaraan dan kewajaran)

Prinsip ini menuntut adanya perlakuan yang adil dalam memenuhi hak

stakeholders sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.23 Prinsip yang berkaitan erat dengan CSR adalah Responsibilitas yang merupakan aspek pertanggungjawaban dari setiap kegiatan perusahaan untuk melaksanakan prinsip CSR karena dalam berusaha, sebuah perusahaan tidak akan lepas dari masyarakat sekitar, ditekankan juga pada signifikansi filantropik yang diberikan dunia usaha kepada kepentingan pihak-pihak eksternal dimana perusahaan diharuskan memperhatikan kepentingan stakeholder perusahaan, menciptakan nilai tambah (value added) dari produk dan jasa, dan memelihara

23

Khairandy, Ridwan & Malik Camelia, 2007, Good Corporate Governance, Yogyakarta, Penerbit Total Media, Hal. 7.

62

kesinambungan nilai tambah yang diciptakannya. Diluar itu, lewat prinsip

responsibility diharapkan membantu pemerintah dalam mengurangi kesenjangan pendapatan dan kesempatan kerja pada segmen masyarakat yang belum mendapatkan manfaat dari mekanisme pasar.24

CSR sebagai sebuah gagasan, perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggungjawab yang berpijak pada single bottom line yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam kondisi keuangannya (financial saja) tetapi harus berpijak pada triple bottom lines, dimana bottom lines selain financial

juga sosial dan lingkungan. Aspek ekonomi diungkapkan dengan Profit, aspek sosial diungkapkan dengan people, dan aspek lingkungan diungkapkan dengan

Planet. Kondisi keuangan saja tak cukup menjamin nilai perusahaan tumbuh secara berkelanjutan (sustainable). Menurut Archie B. Carrol disebut dengan piramida CSR. Kemudian teori ini pada tahun 1997 dipopulerkan oleh John Elkington melalui bukunya yang berjudul “Cannibals with Forks, the Triple

Bottom Line of Twentienth Century Business”.

1. Profit. Perusahaan tetap harus berorientasi untuk mencari keuntungan ekonomi yang memungkinkan untuk terus beroperasi dan berkembang.

2. People. Perusahaan harus memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan manusia. Beberapa perusahaan mengembangkan program CSR seperti pemberian beasiswa bagi pelajar sekitar perusahaan, pendirian sarana pendidikan dan kesehatan, penguatan kapasitas ekonomi lokal, dan bahkan

24

63

ada perusahaan yang merancang berbagai skema perlindungan sosial bagi warga setempat.

3. Plannet. Perusahaan peduli terhadap lingkungan hayati. Beberapa program CSR yang berpijak pada prinsip ini biasanya berupa penghijauan lingkungan hidup, penyediaan sarana pengembangan pariwisata (ekoturisme).

Triple “P” (Profit, People, Planet) merupakan tiga aspek yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya, karena merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Apabila perusahaan dalam mengimplementasikannya, hanya menekankan hanya pada salah satu aspek saja, maka perusahaan akan dihadapkan pada berbagai macam resestensi baik yang bersifat internal maupun eksternal, sehingga perusahaan akan sulit bahkan tidak akan mampu beraktivitas secara berkelanjutan.25

Berdasarkan standar dari Bank Dunia maka CSR ini meliputi beberapa komponen utama yakni :

a. Perlindungan lingkungan b. Menjamin kerja

c. Hak Asasi Manusia

d. Interaksi dan keterlibatan perusahaan dengan masyarakat e. Standar usaha

f. Pasar

g. Pengembangan ekonomi dan badan usaha h. Perlindungan kesehatan

25

Gunawan Widjaya dan Yeremia Ardi Pratama, Resiko Hukum Sebagai Direksi, Komisaris & Pemilik PT, Penerbit Forum Sahabat. Hal. 34.

64

i. Kepemimpinan dan pendidikan

j. Bantuan bencana kemanusiaan. Bagi perusahaan yang berupaya untuk membangun citra positif perusahaannya, maka kesepuluh komponen tersebut harus diupayakan pemenuhannya.

