BAB IV. KATEKESE KELUARGA SEBAGAI JALAN
A. Katekese
1. Pengertian Katekese
Dalam Kitab Suci terdapat sejumlah kata katekese. Arti aslinya: membuat bergema, menyebabkan sesuatu bergaung. Kata katekese ditemukan dalam beberapa kutipan dari Kitab Suci seperti dalam Luk 1:4 (diajarkan); Kis 18:25 (pengajaran dalam jalan Tuhan) dan masih banyak lagi. Dalam konteks ini, katekese dimengerti sebagai pengajaran, pendalaman, pendidikan iman agar seorang Kristen semakin dewasa dalam iman. Jadi katekese diperuntukkan bagi semua orang yang telah dibabtis dan percaya kepada Tuhan (Telaumbanua, 1999: 4).
Paus Yohanes Paulus II, dalam ajakan Apostoliknya kepada para uskup, imam dan umat seluruh Gereja Katolik tentang katekese dalam kegiatan pastoral, menyatakan bahwa: ”…katekese adalah pembinaan anak-anak, orang muda dan orang dewasa dalam iman. Yang khususnya mencakup pengajaran doktrin Gereja yang pada umumnya diberikan secara organis, dengan tujuan mengantar para pendengar untuk masuk ke dalam kepenuhan hidup Kristiani (CT, art 18)”.
Penulis dapat menjelaskan kutipan di atas sebagai berikut: katekese merupakan pembinaan iman bagi seluruh umat. Dengan demikian melaui pembinaan iman umat semakin berkembang mencapai kepenuhan hidup sebagai seorang Kristiani. Maka pelaksanaan katekese harus dilaksanakan secara sistematis, dengan tujuan umat semakin mamahami imannya akan Kristus dan Kristus menjadi pusat hidup mereka.
Hasil pertemuan para katekis di Klender, yang dilaksanakan pada tanggal 22 Juni sampai 5 Juli 1980, menyatakan bahwa: “…Katekese umat diartikan sebagai komunikasi iman atau tukar pengalaman iman (penghayatan iman) antara anggota jemaat/kelompok. Melalui katekese para peserta saling membantu sedemikian rupa sehingga iman masing-masing anggota diteguhkan dan dihayati semakin sempurrna”.
Dari kutipan di atas dapat dinyatakan bahwa katekese merupakan komunikasi iman atau pembinaan umat. Di dalam katekese ini umat saling bertukar pengalaman imannya sehingga mereka saling meneguhkan dan saling mendukung satu sama lain sehingga iman mereka semakin kuat dan berakar pada Kristus. Oleh karena itu para peserta diharapkan memandang sesama peserta sebagai sesama sederajat, mempunyai sikap terbuka, saling mendengarkan dan saling menghargai satu sama lain.
Berdasarkan tiga pengertian katekese di atas, penulis dapat memahami bahwa katekese merupakan komunikasi iman antar umat beriman yang saling mengungkapkan pengalaman hidupnya akan Allah yang dialami dan dirasakan dalam hidup harian. Melalui katekese para peserta saling berbagi pengalaman iman akan Allah sehingga semakin dikuatkan dan diteguhkan dalam iman dan pada akhirnya menemukan Allah lewat pengalaman hidupnya sehari-hari. Dari ketiga pengertian di atas penulis melihat bahwa katekese dari hasil sidang di Klender sangat cocok diterapkan pada lingkup keluarga karena semua anggota keluarga terikat dalam satu iman akan Kristus dan mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan dan memperkaya iman melalui kesaksian hidup.
Kegiatan katekese mempunyai berbagai bentuk berdasarkan situasi dan kebutuhan peserta dari katekese itu sendiri. Salah satu bentuknya adalah katekese keluarga. Katekese keluarga sangat cocok diterapkan di lingkungan keluarga karena katekese keluarga mau mengajak setiap anggota keluarga untuk semakin mengembangkan imannya, mengamalkan cinta kasih sehingga keluarga mampu memberi kesaksian tentang Kristus di tengah-tengah masyarakat.
