• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

1) PENGERTIAN KETELADANAN GURU

Keteladanan guru merupakan penggabungan dari dua kata yaitu berasal dari kata “Teladan” dan “Guru”. Teladan berarti contoh atau suatu tindakan, tingkah laku yang sering dilihat dan dipraktikkan oleh seseorang didalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan Guru adalah pihak utama yang langsung berhubungan dengan anak dalam upaya proses pembelajaran, peran guru itu tidak terlepas dari keberadaan kurikulum (Melati, 2012:11). Karena tugas seorang guru adalah mengajar sekaligus mendidik, maka keteladanan dari seorang guru menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar. Keteladanan merupakan senjata mematikan yang sulit untuk dilawan. Keteladanan bagaikan anak panah yang langsung mengenai sasaran. Keteladanan menjadi senjata ampuh yang tidak bisa dilawan dengan kebohongan, rekayasa dan tipu daya (Ma‟mur asmani, 2009:79).

Dalam bahasa Arab diistilahkan dengan “uswatun hasanah” yang berarti

cara hidup yang diridlai oleh Allah SWT.

Jadi yang dimaksud dengan keteladanan dalam pengertiannya sebagai uswatun hasanah adalah suatu cara mendidik, membimbing dengan menggunakan contoh yang baik yang diridloi Allah SWT sebagaimana yang tercermin dari prilaku Rasulullah dalam bermasyarakat

dan bernegara dan juga sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh, tentang perbuatan, kelakuan,atau sifat dari orang yang pekerjaannya mengajar baik secara langsung maupun tidak langsung.

Lain Rasulullah, lain pula halnya dengan para guru zaman sekarang ini, berapa banyak anak didik yang telah terintimidasi oleh cara mengajar guru yang tidak mengasyikkan. Berapa banyak anak didik yang potensi dahsyatnya terpupuskan oleh cara mengajar yang salah. Berapa anak didik yang pudar motivasi belajarnya gara-gara pendekatan salah yang dilakukan oleh sang guru. Rasulullah memang tak sepatutnya diperbandingkan dengan kalangan manusia pada umumnya.Beliau jelas merupakan manusia sempurna, sekaligus merupakan guru yang sangat hebat.Tetapi tidak ada salahnya jika sikap keguruan beliau diteladani semaksimal kemampuan yang kita punya (Soebachman, 2014:177-178).

Dalam Al-Qur‟an banyak mengandung metode pendidikan yang dapat menyentuh perasaan, mendidik jiwa dan membangkitkan semangat. Metode tersebut mampu menggugah puluhan ribu kaum muslimin untuk membuka hati manusia agar dapat menerima petunjuk Ilahi dan kebudayaan Islam.

Jadi keteladanan adalah hal-hal yang dapat ditiru atau dicontoh seseorang dari orang lain dalam bentuk perbuatan maupun pada ucapan, kemudian dipraktikkan sesuai apa yang dilihatnya. Oleh karena itu keteladanan yang harus diterapkan adalah keteladanan yang baik.

46

Menurut KH Moh Hasyim Asy‟ari ada 20 macam syarat menjadi guru, di antaranya:

a. Selalu istiqomah dalam muraqabah kepada Allah Swt, Muraqabah adalah melihat Allah Swt dengan mata hati dan menghubungkan dengan perbuatan yang dilakukan selama ini, kemudian mengambil hikmah atau jalan yang terbaik bagi dirinya dengan merasakan adanya pemantauan Allah Swt.

b. Senantiasa berlaku Khauf (takut kepada Allah Swt) dalam segala ucapan dan tindakan.

c. Senantiasa bersikap tenang.

d. Senantiasa bersifat Wara‟ (wara‟ adalah meninggalkan perkara syubhat dan perkara yang tidak bermanfaat.

e. Selalu bersikap tawadhuk.

f. Selalu bersikap khusyuk kepada Allah Swt.

g. Menjadikan Allah Swt sebagai tempat meminta pertolongan dalam segala keadaan.

h. Menjadikan ilmunya sebagai tangga mencapai keuntungan duniawi, baik jab tan, harta, popularitas, atau agar lebih maju di banding temannya yang lain.

