• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Pengertian Hakikat Belajar a.Pengertian Belajar

Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkunganya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Pengertian belajar dapat didefinisikan sebagai berikut

:“belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk

memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamanya sendiri dalam interaksi

dengan lingkunganya”(Slameto,1995:2).

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, secara etimologis belajar

memiliki arti “berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu”. Definisi

ini memiliki pengertian bahwa belajar adalah suatu aktivitas seseorang untuk mencapai kepandaian atau ilmu yang tidak dimiliki sebelumnya. Dengan belajar manusia menjadi tahu, memahami, mengerti,serta

dapat melaksanakan dan memiliki “sesuatu” (Rahyubi,2012:2)

.Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan, misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya(Sardiman,2007:20).

19

Dengan demikian penulis menyimpulkan pengertian belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan dengan serangkaian kegiatan, misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya.

b. Ciri-ciri Belajar

Jika hakikat belajar adalah perubahan tingkat laku, maka ada beberapa perubahan tertentu yang dimasukan kedalam ciri-ciri belajar.

1. Perubahan yang terjadi secara sadar

Ini berarti individu yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang-kurangnya individu merasakan telah tejadi adanya suatu perubahan dalam dirinya.

2. Perubahan dalam belajar bersifat Fungsional

Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri individu berlangsung terus menerus dan tidak statis. Suatu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan berguna bagi kehidupan ataupun proses belajar berikutnya.

3. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan Aktif

Dalam perbuatan belajar, perubahan-perubahan itu selalu bertambah dan tertuju untuk memperoleh suatu yang lebih baik

20

dari sebelumnya. Dengan demikian, makin banyak usaha belajar itu dilakukan, makin banyak dan makin baik perubahan yang diperoleh. Perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan karena usaha individu sendiri.

4. Perubahan dalam belajar bersifat sementara

Perubahan yang bersifat sementara yang terjadi hanya untuk beberapa saat saja, seperti berkeringat, keluar air mata, menangis, dan sebagainya tidak dapat digolongkan sebagai perubahan dalam pengertian belajar. Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat menetap atau permanen.

5. Perubahan dalam Belajar bertujuan dan Terarah

Ini berarti bahwa perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai. Perubahan belajar terarah pada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari. Dengan demikian, perbuatan belajar yang dilakukan senantiasa terarah pada tingkah laku yang telah ditetapkanya.

6. Perubahan mencakup seluruha spek tingkah laku

Perubahan yang diperoleh individu setelah melalui suatu proses belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku. Jika seseorang belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami

21

perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap kebiasaan, keterampilan, pengetahuan dan sebagainya. (Syaiful, Bahri :2011 ,16)

c. Jenis-jenis Belajar

1). Belajar bagian (part learning, factioned learning)

Umumnya belajar bagian dilakukan oleh seseorang bila ia dihadapkan pada materi belajar yang bersifat luas atau ekstensif, misalnya mempelajari sajak ataupun gerakan-gerakan motoris. Dalam hal ini individu memecah seluruh materi pelajaran menjadi bagian-bagian yang satu sama lain berdiri sendiri. Sebagai lawan dari cara belajar bagian adalah cara belajar keseluruhan atau belajar global.

2). Belajar dengan wawasan (learning by insight)

Konsep ini diperkenalkan oleh W.Kohler, salah seorang tokoh Psikologi Geslalt pada permulaan tahun 1971. Sebagai suatu konsep, wawasan (insight) ini merupakan pokok utama dalam pembicaraan psikologis belajar dan proses berfikir. Dan meskipun W. Kohler sendiri dalam menerangkan wawasan berorientasi pada data yang bersifat tingkah laku namun tidak urung wawasan ini merupakan konsep yang secara prinsipiil ditentang oleh aliran neo-behaviorisme. Menurut Gestalt teori wawasan merupakan proses mereorganisasikan pola-pola tingkah laku yang terbentuk menjadi

22

satu tingkah laku yang ada hubunganya dengan penyelesaian suatu persoalan.

