Dalam Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat RI NO: 25/KEP/MENKO/KESRA/VII/2007 tentang Pedoman Umum Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri, dijelaskan pengertian PNPM Mandiri adalah sebagai berikut :
“PNPM Mandiri adalah program nasional dalam wujud kerangka kebijakan sebagai dasar dan acuan pelaksanaan program-program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat. PNPM Mandiri dilaksanakan melalui harmonisasi dan pengembangan sistem serta mekanisme dan prosedur program, penyediaan pendampingan, dan penataan stimulan untuk mendorong prakarsa dan inovasi masyarakat dalam upaya penanggulangan kemiskinan berkelanjutan”18
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM Mandiri Perdesaan atau PNPMPerdesaan atau Rural PNPM)
18
Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat RI NO:
25/KEP/MENKO/KESRA/VII/2007 tentang Pedoman Umum Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri
merupakan salah satu mekanisme program pemberdayaan masyarakat yang digunakan PNPM Mandiri dalam upaya mempercepat penanggulangan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja di wilayah perdesaan. PNPM Mandiri Perdesaan mengadopsi sepenuhnya mekanisme dan prosedur Program Pengembangan Kecamatan (PPK) yang telah dilaksanakan sejak 1998.
Ditinjau dari aspek historis, PNPM Mandiri diluncurkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 30 April 2007 di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Program ini merupakan scaling up (pengembangan yang lebih luas) dari program-program penanggulangan kemiskinan pada era-era sebelumnya. PNPM Mandiri digagas untuk menjadi payung (koordinasi) dari puluhan program penanggulangan kemiskinan dari berbagai departemen yang ada pada saat itu, khususnya yang menggunakan konsep pemberdayaan masyarakat (community development) sebagai pendekatan operasionalnya.
Program pemberdayaan masyarakat ini dapat dikatakan sebagai program pemberdayaan masyarakat terbesar di tanah air. Dalam pelaksanaannya, program ini memusatkan kegiatan bagi masyarakat Indonesia paling miskin di wilayah perdesaan. Program ini menyediakan fasilitasi pemberdayaan masyarakat kelembagaan lokal, pendampingan, pelatihan, serta dana Bantuan Langsung untuk Masyarakat (BLM) kepada masyarakat secara langsung. Besaran dana BLM yang dialokasikan sebesar Rp750 juta sampai Rp3 miliar per kecamatan, tergantung jumlah penduduk.
Dalam PNPM Mandiri Perdesaan, seluruh anggota masyarakat diajak terlibat dalam setiap tahapan kegiatan secara partisipatif, mulai dari proses perencanaan, pengambilan keputusan dalam penggunaan dan pengelolaan dana sesuai kebutuhan paling prioritas di desanya, sampai pada pelaksanaan kegiatan dan pelestariannya. Dalam Petunjuk Teknik Operasional (PTO) PNPM Mandiri Perdesaan (2010: 20-25), dijelaskan bahwa Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan dilaksanakan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :
A. Tahap Perencanaan
Kegiatan pada tahap perencanaan terdiri dari :
1) Musyawarah Desa (Musdes) Sosialisasi
Musdes sosialisasi merupakan pertemuan masyarakat desa sebagai ajang sosialisasi atau penyebarluasan informasi PNPM Mandiri Perdesaan di desa. Hasil yang diharapkan dalam musdes sosialisasi adalah tersosialisasinya informasi pokok PNPM Mandiri Perdesaan.
2) Penggalian Gagasan.
Penggalian gagasan adalah proses untuk menemukenali gagasan-gagasan kegiatan atau kebutuhan masyarakat dalam upaya
mengatasi permasalahan kemiskinan yang dihadapi dan
mengembangkan potensi yang ada di masyarakat.
Pada tahap pengambilan keputusan ini semua gagasan-gagasan yang diajukan oleh masyarakat pada saat penggalian gagasan dimusyawarahkan untuk ditentukan skala prioritasnya. Gagasan-gagasan tersebut meliputi bidang sarana prasarana, sosial budaya, dan ekonomi. Tiga gagasan dengan prioritas teratas pada setiap bidang diputuskan menjadi usulan dari desa untuk dibahas di tingkat Kecamatan.
B. Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan adalah pelaksanaan seluruh rencana kegiatan yang telah disepakati dalam pertemuan Musyawarah Antar Desa (MAD) penetapan usulan dan musdes informasi hasil MAD serta rapat-rapat persiapan pelaksanaan. Dalam pelaksanaan kegiatan ini perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1) Masyarakat merupakan pemilik kegiatan, sehingga keputusan
pelaksanaan dan tanggung jawab ada pada masyarakat,
2) Masyarakat desa mendapat prioritas untuk turut bekerja dalam
pelaksanaan kegiatan, terutama bagi rumah tangga miskin (RTM),
3) Apabila ada bagian pekerjaan yang belum mampu dikerjakan oleh
masyarakat sendiri, masyarakat dapat mendatangkan tenaga trampil atau ahli dari luar sepanjang disepakati dalam musdes, dan kebutuhan tersebut di atas harus diperhitungkan dalam RAB kegiatan,
4) Penggunaan dana sesuai dengan rencana dan kegiatan agar mencapai hasil yang memuaskan serta selesai tepat waktu.
C. Tahap Pemanfaatan dan Pemeliharaan/Pelestarian
Tahap pemanfaatan dan pemeliharaan/Pelestarian kegiatan
merupakan tahapan pasca pelaksanaan kegiatan yang dikelola dan merupakan tanggung jawab masyarakat. Namun demikian dalam melakukan pemanfaatan dan pemeliharaan/pelestarian, masyarakat tetap berdasarkan atas prinsip PNPM Mandiri Perdesaan. Pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan berada di bawah binaan Direktorat Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), Departemen Dalam Negeri. Program ini didukung dengan pembiayaan yang berasal dari alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), dana hibah dari sejumlah lembaga pemberi bantuan dibawah koordinasi Bank Dunia.
Tujuan Umum PNPM-Mandiri Perdesaan adalah meningkatnya kesejahteraan dan kesempatan kerja masyarakat miskin di perdesa an dengan mendorong kemandirian dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan pembangunan.
Adapun tujuan khususnya meliputi:
1) Meningkatnya partisipasi seluruh masyarakat, termasuk masyarakat
masyarakat lainnya yang rentan dan sering terpinggirkan ke dalam proses pengambilan keputusan dan pengelolaan pembangunan.
2) Meningkatnya kapasitas kelembagaan masyarakat yang mengakar,
representatif dan akuntabel.
3) Meningkatnya kapasitas pemerintah dalam memberikan pelayanan
kepada masyarakat terutama masyarakat miskin melalui kebijakan, program dan penganggaran yang berpihak pada masyarakat miskin (pro-poor).
4) Meningkatnya sinergi masyarakat, pemerintah daerah, swasta, asosiasi,
perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, organisasi masyarakat dan kelompok perduli lainnya untuk mengefektifkan upaya-upaya
penanggulangan kemiskinan. Meningkatnya keberadaan dan
kemandirian masyarakat serta kapasitas pemerintah daerah dan kelompok perduli setempat dalam menanggulangi kemiskinan di wilayahnya.
5) Meningkatnya modal sosial masyarakat yang berkembang sesuai
dengan potensi sosial dan budaya serta untuk melestarikan kearifan lokal. Meningkatnya inovasi dan pemanfaatan teknologi tepat guna,
informasi dan komunikasi dalam pemberdayaan masyarakat.19
19
Petunjuk Teknik Operasional (PTO) PNPM Mandiri Perdesaan. 2010. Jakarta: KEMENDAGRI. Hal. 20-25