• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Kebijakan Dividen

1. Pengertian Kebijakan Dividen

Kebijakan dividen merupakan bagian yang menyatu dengan keputusan pendanaan perusahaan. Rasio pembayaran dividen menentukan jumlah laba yang ditahan sebagai sumber pendanaan. Semakin besar laba ditahan semakin sedikit jumlah laba yang dialokasikan untuk pembayaran

dividen. Alokasi penentuan laba sebagai laba ditahan dan pembayaran dividen merupakan aspek utama dalam kebijakan dividen (Wachowicz 1997:496).

Eugene F Brigham dan Joel F Houston (2001;66) dalam Sigit Irawan (2009), kebijakan dividen yang optimal merupakan kebijakan yang menciptakan keseimbangan antara dividen saat ini dan pertumbuhan di masa yang akan datang sehingga dapat memaksimalkan harga saham perusahan.

a. Teori kebijakan dividen

Menurut Kolb (2010:128-129), terdapat 3 teori kebijakan dividen yang paling tepat untuk perusahaan. sebagai berikut:

1) Residual Theory. Penekanan teori ini adalah pada investasi modal dengan anggapan bahwa dividen merupakan residu (akhir) dari proses investasi modal (capital investment process). Bertolak dari anggapan tersebut, maka teori ini menganjurkan agar dividen dibayarkan dari sisi dana yang digunakan untuk investasi modal. 2) Indifference Theory. Teori ini dilandasi anggapan bahwa dividen

bukan faktor yang relevan terhadap nilai saham. Teori ini dipelopori oleh Miller dan Modigliani (1961) yang berpendapat

Karena itu, dividen dibayar atau tidak dibayar tidak ada pengaruhnya bagi kemakmuran para pemegang saham.

3) Bird in the hand theory. Teori ini mengatakan bahwa pemegang

saham tidak peduli (not indifferent) terhadap dividen dan

perubahaan pendapatan perusahaan. Bagi pemegang saham, kebijakan dividen adalah relevan terhadap nilai saham. Teori ini didukung oleh Litner dan Gordon yang mengatakan bahwa pemegang saham menilai $1 dividen yang diterima lebih tinggi dari pada $1 pendapatan yang ditahan.

b. Macam-macam kebijakan dividen

Berbagai macam kebijakan dividen menurut (Dewi Astuti: 2004) adalah sebagai berikut:

1) Kebijakan dividen biasa (tetap)

Pada kebijakan dividen biasa atau regular dividend policy, perusahan membayar dividen per lembar saham dalam jumlah rupiah yang tetap setiap periode. Kebijakan ini meniadakan keragu-raguan pemegang saham (investor) sekaligus menginformasikan bahwa perusahan dalam keadaan baik dan lancar. Dengan kebijakan ini pembayaran dividen per lembar saham hampir tidak pernah turun.

2) Kebijakan dividen dengan persentase tetap pembayaran dividen tunai.

Kebijakan ini dikenal dengan nama constan-payout-ratio

dividen policy. Dengan kebijakan ini perusahan kurang dapat

memperkirakan jumlah pembayaran dividen yang akan dilakukan setiap periode. Jumlah pembayaran dividen dengan persentase tetap dari EPS akan mempengaruhi posisi harga saham di pasar. Pada saat laba menurun maka pembayaran dividen juga menurun dan hal ini akan menyebabkan harga saham menurun juga.

3) Kebijakan dividen rendah plus ekstra

Kebijakn ini dikenal dengan nama low-reguler-and-ekstra

deviden policy. Menurut kebijakan ini perusahaan membayar

dividen tunai secara rutin setiap periode dalam jumlah yang tetap dan rendah, jika laba perusahaan periode yang bersangkutan sangat baik maka jumlah pembayaran tetap tersebut akan ditambah pembayaran dividen ekstra. Dengan jumlah pembayaran regular (biasa) yang tetap ini menjamin kepastian bagi pemilik saham dan karena jumlahnya rendah, hal ini juga akan menentramkan perusahan. Bila ada laba yang sangat bagus perusahan akan

ekstra ini akan disambut baik oleh pasar dan akan menaikkan harga saham.

c. Dividen Payout Ratio (DPR)

