BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG HAK CIPTA FOLKLOR YANG
2.1. Hak Cipta Folklor
2.1.1. Pengertian Hak Cipta Dan Dasar Hukumnya
Masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya sangat sering menemukan istilah-istilah seperti hak cipta, hak paten, maupun merek. Istilah-istilah tersebut semakin sering muncul setelah terjadinya banyak tindak kejahatan seperti yang merupakan pelanggaran atas hak cipta, hak paten maupun merek. Istilah-istilah hak cipta, hak paten maupun merek bersumber dari satu konsep yaitu HKI. HKI secara sederhana berarti suatu hak timbul bagi hasil pemikiran yang menghasilkan suatu produk yang bermanfaat bagi manusia. Hal ini timbul dari pemikiran sederhana bahwa apabila menikmati suatu hasil dari pemikiran orang lain, maka sudah sepantasnya terhadap orang tersebut diberikan imbalan atas hasil karyanya.39
Sementara itu, Mahadi mengatakan, HKI adalah hak kebendaan, hak atas sesuatu benda yang bersumber dari hasil kerja otak, hasil rasio yang mana hasil
39
Haris Munandar dan Sally Sitanggang, 2008, Mengenal HAKI Hak Kekayaan
33
kerjanya adalah benda tidak berwujud. Hanya orang yang mampu saja yang dapat mempekerjakan otaknya untuk menghasilkan sesuatu yang disebut sebagai
intellectual property rights.40 Dengan demikian pekerjaan untuk menghasilkan hak kekayaan intelektual bukanlah pekerjaan yang ringan sehingga tidak setiap orang mampu melakukan aktivitas hak kekayaan intelektual.
HKI dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu: hak cipta (copyrights) dan hak kekayaan industrial (industrial property rights). Di Indonesia hak kekyaan industrial dibagi menjadi beberapa sub jenis antara lain: paten, merek, desain industri, desain tata letak sirkuit terpadu, rahasia dagang dan varietas tanaman. 41 Menurut persetujuan TRIPs, HKI yang mendapatkan perlindungan meliputi Hak Cipta dan hak-hak terkait (Copy Right and Related
Right), Merek (Trade Mark), Indikasi Geografis (Geographical Indication),
Desain Industri (Industrial Design), Paten (Patent), Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu (Layout Design, Topographies of Integrates Circuit), Control of Anti
Competitive Protection of Contractual Licences, Informasi yang dirahasiakan
(Protection of Information).42
40
OK. Saidin, Op.Cit., hal.9 – 11. 41
Haris Munandar dan Sally Sitanggang, Op.Cit., hal.3. 42
Budi Agus Riswandi dan Siti Sumartiah, 2006, Masalah-Masalah HAKI Kontemporer, Gitanagari, Yogyakarta, hal.12.
34
Penjelasan mengenai konsep HKI di atas jelas menyebutkan bahwa hak cipta (copyright) merupakan bagian dari HKI yang dilindungi. Konsepsi perlindungan di bidang hak cipta mulai tumbuh sejak ditemukannya mesin cetak pada abad pertengahan di Eropa. Dengan kehadiran mesin cetak, karya-karya cipta dapat diperbanyak dengan mudah secara mekanikal; inilah yang menumbuhkan copyright. Dalam perkembangannya, perlindungan hukum ini mendapat kritik karena timbulnya anggapan bahwa yang mendapat perlindungan hanyalah penerbit, bukan penciptanya. Kritik ini berkembang atas dasar bahwa karya tersebut merupaka refleksi dari penciptanya, maka digantilah konsep copy
rigth dengan author right. Hingga saat ini konsep perlindungan hak cipta tetap
sama yaitu menitik beratkan pada pelindungan terhadap pencipta.
Menurut hukum perdata barat, hak cipta termasuk dalam hak kebendaan yang tidak berwujud. Hak kebendaan adalah hak yang memberikan kekuasaan langsung pada seseorang yang berhak menguasai sesuatu benda dalam tangan siapapun benda tersebut berada. Hal ini menimbulkan hak kebendaan yang bersifat mutlak atas sesuatu benda.43 Pengertian lain tentang hak kebendaan menyebutkan secara lebih jelas bahwa hak kebendaan adalah hak mutlak atas suatu benda dimana hak itu memberikan kekuasaan langsung atas suatu benda dan
43
Titik Triwulan Tutik, 2006, Pengantar Hukum Perdata Di Indonesia, Prestasi Pustaka, Jakarta, Hal.163-164.
35
dapat dipertahankan terhadap siapapun juga.44 Jika dikaitkan dengan hak cipta, maka dapat dikatakan hak cipta merupakan bagian dari hak kebendaan. Hal ini dapat dilihat dari rumusan Pasal 1 UUHC yang mengatakan bahwa Hak Cipta adalah hak khusus yang dimiliki oleh Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan natau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jelaslah bahwa hak cipta hanya dimiliki oleh pencipta atau yang menerima hak. Artinya bahwa hanya pencipta dan penerima hak tersebut yang boleh mempergunakan hak cipta dan mendapat perlindungan dalam memepergunakan haknya dari pihak lain yang memanfaatkan haknya dengan cara yang tidak diperkenankan oleh hukum. Kententuan pidana dalam UUHC juga semakin menegaskan bahwa hak cipta dapat dipertahankan dari siapa saja yang mencoba mengganggu keberadaannya dan ini menunjukkan bahwa hak cipta merupakan hak yang absolut.
