BAB II LANDASAN TEOR
12. Pengertian IHSG, SBI, kurs, PDB, dan inflasi
IHSG menggambarkan suatu rangkaian informasi historis mengenai pergerakan harga saham gabungan seluruh saham, sampai pada tanggal tertentu. Biasanya pergerakan saham tersebut disajikan setiap hari, berdasarkan harga penutupan bursa pada hari tersebut. Indeks tersebut disajikan untuk periode tertentu. Dalam hal ini mencerminkan suatu nilai yang berfungsi sebagai pengukuran kinerja suatu saham gabungan di bursa efek.
Indeks harga saham gabungan seluruh saham adalah suatu nilai yang digunakan untuk mengukur kinerja gabungan seluruh saham yang tercatat di suatu bursa efek. Meksud gabungan seluruh saham ini adalah kinerja saham yang dimasukkan dalam perhitungan seluruh saham yang tercatat di bursa tersebut (Sunariyah, 1997 : 126).
Menurut Ronny Pramulia (2009 : 30) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merupakan suatu indikator yang secara umum mencerminkan kecenderungan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia. IHSG di BEI disebut juga composite index yang dihitung berdasarkan rata-rata tertimbang dari seluruh saham yang listing di BEI.
Indeks komposit merupakan indikator yang secara umum mencerminkan kecenderungan pergerakan harga saham di Bursa Efek. Perhitungan Indeks Saham dilakukan secara terus-menerus dengan berpatok pada harga saham terakhir yang terjadi di Bursa Efek yang bersangkutan.
Pergerakan nilai indeks akan menunjukkan perubahan situasi pasar yang terjadi. Pasar yang sedang bergairah atau terjadi transaksi yang aktif, ditunjukkan dengan indeks saham yang mengalami kenaikan. Sedangkan keadaan stabil ditunjukkan indeks harga saham yang tetap, dan keadaan pasar lesu ditunjukkan dengan indeks harga saham yang mengalami penurunan.
Indeks Harga Saham Gabungan / IHSG (Indeks Bursa Indonesia) mempunyai dasar perhitungan sebagai berikut :
Indeks = Harga pasar Harga Dasar
IHSG = Nilai Pasar
Keterangan :
Nilai Pasar = Jumlah Saham Tercatat x Harga Pasar Terakhir Nilai Dasar = Jumlah Saham Tercatat x Harga Perdana
Nilai Pasar adalah kumulatif jumlah saham hari ini dikali harga pasar hari ini (kapitalisasi pasar), atau ditulis dengan formula :
x 100 Nilai dasar
Nilai Pasar =
Dimana :
c = Closing price (harga yang terjadi) untuk emiten ke-i. n = jumlah saham yang digunakan untuk penghitungan
indeks (jumlah saham yang tercatat) untuk emiten ke-i
N = jumlah emiten yang tercatat di BEI
Nilai dasar adalah kumulatif jumlah saham yang tercatat dikali harga perdana. Perhitungan Indeks di BEI menggunakan metode
weighted average (pembobotan berdasarkan kapitalisasi pasar).
Kelemahannya, jika ada saham yang mempunyai jumlah saham yang sangat besar, maka saham tersebut akan sangat mendominasi pergerakan indeks, sehingga tidak lagi menggambarkan pergerakan pasar secara keseluruhan. Contohnya : pada tanggal 5 April 2009, Bank Syariah X mencatatkan saham sebanyak 217,3 miliar lembar atau 53% dari jumlah seluruh saham yang tercatat di BEI. Akibatnya bobot Bank Syariah X sangat besar dan berpengaruh terhadap perubahan indeks. Jika harganya berubah 1 point (Rp 25) maka indeks akan berubah sebesar 10.862 point atau 2,75%.
b. SBI
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek (1-3 bulan) dengan sistem diskonto/bunga.
SBI merupakan salah satu mekanisme yang digunakan Bank Indonesia untuk mengontrol kestabilan nilai Rupiah. Dengan menjual SBI, Bank Indonesia dapat menyerap kelebihan uang primer yang beredar.
