PENGERTIAN ILMU DAN KLASIFIKASI ILMU MENURUT AL-FARÂBÎ DAN AUGUSTE COMTE
D. Pengertian Klasifikasi Ilmu Menurut Auguste Comte
Dengan menerangkan bahwa karya atau kegiatan manusia itu dapat dibedakan antara yang bersifat spekulatif dan yang bersifat aktif, sehingga dapat dibedakan pula adanya pengetahuan yang teoritis dan yang praksis, Auguste Comte kemudian membagi ilmu pengetahuan yang bersifat spekulatif atau teoritis tadi ke dalam ilmu pengetahuan yang abstrak atau umum dan ilmu pengetahuan yang kongkret atau khusus.37 Ini perlu difahami terlebih dahulu, karena untuk membuktikan adanya kemajuan yang telah dicapai manusia dalam ilmu pengetahuannya, Auguste Comte menempuh cara dengan mengadakan klasifikasi ilmu pengetahuan.38
Auguste Comte mengakui bahwa tujuan ilmu pengetahuan itu pada akhirnya mengarah kepada pencapaian kekuasaan, sebagaimana semboyan mengatakan “knowledge is power”, namun kita tidak boleh melupakan bahwa di samping itu masih terdapat tujuan lain yang lebih tinggi, yaitu bahwa ilmu pengetahuan memberi kepuasan kepada manusia melalui pengenalan hukum-hukum gejala (fenomena) alam semesta, dan dengan mengenal hukum-hukum-hukum-hukum gejala tadi, manusia akan mampu meramalkan, dan bahkan mampu pula merubah alam itu untuk kepentingannya.
Dengan demikian kita akan melihat bahwa di samping hukum tiga tahap, juga klasifikasi ilmu yang diadakan oleh Auguste Comte ini, merupakan unsur yang amat penting pula untuk diketahui, dalam kerangka pemahaman kita tentang apa arti klasifikasi ilmu menurut Auguste Comte itu. Auguste Comte berpendapat
37 Auguste Comte, The Positive Philosophy (New York: AMN Press Inc, 1974), terj. dari bahasa Prancis oleh Harried Martineau dari Cours de Philosophie Positive (1855), hlm. 40.
38 Ibid., hlm. 41.
bahwa klasifikasi yang dia lakukan adalah yang paling tepat, dan tidak mengandung kesalahan sebagaimana klasifikasi ilmu yang pernah ada sebelumnya. Bahwa klasifikasi ilmu yang pernah ada itu mengandung kesalahan, hal itu menurut Auguste Comte disebabkan karena:
a. klasifikasi itu dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai sesuatu cabang ilmu yang manapun,
b. keinginan untuk menyamakan dan menyatukan berbagai bagian dalam sistem intelektual yang sebagian sudah bersifat positif, sedang sebagian yang lain masih bersifat metafisik atau teologi, sehingga mustahil untuk membuat suatu klasifikasi.
Bahkan kemudian Auguste Comte juga menyatakan bahwa usaha untuk menciptakan suatu klasifikasi ilmu sebenarnya terlalu cepat, dan karenanya pasti tidak akan berhasil, sebelum konsep-konsep ilmiah yang berkembang menjadi positif.39 Untuk mengadakan klasifikasi secara tepat, Auguste Comte membenarkan apa yang telah dilakukan oleh para ahli biologi dan zoologi, yang tanpa bersikap atau mempertimbangkan sesuatu secara apriori, hal-hal yang akan dikenakan klasifikasi dipelajari terlebih dahulu.40 Diakuinya, bahwa untuk mengadakan klasifikasi ilmu ini, tidaklah semudah yang kita perkirakan, sebab sekalipun cara dan logika kita pergunakan sebaik-baiknya, namun berbagai hal akan ikut tersangkut, sehingga dengan cara apapun kita tidak akan dapat terhindar dari suatu lingkaran visius dalam menciptakan klasifikasi ilmu dalam urutan yang
39 Ibid., hlm. 38.
40 Ibid., hlm. 39
seharusnya. Hal ini disebabkan karena setiap cabang ilmu dapat diterangkan secara historik dan secara dogmatik.
