• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERLINDUNGAN HUKUM MENGENAI KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

A. Sejarah Keselamatan dan Kesehatan Kerja

2. Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja Secara Umum

Perlindungan terhadap tenaga kerja berguna untuk dapat mempertahankan

produktivitas dan kestabilan perusahaan. Perlindungan pekerja dapat dilakukan, baik

dengan jalan memberikan tuntunan, maupun dengan jalan meningkatkan pengakuan

hak-hak asasi manusia. Perlindungan fisik dan teknis serta sosial dan ekonomi

melalui norma yang berlaku dalam lingkungan kerja, mencakup:68

1. Norma keselamatan kerja, yang meliputi keselamatan kerja yang bertalian

dengan mesin, pesawat, alat-alat kerja bahan dan proses pengerjaannya,

keadaan tempat kerja dan lingkungan serta cara-cara melakukan pekerjaan.

      

67

Ibid, hlm. 25 

68

Zainal Asikin, et. al., Dasar-Dasar Hukum Perburuhan, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada,

2. Norma kesehatan kerja dan Heigiene Kesehatan Perusahaan, yang meliputi

pemeliharaan dan mempertinggi derajat kesehatan kerja, dilakukan dengan

mengatur pemberian obat-obatan, perawatan tenaga kerja yang sakit.

Mengatur persediaan tempat, cara dan syarat kerja yang memenuhi heigiene

kesehatan perusahaan dan kesehatan pekerja untuk mencegah penyakit, baik

sebagai akibat bekerja atau penyakit umum serta menetapkan syarat kesehatan

bagi perumahan pekerja.

3. Norma kerja yang meliputi perlindungan terhadap tenaga kerja yang bertalian

dengan waktu bekerja, sistem pengupahan, istirahat, cuti, kerja wanita, anak,

kesusilaan ibadah menurut agama keyakinan masing-masingyang diakui oleh

pemerintah, kewajiban sosial kemasyarakatan dan sebagainya guna memelihara

kegairahan dan moril kerja yang menjamin daya guna kerja yang tinggi serta

menjaga perlakuan yang sesuai dengan martabat manusia dan moral.

4. Kepada Tenaga Kerja yang mendapat kecelakaan dan/ atau menderita penyakit

kuman akibat pekerjaan, berhak atas ganti rugi perawatan dan rehabilitasi

akibat kecelakaan dan/ atau penyakit akibat pekerjaan, ahli warisnya berhak

mendapat ganti kerugian.

Keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu program untuk melindungi

yang dibuat bagi pekerja/buruh maupun pengusaha sebagai upaya pencegahan

(Preventif) bagi timbulnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja dalam

kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja dan tindakan antisipatif bila

terjadi hal demikian.69

Tujuan utama keselamatan dan kesehatan kerja adalah mencegah, mengurangi

bahkan menghilangkan resiko kecelakaan kerja (Zero Accident). Maksud utama

dibutuhkannya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah untuk mencegah

terjadinya cacat/kematian pada tenaga kerja, mencegah kerusakan tempat dan

peralatan kerja, mencegah pencemaran lingkungan dan masyarakat disekitar tempat

kerja, dan norma kesehatan kerja diharapkan menjadi instrumen yang menciptakan

dan memelihara derajat kesehatan kerja.70

Menurut Mangkunegara, tujuan dari Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

adalah:71

1. Agar setiap tenaga kerja mendapat jaminan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

(K3) baik secara fisik, sosial dan psikologis.

2. Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja dipergunakan sebaik-baiknya.

3. Agar semua hasil produksi dipelihara keamanannya.

4. Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan gizi tenaga

kerja.

5. Agar meningkatkan kegairahan, keserasian kerja dan partisipasi kerja.

      

69

Adrian Sutedi, Hukum Perburuhan, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hal. 170.  

70

“Maksud Dan Tujuan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja”, http://habibiezone.wordpress.com/ 2010/10/06/969/, tanpa halaman, diakses pada tanggal 8 April

2011. 

