• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian, Konsep dan Teori

1. Pengertian Peran Pemerintah Daerah

Defenisi peranan menurut depertemen pendidikan dan kebudayaan memberikan arti peranan, tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa. Sedangkan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia mengartiakan peranan adalah, Suatu yang menjadi bagian atau yang memegang pimpinan yang terutama (dalam terjadinya suatu hal atau peristiwa). Peranan berasal dari kata peran, berarti sesuatu yang menjadi bagian atau memegang pimpinan yang terutama. Peranan menurut soetomo suatu konsep perihal yang dapat dilakukan individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat, peranan yang meliputi norma-norma yang dikembangkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam kehidupan masyarakat.

Peran adalah serangkaian rumusan yang membatasi perilaku-perilaku yang diharapkan dari pemegang kedudukan tertentu misalnya dalam keluarga, perilaku ibu dalam keluarga diharapkan bisa memberi anjuran, memberi penilaian, memberi sangsi dan lain-lain. Seiring dengan pilar utama negara hukum yaitu asas legalitas (legaliteits beginsel atau het begin sel van wetmatigheid van bestuur), maka berdasarkan prinsip ini tersirat bahwa peran pemerintah berasal dari peraturan perundang-undangan.

Peranan adalah suatu konsep yang dipakai sosiologi untuk mengetahui pola tingkah laku yang teratur dan relatif bebas dari orang-orang tertentu yang kebetulan menduduki berbagai posisi dan menunjukkan tingkah laku yang sesuai dengan tuntutan peranan yang dilakukannya. Sunarno, Siswanto.

menyatakan bahwa peranan mencakup paling sedikit 3 (tiga) hal, yaitu:

a) Peranan adalah norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti menempatkan rangkaian peraturan yang mendukung seseorang dalam kehidupan masyarakat.

b) Peranan adalah suatu konsep perihal apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi.

c) Peranan dapat juga dikatakan sebagai perilaku individu yang penting dalam struktur sosial.

Bedasarkan defenisi diatas, dapat di simpulkan bahwa peranan adalah segala suatu tindakan yang dilakukan dengan sengaja yang bisa mengakibatkan terjadinya suatu peristiwa yang lain baik secara langsung maupun tidak langsung.Yang menghasilkan tujuan dari pokok masalah yang menjadi tujuan utama.

2. Peran Pemerintah Dalam Pemberdayaan

Peran pemerintah dalam pemberdayan berfungsi sebagai bagian yang penting tak terlepas dari beberapa aspek pemberdayaan, beberap peran penting yang di jalankan pemerintah dalam melaksanakan fungsinya.

a) Fasilitator, Pemerintah memiliki peran dalam beberapa aspek memfasilitasi untuk mencapai tujuan, memberikan pelatihan atau sarana dalam pengembangan suatu kemampuan masyarakat agar dapat lebih mandiri.

b) Regulator, Peran pemerintah dalam mendorong pembangunan dengan menetapkan kebijakan atau aturan yang diwujudkan dengan program nyata, yakni terciptanya peningkatan sumber daya, peningkatan infrastruktur dan ekonomi masyarakat.

c) Motivasi , sabagai perubahan energy dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian ini mengandung tiga elemen penting yaitu:

bahwa motivasi itu mengawali terjadinya terjadinya perubahan energy pada diri setiap individu manusia (walaupun motivasi itu muncul dari dalam diri manusia).

3. Pengertian Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan berasal dari bahasa Inggris (empaworment) yang dapat bermakna, pemberian kekuasaan, karena kekuatan bukan sekedar kata, daya, tapi juga kekuasaan, sehingga kata daya tidak saja bermakna mampu, tapi juga mempunyai kuasa (Wrihantoro dan Dwijowijoto, 2007:1). menjelaskan lebih rinci bahwa secara etimologis pemberdayaan berasal dari kata dasar "daya" yang berarti kekuatan atau kemampuan. Bertolak dari pengertian tersebut, maka pemberdayaan dimaknai sebagai proses untuk memperoleh daya, kekuatan atau

kemampuan, dan atau proses pemberian daya, kekuatan atau kemampuan dari pihak yang memiliki daya kepada pihak yang kurang atau belum berdaya.

