• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Pengertian Disiplin Kerja

Suatu instansi atau perusahaan akan berjalan dengn baik apabila Sumber Daya Manusia yang ada pada instansi atau perusahaan tersebut melaksanakan fungsi dan tugas dengan baik.

Disiplin kerja merupakan salah satu fungsi dari manajemen sumber daya manusia yang terpenting, kerena disiplin yang baik mencerminkan besarnya rasa tanggung jawab seseorang terhadap tugas – tugas yang diberikan.

Kedisiplinanan juga menjadi tolak ukur apakah fungsi manajemen summber daya manusia lainya telh di laksanakan dengan baik atau tidak secara keseluruhan. Semakin tinggi disipli semakin tinggi produktivitas kerja karyawan dan kinerja suatu peruasaha/organisasi

Kata disiplin semdiri berasal dari bahasa latin “disciplina yang berarti pengajaran, latihan dan sebagainya. Disiplin sering didentikan dengan kesadaran dan kesediaan. Hal ini sesuai dengan pendapat yang di kemukakan oleh Hasibuan (2009:193-194) berikut ini : “Kedisiplinan adalah kesadaran dan kesediaan

seseorang menaati semua peraturan perusahaan dan norma – norma sosial yang berlaku” . kesadaran adalah sikap seseorang yang sukarela menaati semua peraturan dan sadar akan tugas dan tanggu jawabnya. Sedangkan kesediaan adalah suatu sikap, tingkah laku dan perbuatan seseorang yang sesuai dangan peraturan perusahaan,baik yang tertulis maupun tidak.

Sinungan (2009:146) mengemukakan bahwa . “ disiplin adalah sebagai sikap mental yang tercermin dalam perbuatan atau tingkah laku perorangan , kelompok atau masyarakat berupa ketaatan (obedience) terhadap peraturan – peraturan atau ketentuan yang telah di tetapkan pemerintah atau etik, norma dan kaidah yang berlaku dalam masyarakat untuk tujuan tertentu”.

Menurut Veithzal Rivai (2005:444) menjelaskan bahwa, disiplin kerja memiliki beberapa komponen seperti :

1. Kehadiran. Hal ini menjadi indikator yang mendasar untuk mengukur kedisiplinan, dan biasanya keryawan yang memeiliki disiplin kerja rendah terbiasa untuk terlambat dalam bekerja.

2. Ketaatan pada peraturan kerja. Keryawan yang taat pada peraturan kerja tidak akan melalaikan prosedur kerja dan akan selalu mengikuti pedoman kerja yang di tetapkan oleh perusahaan.

3. Ketaatan pada prosedur kerja. Hal ini dapat di lihat melalui besarnya tanggung jawab keryawan terhadap tugas yang diamanahkan kepadanya.

4. Tingkat kewaspadaan tinggi. Kwryawan memiliki kewaspadaan yang tinggi akan selalu berhati – hati,penuh perhitungan dan ketelitian dalam bekerja, serta selalu menggunakan sesuatu secara efektif dan efisien.

5. Bekerja etis. Beberapa karyawan mungkin melakukan tindakan yang tidak sopan kepada pelanggan atau terlibat dalam tindakan yang tidak pantas.

Hal ini merupakan salah satu bentuk tindakan interpliner, sehingga bekerja etis sbagai salah satu wujud dari disiplin kerja karyawan

Menurut Handoko (1998:208) bahwa “disiplin adalah kegiatan manajemen untuk menjalankan standar – standar organisasional” .

Menurut Hasibuan (2009:194) mengemukakan sebagai indikator yang mempengaruhi tingakat kedisiplinan katyawan adalah sebagai berikut : Tujuan dan kemampuan ,Teladan pimpinan ,Balas jasa, Keadilan ,Waskat ,Sangsi hukuman ,Ketegasan dan Hubungan kemanusiaan.