3). Belajar Diskriminatif (discriminatf learning)

Belajar diskriminatif diartikan sebagai suatu usaha untuk memilih beberapa sifat situasi/stimulus kemudian menjadikanya sebagai pedoman dalam bertingkah laku. Dengan pengertian ini maka dalam eksperimen, subyek diminta untuk berespon secara berbeda-beda terhadap stimulus yang berlainan.

4). Belajar global/keseluruhan (global whole learning)

Disini bahan pelajaran dipelajari secara keseluruhan berulang sampai pelajar menguasainya; lawan dari belajar bagian. Metode belajar ini sering juga disebut metode Gestalt.

5). Belajar insidental (incidental leaning)

Konsep ini bertentangan dengan anggapan bahwa belajar itu selalu berarah-tujuan. Sebab dalam belajar insidental pada individu tidak sama sekali kehendak untuk belajar. Atas dasar ini maka untuk kepentingan penelitian, disusun perumusan operasional sebagai berikut : belajar disebut insidental bila tidak ada intruksi atau petunjuk yang diberikan pada individu mengenai materi belajr yang akan diujikan kelak.

23

d. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar

1). Faktor-faktor Intern

Didalam memberikan faktor interrn ini, jika dibahas menjadi tiga faktor, yaitu : faktor jasmaniah, faktor psikilogis dan faktor kelelahan.

a. Faktor jasmaniah

a). Faktor Kesehatan

Sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan serta bagian-bagianya/bebasdari penyakit. Kesehatan adalah keadaan atatu hal sehat. Kesehatan berpengaruh terhadap belajarnya. Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu juga ia akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk jika badanya lemah.

b). Cacat Tubuh

Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh/badan. Siswa yangcacat belajarnya jugaterganggu. Jika hal ini terjadi, hendaknya ia belajar pada lembaga pendidikan khusus atau diushakan alat bantu agar dapat menghindari atau mengurangi pengaruh kecacatanya itu.

24 b. Faktor Psikologis

Sekurang-kurannya ada tujuh faktor yangtergolong ke dalam faktor psikologis yang mempengaruhi belajar. Faktor-faktor itu adalah: intelegensi,perhatian,minat, bakat, motif, kematangan dan kelelahan.

2). Faktor-faktor Ekstren

Faktor ekstern yang berpengaruh terhadap belajar, dapatlah dikelompokan menjadi 3 faktor, yaitu : faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat (Slameto,1995:60 ).

e. Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Horward Kingsley membagi tiga macam hasil belajar, yakni : keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan pengertian, dan sikap dan cita-cita. Masing-masing jenis hasil belajar dapat diisi dengan bahan yang telah ditetapkan dalam kurikulum(Agus Wasisto:2017,14).

Hasil belajar merupakan hasil atau perubahan dari suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang yang menyangkut aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik. Menurut K. Brahim, hasil belajar adalah tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi pelajaran tertentu. Belajar itu sendiri

25

merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap (Ahmad,Susanto 2013:43).

Dengan demikian hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya yang terdiri oleh aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi pelajaran tertentu.

1. Ibadah

a. Pengertian Ibadah

Ibadah istilah teknis dalam teologi yang berarti perbuatan pengabdian atau ritual. Ibadah berasal dari kata kerja „abada

(mengabdi), sedang kata „abd berarti hamba atau pelayan. (Totok Jumantoro :2005,97).

Dalam istilah syara‟ pengertian Ibadah dijelaskan oleh para ulama

sebagai berikut :Al-Jurnani mengatakan Ibadah adalah perbuatan yang dilakukan oleh mukallaf, tidak menurut hawa nafsunya untuk memuliakan Tuhanya, Menurut Ibn Taimiyah Ibadah adalah adalah merendahkan diri. Dalam pengertian yang luas Ibadah meliputi segalal yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, perkataan dan perbuatan lahir batin. Termasuk didalamnya shalat, puasa, zakat, Haji, berkata benar,

26

berbakti kepada orang tua, silaturahmi menepati janji dan sebagainya.(Lamuddin Nasution : 1997,4).

