• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Pembentukan Karakter Siswa

1. Pengertian Karakter

Character isn‟t inherited, one builds its daily by the way one thinks

and acts, thought by thought, action by action (Helen G.Doudlas)62. Artinya karakter tidak diwariskan, tetapi sesuatu yang dibangun secara berkesinambungan hari demi hari melalui pikiran dan perbuatan, pikiran demi pikiran, tindakan demi tindakan. Karakter dimaknai sebagai cara berpikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang dapat membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusannya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, karakter merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Dengan demikian karakter adalah nilai-nilai yang unik dan baik yang terpatri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku.63

Mengacu pada pengertian di atas, maka karakter dapat dimaknai sebagai nilai dasar yang membangun pribadi seseorang, terbentuk baik

62

Helen G.Doudlas sebagaimana di kutip oleh Muchlas Samani dan Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter, (Bandung:PT Remaja Rosdakarya. 2011), h. 41.

63

Kementerian Pendidikan Nasional sebagaimana yang dikutip oleh Muchlas Samani dan Hariyanto, konsep dan Model...h. 42.

56

karena pengaruh hereditas maupun pengaruh lingkungan, yang membedakannya dengan orang lain, serta diwujudkan dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.64

Kemudian Winnie memahami bahwa istilah karakter memiliki dua pengertian yaitu:

1) Ia menunujukan bagaimana seseorang bertingkah laku. Artinya apabila seseorang bertindak tidak jujur, kejam atau rakus, tentulah orang tersebut memanifestasikan perilaku buruk. Sebaliknya apabila seseorang berperilaku jujur dan suka menolong tentulah orang tersebut memanifestasikan karakter yang mulia.

2) Istilah karakter erat kaitannya dengan “personality”. Seseorang baru bisa

disebut “orang yang berkarakter” (a person of character) apabila tingkah lakunya sesuai kaidah moral. Sedangkan Imam Ghazali menganggap bahwa karakter lebih dekat dengan akhlak, yaitu spontanitas manusia dalam bersikap, atau melakukan perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia sehingga ketika muncul tidak perlu dipikir lagi.65

Bila ditelusuri asal karakter, berasal dari bahasa Latin “kharakter”, “kharassein”, “kharax”, dalam bahasa Inggris: character dan Indonesia

“karakter”, yunani character, dari charassein yang berarti membuat tajam, membuat dalam. Karakter diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Nama dari jumlah seluruh ciri pribadi yang meliputi hal-hal

64Ibid, h.42- 43.

65

Winnie sebagaimana yang dikutip oleh Barnawi dan M.Arifin, Strategi & Kebijakan Pembelajaran Pendidikan Karakter, (Yogyakarta:Ar-Ruzz Media. 2011), h. 21.

57

seperti perilaku, kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan, kemampuan, kecenderungan, potensi, nilai-nilai dan pola-pola pemikiran.66

Dalam pandangan Islam karakter sama dengan akhlak yang artinya kepribadian. Kepribadian komponennya ada tiga yaitu tahu (pengetahuan), sikap dan perilaku. Yang dimaksud dengan kepribadian yang utuh dalam Islam adalah ketika tahu dibarengi dengan sikap dan juga perilaku. Islam sangat mementingkan pendidikan, tentunya dengan pendidikan berbasis karakter yang sedang dilaksanakan saat ini di Indonesia yakni kurikulum berbasis karakter sangat sepaham dengan ajaran agama Islam. Dengan pendidikan yang benar dan berkualitas, individu-individu yang beradab akan terbentuk yang akhirnya memunculkan kehidupan sosial yang bermoral.

Tujuan utama pendidikan dalam Islam adalah mencari ridha Allah swt. Dengan pendidikan, diharapkan akan lahir individu-indidivu yang baik, bermoral, berkualitas, sehingga bermanfaat kepada dirinya, keluarganya, masyarakatnya, negaranya dan umat manusia secara keseluruhan. Disebabkan manusia merupakan fokus utama pendidikan, maka seyogianyalah institusi-institusi pendidikan memfokuskan kepada substansi kemanusiaan, membuat sistem yang mendukung kepada terbentuknya manusia yang baik, yang menjadi tujuan utama dalam pendidikan.

Dalam pandangan Islam, manusia bukan saja terdiri dari komponen fisik dan materi, namun terdiri juga dari spiritual dan jiwa. Oleh sebab itu, sebuah institusi pendidikan bukan saja memproduksi anak didik yang akan

66

Ahmad Tafsir, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), h.11.