Dampak dari pendirian perusahaan oleh pemilik modal yang tergabung dalam sebuah corporation salah satunya adalah muncul kesenjangan antara pihak perusahaan (corporate) dengan masyarakat setempat yang dapat mempengaruhi kestabilan negara, disisi lain pemerintah terkadang tidak bisa berbuat banyak dalam memenuhi semua tuntutan masyarakat yang merasa hak-hak atas daerahnya dilanggar termasuk hak asasi seperti terusiknya tempat tinggal dan berkurangnya mata pencaharian anggota masyarakat disekitar perusahaan. Dalam meminimalisir akibat tersebut, peran dari program Coorporate Social Responsibility sangat besar.26

Dengan dipenuhinya kewajiban-kewajiban ini maka perusahaan telah melakukan kegiatannya secara berkelanjutan dan tidak merugikan kepentingan para stakeholdernya. Perusahaan dalam mencari laba diperbolehkan, tetapi jangan pula mengabaikan hak-hak yang terkandung dan dimiliki oleh konsumen, investor dan masyarakat. Lebih dari itu ketika pembangunan perusahaan telah sesuai dengan kawasan peruntukannya, maka pengusaha perlu melaksanakan berbagai kewajiban untuk meminimalisir kerugian yang dialami konsumen, karyawan, investor, maupun kerusakan kualitas lingkungan hidup antara lain :

a. Kewajiban terhadap konsumen

26

65

1. Konsumen memiliki hak untuk mendapatkan produk yang aman

2. Konsumen memiliki hak untuk mendapatkan informasi tentang spesifikasi produk yang dijual perusahaan, antara lain dengan mencantumkan label yang benar.

3. Konsumen memiliki hak untuk didengarkan, perusahaan dapat membuka kontak pelanggan melalui kotak pos atau nomor telepon.

4. Konsumen memiliki hak untuk dapat memilih barang yang mereka beli. 5. Kolusi dalam penetapan harga yang merugikan konsumen tidak dilakukan. 6. Kampanye iklan tidak dilakukan secara berlebihan.

7. Kampanye iklan diikuti oleh produksi dan distribusi produk sesuai dengan pesan-pesan iklan.

8. Kampanye iklan perlu memperhatikan faktor berikut ini : tidak menayangkan materi iklan yang menonjolkan anak-anak sedang merokok, mencantumkan kandungan kalori lemah kolesterol dalam makanan, komponen vitamin, dan unsur-unsur minuman kesehatan, menayangkan dengan gencar produk konsumsi yang tidak layak dan tidak halal untuk dikonsumsi, memberikan iming iming hadiah jika membeli produk dengan gencar, materi iklan dan film yang tidak baik untuk ditonton oleh anak- anak dan bersifat pornografi.

b. Kewajiban terhadap karyawan

1. Melakukan proses seleksi dan penempatan pegawai secara transparan dengan mengajak para calon pegawai dari sekitar komunitas untuk berpartisipasi.

66

2. Memberikan posisi jabatan dan balas jasa gaji dan pengupahan, serta promosi jabatan tanpa memandang agama, gender, suku bangsa, senioritas dan asal negara.

3. Mematuhi peraturan dan UU ketenagakerjaan yang dikeluarkan oleh Pemerintah.

c. Kewajiban terhadap investor

1. Meniadakan berbagai potensi kecurangan yang mungkin timbul di perusahaan terhadap investor.

2. Menghindari praktek pembuatan laporan keuangan yang disemir dan tidak sesuai dengan standar pelaporan akuntansi yang berlaku.

3. Tidak melakukan perbuatan ilegal seperti mengeluarkan cek kosong dan proses pencucian uang (money laundry)

4. Tidak melakukan proses “insider trading” dalam menjual surat berharga

perusahaan.

5. Mematuhi ketentuan tentang GAAP (Generally Accepted Accounting Practices), ketentuan pasar modal bagi para emiten dan pedoman GCG yang diberlakukan perusahaan.

d. Kewajiban terhadap Masyarakat dan Lingkungan Hidup

1. Menjalankan program community social responsibility, khususnya yang berkaitan dengan pelestarian kualitas lingkungan hidup.

67

2. Memperhitungkan dampak lintas sektor dalam proses produksi dengan memanfaatkan bahan baku alam secara berkelanjutan.

3. Menerapkan prinsip SIDEC, Sustainabilitas, Interdependence, Diversitas, Equity, Cohesion dalam pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan alam. 4. Mengembangkan pola hidup “kekitaan” ketimbang “keakuan” (Emil

Salim).

Dokumen terkait