• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

E. Tinjauan Kepustakaan

3. Pengertian Dokter dan Kedokteran Kehakiman

Perkembangan ilmu kedokteran mengungkapkan bahwa kebutuhan manusia akan pertolongan pengobatan adalah setua umat manusia. Pada mulanya, jika seseorang merasa sakit atau mengalami gangguan pada fungsi bagian tubuhnya , selalu mencoba untuk mengetahui apa yang menjadi penyebabnya, dan merasa khawatir akan dirinya ataupun nyawanya. Kekhawatiran tersebut mendorong seseorang untuk mencari pertolongan pengobatan dan meyakini bahwa ada kemungkinan untuk dapat menghilangkan penyakitnya.

Sejarah seorang dokter itu ketika ada seseorang yang dapat dimintai pertolongan untuk mengobati karena di anggap ahli dalam menyembuhkan tubuh manusia dan di sebut tabib. Kehadiran tabib di lingkungan umat manusia untuk meringankan penderitaan orang sakit mulai dilihat sekitar tahun 2500 SM di Mesir Kuno dan Tiongkok15

15

D. Veronica Komalawati, Hukum dan Etika dalam Praktek Dokter,(Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,1989) hal 29

. Pada masa itu, penyakit dianggap sebagai hukuman/kutukan dari dewa atau Tuhan. Jika sakit, mereka akan datang minta pertolongan kepada orang-orang yang dianggap dekat dengan dewa atau Tuhan. Berobat dan bertobat

merupakan dua tindakan yang seolah-olah berjalan seiring. Oleh karena itu, penyembuhan orang sakit dipercayakan kepada para Imam (Kaum Ulama) atau pendeta. Penyakit di anggap mempunyai sebab-sebab religious yaitu bersangkut-paut dengan dosa, sehingga dengan doa maka korban dapat memperoleh pengampunan dosa yang berakibat sembuhnya penyakit yang diderita seseorang. Itulah sebabnya, kita sering jumpai baik dalam masyarakat yang berkebudayaan maju maupun yang primitive sekalipun seorang pemimpin agama atau Imam sekaligus berfungsi sebagai tabib.

Hermes Trismegistus seorang cendikiawan dan filsuf mengemukakan ajaran bahwa hidup di dunia dipengaruhi oleh sinar-sinar cosmos yang berasal dari bintang. Mulailah orang mempraktekan penyembuhan penyakit berdasarkan ilmu perbintangan (astrologi)16

16

Ibid, hal 30

, yaitu jika seseorang sakit lebih dahulu harus dicari bintangnya, baru kemudian orang itu dapat disembuhkan. Lambat laun orang-orang mulai memisahkan diri dari paham religious. Orang mulai berpikir bahwa ada sebab-sebab penyakit dari luar secara fisik dan usaha penyembuhannya dapat dilakukan dengan cara mengimbangi pengaruh itu. Dengan kata lain, mereka mulai menerima kenyataan bahwa ada pengaruh fisik dari luar yang menyebabkan penyakit dan dengan usaha manusia dapat diimbangi atau di tentang secara fisik juga. Walaupun belum dapat diketahui secara pasti, namun ada beberapa petunjuk manusia mulai sadar bahwa di alam semesta terdapat tenaga-tenaga alamiah yang dapat dianalisis, dan digunakan. Mulailah manusia berilmu (berpengetahuan) meskipun belum terlepas

dari pengaruh-pengaruh religious. Adanya kesadaran bahwa tidak semua orang berilmu itu sangat dihormati. Timbullah kultus-kultus medis, antara lain Asclepius yang banyak mempunyai pengikut di Yunani dan di Roma.