Menurut Bambang Riyanto (2001:266) Dividen payout ratio (DPR) adalah persentase dari pendapatan yang akan dibayarkan kepada

pemegang saham sebagai “Cash dividend”. Sedangkan menurut

Keown dalam Tita Deitiana (2009) dividen payout ratio adalah jumlah dividen yang dibayarkan relatif terhadap pendapatan bersih perusahaan atau pendapatan tiap lembar. Dividen hanya dapat dibayarkan jika saldo laba ditahan positif. Jadi, walaupun dalam tahun berjalan diperoleh laba, suatu perusahaan tidak boleh membagikan dividen jika saldo laba ditahan pada akhir tahun masih negatif. Menurut Dewi Astuti (2004) dividen payout ratio merupakan antara dividen per share

(DPS) dengan earning per share (EPS). Dividen payout ratio dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Dividen payout ratio merupakan perbandingan antara DPS dengan

DPR, jadi perspektif yang dilihat adalah pertumbuhaan dividen per share (DPS) terhadap pertumbuhan earning per share (EPS).

Menurut Weston dan Brigham dalam Ahmad Rodhoni (2011:123) faktor- faktor yang mempengaruhi pembayaran dividen suatu perusahaan adalah sebagai berikut:

1) Posisi likuiditas, yaitu apabila laba yang ditahan telah diinvestasikan dalam bentuk aktiva tetap, seperti mesin dan peralatan, bahan dan persediaan dan barang-barang lainnya, maka hal tersebut dapat menunjukkan posisi likuiditas perusahaan yang rendah dan hal tersebut dapat menunjukkan posisi likuiditas perusahaan yang rendah dan terdapat kemungkinan perusahaan tidak mampu lagi membayarkan dividennya.

2) Profitabilitas, adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri. Dengan demikian bagi investor jangka panjang akan sangat berkepentingan dengan analisis profitabilitas ini misalnya bagi pemegang saham akan melihat keuntungan yang benar-benar akan diterima dalam bentuk dividen. Faktor profitabilitas juga berpengaruh terhadap kebijakan dividen karena dividen adalah sebagian dari laba bersih yang diperoleh perusahaan, oleh karena itu dividen akan dibagikan apabila perusahaan memperoleh keuntungan. Keuntungan

setelah perusahaan memenuhi kewajiban-kewajiban tetapnya yaitu bunga dan pajak.

3) Leverage, Faktor ini mencerminkan kemampuan perusahaan dalam

memenuhi seluruh kewajibannya yang ditunjukkan oleh beberapa bagian modal sendiri yang digunakan untuk membayar hutang. Semakin besar rasio ini menunjukkan semakin besar kewajibannya dan rasio yang semakin rendah akan menunjukkan semakin tinggi kemampuan perusahaan memenuhi kewajibannya.

Menurut Bambang Riyanto (2001:267-268) faktor-faktor yang mempengaruhi pembayaran dividen perusahaan dapat disebutkan antara lain sebagai berikut:

1) Posisi Likuiditas Perusahaan

Posisi kas atau likuiditas dari suatu perusahaan merupakan faktor penting yang harus dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan untuk menetapkan besarnya dividen yang akan dibayarkan kepada

para pemegang saham. Oleh karena dividen merupakan “cash

outflow”, maka makin kuatnya posisi likuiditas perusahaan, berarti makin besar kemampuannya untuk membayar dividen.

2) Kebutuhan Dana untuk Membayar Utang

Apabila suatu perusahaan akan memperoleh utang baru atau menjual obligasi baru untuk membiayai perluasan perusahaan, sebelumnya sudah harus direncanakan bagaimana caranya untuk membayar kembali utang tersebut. Apabila perusahaan menetapkan bahwa pelunasan utangnya akan dikembalikan dari laba ditahan, berarti perusahaan harus menahaan sebagaian besar dari pendapatannya untuk keperluan tersebut, yang ini berarti bahwa hanya sebagian kecil saja dari pendapatan atau earning yang dapat dibayarkan sebagai dividen, dengan kata lain perusahaan harus menetapkan dividen payout ratio yang rendah.

3) Tingkat Pertumbuhaan Perusahaan

Makin cepat tingkat pertumbuhaan suatu perusahaan, makin besar kebutuhan akan dana untuk membiayai pertumbuhan perusahaan tersebut. Makin besar kebutuhan dana untuk waktu mendatang untuk membiayai pertumbuhannya, perusahaan tersebut biasanya lebih senang untuk menahan “earning”nya daripada dibayarkan sebagai dividen kepada para pemegang saham dengan mengingat batasan-batasan biayanya. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa makin

dibutuhkan, makin besar kesempatan untuk memperoleh keuntungan, makin besar bagian dari pendapatan yang ditahan dalam perusahaan, yang berarti makin rendah dividen payout ratio.