Tingkat suku bunga yang berlaku pada setiap penjualan SBI ditentukan oleh mekanisme pasar berdasarkan sistem lelang. Sejak awal Juli 2005, BI menggunakan mekanisme "BI rate" (suku bunga BI), yaitu BI mengumumkan target suku bunga SBI yang diinginkan BI untuk pelelangan pada masa periode tertentu. BI rate ini kemudian yang digunakan sebagai acuan para pelaku pasar dalam mengikuti pelelangan.
Beberapa uraian penting tentang SBI dijelaskan sebagai berikut (Khomarul Hidayat, 2006 : 43) :
1) Pengertian SBI
SBI adalah surat berharga atas unjuk dalam rupiah yang diterbitkan oleh BI sebagai pengakuan hutang berjangka waktu pendek dengan sistem diskonto.
2) Tujuan Penerbitan SBI
Sebagai otoritas moneter, BI berkewajiban memelihara kestabilan nilai Rupiah. Dalam paradigma yang dianut, jumlah uang primer (uang kartal + uang giral di SBI) yang berlebihan dapat mengurangi kestabilan nilai rupiah. SBI diterbitkan dan dijual oleh BI untuk mengurangi kelebihan uang primer tersebut.
3) Karakteristik SBI
Terdapat beberapa karakteristik SBI, antara lain : (Siamat : 2004)
a) Jangka waktu maksimum 12 bulan bulan dan sementara diterbitkan untuk jangka waktu 1 dan 3 bulan.
b) Denominasi : dari yang terendah Rp 50 juta sampai ynag tertinggi Rp 100 miliar.
c) Pembelian SBI oleh masyrakat minimal Rp 100 juta, dan selebihnya dengan kelipatan Rp 50 juta.
d) Pembelian SBI didasarkan pada nilai tunai yang diperoleh dari rumus berikut ini :
Nilai nominal x 360
360 + (Tingkat Diskonto x Jangka Waktu)
e) Pembeli SBI memeroleh hasil berupa diskonto yang dibayar di muka. Besarnya diskonto adalah nominal dikurangi dengan nilai tunai.
f) Pajak Penghasilan (PPh) atas diskonto dikenakan secara final sebesar 15%
4) Tata cara transaksi penjualan SBI
a) penjualan SBI dilakukan melalui lelang. Jumlah SBI yang akan dilelang diumumkan setiap hari selasa
b) lelang dilakukan setiap hari rabu dan dapat diikuti oleh seluruh bank umum, pialang pasar uang dan pilanag pasar modal dengan penyelesaian transaksi hari kamis.
c) dalam pelaksanaan lelang, masing-masing peserta mengajukan penawaran jumlah SBI yang ingin dibeli beserta tingkat diskontonya. Pemenang lelang akan di prioritaskan pada peserta yang mengajukan penawaran tingkat diskonto yang relatif rendah, dengan batasan atas jumlah SBI yang dilelang. Contoh ada 6 peserta lelang, dan jumlah SBI yang dilelang adalah Rp 5 miliar. Peserta A, B, dan C sudah dinyatakan sebagai pemenang dengan jumlah total penawaran Rp 4,5 miliar dan tingkat diskonto yang lebih rendah dari peserta DEF. sisanya Rp 500 juta diperebutkan oleh peserta DEF, dan pemenangnya adalah D karena tingkat diskontonya lebih rendah dari peserta EF. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 2.1
Contoh Hasil Lelang SBI Target Lelang Rp 5 Miliar
Peserta Jumlah penawaran Suku bunga Jumlah kumulatif A Rp 1.500.000.000 20% 1.500.000.000 B 1.000.000.000 26% 2.500.000.000 C 2.000.000.000 30% 4.500.000.000 D 2.000.000.000 34% 5.000.000.000 E 730.000.000 37% - F 1.200.000.000 40% -
Sumber : Khomarul Hidayat, 2006
Keterangan :
Peserta A, B, dan C menang lelang Peserta D menang sebagian (Rp 500 juta) Peserta E dan F kalah lelang
c. Kurs
Kurs mata uang menunjukkan bagaimana nilai uang tersebut terhadap mata uang asing. Nilai tukar uang antara satu negara dengan negara lain cenderung berbeda-beda. Perbedaan ini ditimbulkan oleh perbedaan antara permintaan dan ketersediaan dari mata uang yang diminta oleh suatu negara dalam melakukan hubungan dengan negara lain. Hubungan tersebut dapat berupa kegiatan meminjam, atau kegiatan investasi atau penyediaan pinjaman.