i. Tidak diskriminatif terhadap murid.

j. Bersikap zuhud dalam urusan dunia sebatas apa yang ia butuhkan, yang tidak membahayakan dirinya sendiri, keluarga, bersikap sederhana dan bersifat qana‟ah.

k. Menjauhkan diri dari tempat-tempat yang rendah dan hina menurut manusia,juga hal-hal yang dibenci oleh syariat maupun adat setempat. l. Menjauhkan diri dari tempat-tempat kotor dan maksiat walaupun jauh

dari keramaian.

m. Selalu menjaga syiar-syiar islam dan zhahir-zhahir hukum,seperti shalat berjamaah di masjid, menyebarkan salam, amar makruf nahi munkar,serta senantiasa sabar terhadap musibah yang menimpanya. n. Menegakkan sunnah-sunnah dan menghapus segala hal yang

mengandung unsur bid‟ah, menegakkan segala hal yang mengandung

kemaslahatan bagi kaum muslimin dengan jalan yang dibenarkan syariat, dengan cara yang baik dan lembut, baik menurut adat istiadat maupun watak.

o. Membiasakan diri melakukan sunnah yang bersifat syariat, baik

qauliyah atau fi‟lliyah, seperti membiasakan diri membaca Al-Qur‟an

baik dihati atau dilisan.

p. Bergaul dengan akhlak yang baik, seperti menampakan wajah berseri, banyak mengucapkan dan menyebarluaskan salam, memberikan makanan, menekan rasa amarah dalam jiwa.

q. Membersihkan hati dan tindakan dari akhlak yang jelek dan dilanjutkan dengan perbuatan yang baik.

r. Senantiasa bersemangat untuk mengembangkan ilmu dan bersungguh-sungguh dalam setiap aktivitas ibadah, seperti membaca, menelaah,

48

menghafal, sehingga tidak ada waktu yang terbuang kecuali untuk mencari ilmu dan mengamalkan ilmu.

s. Tidak boleh mebeda-bedakan status, nasab, dan usia dalam mengambil hikmah dari semua orang.

t. Membiasakan diri unuk menyusun dan menerangkan pengetahuan

(Ma‟mur Asmani, 2009:32-38).

Adapun mendidik dengan memberi keteladanan memiliki dasar sebagaimana ayat-ayat Al-Qur‟an yang menerangkan tentang dasar-dasar pendidikan antara lain:

Yang artinya“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu

suritauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan

rahmat Allah, dan hari akhir dan dia banyak mengingat Allah”. (QS. Al

-Ahzab: 21).

Dalam firman yang lain terdapat dalam Q.s At Tahriim ayat 6:













































Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (Qs At Tahriim:6)

Ayat di atas sering diangkat sebagai bukti adanya keteladanan dalam pendidikan.Dalam bahasa Indonesia terdapat istilah “Guru” yaitu

sebagai pengajar dan pendidik. Dua istilah terakhir merupakan bagian tugas terpenting dari guru yaitu mengajar dan sekaligus mendidik siswanya. Di dunia ini banyak orang yang bekerja sebagai guru,akan tetapi mungkin hanya sedikit yang bisa menjadi guru, yaitu yang bisa digugu

dan ditiru (Marno dan Idris, 2010:15-16).

Menurut Darji Darmodiharjo yaitu tugas seorang guru ada tiga macam: mendidik, mengajar dan melatih. Tugas mendidik lebih menekankan pada pembentukan jiwa, karakter dan kepribadian berdasarkan nilai-nilai. Tugas mengajar lebih menekankan pada pengembangan kemampuan penalaran dan Tugas melatih menekankan pada pengembangan kemampuan penerapan teknologi dengan cara melatih berbagai keterampilan (Marno dan Idris, 2010:18).