Istilah pemberdayaan memiliki arti yang berbeda dalam konteks politik dan sosial cultural. Istilah ini meliputi kekuatan dari dalam diri, kontrol, kekuasaan, kepercayaan diri, pilihan, martabat hidup terkait dengan nilai-nilai, kemampuan untuk memperjuangkan hak, kemandirian, pengambilan keputusan secara mandiri, bebas, terbangun, dan kapabalitas (Narayan, D. 2002:10).

Pengertian ini melekat pada nilai-nilai lokal dan sistem kepercayaan.

Pemberdayaan sebagai sebuah intervensi merupakan suatu upaya untuk memperkuat aset masyarakat berdasarkan lembaga, dan mengubah peraturan institusional yang mengatur perilaku dan interaksi antara manusia. Meningkatkan akses seperti informasi atau kredit dapat mengembangkan keberdayaan suatu masyarakat.

Perubahan institusional dapat memberdayakan masyarakat dengan menciptakan seperangkat hak dan kewajiban yang baru, merubah sanksi dan insentif, dan mengurangi biaya ekonomi dan sosial dalam mengekspresikan pilihan yaitu, dapat menciptakan kesetaraan dalam meraih kesempatan bagi mereka yang kurang beruntung.

Narayan, D. (2002:23) mendefenisikan pemberdayaan sebagai berikut:

“ Empower ment is the expansion of assets and capabilities of poor people to participate in, negotiate with, influence, control, and hold accountable institutions that affect their lives.”

(Pemberdayaan adalah perluasan aset dan kemampuan kaum miskin untuk berpartisipasi dalam, bernegosiasi dengan, mempengaruhi, memiliki control dan memiliki institusi yang akuntabel yang dapat mempengaruhi kehidupan mereka).

Gagasan ini dapat diartikan sebagai dorongan yang diberikan kepada komunitas sasaran untuk menentukan sendiri apa yang harus dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi. Secara lebih lanjut, gagasan ini bertujuan agar komunitas sasaran (klien) memiliki kesadaran dan kekuasaan penuh dalam membentuk masa depannya (Syarifin, Pipin dan Daedah Jubaedah 2006).

Defenisi Pemberdayaan adalah sebuah, (proses menjadi) bukanlah sebuah, (proses instan), pemberdayaan mempunyai tiga tahapan (Wrihantoro dan Dwijowijoto, 2007: 2), secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut:

a) Penyadaran

Pada tahap ini target yang ingin diberdayakan diberi, pencerahan, dalam bentuk pemberian penyadaran bahwa mereka mempunyai hak untuk mempunyai, sesuatu, Program-program yang dapat dilakukan pada tahap ini misalnnya memberikan pengetahuan yang bersifat kognisi, belief dan healing. Prinsip dasarnya adalah membuat target mengerti bahwa mereka perlu membangun, demand, diberdayakan, dan proses pemberdayaan itu mulai dari diri mereka sendiri.

b) Pengkepastian

Disebut, capacity building, atau memampukan, Untuk diberikan daya atau kuasa bersangkutan harus mampu terlebih dahulu otonomikan.

Misalnya, sebelum memberikan otonomi daerah, seharusnya daerah-daerah yang hendak diberikan program kemampuan atau capacity building untuk membuat mereka cakap dalam mengelola otonomi yang diberikan. Proses capacity building terdiri dari tiga jenis, yaitu manusia, organisasi, dan system nilai.

c) Pemberian daya itu sendiri atau “empowerment” dalam makna sempit.

Pada tahap ini, kepada target diberikan daya, kekuasaan, otoritas, atau peluang, Pemberian ini sesuai dengan kualitas kecakapan yang telah dimiliki.