2. Tujuan Ketekese
Lalu (2007:97), menyebutkan bahwa tujuan katekese sebagai berikut:
a) Supaya dalam terang injil kita semakin meresapi arti pengalaman-pengalaman kita sehari-hari.
b) Dan kita bertobat (metanoia) kepada Allah dan semakin menyadari kehadiran-Nya dalam kenyataan hidup sehari-hari
c) Dengan demikian kita semakin sempurna beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih dan makin dikukuhkan hidup kristiani kita d) Pula kita makin bersatu dalam Kristus, semakin menjemaat, makin
tegas mewujudkan tugas Gereja setempat dan mengokohkan Gereja semesta
e) Sehingga kita sanggup memberi kesaksian tentang Kristus dalam hidup kita di tengah masyarakat.
Penulis dapat menegaskan bahwa tujuan katekese di atas adalah pertama-tama menekankan pada pengalaman iman yang dialami dalam hidup setiap hari, dimana melalui sabda Tuhan peserta dapat mengartikan pengalaman iman sehingga hidup makin bermakna. Selanjutnya katekese membantu setiap anggota keluarga untuk membuka diri bagi kehadiran Allah melalui usaha pertobatan yang terus menerus, dengan demikian mereka semakin beriman, berharap dan bersatu dengan Yesus Kristus. Melalui katekese anggota keluarga membuka hati untuk terus berkarya memberi kesaksian tentang Gereja dan Yesus Kristus di tengah masyarakat.
Paus Yohanes Paulus II dalam Anjuran Apostolik Catechesi Tradendae menguraikan tujuan khas katekese yaitu: “…Berkat bantuan Allah mengembangkan iman yang baru mulai tumbuh, dan dari hari ke hari memekarkan menuju kepenuhannya serta makin memantapkan peri hidup Kristen umat beriman, muda maupun tua (CT, art 20)”.
Dari kutipan di atas dapat penulis jelaskan bahwa katekese atau pembinaan iman bertujuan mendewasakan iman umat dan mengembangkan iman umat. Berkat bantuan Allah melalui pengalaman hidup harian mereka, umat semakin mengenal Allah dan semakin membangun relasi yang lebih intim dengan Yesus Kristus. Dalam iman keluarga menerima pribadi Yesus Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan menyerahkan seluruh diri dan hidupnya pada Tuhan.
Heryatno (2008:3) dalam diktat Pendidikan Agama Katolik III menyebutkan tujuan katekese sebagai berikut:”…Katekese merupakan gerakan mengkomunikasikan harta kekayaan iman Gereja supaya dapat membentuk dan membantu jemaat memperkembangkan imannya pada Yesus Kristus secara personal
maupun komunal demi terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah kenyataan dunia”.
Penulis dapat menegaskan bahwa harta kekayaan iman Kristiani berupa Sabda Tuhan atau tradisi-tradisi dalam Gereja dapat membantu dan memperkembangkan iman umat baik sacara pribadi maupun bersama. Melalui komunikasi atau sharing pengalaman umat dapat saling meneguhkan dan saling menguatkan satu sama lain, nilai-nilai Kerajaan Allah dapat terwujud di tengah-tengah dunia.
3. Pelaku Katekese
Menurut Paus Yohanes Paulus II, para pelaku katekese utama adalah para uskup ( katekis utama), para imam, Para biarawan/biarawati, para katekis awam dan seluruh umat (CT 63-66).
a. Para Uskup.
Para Uskup sebagai pengganti para rasul memiliki peran sebagi pelayan umat, pengajar dan pemimpin. Seperti yang digemakan oleh sinode para uskup 1977, mereka merupakan pihak yang paling bertanggung jawab pada katekese. Bahkan mereka disebut sebagai katekis utama. Mereka memiliki tanggung jawab yang tidak dapat ditawar-tawar dan memiliki tugas khusus (bdk. LG, 26). Tugas uskup dalam berkatekese adalah menumbuhkan antusiasme dalam berkatekese, menjaga dan melayani ontentisitas serta keutuhan iman, dan menyampaikan harta kekayaan iman Gereja pada jemaatnya. Uskup sebaiknya menjadi inspirator, dinamisator dan motivator. Untuk itu ia berhak menunjuk, memilih para pembantunya yang berkompeten dan terpercaya.