58

memiliki kemakmuran materi, namun juga yang lebih penting adalah melahirkan individu-individu yang memiliki diri yang baik sehingga mereka akan menjadi manusia yang serta bermanfaat bagi umat dan mereka mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.67

Adapun pendidikan karakter merupakan sebuah sistem yang menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik yang mengandung komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekad serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai, baik terhadap Tuhan yang maha esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan maupun bangsa sehingga akan terwujud insan yang kamil.68

Secara psikologis dan sosial kultural, pembentukan karakter dalam diri individu dari anak didik merupakan fungsi seluruh potensi individu manusia, yakni kognitif (berkenaan dengan kognisi), afektif (berkaitan dengan perasaan), konatif (berkenaan dengan kemauan), dan psikomotorik (berkenaan dengan aktifitas fisik yang terkait dengan proses mental). Pembentukan karakter dalam diri individu ini sangat bermanfaat dalam kehidupannya di keluarga, sekolah, maupun lingkungan masyarakat.

Dengan demikian pendidikan karakter adalah upaya yang harus dirancang dan dilakukan secara sistematis dalam rangka memberikan bantuan kepada anak didik untuk memahami nilai-nilai perilaku manusia

67

Rina Rusniawaty Dewi, Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam, dikutip dari http: nuraniku-unj.blogspot. com, acsess pada tanggal 5/8/2016.

68

Nurla Isna Aunillah. Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah. (Yogyakarta: Laksana.2011), h.18-19.

59

yang berhubungan dengan tuhan yang maha kuasa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, bangsa dan negara.69

Dalam pendidikan karakter, pendidikan artinya bukan merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, melainkan lebih luas lagi yaitu sebagai sarana penyaluran nilai (enkulturasi dan sosialisasi), anak harus mendapatkan pendidikan yang menyentuh dimensi dasar kemanusiaan. Sekurang-kurangnya tiga hal yang paling mendasar yaitu:

1) Afektif yang tercermin pada kualitas keimanan, ketakwaan, akhlak mulia, termasuk budi pekerti luhur serta kepribadian unggul.

2) Kognitif yang tercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan.

3) Psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan keterampilan teknis dan kecakapan praktis.

Dari penjelasan tentang makna dari pendidikan karakter tersebut maka model pendidikan karakter tidak lagi sekadar mengenalkan berbagai aturan dan definisinya, namun lebih menekankan pada sikap, attitude dan tanggung jawab. Wilayah pendidikan karakter adalah wilayah afektif yang tidak cukup diukur dengan angket dan jawaban soal, akan tetapi wilayahnya melekat dalam diri setiap individu.70

69

Akhmad Muhaimin Azzet, Urgensi Pendidikan ....h. 37-38. 70

Barnawi dan M.Arifin, Strategi & Kebijakan Pembelajaran Pendidikan Karakter... h. 23, 24 dan 28.

60

Pendidikan karakter pada dasarnya mulai diterapkan sejak dini atau pada usia taman kanak-kanak karena pada saat itu sebagai usia emas. Tidak terhenti sampai disitu tetapi haruslah berkelanjutan sampai jenjang

berikutnya yaitu SD, SMA, SMA. Adapun tujuan dari pendidikan karakter antara lain:

1) Mengembangkan potensi kalbu manusia sehingga memiliki nilai-nilai karakter.

2) Mengembangkan kebiasaan dalam berperilaku terpuji yang sejalan dengan nilai-nilai universal.

3) Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik. 4) Mengembangkan potensi peserta didik untuk menjadi manusia yang

kreatif, mandiri, dan berwawasan kebangsaan.

5) Mengembangkan lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreatifitas dan persahabatan.71

Menurut Ratna Megawangi, sebagai pencetus pendidikan karakter di Indonesia menyusun bahwa pendidikan karakter memiliki sembilan pilar karakter mulia yang selayaknya diajarkan kepada anak yaitu:72

a) Cinta tuhan dan kebenaran (love Allah, trust, reverence, loyalty) b) Tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian (responsibility,

excellence, self reliance, discipline, orderliness)

71

Said Hamid Hasan, dkk, Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa,

(Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan, 2010), h. 7. 72

Ratna Megawangi sebagaimana yang dikutip Zaim Elmubarok, Membumikan Pendidikan Nilai, (Bandung: CV. Alfabeta, 2008), h.112.