Pokok gagasanya adalah bahwa proses pemberian daya atau kekuasaan diberikan sesuai dengan kecakapan penerima. “For empowerment to have occurred an ability influence all three “Faces of pawor” identified by lukes must be evident. A simple ability to make decisions, a role in influencing the overall the ideological assumptions of regeneration professionals would need to be evident.”

Sehubungan dngan yamg dijelaskan bahwa pemberdayaan untuk menjadikan kemampuan mempengaruhi ketiga “bentuk kekuasaan” yang di identifikasi mempengaruhi semua agenda regenerasi dan kemampuan pandangan masyarakat untuk mengubah pandangan ideologis dari professional regenerasi harus jelas. Pemberdayaan adalah proses yang

alamiah, dalam arti kita alami dalam kehidupan wajar sehari-hari.

Meskipun kehidupan adalah proses yang alami, kehidupan pun harus perlu di menejemeni.

Jadi pemberdayaan bukanlah semata-mata konsep politik, melainkan lebih pada suatu konsep manajemen. Dan sebagai konsep manajemaen, pada akhirnya pemberdayaan harus mempunyai indicator keberhasilan. Indicator tersebut adalah: (Wrihatnolo dan Dwijowijoto, 2007:10).

Istilah pemberdayaan sering kali digunakan dalam konteks kemampuan meningkatkan keadaan ekonomi individu. Selain itu, pemberdayaan juga merupakan konsep yang mengandung makna perjuangan bagi mereka yang terlibat dalam perjuangan tersebut.

Dengan demikian, proses pemberdayaan merupakan tindakan usaha perbaikan atau peningkatan ekonomi, social budaya, politik, dan psikologi baik secara individual maupun kolektif yang berbeda menurut kelompok etnik dan kelas sosial. Lebih Lanjuda (Pranarka dan Vidhyandika, 1996).

Sedangkan defenisi pemberdayaan adalah sebuah proses dengan mana orang manjadi begitu kuat untuk berpartisipasi dalam berbagai pengontrolan atas dan mempengaruhi terhadap, kejadian-kejadian serta lembaga-lembaga yang mempengaruhi kehidupannya. Pemberdayaan menekankan bahwa orang memperoleh keterampilan, pengetahuan, dan kekuasaan yang cukup untuk mempengaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain yang menjadi perhatiannya. Selanjudnya juga dijelaskan bahwa pemberdayaan adalah sebuah proses dan tujuan. Sebagai proses,

pemberdayaan adalah serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat.

Sebagai tujuan maka pemberdayaan menunjuk pada keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh sebuah perubahan sosial. Sekaitanya dengan pemberdayaan pedagang pasar tradisional maka dapat disimpulkan bahwa defenisi dari peranan pemerintah daerah dalam pemberdayaan pasar pedagang tradisional adalah serangkaian tindakan/kegiatan yang dilakukan dengan sengaja oleh pemerintah daerah untuk mewujudkan suatu keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh sebuah perubahan sosial, yaitu pasar tradisional yang berdaya, memiliki kekuasaan atau mempunyai pengetahuan dan kemampuan untuk bersaing dengan pasar modern.

Pemerintah memang mempunyai hak untuk mengatur keberdaan pasar tradisional dan pasar modern. Tetapi aturan yang dibuat pemerintah itu tidak boleh diskrinatif dan seharusnya justru tidak membuat dunia usaha mandek. Pedagang kecil, menengah, besar, bahkan perantara ataupun pedagang toko mempunyai kesempatan yang sama dalam berusaha.

