• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Hukum Waris Islam

Dalam dokumen NIKAH MENURUT HUKUM ISLAM TESIS (Halaman 34-38)

BAB II KAJIAN TEORI

1. Pengertian Hukum Waris Islam

Sebagai orang Islam menjadi suatu keharusan untuk dekat dengan keislamannya. Untuk mendekatkan orang Islam dengan keislamannya salah satunya adalah harus paham dan menggunakan hukum. Dalam hal ini salah satunya adalah pembagian waris.

Hukum waris merupakan bagian terkecil dari hukum kekeluargaan.

Hukum waris sangat erat kaitannya dengan ruang lingkup kehidupan manusia, sebab manusia pasti akan mengalami peristiwa hukum yang dinamakan kematian. Akibat hukum yang timbul selanjutnya adalah masalah bagaimana pengurusan kelanjutan hak-hak dan kewajiban seseorang yang telah meninggal dunia tersebut. Penyelesaian hak-hak dan kewajiban sebagai akibat meningganya seseorang diatur oleh hukum waris.

Kata waris berasal dari lafadz bahasa arab yakni mirats. Bentuk jamak dari mawaris yang berarti harta peninggalan orang yang telah meninggal dunia dan hendak dibagikan kepada ahli warisnya. Menurut istilah, mawaris dikhususkan untuk suatu bagian ahli waris yang telah ditetapkan dan ditentukan besar kecilnya oleh syara’, yaitu harta yang beralih kepada ahli waris yang masih hidup.1

Makna al-mirats (waris) menurut istilah yakni berpindahnya hak kepemilikan dari seseorang yang sudah meninggal dunia kepada ahli

1Faqih Aunur Rahim, Mawaris:Hukum Waris Islam, (Yogyakarta: UII Press, 2017), h. 3-4

warisnya yang masih hidup baik yang ditingalkan itu berupa harta (uang), tanah (benda) atau apa saja yang berupa hak milik secara syar’i.2

Kewarisan yang disebut juga sebagai faraidh berari bagian tertentu dari harta warisan sebagaimana yang sudah diatur dalam nash Al-Qur’an dan hadits sehingga dapat disimpulkan bahwa pewarisan adalah perpindahan hak dan kewajiban tentang kekayaan seseorang yang sudah meninggal dunia terhadap orang-orang yang masih hidup dengan bagian- bagian yang sudah ditetapkan.3

Hukum kewarisan Islam pada intinya adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan atau tirkah dari pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya.4 Dapat dipahami bahwa substansi dari kewarisan Islam adalah pengaturan tentang peralihan milik dari si mayit (pewaris) kepada ahli warisnya.

Tirkah adalah sejumlah harta yang dimiliki oleh orang yang meninggal dunia semasa hidupnya seperti hewan buruan hasil tangkapan atau hutang yang kemudian dibebaskan oleh si pemilik hutang setelah ia meninggal dunia atau ada yang dengan sukarela seseorang telah membayarnya.5

Hukum waris Islam adalah aturan yang mengatur peralihan harta dari seorang yang meninggal dunia kepada ahli warisnya. Hal ini juga berarti menentukan siapa-siapa yang akan menjadi ahli waris, dan bagian

2 Syamsulbahri Salihima, Perkembangan Pemikiran Pembagian Warisan dalam Hukum Islam dan Implementasinya pada Pengadilan Agama, (Jakarta: Kencana, 2015), h. 28

3 Habiburrahman, Rekonstruksi Hukum Kewarisan Islam di Indonesia, (Jakarta: PT.

Kencana, 2011), h. 18

4Kompilasi Hukum Islam, Pasal 171 huruf a

5Beni Ahmad Saebani, Fiqh Mawaris, Cetakan ke 1 (Bandung: Pustaka Setia, 2009), h.15

masing-masing ahli waris.6Warisan atau harta peninggalan menurut hukum Islam yaitu sejumlah harta benda serta segala hak dari yang meninggal dunia dalam keadaan bersih.7 Yang artinya harta peninggalan yang diwarisi oleh para ahli waris adalah sejumlah harta benda serta segala hak setelah dikurangi dengan pembayaran sejumlah hutang-hutang pewaris dan pembayaran yang lain yang diakibatkan oleh wafatnya si pemilik harta.