71

“Jurnal Manajemen, Jurnal Manajemen Sumber Daya Manusia, Bahan Kuliah Manajemen”, http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/10/kesehatan-dan-keselamatan-kerja-k3.html, hlm. 1, diakses

6. Agar terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan atau

kondisi kerja.

7. Agar setiap tenaga kerja merasa aman dan terlindungi dalam bekerja.

a. Keselamatan Kerja

Keselamatan kerja (Occupational Safety) sehari-hari disebut dengan safety saja,

yang secara filosofi diartikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin

keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada

khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil budaya dan karyanya.72

Menurut Suma’mur, dalam bukunya yang berjudul “Keselamatan Kerja dan

Pencegahan Kecelakaan”, yang dimaksud dengan keselamatan kerja adalah:73

“Keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara- cara melakukan pekerjaan”.

Keselamatan kerja termasuk dalam perlindungan teknis, yaitu perlindungan

terhadap pekerja/ buruh agar selamat dari bahaya yang dapat ditimbulkan oleh alat

kerja atau bahan yang dikerjakan.

Peraturan yang mengatur tentang keselamatan kerja ini adalah Undang-Undang

Nomor 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja, namun sebagian besar peraturan

pelaksanaan undang-undang ini belum ada sehingga beberapa peraturan warisan

Hindia Belanda masih dijadikan pedoman dalam pelaksanaan keselamatan kerja di

      

72

Direktorat Sarana dan Prasarana Institut Teknologi Bandung, “Kesehatan Dan Keselamatan

Kerja”, http:// kesehatandankeselamatankerja.blogspot.com/2009/01/pengertian-keselamatan-dan-

kesehatan-kerja.html, hlm. 1, diakses pada tanggal 8 April 2011. 

73

perusahaan. Misalnya: Veiligheidsreglement, S. 1910 No. 406 yang telah beberapa

kali diubah, terakhir dengan S. 1931 No. 168 yang kemudian setelah Indonesia

merdeka diberlakukan dengan Peraturan Pemerintah No. 208 Tahun 1947. Peraturan

yang mengatur tentang keselamatan dan keamanan didalam pabrik dan tempat

kerja.

ikan terhadap manusia atau merusak

ahteraan hidup dan meningkatkan produksi dan

ihara dan dipergunakan secara aman dan efisien.76

       

74

Keselamatan kerja yang dimaksud adalah bebas dari kecelakaan (Accident)

pada waktu bekerja ditempat kerja (Occupational Safety means free from accident at

the place of work). Yang dimaksud dengan kecelakaan kerja adalah suatu kejadian

atau peristiwa yang tidak diinginkan yang merug

harta benda.Tujuan keselamatan kerja adalah:75

1. Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan

pekerjaan untuk kesej

produktivitas nasional.

2. Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada ditempat kerja.

3. Sumber produksi dipel

b. Kesehatan Kerja

Kesehatan merupakan nikmat dari Tuhan Yang Maha Esa yang tidak ternilai

harganya. Oleh karena itu, setiap manusia ingin mendapatkan kesehatan dan

menjaganya agar terhindar dari segala penyakit yang dapat mengganggu segala

 

74

Ibid, hlm. 106. 

75

J.H. Ritonga, Pengetahuan Dasar Keselamatan Kerja Dan Pencegahan Kecelakaan,

(Jakarta: CV. Garut Narisi Corp, 1990), hlm. 5. 

76

Billy N, “Dasar Hukum Keselamatan Dan Kesehatan Kerja”, http://

aktivitas manusia itu sendiri dan kesehatan kerja senantiasa digambarkan sebagai

suatu kondisi fisik, mental dan sosial seseorang yang tidak saja bebas dari penyakit

atau gangguan kesehatan melainkan juga menunjukkan kemampuan untuk

berin

memandang

peker

dan dapat ditekan dengan upaya-upaya di

bidan

       

teraksi dengan lingkungan dan pekerjaannya.