Hal tersebut sebagaimana dijelaskan 15 Peraturan Persiden Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2007 tentang penataan dan pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Ayat 1, Pemerintah dan pemerintah daerah baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama sesuai dengan bidang tugas masing-masing melakukan pembinaan dan pengawasaan pasar tradisional, pusat perbelanjaan dan toko

modern. Ayat 2, Dalam rangka pembinaan Pasar Tradisonal, Pemerintah daerah:

a) Mengupayakan sumber-sember alternatif pendanaan untuk Pemberdayaan Pasar Tradisional sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

b) Meningkatkan kompetensi pedagang dan pengelola pasar tradisional;

c) Memprioritaskan kesempatan memperoleh tempat usaha bagi pedagang Pasar Tradisional yang telah ada sebelum dilakukan renovasi atau relokasi Pasar Tradisional;

d) Mengevaluasi pengelolaan Pasar Tradisional;

Pemerintah Daerah perlu memikirkan kelangsungan hidup pedagang pasar tradisional karena menyangkut hajad hidup banyak keluarga. Pemerintah ini tidak perlu mewujudkan dengan cara menghambat pertumbuhan pasar modern ini dapat melibatkan pelaku ekonomi golongan ekonomi lemah. Jadi peran pemerintah yang utama dalam hal ini adalah alokasi peran pelaku ekonomi.

Pemihakan pemerintah kepada pedagang pasar tradisonal dapat diwujudkan dengan memberikan kesempatan kepada pedagang pasar tradisional untuk turut memetik keuntungan dari peluang pertumbuhan permintaan masyarakat serta membantu mengantisipasi perubahan lingkungan yang akan mengancam eksistensi mereka.

Karena sikap pedagang pasar tradisonal yang umumnya lemah dalam banyak hal, maka peran pemerintah untuk secara aktif memberdayakan pedagang tradisional.

Pemberdayaan pedagang kecil ini dapat dilakukan antara lain dengan membantu memperbaiki akses mereka kepada informasi, permodalan, dan hubungan dengan produsen atau supplier (pemasok).

Pedagang pasar tradisional perlu mendapatkan informasi tentang masa depan, ancaman dan peluang usahanya, serta perlunya perubahan sikap dan pengelolaan usahanya sesuai dengan perubahan tuntutan konsumen.

Sehubungan dengan produsen dan pemasok, pedagang pasar tradisional perlu dibantu dalam mengefesienkan rantai pemasaran untuk mendapatkan barang dagangannya. Pemerintah dapat berperan sebagai mediator untuk menghubungkan pedagang pasar tradisonal secara colektif kepada industry untuk mendapatkan akses barang dagangan yang lebih murah. Modernisasi pasar juga merupakan langkah untuk meningkatkan perekonomian pedagang kecil. Modernisasi pasar disini dimaksudkan sebagai upaya pengelolaan pasar secara modern sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat.

Modernisasi ini perlu diciptakan untuk menghambat beralinyah tempat belanjah masyarakat masih dapat diakomodasikan oleh para pedagang kecil.

4. Pengertian Pasar

Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya pembeli dan penjual untuk melakukan transaksi jual beli barang atau jasa. Menurut ilmu ekonomi, pasar berkaitan dengan kegiatannya bukan tempatnya. ciri khas sebuah pasar adalah adanya kegiatan transaksi atau jual beli. Para konsumen datang ke pasar untuk berbelanja dengan membawah uang untuk membayar harganya. Pengertian pasar yang lebih luas merupakan tempat orang-orang yang mempunyai keinginan untuk puas, uang untuk berbelanja, dan kemauan untuk membelanjakannya.

Jadi dalam pengertian tersebut terdapat faktor-faktor yang menunjang terjadinya pasar, yakni: keinginan, daya beli, dan tingkah laku dalam pembelian, (Soetomo: 2013).

Pasar memiliki sekurang-kurangnya tiga fungsi utama, yaitu fungsi distribusi, fungsi pembentukan harga, dan fungsi promosi. Sebagai fungsi distribusi, pasar berperan sebagai penyalur barang dan jasa dari produsen ke konsumen melalui transaksi jual beli. Sebagai fungsi pembentukan harga, dipasar penjual yang melakukan permintaan atas barang yang dibutuhkan. Sebagai fungsi promosi, pasar juga dapat digunakan untuk memperkenalkan produk baru dari produsen kepada calon konsumennya.