4) Pengawasan Terhadap Perusahaan

Perusahaan yang mempunyai kebijakan hanya membiayai ekspansinya dengan dana yang berasal dari sumber intern saja. Kebijakan tersebut dijalankan atas dasar pertimbangan bahwa kalau ekspansi dibiayai dengan dana yang berasal dari hasil penjualan saham baru akan melemahkan pengawasan dari kelompok dominan di dalam perusahaan. Demikian pula kalau membiayai ekspansi dengan utang akan memperbesar risiko finansialnya. Mempercayakan pada pembelanjaan intern dalam rangka usaha mempertahankan pengawasan terhadap perushaan, berarti mengurangi dividen payout ratio.

d. Rasio Likuiditas

Menurut Fred Watson dalam kasmir (2008:129), menyebutkan bahwa rasio likuiditas (liquidity ratio) merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek. Artinya apabila perusahaan ditagih, perusahaan akan mampu untuk memenuhi utang tersebut terutama utang yang sudah jatuh tempo.

Menurut Kasmir (2008:134) Jenis-jenis rasio yang ada dalam rasio likuiditas antara lain, sebagai berikut:

1) Current Ratio

Rasio lancar atau (Current ratio) merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan. Perhitungan rasio lancar dilakukan dengan cara membandingkan antara total aktiva lancar dengan total utang lancar.

Semakin besar current ratio menunjukkan semakin tinggi

kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Kasmir (2008:134). Sesuai dengan pembahasan diatas maka rumus pengukuran current ratio adalah:

   

2) Quick Ratio

Rasio cepat (Quick Ratio) merupakan rasio yang menunjukkan

kemampuan perusahaan dalam memenuhi atau membayar kewajiban lancar (utang jangka pendek) dengan aktiva lancar tanpa memperhitungkan nilai persediaan (inventory). Perhitungan rasio cepat diukur dari total aktiva lancar dikurang persediaan kemudian

   

3) Cash Ratio

Rasio kas (cash ratio) merupakan rasio yang digunakan untuk

mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia untuk membayar utang. Perhitungan rasio kas diukur dari kas ditambah giro kemudian dibagi current liabilities. Kasmir (2008:138)

   

4) Inventory to Net Working Capital

Merupakan rasio yang digunakan untuk membandingkan antara jumlah persediaan yang ada dengan modal kerja perusahaan. Modal kerja tersebut terdiri dari pengurangan antara aktiva lancar dengan utang lancar. Kasmir (2008:141).

e. Rasio Solvabilitas

Rasio solvabilitas (leverage ratio) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang apabila perusahaan dibubarkan (dilikuidasi).

Menurut Kasmir (2008:134) Jenis-jenis rasio yang ada dalam rasio solvabilitas antara lain, sebagai berikut:

1) Debt to Assets Ratio (DTA)

Debt to assets ratio atau (debt ratio) merupakan salah satu ukuran dari rasio solvabilitas (solvability ratio) yang dihitung dengan mengukur perbandingan antara total utang (total debt) baik utang lancar (current liability) maupun utang tidak lancar (long term debt)

dengan total aktiva (total assets) baik aktiva lancar (current assets)

maupun aktiva tetap (fixed assets). Dengan kata lain, seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh utang perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan aktiva. Kasmir (2008:156). Sesuai dengan

pembahasan diatas maka rumus pengukuran debt to assets ratio

adalah:

 

2) Debt Equity Ratio

Debt to Equity Ratio merupakan salah satu ukuran dari rasio

solvabilitas (solvability ratio) yang merupakan kemampuan

perusahaan dalam membayar kewajiban apabila dilikuidasi. Debt equity ratio digunakan untuk menilai utang dengan ekuitas. Rasio ini

utang lancar dengan seluruh ekuitas. Rasio ini bertujuan untuk mengetahui jumlah dana yang disediakan peminjam (kreditor) dengan pemilik perusahaan. Kasmir (2008:157). Sesuai dengan pembahasan diatas maka rumus pengukuran debt equity ratio adalah:

 

3) Long Term Debt to Equity Ratio (LTDtER)

LTDtER merupakan rasio antara utang jangka panjang dengan modal

sendiri. Kasmir (2008:159). Rumusan untuk mencari long term debt

to equity ratio adalah dengan menggunakan perbandingan antara

utang jangka panjang dengan modal sendiri, yaitu:

 

4) Time Interest Earned

Time interest earned merupakan rasio untuk mengukur sejauh mana

pendapatan dapat menurun tanpa membuat perusahaan merasa malu tidak mampu membayar biaya bunga tahunannya. Kasmir (2008:160). Rumus untuk mencari time interes earned dapat digunakan sebagai berikut:

f. Rasio Aktivitas

Rasio aktivitas (activity ratio) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya. Kasmir (2008:172). Berikut ini beberapa jenis-jenis rasio aktivitas yang dirangkum dari beberapa ahli keuanagan, yaitu:

1) Receivable Turn Over

Perputaran piutang (receivable turn over) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur berapa dalam penagihan piutang selama satu periode. Kasmir (2008:180). Rumusan untuk mencari receivable turn over dapat digunakan sebagai berikut:

 

2) Inventory Turn Over

Perputaran persediaan (inventory turn over) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur berapa kali dana yang ditanam dalam persediaan (inventory) ini berputar dalam suatu periode. Menurut J Fred Wetson dalam Kasmir (2008:180) rumusan untuk mencari

inventory turn over dapat digunakan sebagai berikut:

3) Fixed Assets Turn Over

Fixed assets turn over merupakan rasio yang digunakan untuk

mengukur berapa kali dana yang ditanamkan dalam aktiva tetap berputar dalam satu periode. Kasmir (2008:184). Rumus untuk mencari Fixed Assets Turn Over dapat digunakan sebagai berikut:

 

4) Total Assets Turn Over

Total Assets Turn Over (TATO) merupakan rasio yang digunakan

untuk mengukur perputaran semua aktiva yang dimiliki perusahaan dan mengukur berapa jumlah penjualan yang diperoleh dari tiap rupiah aktiva. Kasmir (2008:185). Sesuai dengan pembahasan diatas maka rumus pengukuran TATO adalah:

 

g. Rasio Profitabilitas

Rasio profitabilitas (profitability ratio) menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan, dan sumber yang ada. Menurut Kasmir (2008:199) Rasio profitabilitas

perusahaan dalam mencari keuntungan. Jenis-jenis rasio profitabilitas yang dapat digunakan adalah:

1) Profit Margin

Profit Margin (Profit margin on sales) merupakan salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur margin laba atas penjualan. Kasmir (2008:199). Sesuai dengan pembahasan diatas maka rumus pengukuran profit margin on sales adalah:

 

2) Return on Assets

Hasil pengembalian investasi (Return on Assets) merupakan rasio yang menunjukkan hasil (return) atas jumlah aktiva yang digunakan

dalam perusahaan. Kasmir (2008:201). Semakin besar ROA

menunjukkan kinerja perusahaan yang semakin baik, karena tingkat kemabalian investasi (return) semakin besar. Seperti diuraikan sebelumnya, bahwa return yang diterima oleh investor dapat berupa pendapatan dividen dan capital gain. Dengan demikian meningkatnya

ROA juga akan meningkatkan pendapatan dividen.Di samping itu,

hasil pengembalian investasi menunjukkan produktivitas dari seluruh dana perusahaan, baik modal pinjaman maupun modal sendiri. Sesuai

 

3) Return on Equity

Hasil pengembalian ekuitas (return on equity) merupakan rasio untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri. Kasmir (2008:204). Rumus untuk mencari Return on Equity (ROE) dapat digunakan sebagai berikut:

 

4) Earning per Share

Laba perlembar saham biasa (earning per share of common stock) atau disebut juga rasio nilai buku merupakan rasio untuk mengukur keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan bagi pemegang saham. Rasio yang rendah berarti manajemen belum berhasil untuk memuaskan pemegang saham, sebaliknya dengan rasio yang tinggi, kesejahteraan pemegang saham meningkat. Keuntungan bagi pemegang saham adalah jumlah keuntungan setelah dipotong pajak. Kasmir (2008:207). Sesuai dengan pembahasan di atas maka rumus pengukuran EPS adalah:

Dokumen terkait