1.7. Sistematika Pembahasan
2.1.2. Pengertian Harga
Di dalam konsep Islam monopoli, oligopoli dan monopolistik tidak dilarang keberadaannya, selama mereka tidak mengambil keuntunggan yang besar atau mengambil keuntungan sebagaimana yang telah diatur dalam Islam.
2.1.2. Pengertian Harga
Dalam menafsirkan konsep tentang harga, tentu mempunyai banyak penafsiran. Harga adalah nilai suatu barang dan jasa yang diukur dengan jumlah uang yang dikeluarkan oleh seseorang/pembeli untuk mendapatkan sejumlah barang atau jasa yang di inginkan, dengan adanya harga, maka masyarakat dapat menjual suatu barang yang mereka miliki dengan harga yang umum dan dapat diterima oleh masyarakat setempat.12
Menurut Basu Swastha Harga adalah jumlah uang (yang ditambah beberapa barang) yang dibutuhkan untuk memperoleh beberapa kombinasi sebuah produk dan pelayanannya.13 Harga menurut Philip Kotler adalah sejumlah nilai atau uang yang diberikan oleh pelanggan dalam mendapatkan keuntungan dari memiliki atau mendapatkan produk barang dan jasa. Sedangkan menurut Tjiptono harga adalah satuan dari moneter atau ukuran lainnya (yang termasuk barang dan jasa) yang ditukarkan, agar memperoleh hak menggunakan suatu barang atau jasa tersebut.
Menurut Buchari Alma mengatakan bahwa dalam pengertian ekonomi, pengertian harga, nilai dan utility merupakan konsep yang berhubungan. Utility adalah suatu atribut yang melekat pada suatu barang, yang memungkinkan barang tersebut dapat memenuhi kebutuhan, keinginan dan memuaskan konsumen. Terdapatnya value yang merupakan nilai suatu produk untuk ditukarkan dengan produk yang lain. Nilai ini dapat dilihat dari barter yaitu pertukaran barang dengan barang. Sekarang dalam perekonomian sudah jarang menggunakan barter bahkan hampir tidak ada lagi orang yang menggunakan
12
Nurul Huda, Khamim Hudori, Rizal Fahlevi, dkk, Pemasaran Syariah Teori dan
Aplikasi (Jakarta: Kencana, 2017) hal. 129.
13
Bashu swastha dan Irawan, Manajemen Pemasaran Moder, (Yogyakarta: Liberty, 2005), hal. 241.
barter, melainkan menggunakan uang sebagai ukuran yang disebut sebagai harga. Maka harga merupakan sejumlah digunakan untuk menilai serta mendapatkan produk barang dan jasa untuk kebutuhan konsumen.
Harga memiliki dua peranan utama dalam proses pengambilan keputusan para pembeli, yaitu peranan alokasi dan peranan informasi:
a. Peranan alokasi dari harga, yaitu fungsi harga dalam membantu para pembeli untuk memutuskan cara memperoleh manfaat yang diharapkan pembeli sesuai dengan keinginannya. Dengan demikian adanya harga dapat membantu para pembeli dalam memutuskan cara mengalokasikan daya belinya pada berbagai jenis barang dan jasa. Pembeli membandingkan harga dari berbagai alterntif yang tersedia, kemudian memutuskan alokasi dana yang dikehendaki.
b. Peranan informasi dari harga, merupakan fungsi harga dalam memberikan informasi kepada konsumen mengenai faktor produk, seperti kualitas. Hal ini bermanfaat bagi konsumen yang kesulitan dalam menilai faktor produk atau manfaat secara objektif.
Jadi dari beberapa definisi di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan tentang harga yaitu sejumlah nilai atau uang yang dikeluarkan oleh konsumen untuk mendapatkan produk atau jasa yang diinginkan.
Harga dalam ekonomi Islam merupakan sesuatu kesepakan mengenai transaksi jual beli barang dan jasa dimana kesepakatan tersebut di setujui oleh kedua belah pihak. Harga tersebut harus di sepakati oleh kedua belah pihak dalam akad, baik sedikit maupun banyak atau sama dengan nilai barang dan jasa yang ditawarkan oleh pihak penjual kepada pembeli. Harga dalam perspektif hukum Islam juga harus mempunyai prinsip keadilan.
Harga yang adil ini dijumpai dalam beberapa kata, antara lain: si’ir
al-mithl, thamal al-al-mithl, dan qimah al adl.14 Adanya suatu harga yang adil telah
14
Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam, Ekonomi Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), hal. 351.
27 menjadi pegangan dalam transaksi Islami. Pada dasarnya transaksi bisnis harus dilakukan pada harga yang adil sebab ini adalah cerminan dari komitmen syariat Islam terhadap keadilan yang menyeluruh. Secara umum harga yang adil harga yang tidak menimbulkan penindasan sehingga merugikan salah satu pihak dan menguntungkan pihak lain. Harga yang mencerminkan manfaat bagi pembeli dan penjualnya secara adil, yaitu penjual mempunyai keuntungan yang normal dan pembeli bisa memperoleh manfaat yang setara dengan harga yang dibayarkan.
Harga tidak dapat dikatakan adil apabila harga tersebut terlalu rendah maka penjual atau produser tidak dapat mengembalikan modal semula. Sebaliknya, harga juga tidak boleh terlalu tinggi karena akan berdampak pada daya pembeli dan konsumen. Harga yang adil ini merupakan harga yang bisa menutupi semua biaya operasional produsen dengan margin laba tertentu, dan tidak merugikan para pembeli. Penentuan harga yang berlaku di pasar haruslah adil, sebab keadilan merupakan salah satu prinsip dasar dalam semua transaksi yang Islami. Bahkan keadilan sering kali di pandang sebagai intisari dari ajaran Islam dan nilai Allah sebagai perbuatan yang lebih dekat ketakwaan.