Perkembangan selanjutnya, orang mulai mengerti bahwa penyakit bersumber dari dalam tubuh itu sendiri, yang di sebabkan oleh suatu gangguan dalam anatomi tubuh. Konsep ini disebut metaphysical. Siapa yang mulai berpikir demikian juga tidak dapat dipastikan sebab di Yunani orang menganggap bahwa Aristoteles (384 SM) dan bukan Hippocrates (469-377 SM) yang mulai berbicara tentang air tubuh17

Hippocrates (469-377 SM) merupakan tokoh paling terkenal dalam kedokteran dan filsafat Yunani, yang kemudian dianggap sebagai Bapak Ilmu

. Menurut argument metaphysical, cairan-cairan yang di bentuk di dalam tubuh manusia oleh penyatuan unsur-unsur tertentu menghasilkan darah, lender (phlegma), empedu hitam dan kuning. Maka setiap percampuran yang salah satu atau berekses satu terhadap yang lain menyebabkan seseorang jatuh sakit. Prinsip ini pada dasarnya sudah di temukan di India dan Tiongkok, walaupun dalam bentuk ajaran yang berbeda. Bahkan waktu itu di Tiongkok mulai di gunakan akupuntur walaupun mungkin didasarkan pada konsep lain dari pada sekarang. Walau sebenarnya prosedur penyembuhan yang telah ditemukan di Mesir, Tiongkok dan India itu pada dasarnya sama dengan prosedur Hippocrates, namun dunia Barat khususnya dan dunia kedokteran dewasa ini pada umumnya menerima metode-metode konsepsional pengobatan melalui pengaruh Yunani.

17

Kedokteran Modern18

Namun ternyata, periode abad ke lima sampai abad ke Sembilan sesudah masehi membuktikan terjadinya pengulangan pandangan seperti masa sebelum Hippocrates

. Ia mencoba mendekati upaya pengobatan penyakit dari sudut yang lebih rasional dari pada sekedar kepercayaan belaka. Ia juga menentukan diagnosis dengan cara-cara yang sistematis. Ia berusaha membuat pemisahan secara halus antara ilmu kedokteran dan agama, dengan meninggalkan anggapan bahwa penyakit adalah bukti kutukan/hukuman dewa dan menganalisa terjadinya penyakit tanpa menghilangkan pengaruh agama sama sekali. Dengan kata lain, Hippocrates mulai melepaskan penyakit dari sebab-sebab spiritual serta memusatkan seluruh perhatian pada tubuh itu sendiri dengan mempelajari gejala-gejala serta tanda-tanda penyakit; kemudian ia berusaha mencari jalan untuk mengatasi gangguan penyakit itu dengan cara penyembuhan empiris dan rasional.

19

18

Ibid, hal 32

. Pada abad tersebut Lembaga Pendidikan Kedokteran yang berdiri sendiri diambil alih oleh para biarawan. Para pendeta menuliskan pandangan mereka tentang penyakit yang hampir seluruhnya bersifat moralistik. Penyakit dikaitkan kembali dengan dosa dan kutukan. Para pendeta melakukan pengobatan dan menyatakan bahwa dokter mengobati orang sakit hanya dari luar, tetapi tidak terhadap jiwa manusia yang dari dalam nya sudah menderita sakit. Hanya ajaran agama yang sanggup memperbaiki jiwa manusia yang sakit itu. Pandangan yang demikian yang sendirinya meletakkan posisi orang sakit (pasien) di bawah sang pengobat. Pasien di anggap tidak tahu dan tidak perlu tahu tentang sebab-sebab