Syaikul Islam Ibn Taimiyah juga berupaya menjelaskan cakupan dan bentuk-bentuk Ibadah. Menurutnya, Ibadah adalah sebutan yang mencakup segala sesuatu yang disukai dan diridhai oleh Allah SWT dalam bentukucapan dan perbuatan batin dan lahir seperti shalat,puasa,haji, kebenaran dalam berucap,penunaian amanah, berbakti kepada ibu bapak, silaturahmi, dan lain-lain. (Fauzi Rahman, 2010:34). Secara etimologi, ibadah berarti merendahkan diri serta tunduk dan taat kepada yang diibadahi yaitu Allah.

b. Hakikat Ibadah

Pada satu risalahnya, Al-Ghazali mengatakan bahwa hakikat ibadah ialah mengikuti (mutaba‟ah) Nabi saw pada semua peintah dan larangan. Sesuatu yang bentuknya seperti Ibadah, tetapi diperbuat tanpa perintah, tidaklah dapat disebut sebagai Ibadah. Jadi dijelas bahwa Ibadah yang hakiki itu adalah menjunjung perintah, bukan semata-mata melakukan shalat atau puasa, sebab shalat puasa itu hanya akan menjadi Ibadah bila sesuai dengan yang diperintah.

Ibadah menuntut sikap taat sepenuhnya kepada Allah, dalam segala hal : aqidah, perkataan dan perbuatan, serta menyambut segala perintah dan larangan-Nya dengan “sami‟nawa atha‟na”. Berhadapan dengan hukum Allah, orang beriman tidak akan mengatakan kecuali

27

pernyataan patuhnya. Allah Swt menciptakan manusia supaya mereka beribadah kepada-Nya. Akan tetapi, ibadah manusia itu tidaklah membawa manfaat apapun bagi-Nya. Kepatuhan manusia tidakakan menambah besar kemuliaan-Nya dan kedurhakaan mereka tidak akan mengurangi kerajaan-Nya. Allah tidaklah memrintah manusia kecuali dengan hal-hal yang membawa kebajikan bagi diri manusia sendiri. Mereka yang patuh akn diberi ganjaran yang baik di surga, dengan nikmat yang tiada taranya. Akan tetapi sesungguhnya Ibadah dengan pengertianya yang hakiki adalah tujuan pada dirinya. Dengan melakukan Ibadah, manusia akan tahu dan selalu sadar bahwa betapa hina dan lemah dirinya bila berhadapan dengan kuasa Allah, sehingga ia menyadari benar-benar akan kedudukanya sebagai hamba Allah.

Jadi tujuan hakiki dari Ibadah adalah menghadapkan diri kepadaAllah Swt. Dan menunggalkan-Nya sebagai tumpuan harapan dalam segala hal. (Lamuddin Nasution : 1997,7).

c. Fungsi Ibadah

Setiap muslim tidak hanya dituntut untuk beriman, tetapi dituntut untuk beramal sholeh. Karena Islam adalah agama amal, bukan hanya keyakinan. Ia tak hanya terpaku pada keimanan semata, melainkan juga pada amal perbuatan yang nyata. Ada tiga aspek fungsi Ibadah dalam Islam :

28

Mewujudkan hubungan antara manusia dengan Tuhanya dapat dilakukan melalui muqorobah dan khudlu. Orang yang beriman dirinya akan selalu mersa diawasi oleh Allah. Ia akan selalu berupaya menyesuaiskan segala perilaku dengan ketentuan Allah Swt.