Adapun dalil yang menjelaskan harga yang adil Q.S An-Nisa’ ayat 29:
ضاَرَت نَع ةَراَجِت َنوُكَت نَأ َلِّإ ِلِطاَب لاِب مُكَن يَب مُكَلاَو مَأ اوُلُك أَت َلّ اوُنَمَآ َنيِذَلا اَهُّيَأ اَي
15
)٢۹ (ا ميِحَر مُكِب َناَك ََاللّ َنِإ مُكَسُف نَأ اوُلُت قَت َلَّو مُك نِم
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman jangan kamu saling memakan harta
sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dalam perdagangan atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh Allah maha penyayang kepadamu”.
15
Departemen Agama RI, al-Quran dan Terjemahan (Bogor: sygma exagrafika, 2017), hal. 83.
Berdasarkan ayat diatas, Allah melarang hamba-hambanya yang beriman memakan harta sesama secara bathil, yaitu dengan cara yang tidak disyariatkan dalam Islam.16 Cara bathil yang dimaksudkan disini mencakup harta yang diambil sebagai alat tukar di dalam transaksi rusak atau batil, seperti tindakan seseorang menjual barang yang tidak mereka miliki, harga penjualan makanan rusak yang tidak bisa dimanfaatkan secara nyata, kemudian harga penjualan barang yang tidak memiliki nilai dan manfaat yang dianggap syar’i misalnya babi, ker, lalat dan alat permainan sia-sia.17 Maka barang siapa menjual barang yang rusak dan mengambil harga penjualannya, maka harga tersebut haram dan buruk, ia harus mengembalikan kepada pemiliknya.
Akan tetapi, boleh mengambil harta orang lain dengan kerelaan hati masing-masing dan sesuai dengan akad-akad yang berlaku dalam syariat, misalnya pinjam meminjam, jual beli dan sewa menyewa, berdasarkan firman Allah SWT, “....kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama
suka diantara kamu...” yaitu makanlah harta yang dihasilkan dari perdagangan
yang saling ridha dan tidak merugikan salah satu pihak.
Surat Al-Baqarah ayat 279
مُكِلاَو مَأ ُسوُؤُر مُكَلَف مُت بُت نِإَو ِهِلوُسَرَو ِ هاللّ َنِّم ب رَحِب اوُنَذ أَف اوُلَع فَت مَل نِإَف
18
)٢۹۹( َنوُمَل ظُت َلَّو َنوُمِل ظَت َلّ
Artinya: “maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) makaketahuilah, bahwa Allah dan Rasulnya akan memerangi dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.
16
Abu Fida’ ‘Imaduddin Isma’il bin Umar bin Katsir al-Qurasyi al-Bushrawi (Ibnu Katsir), Tafsir Ibnu Katsir Jilid Tiga, (Solo: Insan Kamil Solo, 2015), hal. 355.
17
Wahbah, Az-Zuhaili, tafsir Al-Wasith (Al-Fatihah-At-Taubah), (Jakarta: Gema Insani, 2012), hal. 280.
18
Departemen Agama RI, Al-quran dan Terjemahan, (Bogor: sygma exagrafika, 2017), hal. 47.
29 Islam menganjurkan untuk berlaku adil dan berbuat kebaikan seperti dalam hal perniagaan dimana berlaku adil dapat diterapkan seperti menentukan mutu dan ukuran, takaran dan timbangan. Apabila kita hidup berlaku adil, maka kita akan selalu dekat dengan Allah. Oleh karena itu berlaku adil tidak membuat orang tertipu dengan kehidupan dunia. Dalam Islam sangatlah dilarang bahkan membawa kondisi yang mengarah pada suatu keraguan yang menyesatkan atau
gharar. Dalam al-Quran Surat Hud ayat 85 dinyatakan:
َلَّو ۖ ِط سِق لٱِب َناَزيِم لٱَو َلاَي كِم لٱ ۟اوُف وَأ ِم وَقََٰيَو
ِف ۟ا وََ عَت َلَّو مََُُءاَي َْأ َساَنلٱ ۟اوُسََ بَت
19
)٥٨( َنيِدِس فُم ِض رَ لْٱ
Artinya : “Dan wahai kaumku! Penuhilah takaran dan timbangan dengan adil,dan janganlah kamu merugikan manusia menyangkut hak-hak mereka dan jangan kamu membuat kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan”.
Dari penjelasan diatas Nabi Syu’aib as menegaskan perlunya menyempurnakan timbangan. Ayat ini melanjutkan bahwa: Dan Nabi Syu’aib as, berkata: “wahai kaumku sempurnakanlah sekuat kemampuan kamu takaran
dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia, yakni berlaku curang atau aniaya hak-hak mereka dan jangan kamu membuat
kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan.20
Menepati takaran dan timbangan yang adil, baik saat menerima maupun memberi. Ini berkaitan dengan larangan berlaku curang (mengurangi hak) untuk menegaskan bahwa menghindari kecurangan dengan sengaja saja tidak cukup, akan tetapi mereka mesti menyempurnakan dan menempati meskipun dengan tambahan sedikit.
19
Ibid, hal. 231.
20
M. Quraish, Shihab, Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan dan Keserasian al-Quran, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hal. 321.