Dari beberapa pengertian yang telah di kemukakan dapat disimpulkan bahwa Disiplin Kerja adalah sikap mental, kesedian dan kerelaan pegawai untuk mematuhi dan menaati segala peraturan yang di tetapkan oleh suatu perusahaan dengan norma dan kaidah yang berlaku dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawab.

Disiplin kerja di dalam organisasi terbagi ke dalam dua jenis, yaitu : 1. Disiplin Preventif

Pendisiplinan yang bersifat preventif adalah kegiatan yang dilakukan untuk mendorong karyewan agar mengikuti berbagai standar dan aturan, sehingga penyelewengan – penyelewengan dapat dicegah. Artinya melalui kejelasan dan penjelasan tentang pola sikap, tindakan, dan perilaku yang dinginkan dari setiap anggota diusahakan pencegahan jangan sampai para karyawa berperilaku negatif.

Keberhasilan pendisiplinan preventif terletak pada disiplin pribadi para anggota organisasi. Akan tetapi disiplin pribadi tersebut makin kokoh, paling sedikit ada tiga hal yang perlu mendapat perhatian manajemen yaitu :

a. Para anggota organisasi perlu dodorong agar mempunyai rasa memiliki organisasi,karena secara logiga sesorang tidak akan merusak sesuatu yang merupakan miliknyaa. Berarti perlu ditanamkan perasaan kuat bahwa keberadaan mereka di organisasi bukan sekedar mencari nafkah dan mereka adalah “anggota keluarga besar “ organisasi yang bersangkutan.

b. Para karyawan perlu diberikan penjelasan tentang berbagai ketentuan yang wajib ditaati dan standar yang harus di penuhi. Penjelasan dimaksud seharusnya di sertai oleh informasi lengkap mengenai latar belakang berbagai ketentuan yang bersifat normatif tersebut.

c. Para karyawan didorong menentukankan sendiri cara – cara pendisiplinan diri dalam rangka ketentuan – ketentuan yang berlaku umum bagi seluruh anggota organisasi.

2. Disiplin Korektif

Pendisiplinan yang bersifat korektif adalah kegiatan yang diambil untuk mengenai pelenggaran terhadap aturan – aturan dan mencoba untuk menghindari pelanggaran – pelanggaran lebih lanjut.

Jika ada karyawan yang nyata – nyata telah melakukan pelanggaran atas ketentuan – ketentuan yang berlaku atau gagal memenuhi standar yang telah ditetapkan kepadanya maka karyawan tersebut akan dikenakan sanksi displiner.

Berat atau ringannya suatu sanksi tertentu tergantung pada bobot pelanggaran yang telah terjadi dan pengenaan sanksi tersebut mengikuti prosedur yang bersifat hierarki. Maksud dari sanksi tersebut adalah untuk memperbaiki kegiatan/tindakan karyawan diwaktu yang akan datang bukan menghukum kegiatan/tindakan yang masa lalu.

Pengenaan sanksi korektip diterapkan dengan memperhaikan paling sedikit jika hal,yaitu :

a. Karyawan yang dikenakan sanksi harus diberitahu pelanggaran atau kesalahan apa yang telah diperbuatnya.

b. Untuk memperbaiki pelanggaran dan di beri kesempatan untuk membela diri memperbaiki tindakan.

c. Dalam hal pengenaan sanksi terberat, yaitu pemecatan atau pemberhentian perlu dilakukan “wawancara keluar”

Agar tujuan pendisiplinan dapat tercapai maka harus diterapkan secara bertahap mulai dari yang paling ringan sampai kepada yang terberat, yaitu :

a. Peringatan lisan oleh penyedia

b. Pernyataan tertulis ketidak puasan oleh atasan langsung

c. Penundaan kenaikan pangkat

d.Penundaan kenaikan gaji berkala

e.Pembebasan dari jabatan

f. Pemberhentian sementara

g. Pemberhentian atas permintaan sendiri

h. pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri

i. Pemberhentian dengan tidak hormat.