19

penyakitnya karena penyakit merupakan kutukan Tuhan. Agar dapat diampuni dan dibebaskan dari penyakitnya, ia harus sepenuhnya tunduk pada perintah pendeta. Tidak perlu tahu apa obat dan ritual yang sedang diusahakan dan mengapa dilakukan demikian. Partisipasi pasien yang boleh dilakukan hanyalah patuh secara mutlak kepada sang pengobat. Kenyataannya pola hubungan tersebut masih dianut oleh para dokter pada posisi “lebih tahu tentang gejala sesuatu yang di derita pasien dari pada pasien”. Hal ini tampak pada sikap dokter dalam hubungan terapi (penyembuhan), antara lain dokter merasa tidak perlu meminta keterangan pasien secara jelas mengenai keluhan-keluhannya, atau bahkan keluhan pasien sama sekali tidak diacuhkan. Padahal dari serangkaian keluhan pasien itu sesungguhnya dapat dihasilkan beberapa diagnosis (penentuan jenis penyakit). Dari diagnosis yang sudah ditetapkan terbuka sederet terapi (penyembuhan) dengan berbagai khasiat dan efek sampingnya.

Namun dewasa ini dokter lebih dipandang sebagai ilmuan yang pengetahuannya sangat diperlukan untuk menyembuhkan berbagai penyakit20

20

Husein kerbala, Segi-Segi Etis dan Yuridis Informed Consent,(Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1993) hal 32

. Pada umumnya, masyarakat telah mengetahui apa yang di maksud dengan dokter dan apa yang menjadi tugas dokter di dalam masyarakat. Hal ini berkat usaha pemerintah dalam melaksanakan program kesehatan melalui puskesmas yang tidak dilakukan di kota-kota saja, melainkan sampai ke desa-desa. Sehingga setiap orang mengetahui bahwa apabila ia sakit harus berusaha ke dokter. Namun demikian masarakat pada umumnya tidak mengetahui cara membedakan dokter dan bukan dokter . sehingga

dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pada umumnya memberikan sebutan dokter kepada setiap orang yang memberikan pelayanan kesehatan di rumah sakit atau puskesmas, meskipun kenyataannya yang memberikan pelayanan kesehatan itu hanya seorang mantri atau perawat saja. Pandangan yang demikian terhadap dokter pada umumnya dapat kita temui pada masyarakat yang tinggal di desa-desa. Mereka telah mengidentikan dokter dengan setiap orang yang berada di puskesmas atau rumah sakit dan mengenakan pakaian warna putih.

Di dalam peraturan perundang-undangan tentang kesehatan, seperti UU No.9 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Kesehatan, UU No.6 Tahun 1963 tentang Tenaga Kesehatan maupun PP No.20 Tahun 1966 Wajib Simpan Rahasia Kedokteran serta peraturan-peraturan bidang kesehatan lainnya maka tidak ada satupun yang memberikan penjelasan apa yang dimaksud dengan dokter.

Di dalam UU No.6 Tahun 1963 yang merupakan Undang-Undang pelaksana dari Undang-Undang No.9 yang merupakan Undang-Undang pokok, maka pada pasal 2 disebutkan bahwa21

Yang dimaksud dengan tenaga kesehatan dalam Undang-Undang ini, adalah: :

A. Tenaga Kesehatan Sarjana, yaitu: a. Dokter; b. Dokter Gigi; c. Apoteker. 21 Ibid, hal 33

B. Tenaga kesehatan sarjana muda, menengah dan rendah: a. Di bidang farmasi: asisten apoteker, dsb

b. Di bidang kebidanan: bidan, dsb

c. Di bidang keperawatan: perawat, fisioterapis, dsb

d. Di bidang kesehatan masyrakat: penilik kesehatan, nutrisionis, dll e. Di bidang kesehatan lain.

Yang di sebutkan dalam Pasal 2 tersebut adalah subjek dalam hukum kesehatan. Di samping mereka ada subjek hukum lainnya yaitu mereka yang menerima pelayanan kesehatan yang biasa di sebut dengan pasien.

Dari perumusan Pasal 2 tersebut nyata bahwa pasal itu tidak memberikan pengertian tentang dokter. Hal ini kiranya dapat dimengerti karena dengan di keluarkan nya undang-undang bukanlah bermaksud untuk mendefinisikan atau merinci suatu hal atau subjek tertentu, melainkan untuk menetapkan ketentuan-ketentuan dasar sesuai dengan yang diinginkan oleh undang-undang tenaga kesehatan yaitu hanya menentukan ketentuan-ketentuan dasar dari tenaga-tenaga kesehatan termasuk dokter di dalamnya sebagai tenaga kesehatan sarjana.