Dari perbedaan inilah mata uang bisa mengalami apresiasi (naik) ataupun depresiasi (turun) terhadap nilai mata uang asing. Faktor-faktor yang mempengaruhi nlai tukar mata uang antara lain :
• Tingkat inflasi
• Tingkat suku bunga
• Tingkat pendapatan masyarkat
• Pengendalian oleh pemerintah
• Harapan/ekspektasi dari spekulan
Menurut Kamus Lengkap Ekonomi (2000 : 503-504) dalam Ronny Pramulia (2009 : 34). Nilai tukar 1 kurs (exchange rate) adalah harga, dimana mata uang suatu negara dapat dikonversikan manjadi
mata uang negara lain. Tipe rate yang digunakan di sini adalah
indirect exchange rate, dimana rate itu merefleksikan jumlah suatu
mata uang lokal terhadap satu unit US$.
Indirect exchange rate diformulasikan dalam persamaan berikut :
VCA/US = VCA US$ Keterangan :
VCA/US$ : value of 1 units of currency A in units of currency B (nilai 1 unit mata uang A dalam unit mata uang B)
VCA : value of currency A (nilai mata uang lokal A) Nilai tukar mata uang suatu negara diukur dari value satu unit mata uang terhadap mata uang negara lain. Apabila kondisi ekonomi negara berubah, maka nilai tukarnya pun akan berubah secara substansial. Penurunan nilai suatu mata uang disebut depresiasi dan kenaikannya disebut apresiasi. Apabila “S” adalah nilai spot rate dan “St-1” adalah nlai tukar mata uang waktu sebelumnya, maka prosentase perubahan nilai tukar terhadap mata uang asing tersebut adalah S-St-1/St1 (Madura 2000 dalam Asmila, 2001). Jika presentasenya positif, maka akan dikatakan apresiasi dan depresiasi apabila nilai persentasenya negatif.
Perubahan nilai tukar (kurs) akan mempengaruhi konsumen karena pengaruh dari harga barang-barang impor. Pada saat kurs
tinggi maka barang-barang impor menjadi mahal sehingga masyarakat tidak akan membeli barang impor melainkan menggantinya dengan mengkonsumsi produk dalam negeri, baik itu berupa barang modal ataupun barang konsumsi. Bagi barang yang diproduksi dengan menggunakan faktor produksi impor kondisi ini akan meningkatkan biaya produksi yang akhirnya akan menyebabkan harga jual barang yang tinggi. Meningkatnya harga barang tersebut tentunya akan menyebabkan masyarakat atau perusahaan harus menambah jumlah dana yang disediakan untuk dikonsumsi. Sehingga secara tidak langsung dapatlah dinyatakan daya beli masyarakat melemah, dalam arti pendapatan riil mengalami penurunan.
Dari sudut pandang mikroekonomi, perubahan nilai tukar mata uang asing akan diikuti oleh perubahan pada portofolio perusahaan- perusahaan multinasional. Apresiasi dari mata uang domestik cenderung akan menurunkan keuntungan dari perusahaan, yang kemudian akan tercermin dari menurunnya harga sahamnya. Dari perspektif makro ekonomi, apresiasi nilai tukar mata uang asing yang menganut nilai tukar fleksibel akan mengurangi daya saing dari produknya dan akan menurunkan harga sahamnya. Dari sudut pandang ini, perubahan nilai tukar mata uang akan diikuti dengan perubahan harga saham dan hal ini dikenal dengan pendekatan tradisional (Granger, 1990 dalam Ronny Pramulia 2009 : 36).