Adapun tujuan dari disiplin Preventif yaitu :

a. Memperbaiki perilaku yang melanggar aturan

b. Mencegah orang lain melakukan tindakan serupa , dan

c. mempertahaankan standar kelompok secara konsisten dan efektif

Dari pembagian disiplin yang dikumukakan diatas, dapat dismpulkan bahwa pendisiplinaan preventif lebih bertujuan untuk mencegah para pegawai melakukan perbuatan atau tindakan yang tidak sesuai dengan aturan – aturan yang telah ditetapkan oleh suatu organisasi. Sedangkan pendisiplinan korektif lebih bertujuan agar kesalah yang lebih dilakukan para pegawai/karyawan tidak terulang kembali.

D. Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap Disiplin Kerja

Pada dasarnya tujuan disiplin kerja adalah agar seseorang dapat bertingkah laku sesuai dengan apa yang di setujui oleh perusahaan. Dengan kata lain,agar seseorang dapat melakukan penyesuaian sosial dengan baik.

Ketika bekerja,sesorang karyawan dapat menampilkan perilaku yang tidak disiplin. Mangkunegara mengemukakan beberapa perilaku karyawan yang dapat berpengaruh terhadap disiplin kerja adalah keapsenan, kelambanan, meninggalkan kerja tepat waktu, mencuri, tidur ketika kerja, berkelahi, mengancam pimpinan, mengulangi prestasi buruk, melanggar aturan dan kebijakan keselamatan kerja, pembangkangan perintah, memperlakukan pelanggan secara tidak wajar, memperlambat pekerjaan, menolak kerjasama dengan rekan, menolak kerja lembur, memiliki dan menggunakan obat-obatan ketika bekerja, merusak peralatan, menggunakan bahasa atau kata-kata kotor.

Sedangkan menurut Ssoeprihanto (2002:33) faktoryang mempengaruhi disiplin kerja adalah :

1. Tingkat absensi / kehadiran

2. Desakan waktu

3.Faktor pendidikan

4.Pekerjaan itu sendiri

5.Kehilangan kepercayaan diri

6.umpan balik yang tidak memadai

7.kualitas penyediaan yang jelek

8. Perasaan diperbudakkan pekerjaan

E. Ketaatan Dalam Disiplin Kerja

Teori ketaatan menyatakan bahwa individu yang memiliki kekuasaan merupakan suatu sumber yang dapat mempengaruhi prilaku orang lain dengan perintah yang diberikan. Perubahan perilaku ini terjadi karna bawahantersebut merasa menjadi agen dari sumber kekuasaan dan dirinya terlepas dirinya terlepas dari tanggung jawab menjadi agen dari sumber kekuasaan ,dan dirinya terlepas dari tanggung jawab atas apa yang dilakukannya.

Kata disiplin sangat erat berkaitan dengan ketaatan pada aturan yang telah ditetapkan, baik keteraturan waktu maupun prosedur.ketaatan atau

kepatuhan adalah suatu perilaku manusia yang taat terhadap atura, perintah, prosedur dan disiplin.

Kepatuhan pegawai adalah perilaku pegawai sebagai seseorang yang prefesional terhadap suatu anjuran, prosedur atau peraturan yang harus dilakukan atau di taati. Kepatuhan pegawai dalam suatu perusahaan atau organisasi diartikan sebagai ketaatan untuk melaksanakan disiplin kerja sesuai kerja tetap (protap)yang telah di tetapkan.

Asumsi yang dapat di gunakan sabagai dasar pemahaman,yaitu asumsi kolektivitas. Asumsi kolektivitas yang di kenal di dalam sosiologi berlandas dari pemahaman bahwa manusia adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa manusia lain. Dengan demikian tindak kepatuhan terhadap aturan-aturan yang ada di dalam suatu perusahaan atau organisasi hanyalah merupakan konsekuensi logis dari kebersamaan.