61

c) Amanah (trustworthiness, reliability, honesty) d) Hormat dan santun (respect, courtesy, obedience)

e) Kasih sayang, kepedulian dan kerjasama (love, compassion, caring, emphaty, generousity, moderation, comperation)

f) Percaya diri, kreatif, dan pantang menyerah (confidence, assertiveness, creativity, resourcefulness, courage, determination and enthusiasm)

g) Keadilan dan kepemimpinan (justice, fairness, mercy, leadership) h) Baik dan rendah hati (kindness, friendliness, humility, modesty) i) Toleransi dan cinta damai (tolerance, flexibility, peacefulness,

unity).73

Sedangkan menurut Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas, terdapat 18 nilai-nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa. Nilai-nilai tersebut adalah sebagai berikut.74

Tabel I

No Nilai Deskripsi

1. Religius Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan

73

Arismantoro, Tinjauan Berbagai Aspek Character Building: Bagaimana Mendidik Anak Berkarakter, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2008), h. 128.

74Bahan Pelatihan: Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan nilai-nilai Budaya untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa, (Jakarta:Kementerian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum, tahun 2010), h. 9 dan 10.

62

pemeluk agama lain.

2 Jujur Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

3. Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4. Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

5. Kerja Keras Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. 6. Kreatif Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan

cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki. 7. Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada

orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

8. Demokratis Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

9. Rasa Ingin Tahu

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

10 .

Semangat Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas

63

Kebangsaan kepentingan diri dan kelompoknya.

11 .

Cinta Tanah Air

Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, konomi, dan politik bangsa.

12 .

Menghargai Prestasi

Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

13 .

Bersahabat/ Komuniktif

Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.

14 .

Cinta Damai

Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya. 15

.

Gemar Membaca

Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

16 .

Peduli Lingkungan

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

64

pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. 18

.

Tanggung-jawab

Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Dari nilai-nilai di atas, maka pendapat antara Ratna Megawangi dengan yang ada pada kemendiknas tidak jauh berbeda, sehingga nilai-nilai karakter di atas harus ditanamkan sedini mungkin, dengan harapan kelak anak menjadi orang yang berguna bagi sesama, tangguh dan berjiwa kuat dalam menghadapi tantangan di masa yang akan datang.

Pendidikan karakter dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan dan dapat berupa berbagai kegiatan yang dilakukan secara intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Kegiatan intrakurikuler terintegrasi ke dalam mata pelajaran sedangkan kegiatan ekstrakurikuler dilakukan di luar jam pelajaran. Strategi dalam pendidikan karakter juga dapat dilakukan melalui sikap-sikap sebagai berikut:

1) Keteladanan

Keteladanan merupakan pendekatan pendidikan yang ampuh, baik itu dalam lingkungan keluarga, formal, informal maupun nonformal. Allah SWT dalam mendidik manusia menggunakan contoh atau teladan sebagai model yang terbaik agar mudah diserap dan diterapkan para manusia. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Ahzab:21 yang berbunyi:

65





































Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

2) Penanaman Kedisiplinan

Disiplin pada hakikatnya adalah suatu ketaatan yang sungguh-sungguh yang didukung oleh kesadaran untuk menunaikan tugas kewajiban atau berperilaku sebagaimana mestinya, menurut aturan-aturan atau tata kelakuan yang seharusnya berlaku di dalam suatu lingkungan tertentu.

Kedisiplinan menjadi alat yang ampuh dalam mendidik karakter. Banyak orang yang sukses karena menegakkan kedisiplinan, sebaliknya banyak upaya membangun sesuatu yang tidak berhasil karena kurang atau tidak disiplin. Penegakkan disiplin antara lain dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti peningkatan motivasi, pendidikan dan latihan, kepemimpinan, penerapan reward and punishment, penegakan aturan.

66

Anak akan tumbuh sebagaimana lingkungan yang mengajarinya dan lingkungan tersebut juga merupakan sesuatu yang menjadi kebiasaan yang dihadapinya setiap hari. Jika seorang anak tumbuh dalam lingkungan yang mengajarinya berbuat baik, maka diharapkan ia akan terbiasa untuk selalu berbuat baik begitupun sebaliknya.

Terbentuknya karakter memerlukan proses yang relatif lama dan terus manerus. Oleh karena itu, sejak dini harus ditanamkan pendidikan karakter pada anak.

4) Integrasi dan Internalisasi

Pendidikan membutuhkan proses internalisasi nilai-nilai. Untuk itu diperlukan pembiasaan diri untuk masuk ke dalam hati agar tumbuh dari dalam. Nilai-nilai karakter seperti menghargai orang lain, disiplin, jujur, amanah dan lain-lain dapat diintegrasikan dan internalisasikan kedalam seluruh kegiatan baik dalam intrakurikuler maupun kegiatan ekstrakurikuler.75

Dokumen terkait