Dalam pandangan islam, seorang guru haruslah seorang yang bertakwa, yaitu beriman, berilmu dan berakhlakul karimah sehingga tidak saja efektif dalam mengajar, tetapi juga efektif dalam mendidik. Sebab, mendidik dengan keteladanan lebih efektif daripada mengajar dengan perkataan (Marno dan Idris, 2010:28)

Peran guru ditentukan oleh kedudukannya sebagai orang dewasa, sebagai pengajar dan pendidik serta sebagai pegawai. Yang paling utama adalah kedudukannya sebagai pengajar dan pendidik yaitu sebagai guru. Berdasarkan kedudukanya sebagai guru, ia harus menunjukkan perilaku yang layak dan bisa dijadikan teladan bagi siswanya (Tohirin, 2008:165).

50

Seorang guru juga harus mengajarkan budi pekerti yang luhur dan baik. Menurut Al-Ghazali, didukung oleh M. Athiyah Al Abrasyi “pendidikan budi pekerti adalah jiwa dari pendidikan Islam (pendidikan yang dikembangkan oleh kaum muslimin), dan islam telah menyimpulkan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa pendidikan islam. Mencapai suatu akhlak yang sempurna adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan”.

Pernyataan tersebut menurut Al-Ghazali jelas menghendaki keluhuran rohani, keutamaan jiwa, kemuliaan akhlak dan kepribadian yang kuat, merupakan tujuan utama dari pendidikan bagi kalangan manusia muslim, karena akhlak adalah aspek fundamental dalam kehidupan seseorang, masyarakat maupun suatu Negara.Allah telah mempersiapkan tokoh agung yaitu Nabi Muhammad SAW untuk menjadi teladan bagi semua manusia. Sehingga kita diwajibkan atau dianjurkan untuk meneladani kepribadian Nabi secara keseluruhan.

Sebagai seorang guru yang muslim harus bisa mengambil suritauladan dari akhlak Nabi, namun mereka harus bisa berupaya semaksimal mungkin meneladaninya, agar ia dapat dijadikan contoh yang baik bagi murid-muridnya. Berkaitan dengan keteladanan Al Ghazali mengatakan:“Seorang guru harus mengamalkan ilmunya, lalu perkataanya jangan membohongi perbuatannya. Karena sesungguhnya ilmu itu dapat dilihat dengan mata hati sedangkan perbuatan dapat dilihat dengan mata

kepala. Padahal yang mempunyai mata kepala adalah lebih banyak (Zainuddin, 1991:56).

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa seorang guru harus bisa memberikan contoh perilaku yang baik kepada murid-muridnya, karena segala tingkah laku guru diperhatikan dan secara tidak langsung dipraktikkan oleh mereka.

Macam-macam keteladanan guru :

a. Mengucapkan “assalamu‟alaikum warahmatullahi wabarakaatuh” pada saat masuk kelas. dan pada saat anak menjawab salam dari guru hendaknya pandangan harus tertuju pada siswa.

b. Guru memberikan contoh kedisiplinan terhadap siswa, contohnya: guru harus tiba di sekolah lebih awal, dengan tujuan guru dapat menyambut kedatangan siswa, sehingga siswa akan mencontoh guru untuk tidak terlambat ke sekolah dan merasa senang saat berada di sekolah.

c. Guru hendaklah selalu menghargai segala usaha yang telah dilakukan siswa, misalnya jika anak mendapat nilai bagus, guru memberikan hadiah kapada siswa. ini bertujuan agar siswa selalu termotivasi untuk selalu belajar.

d. Dalam mengajar, guru harus menunjukkan wajah penuh senyum. Sehingga proses belajar mengajar berlangsung tanpa beban yang membuat anak didik merasa tegang.

52

e. Memberikan contoh yang baik dan tidak bersikap kasar yang bisa berakibat kepada semangat anak, karena setiap anak mempunyai kepribadian yang berbeda-beda.

f. Di hadapan murid, guru harus berberakhlak siddiq atau jujur.

Dari macam-macam keteladanan tersebut, seorang guru diharapkan mampu memberikan contoh yang baik kepada peserta didiknya dengan berupaya menanamkan sikap dan akhlak yang baik dan mulia, sehingga para peserta didik mampu memahami dan menirukan apa yang dicontohkan oleh gurunya.

Dokumen terkait