F. Pengertian Produktivitas Kerja

Dalam usaha mencapai tujuan suatu instansi atau perusahaan secara maksimal,maka instansi atau perusahaan tersebut memerlukan tenaga kerja yang memiliki atau mempunyai produktivitas kerja yang tinggi. Produktivitas kerja merupakan kemampuan memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dari sarana dan prasarana yang tersedia dengan pencapaian yang maksimal.

Produkrivitas sumber Daya Manusia lebih di tonjolkan dibandingkan dengan produktivitas modal,alat produksi dan teknologi.

Pengertian produktivitas menurut Mangkuprawira & Hubeis (2007:102) menyatakan bahwa “Produktivitas adalah rasio output dan input suatu proses produksi dalam periode tertentu.input terdiri atas manajemen,tenaga kerja, biaya produksi, peralatan , serta waktu, sedangkan output meliputi produksi, produk penjualan,pendapatan ,pangsa pasar,dan kerusakan produk.

Sinugan (2009:17) mengemukakan defenisa produktivitas sebagai berikut :

“ Produktivitas adalah pendektan interdesipliner untuk menentukan tujuan yang efektif, pembuatan rencana, aplikasi penggunaan cara untuk menggunakan sumber-sumber secara efisien, dan tetap menjaga adanya kualitas yang tinggi.

Whitmore (2009:58) memendang bahwa produktivitas adalah suatu ukuran atas penggunaan sumber daya dalam sebuah organisasi yang biasanya di nyatakan sebagai resio dari keluaran yang dicapai dengan sumber daya yang digunkan.

Menurut paul mail (2000:18) “ Produktivitas adalah ukuran yang menyatakan seberpa hemat sumber daya yang digunakan di dalam organisasi untuk memperoleh kesimpulan hasil “.

Pengertian produktivitas menurut Klingner dan Nalbandian (2205:45) menyatakan bahwa “produktivitas merupakan fungsi perkalian usaha pegawai (effor) yang di dukung dengan disiplin dan motifasi yang tinggi, dengan kemampuan pegawai (abiliti), yang diperoleh melalui latihan-latihan.

Menurut Sedarmayanti (2009:71-72) ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja yaitu :

1. Sikap kerja

2. Tingkat keterampilan

3. Tingkat penghasilan

4. Kesempatan berprestasi

5. Teknologi

6. Hubungan antara tenaga kerja dan pemimpin organisasi

7. Manajemen produktivitas

8. Efisiensi tenaga kerja dan

9. Kewiraswastaan

Dari beberapa pengertian produktivitas di atas, dapat diperoleh kesimpulan bahwa produktivitas kerja adalah kemampuan seseorang atau sumber daya manusia dalam menyelesaikan tuga dan tanggung jawab untuk mencapai tujuan agar dapat berguna bagi organisasi/perusahaan dengan perbandingan antara hasil yang dicapai denga keseluruha sumber daya yang digunakan.

Selain itu tingkat produktivitas yang baik,di harapkan dapat menghasil kan output yang baik pula sehingga dapat menbantu terwujutnya tujuan peruasahaan itu sendiri.

G. Kerangka Pikir

Untuk memudahkan pemahaman tentang pngaruh disiplin kerja sebagai variabel independen terhadap produktivitas kerja ssebagai variabel dependen, maka dapat digambarkan dalam kerangka pikir sebagai berikut :

Gambar. 1

H. Hipotesis

Adapun hipotesis dalam penelitian ini yaitu : Diduga bahwa Disiplin berpengaruh signifikan terhadap produktivitas kerja pegawai pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Sulawesi Selatan.