Perubahan nilai tukar pun akan mempengaruhi perkembangan ekspor impor yang tentunya akan mempengaruhi kinerja perusahaan. Jika kinerja perusahaan semakin baik, maka harga saham semakin mahal. Perubahan nilai tukar pun akan dapat mendorong investor asing pasar finansial untuk menambah pembelian dan penjualan sekuritas dari suatu negara. Saat nilai tukar USD melemah, investor asing akan membeli saat nilai tukar menguat. (Ronny Pramulia 2009 : 36).
Akan tetapi pasar modal semakin berkembang. Perubahan harga saham dan nilai tukar mata uang lebih merfleksikan pergerakan arus modal. Poin penting dari pendekatan portofolio adalah penurunan harga saham mengakibatkan penurunan kekayaan para investor domestik di mana pada gilirannya akan mendorong permintaan akan uang dam hampir dipastikan akan menurunkan tingkat suku bunga. d. PDB
PDB diartikan sebagai nilai keseluruhan output semua barang dan jasa yang diproduksi di dalam wilayah Indonesia dalam jangka waktu tertentu yang dihitung adalah semua barang dan jasa yang digunakan oleh pengguna akhir dan bukan yang digunakan untuk proses produksi selanjutnya.
Beberapa definisi tentang PDB/GDP (Gross Domestic Product), meliputi (Blancard, 2000 dalam Hamid Ponco Wibowo, 2006 : 37) :
1) GDP adalah nilai “barang dan jasa final” yang dihasilkan dalam suatu ekonomi dalam periode tertentu.
2) GDP adalah jumlah nilai tambah yang dihasilkan oelh suatu ekonomi dalam periode tertentu.
3) GDP adalah jumlah pendapatan dalam suatu ekonomi pada periode tertentu.
Mankiw (2006) merumuskan persamaan indentitas yang menggambarkan komponen-komponen dari PDB. Persamaan tersebut adalah sebagai berikut:
Y = C+ I + G +NX Keterangan : Y = PDB C = konsumsi I = investasi G = belanja Negara NX = ekspor neto 1. Konsumsi
Konsumsi (consumption) adalah pembelanjaan barang dan jasa oleh rumah tangga. “Barang” mencakup pembelanjaan rumah tangga pada barang yang tahan lama, seperti kendaraan dan perlangkapan,dan barang tidak tahan lama seperti makanan dan pakaian. “ Jasa” mencakup barang yang tidak berwujud konkret, seperti pangkas rambut dan perawatan kesehatan. Pembelanjaan
rumah tangga atas pendidikan juga dimaksudkan sebagai konsumsi jasa (walaupun seseorang dapat saja berpendapat bahwa hal itu lebih cocok berada di komponen selanjutnya).
2. Investasi
Investasi (investment) adalah pembelian barang yang nantinya akan digunakan untuk memproduksi lebih banyak barang dan jasa. Inveetasi adalah jumlah dari pembelian peralatan modal, persediaan, dan bangunan atau struktur. Investasi pada bangunan mencakup pengeluaran untuk mendapatkan tempat tinggal baru. Menurut kesepakatan bersama, pembelian tempat tinggal baru. Menurut kesepakatan bersama, pembelian tempat tinggal baru merupakan satu bentuk pembelanjaan rumah tangga yang dikategorikan sebagai investasi dan bukan sebagai konsumsi.
3. Belanja Pemerintah
Belanja pemerintah (government purchase) mencakup pembelanjaan barang dan jasa oleh pemerintah daerah, dan pemerintah pusat. Belanja pemerintah mencakup upah pekerja pemerintah dan pembelanjaan untuk kepentingan umum.