Kenyataan menunjukkan bahwa sesuatu cabang ilmu secara keseluruhan tidak akan dapat kita pahami tanpa memahami segi kesejarahannya, dan sebaliknya pengetahuan dogmatik mengenai sesuatu cabang ilmu adalah perlu, sekiranya kita ingin mengetahui sejarah cabang ilmu tadi.41
...the dogmatic method is forever superseding the historical, as we advance to a higher position in science.42
Pada dasarnya klasifikasi ilmu pengetahuan yang dikemukakan Auguste Comte sejalan dengan sejarah ilmu pengetahuan itu sendiri, yang menunjukkan bahwa gejala-gejala dalam ilmu pengetahuan yang paling umum akan tampil terlebih dahulu. Kemudian disusul dengan gejala-gejala pengetahuan yang semakin lama semakin rumit dan kompleks dan semakin kongkret. Karena itu, dalam mengemukakan klasifikasi ilmu pengetahuan, Auguste Comte memulai dengan mengamati gejala-gejala yang paling sederhana, yaitu gejala-gejala yang letaknya jauh dari suasana kehidupan sehari-hari. Baginya, inilah cara atau metode yang dia katakan paling tepat, karena urutan atau tingkatan dalam sifat kesederhanaannya dan keumumannya, menentukan kemudahan (fasilitas) yang diperlukan untuk memahami gejala-gejala yang dihadapi.
Dengan mempelajari gejala-gejala yang paling sederhana dan paling umum secara lebih tenang dan rasional, kita akan memperoleh landasan baru bagi ilmu-ilmu pengetahuan yang saling berkaitan untuk dapat berkembang secara
41 Ibid., hlm. 42
42 Ibid., hlm. 42
lebih cepat, dan dengan mengakhiri pengamatan gejala-gejala yang langsung berkaitan dengan kehidupan manusia, maka urutan dalam klasifikasi yang dikemukakan Auguste Comte, pertama-tama disebutnya ilmu pasti (matematika) yang dikatakan sebagai dasar semua ilmu pengetahuan. Setelah itu disusul dengan ilmu perbintangan (astronomi), kemudian ilmu alam (fisika), kimia , ilmu hayat (biologi), dan akhirnya fisika sosial (atau sosiologi).
Keenam ilmu dasar itu diurutkan sedemikian rupa, mulai dari yang paling abstrak ke yang paling konkret, yang lebih kemudian tergantung pada yang terdahulu. Misalnya, matematika lebih abstrak dari astronomi, dan astronomi tergantung pada matematika. Fisiologi dan biologi menyelidiki hukum-hukum umum yang mengatur makhluk hidup, dan keduanya tergantung pada kimia yang menyelidiki perubahan zat, tapi juga lebih abstrak daripada sosiologi dan diandaikan oleh sosiologi. Sebagai ilmu pengetahuan terakhir, menurut Comte, sosiologi baru berkembang sesudah ilmu-ilmu lain menjadi matang. Sebaliknya sebagai pangkal, matematika bagi Comte adalah model metode ilmiah, bagi ilmu-ilmu lainnya. Akan tetapi baru dalam sosiologi, menurut Comte, ilmu-ilmu-ilmu-ilmu mencapai tahap positifnya, yakni: secara penuh memakai metode ilmiah untuk menyelidiki fakta yang paling konkret, yakni: perilaku sosial manusia. Dalam hal ini Comte mengklaim dirinya sebagai orang yang membawa ilmu pengetahuan ke tahap positifnya dalam sosiologi.
Dalam klasifikasi ilmu-ilmu di atas kita tidak melihat psikologi dan etika.
Karena, dalam anggapan Comte, psikologi yang ilmiah itu mustahil, sebab psikologi adalah refleksi manusia atas rohnya sendiri, dan roh ini bukan fakta
yang positif, melainkan pengalaman subjektif. Pada zaman Comte psikologi lebih dipahami sebagai psikologi introspektif. Dia belum melihat perkembangan psikologi menjadi psikologi eksperimental seperti sekarang. Lalu, bagaimana dengan etika? Etika dalam arti ilmu normatif tentang apa yang seharusnya ada jelas melampaui yang faktual. Dalam arti ini etika tidak bisa masuk dalam klasifikasinya. Akan tetapi, Comte lalu memperlakukan etika sebagai ilmu tambahan untuk merumuskan hukum-hukum yang memungkinkan kita meramalkan dan merencanakan susunan sosial. Dalam arti ini, etika menjadi tambahan untuk sosiologi.
BAB IV
ANALISIS PERBANDINGAN BASIS KLASIFIKASI ILMU