Jenis-jenis pasar dapat kita bedakan menurut beberapa kategori, yakni menurut fisiknya, menurut waktunya, menurut barang yang diperjual belikan, menurut luas kegiatannya, menurut bentuknya, dan menurut sifat pembentukan harganya.

Berikut ini masing-masing penjelasan terhadap jenis-jenis pasar tersebut:

a) Jenis pasar menurut fisiknya

1) Pasar konkret (pasar nyata) adalah tempat pertemuan antara pembeli dan penjual melakukan transaksi secara langsung. Barang yang diperjualbelikan juga tersedia di pasar. Contohnya, pasar sayuran, buah-buahan, dan pasar tradisional.

2) Pasar abstrak (pasar tidak nyata) adalah terjadinya transaksi antara penjual dan pembeli hanya melalui telepon, internet, dan lain-lain berdasarkan contoh barang. Contohnya telemarket dan pasar modal.

3) Pasar harian adalah pasar yang aktivitasnya berlangsung setiap hari dan sebagian barang yang diperjual belikan adalah barang kebutuhan sehari-hari.

4) Pasar mingguan adalah pasar yang aktivitasnya berlangsung seminggu sekali. Biasanya terdapat di daerah yang belum padat penduduk dan lokasi pemukimannya masih berjauhan.

5) Pasar bulanan adalah pasar yang aktivitasnya berlangsung sebulan sekali. Biasanya barang yang diperjualbelikan barang yang akan dijual kembali (agen/grosir).

6) Pasar tahunan adalah pasar yang aktivitasnya berlangsung setahun sekali, misalnya PRJ (Pasar Raya Jakarta).

b) Pasar menurut barang yang di jualnya

1) Pasar barang konsumsi adalah pasar yang memperjualbelikan barang-barang konsumsi untuk memenuhi kebutuhan manusia.

2) Pasar sumber daya produksi adalah pasar yang memperjualbelikan faktor-faktor produksi, seperti tenaga kerja, tenaga ahli, mesin-mesin, dan tanah.

c) Pasar menurut luas kegiatannya

1) Pasar setempat adalah pasar yang penjual dan pembelinya hanya penduduk setempat.

2) Pasar daerah atau pasar lokal adalah pasar di setiap daerah yang memperjualbelikan barang-barang yang diperlukan penduduk derah tersebut. Contohnya Pasar Gede di Solo.

3) Pasar Nasional adalah pasar yang melakukan transaksi jual beli barang mencakup satu negara contohnya pasar senen.

4) Pasar Internasional adalah pasar yang melakukan transaksi jual beli barang-barang keperluan masyarakat internasional. Contohnya pasar kopi di Santos (Brasil).

d) Pasar menurut bentuknya

1) Pasar persaingan sempurna (terorganisir) 2) Pasar persaingan tidak sempurna

3) Jenis-jenis pasar menurut sifat pembentukan harga

4) Pasar persaingan adalah pasar yang pembentukan harga ditentukan oleh persaingan antara permintaan dan penawaran.

5) Pasar monopoli adalah pasar yang penjual suatu barang di pasar hanya satu orang. Contohnya PT Kereta Api Indonesia.

6) Pasar duopoli adalah pasar yang penjualnya hanya dua orang dan menguasai penawaran suatu barang dan mengendalikan harga barang.

7) Pasar oligopoli adalah pasar yang di dalamnya terdapat beberapa penjual dengan dipimpin oleh salah satu dari penjual tersebut mengendalikan tingkat harga barang. Contohnya perusahaan otomotif Astra Indonesia.

8) Pasar monopsoni adalah pasar yang pembentukan harga barangnya dikendalikan oleh satu orang atau sekelompok pembeli.

9) Pasar duopsoni adalah pasar pembentukan harga barangnya dikendalikan oleh dua orang atau dua kelompok pembeli.