4. Ekspor Neto
Ekspor neto (neto exports) sama dengan pembelian produk dalam negeri oleh orang asing (ekspor) dikurangi pembelian produk luar negeri oleh warga Negara (impor). Penjualan yang dilakukan sebuah perusahaan dalam negeri kepada pembeli di
Negara lain seperti penjuaan Boeing kepada British Airways akan meningkatkan ekspor neto AS.
e. Inflasi
Definisi inflasi adalah kecenderungan kenaikan harga barang dan jasa secara umum yang berlangsung terus menerus. Kenaikan harga satu atau dua barang tidak dapat disebut inflasi kecuali kenaikan harga tersebut meluas kemana-mana. (Abimanyu, 2004 : 13 dalam Khomarul Hidayat, 2006 : 46)
Dari definisi tersebut dapat dikatakan bahwa kenaikan satu atau beberapa barang pada saat tertentu dan hanya “sementara” belum tentu menimbulkan inflasi.
Menurut Murni (2006 : 203) dalam Khomarul Hidayat (2006 : 46) mendefinisikan inflasi sebagai suatu kejadian yang menunjukkkan kenaikan tingkat harga secara umum dan berlangsung secara terus menerus. Berdasarkan definisi ini ada tiga kriteria yang perlu diamati untuk melihat telah terjadinya inflasi, yaitu kenaikan harga, bersifat umum dan terjadi terus menerus.
Inflasi merupakan bagian dari keadaan perekonomian yang akan dialami oleh suatu negara, hanya saja setiap negara memiliki tingkat inflasi yang berbeda-beda. Untuk mengukur tingkat inflasi dapat menggunakan Indeks Harga Konsumen.
Selain itu dalam beberapa istilah penggunaan inflasi digunakan untuk mengartikan peningkatan persedian uang, yang kadangkala
dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Beberapa ekonom (dari beberapa sekolah di Austria) masih menggunakan arti ini dan peningkatan harga-harga. Inflasi yang terjadi dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang berbeda-beda. Babarapa penyebab inflasi diantaranya bisa disebabkan oleh sektor ekspor impor, tabungan atau investasi, pengeluaran dan penerimaan negara, sektor pemerintah dan swasta.
Menurut Ronny Pramulia (2009 : 23), inflasi adalah gejala kenaikan harga barang-barang yang bersifat umum dan terus menerus. Tingkat harga yang melambung sampai 100% atau lebih dalam setahun (hyperinflasi), akan menyebankan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap mata uang, sehingga masyarakat akan cenderung untuk menyimpan aktiva mereka dalam bentuk lain instrumen investasi selain deposito.
Menurut Sukirno (2004), berdasarkan derajatnya, inflasi dibedakan menjadi sebagai berikut:
a. Inflasi ringan, terjadi apabila kenaikan harga berada dibawah angka 10% setahun.
b. Inflasi sedang, terjadi apabila kenaikan harga berada antara 10%- 30% setahun.
c. Inflasi berat, terjadi apabila kenaikan harga berada antara 30%- 100% setahun.
d. Hiperinflasi (inflasi tak terkendali), terjadi apabila berada di atas 100% setahun.
Menurut Sukirno (2004:333), berdasarkan kepada sumber atau penyebabnya kenaikan harga-harga berlaku, inflasi biasanya dibedakan kepada tiga bentuk berikut:
a. Inflasi Tarikan Permintaan
Inflasi ini biasanya terjadi pada masa perekonomian berkembang dengan pesat. Kesempatan kerja yang tinggi menciptakan tingkat pendapatan yang tinggi dan selanjutnya menimbulkan pengeluaran yang melebihi kemampuan ekonomi mengeluarkan barang dan jasa. Pengeluaran-pengeluaran yang berlebihan ini akan menimbulkan inflasi.
b. Inflasi Desakan Biaya
Kenaikan harga-harga yang disebabkan oleh kenaikan dalambiaya produksi sebagai akibat kenaikan harga bahan mentah atau kenaikan upah. Inflasi ini terurama berlaku dalam masa perekonomian berkembang dengan pesat ketika pengangguran adalah sangat rendah. Apabila perusahaan-perusahaan masih menghadapi permintaan yang bertambah, mereka akan berusaha menaikkan produksi dengan cara memberikan gaji dan upah yang lebih tinggi kepada pekerjanya dan mencari pekerjaan baru dengan tawaran pembayaran yang lebih tinggi ini. Langkah ini
mengakibatkan biaya produksi meningkat, yang akhirnya akan menyebabkan kenaikan harga-harga berbagai barang.