Hak atas kepemilikan intelektual yang lahir dari daya kreasi dan inovasi intelektualitas manusia, dimana hak cipta dan hak milik intelektual merupakan hak atas kebendaan tidak berwujud atau immaterial, yaitu suatu hak kekayaan yang objek bendanya tidak berwujud. Semua benda yang objek hukumnya tidak dapat dilihat, diraba atau dipegang dapat digolongkan dalam hak kekayaan
44
Djaja S. Meliala, 2013, Hukum Perdata Dalam Perspektif BW, Cetakan II, Nuansa Aulia, Bandung, Hal.111.
36
immaterial.45 Untuk melihat kedudukan hak cipta sebagai bagian dari benda, dapat dilihat secara tersirat dalam ketentuan Pasal 499 KUH Perdata yang menyebutkan bahwa menurut paham undang-undang yang dinamakan kebendaan ialah tiap-tiap barang dan tiap-tiap hak, yang dapat dikuasai oleh hak milik.46 Menurut ketentuan pasal ini hak cipta dapat dikategorikan sebagai benda karena dapat dijadikan objek hak milik. Seperti yang dikutip oleh Mahadi dari buku Pitlo yang menyatakan bahwa ada hak absolut yang objeknya tidak berwujud dan hak inilah yang dinamakan dengan hak milik intelektual.47
Ketentuan mengenai hak cipta benda tidak berwujud tertuang dalam UUHC Pasal 3 dan penjelasan Pasal 4 ayat (1). Pasal 3 menyatakan bahwa Hak Cipta dianggap sebagai benda bergerak. Sehingga dapat dialihkan sebagaimana sifat dari benda bergerak. Sementara penjelasan Pasal 4 secara eksplisit menentukan bahwa sifat dari Hak Cipta adalah suatu hak yang tidak berwujud dan manunggal dengan penciptanya.
Berne Convention 1886 tidak merumuskan dalam pasal tersendiri tetang
pengertian Hak Cipta. Pengertian hak cipta tersirat dalam rumusan Article 2, 3, 11 dan 13 yang isinya kemudian diserap dalam Auteurwets 1912 dalam Pasal 2 jo
45
OK. Saidin, Op.Cit., Hal.52. 46
R. Subekti dan R. Tjitrosudibio (penerjemah), 2002, Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata, Cet.32, PT. Pradnya Paramita, Jakarta, Hal.157. 47
37
Pasal 10.48 Istilah hak cipta pertama kali diusulkan oleh Sutan Mohammad Syah pada Kongres Kebudayaan di Bandung pada tahnun 1951. Istilah tersebut kemudian diterima oleh kongres sebagai pengganti istilah hak pengarang yang diaganggap memiliki makna yang kurang luas dan memberikan penyempitan maksa, dimana yang cakupannya hanya pengarang dan hak bagi pengarang, sementara cakupan hak cipta lebih luas dari itu. Istilah hak cipta yang merupakan pengganti copy right yang artinya lebih luas dibanding dengan hak pengarang.49 Pasal 1 ayat 1 UUHC menyatakan:
Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumunkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Auteurswet 1912 dalam Pasal 1 menyebutkan “hak cipta adalah hak
tunggal atau hak yang mendapatkan hak tersebut, atas hasil ciptaannya dalam lapangan kesusasteraan, pengetahuan dan kesenian, untuk mengumumkan dan memperbanyak dengan mengingat pembatasan-pembatasan yang ditentukan oleh undang-undang.50 Sementara itu, Universal Copyright Convention dalam Pasal V menyatakan sebagai berikut, “hak cipta meliputi hak tunggal si pencipta untuk
48 OK. Saidin, Op.Cit., Hal.61 49
Rachmadi Usman, 2003, Hukum Hak atas kekayaan Intelektual:Perlindungan dan
Dimensi Hukumnya di indonesia, Cetakan ke-1, PT. Alumni, bandung, hal. 85. 50
BPHN, Seminar Hak Cipta, Bandung, Binacipta, 1976, hlm.44, dalam Oka Saidin,
38
membuat, menerbitkan dan memberi kuasa untuk membuat terjemahan dari karya yang dilindungi perjanjian ini.51
Mencermati ketiga ketentuan tersebut di atas, ketiganya memberikan pengertian yang sama mengenai hak cipta. Dalam Auteurswet dan Universal
Copyright Convention mempergunakan istilah hak tunggal yang melekat pada
pencipta, sementara itu dalam UUHC mempergunakan istilah hak khusus bagi pencipta. Dalam penjelasan Pasal 1 ayat (1) UUHC di sebutkan bahwa yang dimaksud dengan hak khusus atau hak eksklusif adalah hak yang semata-mata diperuntukkan bagi pemegangnya, dalam hal ini pencipta; tidak ada pihak lain yang dapat memanfaatkan hak tersebut tanpa izin dari penciptanya. Istilah tidak ada pihak lain, memiliki pengertian yang sama dengan “hak tunggal” yang menunjukkan hanya pencipta yang memiliki hak ini. Inilah yang menunjukkan sifat eksklusif tersebut. Eksklusif berarti khusus, spesifikasi, unik. Keunikan ini sesuai dengan sifat dan cara melahirkan suatu ciptaan. Keunikan ini juga mempresentasikan originalitas suatu ciptaan atau temuan sehingga hak yang menjadi bawaannya itu hanya ada pada penciptanya dan mustahil diklaim sebagai ciptaan orang – pihak lain.