2). Mendidik mental dan menjadikan manusia ingat akan kewajibanya Dengan sikap ini, setiap manusia tidak akan lupa bahwa dia adalah anggota masyarakat yang mempunyai hak dan kewajiban untuk menerima dan memberi nasihat. Oleh karena itu, banyak

ayat Al Qur‟an ketika berbicara tentang fungsi Ibadah

menyebutkan juga dampaknya terhadap kehidupan pribadi dan masyarakat.

3). Melatih diri untuk berdisiplin

Kenyataan itu dapat dilihat dengan jelas dalam peaksanaan sholat, mulai dari Wudhu, ketentuan waktunya, gerakanya dan aturan-aturan lainya, mengajarkan kita untuk disiplin. http://studi-

agama-islam.blogspot.com/2013/10/pengertian-fungsi-Ibadah.html?m=1 diakses 8 Agustus 2018 Pukul 20:52

29 3. Kajian Materi Penelitian

a. Materi Pinjam Meminjam (Al-‘Ariyah)

Al-ariyah atau Pinjam meminjam termasuk pekerjaan yang disunnahkan oleh Islam, sebagai bentuk tolong-menolong antar sesama muslim.Allah berfirman :

ِمۡثِ ۡلۡٱ ًَلَع ْاىُوَواَعَت َلََو ٰۖ يَىۡقَّتلٱَو ِّرِبۡلٱ ًَلَع ْاىُوَواَعَتَو

ِباَقِعۡلٱ ُديِدَش َ َّللّٱ َّنِإ َٰۖ َّللّٱ ْاىُقَّتٱَو ِِۚن َو ۡدُعۡلٱَو

٢

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (Al-Maidah:2)

Para ulama Fiqh mendefinisikan „Ariyah sebagai pinjaman suatu

barang dengan izin pemilik barang tersebut untuk dimanfaatkan oleh orang lain dengan tanpa mengharapkan imbalan.

Di Aktivitas pinjam meminjam, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:

1. Persyaratan „Ariyah

„Ariyah Memiliki tiga Syarat :

a. Bahwa orang yang meminjamkan adalah pemilkik sahatas barang itu, dan berhak untuk meminjamkanya.

30

c. Pemanfaatan barang tersebut diperbolehkan oleh agama, bukan untuk hal-hal yang dilarang, misalnya untuk mencuri, merampok,membunuh, dan lain sebagainya.

2. Meminjamkan barang Pinjaman dan Menyewakanya

Bolehkah seseorang meminjamkan barang pinjaman kepada orang lain? Dalam hal ini menurut Abu Hanifah dan Malik bahwa, peminjam boleh meminjamkan barang pinjaman kepada orang lain, sekalipun pemilik barang tersebut belum mengetahui atau belum mengizinkan namun dengan syarat penggunaan barang tersebut tidak berlainan dengan tujuan pemakaian pinjaman. Contoh : Anita lupa membawa mukena untuk shalat, lalu ia meminjam kepada Susi. Selesainya shalat muken tersebut ingin dipinjam oleh Yuli untuk Shalat. Lalu Anita langsung meminjamkanya tanpa sepengetahuan Susi sang pemilik mukena tersebut. Hal ini diperbolehkan menurut kedua Imam tersebut (Abu Hanifah dan Malik) selama mukena tersebut digunakan untuk shalat dan bukan untuk selimut atau pengganti alas tidur.

Lain halnya apabila barang pinjaman tersebut digunakan untuk disewakan kepada Orang Lain. Untuk kasus ini sang peminjam harus meminta izin terlebih dahulu kepada pemilik barang. Jika dalam meminjam barang pinjaman kepada orang lain, kemudian barang tersebut rusak ditangan peminjam kedua, maka si pemilik berhak meminta jaminan atau ganti rugi kepada salah

31

seorang diantara keduanya. Untuk kasus seperti ini ganti rugi tersebut dibebankan kepada pihak yang merusakkan barang tersebut yaitu peminjam kedua.