10) Pasar oligopsoni adalah pasar yang pembentukan harga barangnya dikendalikan oleh beberapa orang atau beberapa kelompok pembeli.

Pasar merupakan tempat dimana sekelompok pedagang/penjual bertemu dengan seklompok pembeli untuk melakukan transaksi jual beli barang atau jasa.Pasar tradisional merupakan pasar yang dikelola dengan menajemen yang lebih tradisional dan simple.

Pasar tradisional cenderung menjual barang-barang local dan mutunya kualitas barangnya relative sama dengan barang yang dijual di pasar modern, secara kualitas barang di pasar tradisional umumnya

memiliki barang yang terbatas sesuai dengan keuangan pedagang dan permintaan konsumen. Pasar tradisional juga memiliki harga yang relative terjangkau dengan kondisi keuangan konsumen, harga barang di pasar tradisional juga tidak tetap atau selalu berubah-ubah.

B. Kerangka Pikir

Pasar Tradisional yang ada di Kecamatan Sukamaju merupakan pusat perdagangan hasil bumi seperti, sayururan, buah-buahan, bumbu dapur, pakaian dan lain-lain, pasar ini salah satu penopang utama perekonomian masyarakat dalam dalam menjual hasil pertaniannya, secara nyata pasar tradisional merupakan satu-satunya lahan bagi para pedagang yang telah lama menggantungkan nasibnya untuk berjualan di pasar. Untuk itu diperlukan Peran pemerintah untuk meningkatkan perananya dalam pemberdayaan pedagang pasar tradisional dan masyarakat.

Serta memberikan sosialisasi bagi para pedagang untuk menjaga keberlangsungan pasar tradisional. Bedasarkan teori-teori diatas, untuk memudahkan penelitian ini, maka penelitian membuat kerangka pikir, kerangka pikir digunakan sebagai dasar suatu landasan dalam pengembangan konsep dan teori yang digunakan dalam penelitian ini, serta hubungannya dengan rumusan masalah yang telah dirumuskan sebelumnya.

Tujuannya adalah untuk lebih memudahkan pembaca dan penguji dalam memahami penelitian mengenai “Peran Pemerintah Dalam Pemberdayaan Pedagang Pasar Tradisional di Kecamatan Sukamaju Kabupaten Luwu Utara.”

Selain itu, kerangka pikir merupakan landasan berpikir bagi penulis, yang digunakan sebagai pemandu dalam petunjuk arah yang hendak dituju.

Berdasarkan teori yang ada, maka kerangka dasar pikir yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Gambar Skema Kerangka Pikir

Peran Pemerintah Daerah Dalam Pemberdayan pedagang Pasar

Tradisional

1. Sebagai Fasilitator 2. Sebagai Regulator 3. Sebagai Motivator

Faktor Pendukung Faktor Penghambat

Tercapainya Hasil Peran Pemerintah Dalam Pemberdayaan

Pasar Tradisional

C. Fokus Penelitian

Fokus Penelitian ini dilaksanakan dengan memfokuskan permasalahan pada (1) Peran Pemerintah Daerah Dalam pemberdayaan Pasar Tradisional (2) Faktor yang menjadi pendukung dan penghambat peran Pemerintah Dalam pemberdayan pasar Tradisional di Kecamatan sukamaju Kabupaten Luwu Utara.

D. Deskripsi Fokus Penelitian

Deskripsi Fokus Penelitian ini dapat di jelaskan sebagai berikut:

1. Peran Pemerintah; dimaksudkan untuk (1) sebagai pelayan public dapat dipahami pemberi layanan kepada masyarakat, (2) melaksanakan fungsi sebagai penyedia layanan kepada masyarakat.

2. Pemerintah Sebagai Fasilitator; dimaksudkan agar dapat memberikan fasilitas kepada masyarakat yang belum berdaya menjadi berdaya.