Kesehatan kerja termasuk kedalam perlindungan sosial karena ketentuan-

ketentuan mengenai kesehatan kerja berkaitan dengan sosial kemasyarakatan, yaitu

aturan-aturan yang bermaksud mengadakan pembatasan-pembatasan terhadap

kekuasaan pengusaha untuk memperlakukan pekerja/buruh “semaunya” tanpa

memperhatikan norma-norma yang berlaku, dengan tidak

ja/buruhnya sebagai mahluk Tuhan yang mempunyai hak asasi.77

Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dapat saling berkaitan. Pekerja yang

menderita gangguan kesehatan atau penyakit akibat kerja cenderung lebih mudah

mengalami kecelakaan kerja. Menengok ke negara-negara maju, penanganan

kesehatan pekerja sudah sangat serius. Mereka sangat menyadari bahwa kerugian

ekonomi (Lost Benefit) suatu perusahaan atau negara akibat suatu kecelakaan kerja

maupun penyakit akibat kerja sangat besar

g kesehatan dan keselamatan kerja.78

Jadi kesehatan kerja bermaksud untuk melindungi atau menjaga pekerja/buruh

dari kejadian atau keadaan hubungan kerja yang merugikan kesehatan dan kesusilaan

 

77

J.H. Ritonga, Op.cit., hlm. 87. 

78

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), http://mily.wordpress.com/kesehatan-dan-

keselamatan-kerja-k3/, diakses tanggal 3 September 2011

dalam hal pekerja/buruh melakukan pekerjaannya. Pekerjaan yang dimaksud adalah

pekerjaan yang dijalankan oleh pekerja/buruh untuk pengusaha dalam hubungan kerja

dengan menerima upah. Dalam suatu hubungan kerja, maksudnya adalah semua

tenaga kerja yang tidak melakukan hubungan kerja dengan pengusaha tidak

mendapatkan perlindungan sosial sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang

Nomo

engarah kepada upaya kesehatan

untuk

preventif atau kuratif terhadap penyakit/gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh faktor

itempat kerja, kesehatan dan kinerja seseorang pekerja

pekerja yang sesuai dengan kemampuannya perlu

       

r 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.79

Konsep kesehatan kerja dewasa ini semakin banyak berubah, bukan sekedar

kesehatan pada sektor industri saja melainkan juga m

semua orang dalam melakukan pekerjaannya.

Suma’mur memberikan pengertian mengenai kesehatan kerja, yaitu:80

“Merupakan spesialisasi ilmu kesehatan/kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan agar pekerja/masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya baik fisik, mental maupun sosial dengan usaha

pekerjaan dan lingkungan kerja serta terhadap penyakit umum”.

Faktor resiko ditempat kerja berkaitan dengan faktor yang mempengaruhi

kondisi kesehatan kerja. D

sangat dipengaruhi oleh:81

1. Beban kerja berupa beban fisik, mental dan sosial sehingga upaya

penempatan diperhatikan.   79 Billy N, Op.cit.  80

Direktorat Sarana dan Prasarana Institut Teknologi Bandung, op.cit., hlm. 1. 

81

2. Kapasitas kerja yang banyak tergantung pada pendidikan, keterampilan,

kesegaran jasmani, ukuran tubuh, keadaan gizi dan sebagainya.

3. ik,

gik, ergonomik maupun aspek psikososial.

1.

matan kerja, maka yang dimaksud adalah yang

an. Salah penempatan tenaga kerja, misalnya si tenaga

yang

etapi supaya lebih murah dibuat dari

againya.