DISIPLIN KERJA (X) Veithzal Rivai (2005 : 444 )

 Kehadiran

 Ketaatan pada peraturan kerja

 Ketaatan pada standar kerja

 Efisiensi tenaga kerja

 Manajemen produktivitas

24

Penelitian ini dilaksanakan pada Badan Perencanaan pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Sulawesi Selatan di kota Makassar,jalan Urip Sumoharjo No 269. Sedangkan waktu penelitian dilaksanakan selama satu bulan.

B. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Data kualitatif, yaitu data yang berupa keterangan , penjelasan

penjelasan dari interview, wawancara, kuesioner atau observasi di lapangan yang berupa angka-angka dan diolah untuk mendukung penjelasan dalam analisis.

b. Data kuantitatif, yaitu data yang berupa angka-angka yang diperoleh dari sumber data sekunder, baik berupa dokumen, laporan-laporan ilmiah, atau terbitan berkala relevan dengan permasalah yang dibahas 2. Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari :

a. Data primer,yaitu data yang diperoleh dengan jalan melakukan pengamatan langsung (observasi) dan wawancara (interview) dengan pegawai Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Sulawesi Selatan Di kota Makassar.

b. Data Sekunder,yaitu data yang diperoleh dari berbagai dokumen-dokumen Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Sulawesi Selatan di Kota Makassr yang relevan dengan penelitian ini, dan hasil angket (kuesioner) yang dilakukan serta data lainya yang dapat mendukung pokok bahasan.

C. Populasi dan Sampel

Dalam penelitian objek yang biasanya disebut dengan populasi, hal tersebut merupakan hal penting dalam penelitian, karene berhubungan dengan sumber data yang akan diteliti melalui sampel yang merupakan bagian dan hal ini sama pentingnya.

1. Populasi

Dalam mengumpulkan data akan selalu dihadapkan dengan objek yang akan di teliti baik itu berupa benda, manusia, dan aktivitasnya atau peristiwa yang terjadi. Menurut Sudjana , populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin , hasil menghitung atau pengukuran , kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang ingin di pelajari sifat-sifatnya.

2. Sampel

Tehnik pengambilan sampel Umar (2005;108) dalam penelitian ini adalah menggunakan purposive sampling/judgement sampling. Purposive sampling yaitu suatu sampling dimana pemilihan elemen-elemen untuk menjadi anggota sampel berdasarkan pada pertimbangan yang sangat subjektif. Dalam hal ini responden yang dipilih diyakini representative terhadap populasi penelitian. Ukuran sampel dari suatu populasi dapat menggunakan bermacam-macam cara, salah satunya adalah dengan menggunakan teknik Slovin, dengan rumus sebagai berikut :

Dimana: 1 N

 

e 2 n N

 

132

1 + 132 ( 0,01 )2 = 36 orang pegawai

N= Jumlah Populasi n= Sampel Unit e= Level error (o,o1)

D. Metode Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data sebagai bahan dalam penelitian dugunakan beberapa metode seperti berikut ini

1. Angket atau Kuesioner

Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunkan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui

2. Intervew atau Wawancara

Intervew adalah sebuah dialok yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara.

Digunakan oleh peneliti untuk menilai keadaan seseorang, misalnya untuk mencari data tentang variable latar belakang, orang tua, pendidikan, sikap terhadap sesuatu.

3. Obsevasi

Obsevasi yang disebut pula dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemuatan perhaian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra. Jadi mengobservasi dapat dilakukan melalui penglihatan dan pendengaran.

4. Dokumentasi

Dokumentasi, dari asal katanya dokumen, yang artinya barang-brang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi , peneliti

menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya.