3. Mengembalikan Barang Pinjaman

Si peminjam memiliki kewajiban untuk mengembalikan barang pinjamanya jika ia telah selesai memanfaatkan barang tersebut. Karena barang pinjaman merupakan amanah yang harus dikembalikan kepada sang pemiliknya. Allah Berfirman :

۞

مُت ۡمَكَح اَذِإَو اَهِلۡهَأ ٰٓ ًَلِإ ِت َى َمَ ۡلۡٱ ْاوُّدَؤُت نَأ ۡمُكُرُمۡأَي َ َّللّٱ َّنِإ

َناَك َ َّللّٱ َّنِإ ٰٓۗٓۦِهِب مُكُظِعَي اَّمِعِو َ َّللّٱ َّنِإ ِِۚل ۡدَعۡلٱِب ْاىُمُك ۡحَت نَأ ِساَّىلٱ َهۡيَب

ا ٗريِصَب ا ََۢعيِمَس

٥٥

Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Q.s An Nisa :58)

4. Jaminan Peminjaman

Jika si peminjam barang merusak atau menghilangkan barang yang ia pinjam maka ia wajib menjamin dan memberikan ganti rugi,baik karena pemakai yang berlebihan atau tidak. Pendapat ini dipegang oleh Ibnu Abbas, Abu Hurairah,Al-Syafi‟i berdasarkan

32

Artinya :” pemegang berkewajibanmenjaga apa yang telah ia terima, sampai dengan ia mengembalikan.”(HR Abu Daud, Tirmidzi,

Ibnu Majah,dan Ahmad)

Sementara para pengikut mahzhab Hanafi dan Maliki berpendapat bahwa si peminjam tidak berkewajiban menjamin/mengganti barang kecuali jika si peminjam melakukan tindakan yang berlebihan dan kelalaian yang menyebabkan barang tersebut rusak. Hal ini bersadarkan sabda Rasulullah SAW:

Artinya :”Tidaklah berkewajiban mengganti rugi orang yang

dititipkan yang tidak berkhianat, dan tidak pula peminjam yang

tidak berkhianat berkewajiban untuk mengganti keruhian ”(HR

Baihaqi dan Daruquthni).

Hukum Pemimjam Meminjam :

a. Mubah, artinya boleh. Ini merupakan Hukum asal dari Pinjam Meminjam.

b. Sunnah, artinya Pinjam Meminjam yang dilakukan merupakan suatu kebutuhan akan hajatnya lantaran dia tidak punya. Contoh : Meminjam sepeda untuk mengantar tamu, Meminjam uang untuk membayar sekolah.

c. Wajib, artinya Pinjam Meminjam yang merupakan kebutuhan yang sangat mendesak dan kalau tidak meminjam akan menemukan suatu kerugian. Contoh : ada seseorang yang tidak

33

punya kain lantaran Hilang/dicuri maka apabila tidak dipinjami kain kepada orang lain akan telanjang, hal ini wajib pinjam dan yang punya kain juga wajib meminjami.

d. Haram, artinya Pinjam Meminjam yang dipergunakan untuk kemaksiatan/berbuat jahat. Contoh : seseorang meminjami pisau untuk membunuh, pinjam rumah untuk berbuat maksiat.

A. Rukun Pinjam Meminjam :

1. Adanya Mu‟ir, yaitu orang yang meminjami. 2. Adanya Musta‟ir yaitu orang yang meminjam. 3. Adanya Musta‟ar yaitu barang yang akan dipinjam. 4. Dengan perjanjian waktu untuk mengembalikan

5. Adanya lafadz ijab dan qabul, yaitu ucapan rela dan suka atas barang yang dipinjam.

B. Macam-macam „Ariyah

Ditinjau dari kewenanganya, akad pinjam meminjam

(„ariyah) pada umumnya dapat dibagi menjadi dua macam :

1. „Ariyah Muqayyadah, yaitu bentuk pinjam meminjam

barang yang bersifat terikat dengan batasan tertentu. Dengan demikin, jika pemilik barang mensyaratkan pembatasan tersebut, berarti tidak ada pilihan lain bagi

pihak peminjam kecuali mentaatinya. „Ariyah ini biasanya

berlaku pada objek yang berharta, sehingga untuk mengadakan pinjam meminjam memerlukan syarat tertentu.