       

Lingkungan kerja sebagai beban tambahan, baik berupa faktor fis

kimia, biolo

Secara umum unsur dari Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah: 82 Keselamatan kerja

Berbicara mengenai kesela

bertalian dengan kecelakaan kerja yang terjadi di tempat kerja. Kecelakaan kerja

ada 4 (empat) faktor, yaitu:

a. Faktor manusianya, dalam hal ini karena kurangnya keterampilan atau

kurangnya pengetahu

kerja Lulusan Sekolah Teknologi Menengah (STM) akan tetapi ditempatkan

di bagian tata usaha.

b. Faktor materialnya/bahannya/peralatannya, yakni misalnya bahan

seharusnya terbuat dari besi, akan t

bahan lainnya sehingga dengan mudah dapat menimbulkan kecelakaan.

c. Faktor bahaya/sumber bahaya, yakni:

1. Perbuatan berbahaya, misalnya karena methode kerja yang salah,

keletihan/kelelahan, sikap kerja yang tidak sempurna dan seb

 

82

Sendjun H. Manulang, Pokok-Pokok Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, (Jakarta: PT. Asdi

2. Kondisi/keadaan berbahaya, yaitu keadaan yang tidak aman dari

mesin/peralatan-peralatan, lingkungan, proses, sifat kerjaan.

d. Faktor yang dihadapi, yakni misalnya kurangnya pemeliharaan/perawatan

bekerja dengan sempurna.

esin, peralatan, bahan dan bangunan.

rawatan korban.

yakni pada umumnya berupa penderitaan

naga kerja yang bersangkutan, baik itu merupakan kematian,

juan untuk:

l.

kan oleh kondisi lingkungan kerja.

       

mesin-mesin/peralatan sehingga tidak bisa

Maka akibat yang disebabkan dari kecelakaan kerja adalah:83 a. Kerugian yang bersifat ekonomis, antara lain:

1. Kerusakan/kehancuran m

2. Biaya pengobatan dan pe

3. Tunjangan kecelakaan.

4. Hilangnya waktu kerja.

5. Menurunnya jumlah maupun mutu produksi.

b. Kerugian yang bersifat non ekonomis,

manusia yaitu te

luka/cidera berat maupun luka ringan.

2. Kesehatan kerja

Merupakan bagian dari ilmu kesehatan yang bertu

1. Meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan tenaga kerja yang setinggi-

tingginya baik phisik, mental maupun sosia

2. Mencegah dan melindungi tenaga kerja dari gangguan kesehatan yang

disebab

 

83

3. Menyesuaikan tenaga kerja dengan pekerja atau pekerjaan dengan tenaga

dalah: 84

g terlalu tinggi datau terlalu rendah.

urang memadai.

lu tinggi atau terlalu rendah.

di tempat kerja.

berupa:

dan bentuk-bentuk lain.

punyai sifat racun.

c. Faktor biologis, dapat berupa:

       

kerja.

4. Meningkatkan produktifitas kerja.

Sumber-sumber bahaya bagi kesehatan tenaga kerja a

a. Faktor phisik, yang dapat berupa:

1. Suara yang terlalu bising.

2. Suhu yan

3. Penerangan yang k

4. Ventilasi yang kurang memadai.

5. Radiasi.

6. Getaran mekanis.

7. Tekanan udara yang terla

8. Bau-bauan

9. Kelembaban udara.

b. Faktor kimia, dapat

1. Gas/uap.

2. Cairan.

3. Debu-debuan.

4. Butiran kristal

5. Bahan-bahan kimia yang mem

 

84

1. Bakteri virus.

2. Jamur, cacing dan serangga.

yang hidup/timbul dalam lingkungan

ada waktu kerja.

n yang

dengan tenaga kerja.

ang monoton.

enyenangkan.

teman 3. Tumbuh-tumbuhan dan lain-lain

tempat kerja.

d. Faktor faal/perubahan, dapat berupa:

1. Sikap badan yang tidak baik p

2. Peralatan yang tidak sesuai atau tidak cocok dengan sikap bada

tidak baik pada waktu kerja.