Tidak adanya rumusan dari perundang-undangan bidang kesehatan tentang pengertian dokter, maka pengertian dokter itu kiranya dapat di simpulkan dari perumusan pasal 3 UU No.6 Tahun 1963 bahwa dokter sebagai tenaga kesehatan adalah orang yang berpendidikan dan berpengetahuan khusus, yang bersangkutan

memiliki ijazah dokter baik dari dalam maupun luar negeri yang sederajat dengan universitas negeri menurut peraturan yang berlaku.

Menurut Pasal 5 Undang-Undang tentang Tenaga Kesehatan bahwa untuk melakukan tugas pekerjaan sebagai dokter maka harus mendapat izin terlebih dahulu dari Menteri Kesehatan. Dengan demikian Menteri Kesehatan dapat mengetahui tenaga kesehatan dokter dimana pun mereka bekerja22

Selanjutnya dalam menjalankan profesinya maka kita dapat membedakan dokter atas: .

a. Dokter umum; b. Dokter spesialis.

Pengertian dokter umum dan dokter spesialis tidak akan ditemukan dalam Undang-Undang No.6 Tahun 1963 tentang Tenaga Kesehatan maupun dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 561/Men.Kes/Per/X/1981 tentang Pemberian izin menjalankan pekerjaan dan izin praktek bagi dokter spesialis. Namun demikian pengertian dokter umum dapat dirumuskan sebagai seorang yang menjalani pendidikan di suatu fakultas kedokteran serta mendapat ijazah menurut peraturan yang berlaku.

Sedangkan dokter spesialis adalah seorang yang telah memenuhi seluruh tuntutan di suatu fakultas kedokteran kemudian ia melanjutkan pendidikan spesialisasi tertentu dan telah memperoleh ijazah atau sertifikat untuk bidang spesialisasinya itu.

22

Ilmu kedokteran kehakiman merupakan cabang ilmu kedokteran yang menerapkan pengetahuan kedokteran untuk pihak pengadilan dalam memutus suatu perkara23

Ilmu kedokteran kehakiman atau ilmu kedokteran forensik merupakan terjemahan yang sama untuk Gerechtelijke Geneeskunde di masa prakemerdekaan Indonesia maupun di negeri Belanda. Dalam bahasa Jerman disebut Gerichtliche Medizin maupun Forensische Medizin, dalam bahasa inggris di sebut Medical Jurisprudence, Medico-Legal, Legal Medicine yang semuanya di artikan sebagai ilmu kedokteran forensik atau ilmu kedokteran kehakiman. Istilah – istilah tersebut merupakan kata lain untuk Forensic Medicine sebagai suatu cabang ilmu kedokteran terapan demi kepentingan peradilan. Ilmu kedokteran forensik harus di bedakan dengan ilmu hukum kedokteran (Medical Law), sebab hukum kedokteran adalah aturan hukum yang mengatur semua aspek yang berkaitan dengan praktek kedokteran atau Law regulating the practice of medicine

. Istilah ilmu kedokteran kehakiman dan ilmu kedokteran forensik dalam pengertiannya sama. Akan tetapi dekade akhir ini semua institusi kedokteran maupun para spesialis forensik menggunakan istilah kedokteran forensik. Maka selanjutnya kedokteran kehakiman memakai istilah kedokteran forensik.

24

Ilmu kedokteran forensik atau forensic Medicine merupakan ilmu yang mempelajari penerapan ilmu kedokteran untuk kepentingan peradilan. Menurut Dr Amri Amir, ilmu kedokteran kehakiman adalah ilmu yang menggunakan pengetahuan

.