E. Metode Analisis Data

Metode analisis yang digunakan adalah Analisis Deskriptif kuantitatif : Untuk melihat pengaruh disiplin terhadap produktivitas kerja pegawai digunakan metode Analisis Regresi sederhana menurut Sunyoto (2012:74) Model ini dipilih karena penelitian dirancang untukmenentukan variabel independen yang menpunyai pengaruh terhadap variabel dependent. Model yang dimaksud adalah sebagai berikut :

Y= a + bX

Diamana : Y : Produktivitas a : Konstanta

b : Penaksiran koefisien X : Disiplin Kerja a. Uji Parsial (Uji t)

Uji t Ghozali (2001:54) digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen (disiplin kerja) terhadap variabel dependen (produktivitas kerja)

Langkah-langkah pengujian terhadap koefisien regresi adalah sebagai berikut :

1. Ho :  = 0, tidak ada pengaruh yang signifikan antara variable disiplin kerja terhadap variable produktivitas kerja

Ha : ≠ 0, ada pengaruh yang signifikan antara variable disiplin kerja terhadap variable produktivitas kerja.

2. Dalam pengujian ini digunakan taraf signifikan sisebesar 5% dan derajat kebebasan (d.f) = n-k, dapat diketahui dari hasil perhitungan komputer program SPSS.

3. Kesimpulan yang diambil adalah Jika t hitung> t tabelmaka Ho ditolak, sebaliknya Jika t hitung< t table maka Ho diterima.

b.

Uji Koefisien Determinasi (R

2

)

Koefisien determinasi Ghozali (2001:52) adalah salah satu nilai statistik yang dapat digunakan untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara dua variabel. Nilai koefisien dari determinasi menunjukan persentase variasi nilai variabel yang dapat dijelaskan oleh persamaan regresi yang dihasilkan.

Dimana : r = koefisien korelasi X = Disiplin Kerja Y = Produktivitas

n = jumlah sampel

29 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Organisasi/Instansi

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Sulawesi Selatan berada di dalam lingkungan Kantor Gubernuran yang terletak di jalan Jendral Urip sumoharjo No. 269. Kelurahan Karampuang Kecamatan Panakkukang Kota Makassar, memiliki luas area sekitar 500M2

- Sebelah utara : Tempat Parkir Kendaraan Dinas - Sebelah Timur : Lapangan Tenis

- Sebelah Barat : Kantor BKD - Sebelah selatan : Lahan Kosong

Pertama terbentuknya Badan Perencanaan Pembangunan daerah Provinsi Sulawesi selatan di awali dengan keluarnya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1980 tentang pembentukan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, kemudian disusul dengan keluarnya Keputusan Mentri Dalam Negri No 185 Tahun 1980 tentang pedoman organisasi dan tata kerja Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat I dan Badan Perencanaan Pembangunan Tingkat II. Selanjutnya untuk memperkuat kelembagaan ini di daerah-daerah maka Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan dengan persetujuan Dewan Perwakilan rakyat Provinsi daerah Tingkat I Sulawesi Selatan

menetapkan Peraturan Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan No 3 Tahun 1982 tentang pembentukan organisasi dan tata kerja Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan.

Adapun substansi dari masing-masing Keputusan Presiden RI dan peraturan Daerah, masing-masing sebagai berikut :

1. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1080 tentang pembentukan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.

a. Bahwa dalam rangka usaha peningkatan keserasian pembangunan di Daerah diperlukan adanya peningkatan keselarasan antara pembangunan sektoral dan pembangunan Daerah

b. Bahwa dalam rangka usaha menjamin laju perkembangan, keseimbangan, dan kesinambungan pembangunan di Daerah diperlukan perencanaan yang lebih menyeluruh, terarah, dan terpadu.

c. Bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, pengaturan tentang pembentukan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Presiden Nomor 15 Tahun 1974.