3. Peralatan yang tidak sesuai atau tidak cocok

4. Gerak yang senantiasa berdiri atau duduk.

5. Proses, sikap dan cara kerja y

6. Beban kerja yang melampaui batas kemampuan.

e. Faktor psikologis, dapat berupa:

1. Kerja yang terpaksa/dipaksakan yang tidak sesuai dengan kemampuan.

2. Suasana kerja yang tidak m

3. Pikiran yang senantiasa tertekan terutama karena sikap atasan atau

sekerja yang tidak sesuai.

4. Pekerjaan yang cenderung lebih mudah menimbulkan kecelakaan.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) harus diterapkan dan dilaksanakan

disetiap tempat kerja. Penanggung jawab Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

ditempat kerja adalah pengusaha atau pimpinan atau pengurus tempat kerja, dan

dan seluruh pekerja/buruh. Bagi pekerja/buruh, adanya jaminan perlindungan

keselamatan kerja akan menimbulkan suasana kerja yang tentram sehingga

pekerja/buruh akan dapat memusatkan perhatiannya pada pekerjaannya semaksimal

B.

ia

peraturan mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3),

Undang

emikian hal-hal yang belum diatur dalam

peratur

       

mungkin tanpa khawatir sewaktu-waktu akan tertimpa kecelakaan kerja.85

Peraturan Yang Mengatur Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Indones

Beberapa

yaitu:86

-Undang

1. Undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja

Undang-undang ini diundangkan untuk menggantikan Veiligheidsregement

Tahun 1910 (stb. No. 406). UUK No. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja ini

tidak secara tegas dicabut, dengan d

an pelaksana lainnya maka ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam UU No. 1

Tahun 1970 dianggap masih berlaku.87

UUK No. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja mengalami pembaharuan

dan perluasan, yaitu: (1) perluasan ruang lingkup, (2) perubahan pengawasan yang

       

85

Zaeni Asyhadie, Hukum Kerja (Hukum Ketenagakerjaan Bidang Hubungan Kerja), (Jakarta

turanPerundang-Undangan,KeselamatandanKesehatanKerja, diakses tanggal 25 Agustus

Agusmidah, Dinamika Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, (Medan: USU Press, 2010), hlm. 73. : PT. RajaGrafindo Persada, 2008), hlm. 104.  86 http://www.scribd.com/com/12966864/Peraturan-PerundangUndangan-K3, HimpunanPera 2011  87  

bersifat represif menjadi preventif,88 (3) perumusan teknis yang lebih tegas, (4) penyesuaian tata usaha/administrasi yang diperlukan bagi pelaksana pengawas. (5)

tambah

akaian,

penyim

barang dan manusia, usaha penyelam, pekerjaan dengan tekanan udara atau suhu

tinggi/rendah, pekerjaan dalam tangki atau lubang, serta di tempat kerjanya yang

       

an pengaturan pembinaan keselamatan kerja bagi manajemen dan tenaga

kerja, (6) tambahan pengaturan pemungutan retribusi tahunan.89

Ruang lingkup Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) juga diatur dalam

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja, dan undang-

undang ini mencakup di semua tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di

permukaan air, di dalam air, maupun di udara di wilayah negara Republik Indonesia.

Karena sumber bahaya yang dapat menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat

kerja yang berada di tempat kerja harus dikendalikan melalui penerapan syarat

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sejak tahap perencanaan, proses produksi,

pemeliharaan, pengangkutan, peredaran, perdagangan, pemasaran, pem

panan, pembongkaran dan pemusnahan bahan, produk teknis dan alat

produksi yang mendukung dan dapat menimbulkan bahaya dan kecelakaan.90

Syarat keselamatan kerja diberlakukan di tempat kerja yang memakai antara

lain peralatan yang berbahaya, pekerjaan konstruksi dan perawatan bangunan, usaha

pertanaman kehutanan dan perikanan, usaha pertambangan, usaha pengangkutan

  88 Ibid, hlm. 77.   89 Ibid  90 Ibid 

terdapat atau menyebarkan suhu, kelembaban, debu, kotoran, api, asap, uap, gas,

hembusan angin, cuaca, sinar, radiasi, suara dan getaran.91

Maka untuk menjamin Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di tempat kerja

yang menggunakan alat atau bahan yang berbahaya dan beracun atau lingkungan

tempat kerja yang dapat menimbulkan penyakit akibat kerja dan kecelakaan, maka

berbagai persyaratan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) perlu dipenuhi.92

Dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan

Kerja ada ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja, untuk: 93 a. Mencegah dan mengurangi kecelakaan.

b. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran.

c. Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan.

d. Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran

atau kejadian lain yang berbahaya.

e. Memberi pertolongan pada kecelakaan.

f. Memberi alat perlindungan diri kepada para pekerja.

g. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya suhu,

kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca sinar atau

radiasi, suara dan getaran.

      

91

“Peraturan perundang-udangana mengenai Keselamatan dan kesehatan kerja”, http:// www.docstoc.com/docs/37727358/PERATURAN-PERUNDANG-UNDANGAN-DIBIDANG K3,

diakses tanggal 25 Mei 2011. 

92

Ibid 

93

h. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik fisik

maupun phychis, infeksi dan penularan.

i. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai.

j. Menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik.

k. Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup.

l. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban.

m. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan

proses kerjanya.

n. Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman

atau barang.

o. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan.

p. Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat, perlakuan dan

penyimpanan barang.

q. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya.

r. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang

bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.

2. Undang-undang Republik Indonesia No. 13 tahun 2003 tentang

Ketenagakerjaan

Undang-undang ini mengatur tentang landasan, asas, dan tujuan, kesempatan

dan perlakuan yang sama, perencanaan tenaga kerja, pelatihan kerja, penempatan

tenaga kerja, perluasan kesempatan kerja, penggunaan tenaga kerja asing, hubungan

hubungan kerja, pembinaan, pengawasan, penyidikan ketentuan pidana dan sanksi

administrasi, dan ketentuan peralihan. Dalam undang-undang ini perlindungan hak

normatif bagi tenaga kerja yaitu diatur dalam Bab X tentang perlindungan,

pengupahan dan kesejahteraan.

1. Perlindungan.

a. Perlindungan pekerja/buruh

1. Perlindungan terhadap penyandang cacat

Pekerja cacat oleh undang-undang diberi perlindungan dan jaminan untuk

melakukan hubungan kerja dengan majikan/pengusaha. Pasal 67 Undang-Undang

Ketenagakerjaan dengan tegas menyebutkan terhadap pengusaha yang

mempekerjakan tenaga kerja penyandang cacat wajib memberikan perlindungan

sesuai dengan jenis dan derajat kecacatannya. Perlindungan sebagai mana dimaksud

misalnya penyediaan aksesibilitas, pemberian alat kerja, dan alat pelindung diri yang

disesuaikan dengan jenis dan derajat kecacatannya tersebut.94

Ketentuan ini lahir sebagai usaha pemerintah menegakkan jaminan kepastian

bagi setiap tenaga kerja untuk memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak

sesuai dengan kemanusiaan, sebagaimana amanat UUD NKRI Tahun 1945 dalam

Pasal 27 ayat (2) dan 28 D ayat (2). Kategori penyandang cacat terdiri dari:95

      

94

Agusmidah, Op. Cit., hlm. 56. 

95

a. Penyandang cacat fisik.

Cacat fisik adalah kecacatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi

tubuh, antara lain gerak tubuh, penglihatan, pendengaran, dan

kemampuan bicara.

b. Penyandang cacat mental.

Cacat mental adalah kelainan mental dan/atau tingkah laku, baik cacat

bawaan maupun akibat dari penyakit.

c. Penyandang cacat fisik dan mental.

Cacat fisik dan mental adalah keadaan seseorang yang menyandang dua

jenis kecacatan sekaligus.