23

Alfred C. Satyo, Sejarah Ilmu Kedokteran Forensik,(Medan: UPT Penerbitan dan Percetakan USU, 2004)

24

ilmu kedokteran untuk kepentingan hukum dan peradilan25

Mengenai ruang lingkup dan cakupan kedokteran kehakiman yaitu menangani pemeriksaan tubuh korban, baik yang masih hidup maupun sudah mati serta dengan keadaan jenis perseorang.

. Dengan definisi tersebut maka sebetulnya ilmu kedokteran forensik tetap merupakan disiplin ilmu kedokteran walaupun aplikasinya bukan untuk kepentingan yang berkaitan dengan masalah-masalah kesehatan ataupun kedokteran, melainkan untuk kepentingan penegakan hukum.

26

Mengenai sejarah kedokteran kehakiman atau kedokteran forensik melihat dari beberapa kejahatan yang terjadi di muka bumi ini

Dengan demikian dapat di pahami pemeriksaan utama yang dilakukan oleh bagian ilmu kedokteran kehakiman adalah bedah mayat. Sedangkan dokter pada umumnya ialah sebagai tenaga medis dan melaksanakan program kesehatan.

27

25

Berlin Nainggolan,Jurnal,fungsi kedokteran kehakiman sebagai saksi ahli dalam upaya penegakan hukum,(Medan: Universitas Sumatera Utara,1999) hal 1

. Seperti mencuri, menipu, menyakiti, memperkosa dan bahkan membunuh. Perbuatan jahat yang dapat menimbulkan kerugian, penderitaan serta kematian itu juga dirasakan oleh masyarakat sebagai perbuatan yang dapat merusak keamanan dan kedamaian di dalam masyarakat. Oleh sebab itu harus di berantas melalui upaya yang bersifat represif atau preventif. Dalam rangka melakukan upaya represif itulah mereka membentuk badan-badan yang ditugasi untuk menangkap, mengadili serta menghukum orang-orang yang bersalah. Hanya saja, badan peradilan yang ada pada

26

Ibid, hal 4

27

masa itu tidak seperti apa yang dapat dilihat sekarang. Apa yang dahulu dinamakan Hakim tidak seperti Hakim sekarang ini yang tugasnya hanya mengadili. Hakim pada zaman dahulu tugasnya amat menyeluruh, mulai dari tugas menyelidiki, menyidik, menuntut, mengadili perkara sampai pada tugas melaksanakan hukuman.

Selain itu, cara pembuktiannya pun masih didasarkan pada pemikiran yang kadang-kadang tidak rasional serta dipengaruhi oleh takhayul. “trial by ordeal”

misalnya merupakan salah satu contoh bagaimana badan peradilan pada masa itu mengadili perkara secara tidak rasional dengan menyuruh orang – orang yang dituduh bersalah untuk berjalan di atas bara api (judicia ignis), masuk ke dalam kolam berisi air (judicia aquae) atau menyuruh makan makanan yang sudah di beri mantra-mantra (judicia offae). Apabila mereka selamat setelah menjalani proses peradilian seperti itu maka kesalahan mereka tidak terbukti dan sebaliknya jika mereka menderita luka-luka atau mati karenanya. Sistem peradilan seperti itu didasarkan pada konsep Judicia Dei (peradilan Tuhan), bahwa orang-orang yang tidak bersalah pasti akan ditolong oleh Tuhan ketika menjalani proses peradilan28

Seiring dengan perkembangan zaman, konsep Judicia Dei (peradilan Tuhan) yang tidak rasional mulai di tinggalkan dan diganti dengan sistem pembuktian berdasarkan pengakuan . 29 28 Ibid

. Namun, proses peradilan hanya terpusatkan pada upaya mengorek pengakuan saja. Untuk itu tidak jarang digunakan siksaan fisik yang tidak saja dapat menimbulkan kecacatan atau kematian, tetapi juga dapat mengakibatkan