34

Pembatasan bisa tidak berlaku apabila menyebabkan

musta‟ir tidak dapat mengambil manfaat karena adanya syarat keterbatasan tersebut. Dengan demikian dibolehkan untuk melanggar batasan tersebut apabila terdapat kesulitan untuk menfaatkanya. Jika ada perbedaan pendapat antara

mu‟ir dan musta‟ir tentang lamanya waktu meminjam,

berat/nilai barang, tempat dan jenis barang maka pendapat yang harus dimenangkan adalah pendapat mu‟ir karena dialah pemberi izin untuk mengambil manfaat barang pinjaman tersebut sesuai dengan keinginanya.

2. „Ariyah Mutlaqah, yaitu bentuk pinjaman meminjam barang

yang bersifat tidak dibatasi. Melalui akad „Ariyah ini, peminjam diberi kebebasan untuk memanfaatkan barang pinjaman, meskipun tanpa ada pembatasan tertentu dari pemilknya. Biasanya ketika ada pihak yang membutuhkan pinjaman, pemilik barang yang sama sekali tidak memberikan syarat tertentu terkait objek yang akan dipinjamkan.

Contoh : seseorang meminjamkan kendaraan, namun dalam akad tidak disebutkan hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan kendaraan tersebut, misalnya waktu dan tempat mengendarainya.

35

Namun demikian harus disesuaikan dengan kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Tidak boleh menggunakan kendaraan tersebut siang malam tanpa henti. Jika penggunaanya tidak

sesuai dengan kebiasaan dan barang pinjaman rusak maka mu‟ir

harus bertanggung jawab.

C. Hak dan Kewajiban Pemberi Pinjaman :

1. Menyerahkan/ memberikan benda yang dipinjami dengan ikhlas dan suka rela.

2. Barang yang dipinjam harus barang yang bersifat tetap dan memberikan manfaat yang Halal.

3. Tidak didasarkan atas riba.

Hak dan Kewajiban Pinjaman :

1. Harus memelihara Pinjaman dengan Tanggung Jawab. 2. Dapat mengembalikan dengan tepat.

3. Biaya ditanggung Peminjam jika harus mengeluarkan Biaya. 4. Selama barang itu pada Pinjaman, tanggung jawab si

Peminjam.

D. Biaya ditanggung Peminjam jika harus mengeluarkan Biaya

Selama barang itu pada Pinjaman, tanggung jawab si Peminjam. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan:

1. Pinjam meminjam harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang baik.

36

2. Orang yang meminjam barang hanya boleh menggunakan barang sebatas yang diizinkan pemilik.

3. Merawat dengan baik

4. Jika barang yang dipinjam itu rusak/ hilang dengan pemakaian Sebatas yang diizinkan pemiliknya, maka peminjam tidak wajib mengganti.

5. Jika dalam proses mengembalikan barang itu memerlukan ongkos maka yang menanggung adalah pihak peminjam. E. Hikmah Pinjam Meminjam

Adapun hikmah dari „Ariyah yaitu :

1. Bagi Peminjam

a. Dapat Memenuhi kebutuhan seseorang terhadap manfaat sesuatu yang belum dimiliki.

b. Adanya kepercayaan terhadap dirinya untuk dapat memanfaatkan sesuatu yang ia sendiri tidak memilikinya. 2. Bagi yang Memberi Pinjaman

a.Sebagai manifestasi rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang telah dianugerahkan kepadanya.

b.Allah akan menambah nikmat kepada orang yang bersyukur. c.Membantu orang yang membutuhkan.

d.Meringankan penderitaan orang lain.

e.Disenangi sesama serta diakhirat terhindar dari ancaman Allah

37

2. Metode Pembelajaran Kooperatif Model Teams Games

Dokumen terkait