2. Perlindungan terhadap pekerja anak

Pasal 1 angka 26 Undang-Undang Ketenagakerjaan mendefinisikan anak

adalah “Setiap orang yang berumur dibawah 18 (delapan belas) tahun”. Secara

khusus Undang-Undang Ketenagakerjaan memberi batasan tentang pekerja anak,

batasan yang dapat digunakan antara lain:96

a. Pekerja anak adalah anak-anak yang bekerja baik sebagai tenaga upahan

maupun pekerja keluarga.

b. Pekerja anak adalah anak yang bekerja disektor formal maupun informal

dengan berbagai status hubungan kerja.

      

96

Pengusaha dilarang mempekerjakan anak, kecuali bagi anak yang berumur

antara 13 (tiga belas) tahun sampai dengan 15 (lima belas) tahun untuk:97

a. Melakukan pekerjaan ringan sepanjang tidak mengganggu

perkembangan dan kesehatan fisik, mental, dan sosial (Pasal 68 dan 69

ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang

Ketenagakerjaan.

b. Untuk mengembangkan bakat dan minat.

Pengusaha yang mempekerjakan anak untuk mengembangkan bakat dan

minatnya wajib memenuhi syarat:

a. Dibawah pengawasan langsung orang tua/wali.

b. Waktu kerja paling lama 3 (tiga) jam sehari.

c. Kondisi dan lingkungan kerja tidak mengganggu perkembangan fisik,

mental, sosial, dan waktu sekolah.

c. Khusus bagi anak yang berusia minimum 14 tahun, untuk pekerjaan

yang merupakan bagian dari kurikulum pendidikan atau pelatihan yang

disahkan oleh pejabat yang berwenang.

Pasal 72 Undang-Undang Ketenagakerjaan menetapkan dalam hal anak

dipekerjakan bersama-sama dengan pekerja/buruh dewasa, maka tempat

kerja anak harus dipisahkan dari tempat kerja pekerja/buruh dewasa.98

      

97

Hardijan Rusli, Hukum Ketenagakerjaan, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2004), hlm. 101. 

98

3. Perlindungan terhadap pekerja perempuan

Perlindungan terhadap pekerja perempuan secara keseluruhan terkait dengan

perlindungan ekonomis, perlindungan sosial dan perlindungan teknis. Perlindungan

ekonomis diantaranya menyangkut upah dan tunjangan lainnya tidak boleh dibedakan

dengan pekerja laki-laki untuk jenis pekerjaan dan jabatan yang sama, selain itu

terhadap perempuan yang menjalankan masa istirahat dikarenakan haid, malahirkan

atau keguguran kandungan tetap mendapat upah penuh.99 b. Perlindungan jam kerja dan waktu istirahat

Waktu kerja dan waktu istirahat merupakan jaminan perlindungan

pekerja/buruh di tempat kerja guna menghindari adanya perlakuan tidak manusiawi

atas pekerja/buruh atas jam kerja berlebihan sehingga dapat mengganggu kesehatan

dan keselamatan.100 1. Waktu kerja

Setiap pengusaha wajib melaksanakan ketentuan waktu kerja yang diatur

dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Kecuali

bagi sektor usaha atau pekerjaan tertentu (misalnya pengeboran minyak lepas pantai,

sopir angkutan jarak jauh, penerbangan jarak jauh, pekerjaan dikapal (laut) atau

penebangan hutan. Pasal 77 Undang-Undang Ketenagakerjaan menyebutkan bahwa

setiap pengusaha wajib melaksanakan ketentuan waktu kerja apabila dilakukan

penyimpangan atas jam kerja tersebut maka pengusaha harus mengajukan izin dari

      

99

Ibid, hlm. 68. 

100

lembaga yang berwenang dan harus melakukan pembayaran/kompensasi sesuai

peraturan tentang kerja lembur dan upah kerja lembur.101 2. Waktu istirahat

Pengusaha wajib memberikan waktu istirahat bagi pekerja/buruh, sebagai