3. Peran Pemerintah Sebagai Regulator, adalah memberikan aturan atau mengeluarkan suatu peraturan yang bertujuan mengatur pelaksanaan program pemerintah agar berjalan lancar sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan.

4. Pemerintah sebagai motivator dimaksudkan memberikan motivator kepada masyarakat untuk menunjukan bahwa perlunya dorongan pemerintah terhadap masayarakat dalam membangun roda ekonomi dan tarap hidup yang lebih sejatrah.

5. Faktor Pendukung, (1) komunikasi/sosialisasi dalam pemberdayaan (2) faktor suberdaya manusianya.

6. Faktor Penghambat, faktor hambatan yang pertama (1) masih banyaknya masyarakat yang latar belakng pendidikannya yang kurang (2) serta terkendalah masalah pendanaan sehingga menghambat program pemberdayaan pedagang pasar tradisional.

7. Tercapinya Hasil Peran Pemerintah Dalam Pemberdayaan Pasar Tradisional, adalah proses indicator dari berbagai tahap yang dilakukan pemerintah dalam melaksanakan tugas dan wewenang untuk memuaskan kebutuhan public sehingga sasaran pemberdayaan pasar tradisional berjalan sesuai dengan harapan.

27

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian lapangan dilakukan selama kurang lebih 2 bulan, antara bulan Desember 2014 dan Januari 2015. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Sukamaju Kabupaten Luwu Utara. Alasan peneliti memilih lokasi penelitian dikarenakan masih kurangnya perhatian pemerintah dalam pemberdayaan pedagang pasar tradisional.

B. Jenis dan Tipe penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hal ini dikarenakan penelitian ini berupaya untuk memahami bagaimana peran pemerintah dalam pemberdayaan pedagang pasar tradisional di kecamatan sukamaju kabupaten luwu utara. Cara pengumpulan data lebih dari satu, menggabungkan kekuatan dan kebenaran dari satu sumber data.

2. Tipe penelitian

Tipe penelitian ini adalah fenomologis dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara jelas mengenai fenomena-fenomena atau kejadian yang terjadi dimasyarakat. Dasar penelitian ini adalah wawancara, yaitu melakukan dialog (wawancara) kepada informan yang berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai hal yang berhubungan dengan penelitian.

C. Sumber data 1. Data primer

Data Primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari hasil wawancara dilapangan atau lokasi penelitian dari pihak yang terkait dengan memahami permasalahan.

2. Data skunder

Data sekunder adalah data-data yang di peroleh dari buku-buku, dokumen dan literature serta bahan-bahan tertulis baik dari dalam maupun dari luar yang mendukung dan berhubungan dengan pokok pembahasan penelitian ini.

D. Informan penelitian

Peneliti menggunakan teknik “Purposive Sampling” dalam menentukan informannya. “Purposive sampling” merupakan penentuan informan tidak didasarkan atas strata, kedudukan, pedoman atau wilayah tetapi didasarkan pada adanya tujuan dan pertimbangan tertentu yang tetap berhubungan dengan permasalahan penelitian. Yang menjadai informan penelitian adalah:

1. Kepala Disperindag = 1 orang 2. Camat Sukamaju = 1orang 3. Stap Pengelolah pasar = 1 orang 4. Pedagang/Penjual = 4 orang 5. Mandor pasar = 1 orang Jumlah = 8 orang

E. Teknik Pengumpulan data 1. Wawancara

Wawancara yaitu tanya jawab yang dilakukan penulis kepada pemerintah terkait dan para pedagang pasar tradisional di kecamatan sukamaju yang berhubungan dengan penelitian.

2. Observasi

Observasi adalah pengamatan dan pencatatan sistematik tentang gejala-gejala yang diamati. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara observasi langsung (direct observation) dan sebagai peneliti

Observasi adalah pengamatan dan pencatatan sistematik tentang gejala-gejala yang diamati. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara observasi langsung (direct observation) dan sebagai peneliti

Dokumen terkait