Secara terminologi, hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur pembagian warisan, mengetahui bagian-bagian yang diterima dari harta peninggalan, siapa-siapa orang yang berhak mewarisi dan tidak serta cara-cara pembagiannya tentang apa dan bagaimana hak-hak dan kewajiban kekayaan seseorang pada waktu ia meninggal akan beralih kepada orang lain yang masih hidup.8

Kepastian meninggalnya seseorang yang mempunyai harta dan kepastian hidupnya sang ahli waris pada saat meninggalnya pewaris menunjukkan bahwa perpindahan hak atas harta dalam bentuk kewarisan tergantung seluruhnya pada saat yang pasti. Oleh sebab itu, meninggalnya pemilik harta dan hidupnya ahli waris merupakan pedoman untuk menetapkan peristiwa pelaksanaan hukum kewarisan Islam. Penetapan pemilik harta yang meninggal dan ahli waris yang masih hidup sebagai syarat mutlak menentukan terjadinya kewarisan dalam hukum Islam, berarti hukum Islam bertujuan untuk menyelesaikan secara tuntas masalah harta warisan orang yang meninggal dunia.

6Zainudin Ali, Pelaksanaan Hukum Waris Di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2010), h.

90

7Rosnidar Sembiring, Hukum Keluarga (Harta-Harta Benda dalam Perkawinan), Cetakan Pertama, (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), h. 197

8 Ahmad Rofiq, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013), h. 282

Dari pengertian hukum waris Islam diatas, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa hukum waris Islam adalah hukum yang mengatur mengenai peralihan kepemilikan harta peninggalan dari seseorang yang didapat ketika masih hidup dan setelah orang tersebut meninggal dunia harta itu menjadi milik keluarga yang ditinggalkan, menetapkan siapa-siapa saja yang berhak menjadi ahli waris, dan mengatur kapan waktu pembagian harta kekayaan pewaris itu dilaksanakan.

Harta warisan adalah benda yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia yang menjadi hak ahli waris. Harta itu merupakan sisa setelah diambil untuk berbagai kepentingan seperti perawatan jenazah maupun hutang.9

Pada dasarnya proses beralihnya harta kekayaan seseorang kepada ahli warisnya akan terjadi jika hanya ada sebab kematian. Oleh sebab itu, pewarisan baru akan terjadi setelah terpenuhi tiga persyaratan berikut:10 a. Ada seseorang yang meninggal dunia

b. Ada seseorang yang masih hidup sebagai ahli waris yang akan memperoleh harta waris pada saat pewaris telah meninggal dunia.

c. Ada sejumlah harta kekayaan yang ditinggalkan oleh pewaris.

Ketiga unsur persyaratan tersebut pada proses pelaksanaannya penerusan harta kepada yang berhak menerima sering menimbulkan permaslahan sebagai berikut:

9 Abdul Ghofur Anshori, Hukum Kewarisan Islam di Indonesia: Eksistensi dan Adaptabilitas, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2012), h. 6

10Rosnidar Sembiring, Hukum Keluarga (Harta-Harta Benda dalam Perkawinan),... h. 188

a. Unsur pertama menimbulkan permasalahan bagaimana dan sampai dimana hubungan seseorang yang meninggal dunia yang meninggalkan harta waisan dengan kekayaannya dipengaruhi oleh sifat lingkungan kekeluargaan dimana si pewaris itu berada.

b. Unsur kedua menimbulkan permasalahan bagaimana dan sampai dimana harus ada hubungan ikatan kekeluargaan antara peninggal warisan dan ahli wais.

c. Unsur ketiga menimbulkan persoalaan bagaimana dan sampai dimana wujud kekayaan yang beralih itu dipengaruhi oleh sifat lingkungan kekluargaan dimana si peninggal warisa dan ahli waris berada

Apabila seseorang telah meninggal dunia, maka seketika itu pula segala hak dan kewajibannya beralih kepada ahli warisnya. Hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang beralih pada ahli waris termasuk harta kekayaan atau hanya hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan uang.

2. Dasar Hukum Waris Islam

Dalam dokumen NIKAH MENURUT HUKUM ISLAM TESIS (Halaman 34-38)

Dokumen terkait