b. Para Imam
Di dalam bidang katekese para imam menjadi pembantu uskup, mereka bertanggung jawab terhadap uskup. Tugas pokok imam adalah melayani jemaat dalam iman. Untuk itu, dalam aneka tugasnya entah di paroki, di sekolah, dalam organisasi kategorial, dan dalam pelayanan pastoral lainnya, para imam harus memandang katekese sebagai prioritas tugasnya. Karena imam adalah pelayan sabda dan pembangun jemaat dalam iman.
c. Para Biarawan/biarawati
Mereka menyatukan diri dalam masing-masing kongregasinya untuk melayani anak-anak, kaum muda dan mereka yang terabaikan. Gereja berharap mereka lebih siap sedia berkatekese. Untuk itu Paus mengajak para biarawan/biarawati agar lebih giat mengabdi Kristus, lebih tekun mempelajari katekese, lebih sedia mengabdi segala milik untuk berkatekese seturut semangat dan spiritualis kongregasi.
d. Para Katekis Awam.
Paus bangga, berbesar hati, dan berterimakasi kepada para rasul dan katekis awam baik pria maupun wanita, yang telah membaktikan hidupnya demi kepentingan pembinaan iman jemaat. Inilah salah satu bentuk khas kerasulan kaum awam. Paus mengajak mereka untuk menggalang kerjasama dengan semua pihak yang bertanggung jawab.
e. Keluarga
Paus mengharapkan agar setiap anggota keluarga saling menolong dan memberi kesaksian dalam iman sebagai salah satu bentuk katekese yang efektif. Di dalam keluarga perlu ditumbuhkan semangat dialog, suasana beriman, acara-acara doa bersama dan lain sebagainya. Keluarga dapat disebut sebagai sekolah iman dan sekolah cinta, oleh karena itu, peranan orang tua untuk mendidik iman anak-anaknya
tidaklah mudah. Katekese dalam keluarga sifatnya mendahului, menyertai, dan memperkaya bentuk-bentuk katekese lainnya dan perlu ditegaskan bahwa keluarga dapat menjadi tempat utama pendidikan iman. Paus juga mengharapkan agar paroki, lembaga pelayanan dan pendidikan lainnya membantu orang tua agar makin afektif menunaikan tugasnya mendidik dan memperkembangkan iman semua anggota keluarganya.
f. Seluruh Umat
Sebagai anggota Gereja, seluruh umat diharapkan untuk terlibat aktif dalam pembinaan iman umat. Dengan keterlibatan seluruh umat dalam berkatekese maka katekese semakin hidup dan umat akan terbuka hati membagikan pengalaman imannya akan Allah, semakin giat atau terlibat aktif dalam kegiatan menggereja dan mampu memberi kesaksian dan mewartakan kabar gembira Yesus Kristus di tengah masyarakat.
B. Katekese Keluarga
1. Pengertian Katekese Keluarga
Katekese keluarga merupakan aspek dari katekese. Katekese keluarga memberi perlengkapan kepada orang tua untuk membangkitkan kesadaran dan pandangan lebih terang tentang tugas orang tua dalam hidup iman dari hari ke hari baik dalam hubungan antara mereka maupun dengan anak-anak mereka. Katekese keluarga juga mau menciptakan dialog antar orang tua dan anak-anak melalui percakapan yang sungguh-sungguh. Katekese lebih menekankan pada usaha bersama-sama antara suami-istri untuk menghayati iman mereka sendiri serta tugas dan tanggungjawab mereka sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anak yang telah dipercayakan Tuhan kepada mereka (Egong, 1983:14).
Katekese adalah usaha saling tolong menolong terus menerus dari setiap orang untuk orang lain menurut pola Kristus menuju kepada hidup Kristiani yang dewasa. Katekese seperti ini sangat sesuai diterapkan di lingkungan keluarga di mana mereka saling merasa terikat dan mempunyai tanggung jawab terhadap satu dengan yang lain sehingga usaha saling tolong menolong terus menerus dapat sungguh diusahakan dan diwujudkan dalam hidup sehari-hari (Caroline, 1985:10).