Tidak semua orang dapat secara serta merta melahirkan suatu ciptaan, tidak semua orang dapat menjadi seniman yang kemudian melahirkan karya seni
51
39
berupa tari, lagu maupun cerita karena dalam setiap ciptaan terdapat sifat dan keunikan sendiri dan proses penciptaannya. Namun untuk mendapat perlindungan, ciptaan tersebut harus dituangkan dalam suatu wujud, tidak cukup hanya berupa ide di alam pikiran pencipta. Seorang ilmuwan harus mewujudkan ciptaanya dalam sebuah buku, seniman menuangkan ciptaannya dalam wujud tari, lagu maupun cerita. Tanpa berwujud nyata, karya cipta tidak akan mendapat pelindungan.
Hak cipta memiliki dua unsur penting yaitu, yang dapat dipindahkan, dialihkan kepada pihak lain seperti yang tertuang dalam Pasal 3 ayat (2). Dalam hak cipta terdapat hak moral yang dalam keadaan bagaimanapun hak tersebut tetap melekat sekalipun hak cipta telah beralih, kecuali dengan persetujuan pencipta atau ahli warisnya seperti yang tertuang dalam kentuan Pasal 24 UUHC.
Hak cipta juga memiliki hak ekonomi dan hak moral. Hak ekonomi adalah hak untuk mendapatkan manfaat ekonomi dari suatu ciptaan dan produk terkait. Sementara hak moral adalah hak yang melekat pada pencipta yang tidak dapat dihilangkan atau dihapuskan walaupun hak cipta telah dialihkan. Dengan demikian jelas bahwa hak ekonomi dapat dialihkan kepada pihak lain oleh pencipta sementara hak moral tetap melekat pada diri pencipta walaupun hak ekonominya telah beralih. Dengan hak ekonomi, pencipta dapat mengeksploitasi ciptaanya guna mendapatkan manfaat ekonomi, sementara hak moral adalah manunggal dengan penciptanya. Seseorang tidak dapat mengubah, atau mengganti
40
judul, isi apalagi penciptanya. Hal ini hanya dapat dilakukan dengan izin dari pencipta atau ahli warisnya jika pencipta telah meninggal dunia. 52
Article 6 Berne Convention mengatur tentang perlindungan hak moral
dari Pencipta. Ditentukan bahwa pencipta tetap dapat menuntut kepemilikan atas karyanya sekalipun telah dialihkan kepada pihak lain apabila terhadap karyanya dilakukan perubahan maupun perubahan lain yang menghina kehormatan dari Pencipta berkaitan dengan karyanya. Dari ketentuan ini diketahui walaupun hak ekonomi sudah beralih dari pencipta kepada pihak – orang lain, namun hak moral tetap melekat dalam ciptaan tersebut yang memberikan hak kepada pencipta untuk tetap dihormati sebagai pencipta. Hak ini melekat pada ciptaan sepanjang hak ekonominya berlaku bahwa sampai setelah Pencipta meninggal dunia hingga saat ciptaan tersebut diwariskan kepada pihak lain.
Pasal 1 ayat (3) UUHC merumuskan ciptaan adalah hasil setiap karya pencipta yang menunjukkan keasliannya dalam lapangan ilmu pengetahuan, seni, atau sastra. Dari rumusan tersebut jelas bahwa yang mendapat perlindungan hak cipta adalah ciptaan yang merupakan hasil proses penciptaan atas inspirasi, gagasan, atau ide berdasarkan kemampuan dan kreativitas pikiran, imajinasi, kecekatan dan keterampilan pencipta. Ciptaan juga harus dituangkan dalam bentuk yang berwujud dan menunjukkan keaslian untuk mendapatkan
52
41
perlindungan hak cipta. Hak cipta tidak melindungi gagasan atau ide yang belum berwujud. Ciptaan juga harus menunjukkan keaslian, tidak meniru ciptaan orang lain dan merupakan refleksi diri penciptanya. Apabila suatu ciptaan telah memenuhi unsur keaslian dan kreativitas, cerasa otomatis ciptaan tersebut akan mendapat perlindungan.