Dengan mencabut Keputusan Presiden Nomor 15 Tahun 1974 tentang Pembentukan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, menetapkan Keputusan Presiden Republik Indonesia tentang Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.

a. Di provinsi Daerah Tingkat I di bentuk Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat I, selanjutnya dalam keputusan Presiden ini disebut BAPPEDA Tingkat I;

b. BAPPEDA tingkat I adalah badan staf yang laangsung berad dibawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur Kepal Daerah Tingkat I;

c. BAPPEDA Tingkat I mempunyai tugas membantu Gubernur?Kepala Daerah tingkat I dalam menentukan kebijaksanaan di bidang perencanaan pembangunan di Daerah tingkat I serta penilaian atas pelaksanaannya;

d. Sedangkan di Kabupaten atau Kotamadya Tingkat II dapat dibentuk Badan Perencanan Pembangunan Tingkat II, selanjutnya dalam keputusan Presiden disebut BAPPEDA Tingkat II;

Sedangkan di Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dapat dibentuk Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingat II, selanjutnya dalam keputusan Presiden ini disebut BAPPEDA Tingkat II;

e. BAPPEDA Tingkat II, adalah Badan staf yang langsung berada dibawah dan bertanggungjawab kepada Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II;

f. BAPPEDA Tingkat II mempunyai tugas membantu Bupati/Walikotamadya Kepala Daera Tingkat II dalam menentukan kebijaksanaan dibidang Perencanaan Pembangunan di Daerah Tingkat II serta penilaian atas pelaksanaannya.

Keputusan Mentri Dalam Negri Nomor 185 Tahun 1980 tentag pedoman Organisasi dan tata kerja Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat I dan Badan Perencanaan Pembangunan Tingkat II

a. Menimbang bahwa sebagai pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 27 Tahun 1980, dipandang perlu segera menetapkan Keputusan Mentri pedoman organisasi dan tata kerja Badan Perencanaan Pembangunan Tingkat I dan Badan Perencanaan Pembangunan Tingkat II.

b. Dengan memperhatikan persetujuan Mentri Negara Penertiban Aparatur Negara dalam suratnya Nomor : B-790/I/MENPAN/8/80 tanggal 16 agustus 1980.

c. BAPPEDA Tingkat I, selanjutnya dalam keputusan ini disebut BAPPEDA Tingkat I, Badan Staf yang langsung berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur Kepala Daerah Tingkat I.

d. BAPPEDA Tingkat I dipimpin Oleh seorang Ketua.

e. Dalam melaksanakan tugasnya, ketua dibantu oleh seorang wakil ketua yang bertanggung jawab kepada ketua

Peraturan Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Nomor 3 Tahun 1982 tentang pembentukan,organisasi dan tata kerja Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan.

a. Menimbang dalam rangka peningkatan keserasian pembangunan dalam usaha menjamin laju perkembangan,keseimbangan dan kesinambungan pembangunan dengan perencanaan yang menyeluruh, terarah dan terpadu di Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan, maka organisasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan yang

diatur dalam Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Nomor : 542a/XI/1974 berdasarkan Keputusan Mentri Dalam Negri Nomor 142 Tahun 1974 Dianggap Tidak Memadai Lagi, sehingga perlu dikembangkan.

b. Berhubungan dengan hal tersebut diatas dan sebagai pelaksanaan Keputusan Mentri Dalam Negri Nomor 185 Tahun 1980, perlu ditetapkan peraturan Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan yang mengatur tentang pembentukan, organisasi dan tata kerja BAPPEDA Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan

c. Dengan persetujuan DPRD Tingkat I Sulsel dengan menetapkan peraturan Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan tentang pembentukan organisasi dan tata kerja BAPPEDA Provinsi Daerah Tingkat I Sulsel.

Selanjutnya hingga saat ini kedudukan BAPPEDA Provinsi Sulawesi Selatan ditetapkan melalui Peraturan Daerah Nomor 21 Tahun 2001

2. Visi Dan Misi Bappeda a. Visi Bappeda

Visi badan perencanaan pembangunan daerah propinsi sulawesi selatan adalah “mewujudkan paripurna yang terpadu, dan realistis”. Visi tersebut

Visi badan perencanaan pembangunan daerah propinsi sulawesi selatan adalah “mewujudkan paripurna yang terpadu, dan realistis”. Visi tersebut

Dokumen terkait