29

orang mengakui kesalahan yang tidak pernah dilakukan nya. Oleh sebab itulah kemudian para penegak hukum menggantikannya lagi dengan sistem peradilan berdasarkan sumpah, bahwa terdakwa bersedia menerima laknat Tuhan jika keterangannya tidak betul. Dengan tekanan yang bersifat psikis itu maka diharapkan mereka mau memberikan keterangan dengan jujur. Perkembangan selanjutnya dari upaya manusia untuk menentukan kesalahan seseorang ialah tidak lagi dipusatkan pada upaya menggarap terdakwa saja, melainkan sudah mulai ditambah dengan memanfaatkan saksi. Dengan tambahan keterangan dari saksi sebagai orang yang melihat, mendengar atau mengalami sendiri peristiwa pidana maka diharapkan keputusan yang diambil oleh hakim akan menjadi lebih adil. Namun kekurangannya ialah bahwa saksi dapat berdusta karena di ancam atau dibayar, lupa atau kurang pandai menceritakan kembali hal-hal yang pernah dilihatnya. Selain itu,saksi korban mempunyai kecendrungan untuk mendramatisasi agar pelaku dihukum berat.

Pada akhirnya para penegak hukum sadar bahwa selama berabad-abad telah melupakan peranan barang bukti yang hampir selalu ada pada setiap kejahatan. Padahal barang bukti tersebut dapat memberikan petunjuk yang bermanfaat bagi penyelesaian perkara. Masalahnya adalah siapa yang harus menganalisa barang bukti yang beraneka ragam jenisnya mengingat para penegak hukum tidak mengusai segala macam ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang dapat digunakan untuk itu. Dari sinilah kemudian timbul pemikiran untuk memanfaatkan para ahli untuk menerangkan dari hal apa yang di ketahui.

Ilmu kedokteran forensik sudah dirintis sejak beribu-ribu tahun sebelum masehi30

Dalam kedokteran forensik otopsi merupakan bagian penting dan hal tersebut telah dilakukan jauh sebelum masehi, meskipun kaitannya secara langsung dengan kepentingan peradilan belum terlihat jelas. Otopsi untuk kepentingan peradilan baru terlihat jelas ketika Kaisar Julius terbunuh oleh anggota-anggota senat Kerajaan Romawi

. Pada waktu itu orang-orang di negara China sudah mampu menerangkan tentang efek racun terhadap tubuh manusia sejak 3000 tahun sebelum masehi. Begitu pula orang-orang di negara Mesir. Ahli-ahli kedokteran Mesir bahkan sudah dapat menerangkan tentang luka tusuk serta menerangkan bagaimana melakukan diagnosis patah tulang tengkorak yang tidak disertai luka-luka pada kulit kepala. Pada zaman itu Mesir juga terkenal sebagai negeri yang sudah mempunyai peraturan tentang praktek kedokteran.

31

30

Surjit Singh, Op.Cit, hal 6

. Pada waktu itu Dokter Antistius yang diminta untuk melakukan pemeriksan jenazah menyatakan bahwa dari 23 luka yang ditemukan pada tubuh kaisar tersebut hanya luka yang menembus jantungnya saja yang menyebabkan kematian. Oleh banyak peneliti, kasus tersebut diklain sebagi kasus hukum pertama yang diselesaikan dengan memanfaatkan ilmu kedokteran. Setelah itu pelaksanaan otopsi mengalami kemunduran, tetapi pada zaman Renaissane mulai meningkat kembali. Peningkatan ini tidak hanya membawa peningkatan di bidang kedokteran saja tetapi juga ilmu kedokteran forensik. Sesudah abad 16 Ambroise Pare yang bekerja sebagai ahli bedah militer di Prancis dengan sistematik mempelajari efek

31

trauma yang mematikan pada organ dalam dan dua orang ahli bedah dari italia, Fortunato Fidelis dan Paolo Zazzhia, yang melakukan penelitian dan di dokumentasikan dengan baik. Dari sinilah ilmu kedokteran forensik dipelajari secara sungguh sungguh serta di tempatkan menurut posisinya. Dengan kemajuan dibidang ilmu kedokteran forensik telah memberikan dampak positif dalam tindakan yang represif terhadap kejahatan.