c. Inflasi Diimpor
Kenbaikan harga-harga yang disebabkan oleh kenaikan harga-arga barang impor yang digunakan sebagai bahan mentah produksi dalam negeri. Inflasi ini aka nada apabila barng-barang impor yang mengalami kenaikan harga mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan pengeluaran-pengeluaran perusahaan.
Menurut Sukirno (2004: 338), efek-efek buruk dari inflasi yaitu sebagai berikut :
1. Inflasi dan Perkembangan Ekonomi
Inflasi yang tinggi tingakatnya akan menggalakkan perkembangan ekonomi. Biaya yang terus menerus naik menyebabkan kegiatan produktif sangat tidak menguntungkan. Maka pemilik modal biasanya lebih suka menggunakan uangnya untuk tujuan spekulasi. Investasi produktif akan berkurang dan tingkat kegiatan ekonomi akan menurun. Sebagai akibatnya lebih banyak pengangguran akan terwujud.
Kenaikan harga-harga juga menimbulkan efek buruk pula ke atas perdagangan. Kenaikan harga menyebabkan barang- barang Negara itu tidak dapat bersaing di pasaran internasional, selamjutnya ekspor akan menurun. Sebaliknya, harga-harga produksi dalam negeri yang semakin tinggi sebagai akibat inflasi
menyebabkan barang-barang impor relatif murah, maka lebih banyak impor yang dilakukan. Ekspor yang menurun dan diikuti oleh impor yang bertambah menyebabkan ketidakseimbangan dalam aliran mata uang asing. Kedudukan neraca pembayaran akan memburuk.
2. Inflasi dan Kemakmuran Rakyat
Disamping menimbulkan efek buruk ke atas kegiatan ekonomi Negara inflasi juga akan menimbulkan efek-efek terhadap individu dan masyarakat.
3. Inflasi akan menurunkan pendapatan riil orang-orang yang berpendapatan tetap.
Pada umumnya kenaikan upah tidaklah secepat kenaikan harga-harga. Maka inflasi akan menurunkan upah riil individu- individu yang berpendaptan tetap. Sehingga daya beli masyarakat juga akan menurun.
4. Inflasi akan mengurangi nilai kekayaan yang berbentuk uang. Sebagian kekayaan masyarakat disimpan dalam bentuk uang. Simpanan di bank, simpanan tunia, dan simpanan dalam institusi-institusi keuangan lain merupakan simpanan keuangan. Nilai riinya akan menurun apabila inflasi berlaku.
5. Memperburuk pembagian kekayaan
Telah ditunjukkan bahwa penerima pendapatan tetap akan menghadapi kemorosotan dalam nilai riil pandapatnya, dan
pemilik kekayaan bersifat keuangan mengalami penurunan dalam nilai riil kekayaannya. Juga sebagian penjual/pedagang dapat mempertahankan nilai riil pendapatannya. Dengan demikian inflasi menyebabkan pembagian pendapatan diantara golongan berpendapat tetap dengan pemilik-pemilik harta tetap dan penjual/pedagang akan menjadi semakin tidak merata
Menurut Sukirno (2004 :354), kebijakan yang mungkin dilakukan pemerintah untuk mengatasi inflasi yaitu:
1. Kebijakan fiskal, yaitu dengan menambah pajak dan mengurangi pengeluaran pemerintah.
2. Kebijakan moneter, yaitu dengan menaikkan suku bunga dan membatasi kredit.
3. Dari segi penawaran yaitu dengan melakukan langkah yang dapat mengurangi biaya produksi dan menstabilkan harga seperti mengurangi pajak impor dan pajak atas pajak atas bahan mentah, melakukan penetapan harga, menggalakkan pertambahan produkso dan perkembangan teknologi