Dilihat dari fungsinya, ilmu kedokteran forensik yang dikelompokkan ke dalam ilmu-ilmu forensik (forensic sciences): seperti misalnya ilmu kimia forensik, ilmu fisika forensik, ilmu kedokteran gigi forensik, ilmu psikiatri forensik, balistik, daktiloskopi dan sebagainya. Bahkan ilmu kedokteran forensik sering di sebut “the mother of forensic science” mengingat perannya yang sangat menonjol di antara ilmu-ilmu forensik yang ada dalam hal membantu proses peradilan. Fungsi utama ilmu-ilmu forensik tersebut, termasuk ilmu kedokteran forensik ialah 32

1. Membantu penegakan hukum menentukan apakah suatu peristiwa yang sedang diselidiki merupakan peristiwa pidana atau bukan.

:

2. Membantu penegak hukum mengetahui bagaimana proses tindak pidana tersebut, meliputi :

a. Kapan dilakukan b. Dimana dilakukan c. Dengan apa dilakukan

d. Bagaimana cara melakukannya

32

e. Apa akibatnya

3. Membantu penegak hukum mengetahui identitas korban.

4. Membantu penegak hukum mengetahui identitas pelaku tindak pidana.

Fungsi yang pertama, tentunya sangat berguna pada tingkat penyelidikan perkara pidana, sedangkan 3 fungsi yang terakhir amat berguna pada tingkat penyidikan.

Bagi setiap dokter yang bekerja di Indonesia tentunya perlu memahami ilmu kedokteran forensik lebih dulu agar tidak menemui kesulitan dalam menerapkan ilmu kedokteran yang dimilikinya untuk kepentingan peradilan. Perlu diketahui bahwa hukum acara pidana yang berlaku disini memungkinkan setiap dokter sewaktu-waktu dapat diminta bantuannya oleh penegak hukum untuk membuat terang perkara-perkara pidana. Tugas keforensikan yang melekat pada diri setiap dokter itu wajib dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan benar sebab nasib seseorang tergantung padanya. Korban tindak pidana harus mendapatkan balasan yang setimpal. Di samping itu, tidak boleh ada proses peradilan yang akan menyengsarakan orang-orang yang tidak bersalah.

Dengan mempelajari ilmu kedokteran forensik maka diharapkan para dokter :

1. Menyadari betapa pentingnya peranan mereka di dalam proses peradilan pidana.

3. Memahami segala ketentuan yang berkaitan dengan tugas keforensikan, meliputi: kewanangan, hak, kewajiban serta sanksinya.

4. Mampu melakukan berbagai macam pemeriksaan forensik

5. Mampu memberikan keterangan yang relevan dengan jenis kasusnya sehingga perkaranya menjadi jelas.

6. Mengerti cara-cara menyampaikan keterangannya sesuai ketentuan yang berlaku sehingga keterangan nya memiliki daya bukti di siding pengadilan.

Selain dokter penegak hukum yang terlibat dalam proses peradilan juga perlu mempelajari ilmu kedokteran forensik yang berguna untuk :

1. Menyadari pentingnya bantuan ilmu kedokteran bagi penyelesaian suatu perkara.

2. Mengerti pada kasus-kasus yang bagaimana bantuan ilmu kedokteran diperlukan.

3. Mengerti maksud dan tujuan meminta bantuan.

4. Memahami segala ketentuan yang berkaitan dengan tatalaksana meminta bantuan, kewenangan, kewajiban serta haknya.

Dokumen terkait