• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN,

2.1 Perlindungan Konsumen

2.1.3 Pengertian konsumen, hak dan kewajiban konsumen

Istilah konsumen pertama kali masuk dalam substansi GBHN pada tahun 1983. Menurut GBHN, pembangunan nasional pada umumnya serta pembangunan ekonomi pada khususnya harus menguntungkan dan menjamin kepentingan konsumen. Istilah konsumen berasal dari alih bahasa dari kata consumer (Inggris-Amerika), atau consument/konsument (Belanda). Pengertian dari kata consumer

adalah lawan dari produsen yakni setiap orang yang menggunakan barang dan/atau jasa.42

Pengertian konsumen dalam Pasal 1 angka 2 UUPK menyatakan konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.

A.Z Nasution berpendapat bahwa terdapat beberapa batasan tentang konsumen, yakni :

1. konsumen adalah setiap orang yang mendapatkan barang atau jasa digunakan untuk tujuan tertentu;

2. konsumen antara adalah setiap orang yang mendapatkan barang dan/atau jasa untuk digunakan dengan tujuan membuat barang atau jasa lain untuk diperdagangkan kembali (tujuan komersial);

3. konsumen akhir adalah setiap orang alami yang mendapatkan dan menggunakan barang dan/atau jasa untuk tujuan memenuhi kebutuhan hidupnya pribadi, keluarga, dan/atau rumah tangga dan tidak untuk diperdagangkan kembali (tujuan nonkomersial).43

Beberapa pengertian konsumen di atas bila dikaitkan dengan penerbangan maka, para pengguna jasa penerbangan yang biasa dikenal dengan istilah penumpang termasuk ke dalam kategori konsumen akhir karena penumpang menggunakan jasa penerbangan untuk suatu kegunaan tertentu yang dalam hal ini untuk kepentingan pribadi dan tidak untuk diperdagangkan kembali.

42

A.Z Nasution I, op cit, hal. 3 43

43

Hal tersebut diperkuat dalam Ordonansi Pengangkutan Udara yakni istilah konsumen lebih tertuju kepada pengguna jasa atau penumpang. Meskipun dalam Ordonansi Pengangkutan Udara tersebut tidak memberikan defisini tentang apa yang dimaksud dengan penumpang, tetapi dalam penerbangan tertatur dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan penumpang oleh Ordonansi tersebut adalah setiap orang yang diangkut oleh pengangkut berdasarkan suatu perjanjian pengangkutan dengan atau tanpa bayaran.44

Perlindungan konsumen berkaitan dengan perlindungan hukum. Oleh karena itu, perlindungan konsumen mengandung aspek hukum. Adapun materi yang mendapatkan perlindungan itu bukan sekedar fisik, melainkan terlebih-lebih hak-haknya yang bersifat abstrak. Dengan kata lain, perlindungan konsumen sesungguhnya identik dengan perlindungan yang diberikan hukum tentang hak-hak konsumen.45

Dalam pengertian hukum, yang dimaksud dengan hak adalah kepentingan hukum yang dilindungi oleh hukum, sedangkan kepentingan adalah tuntutan yang diharapkan untuk dipenuhi. Kepentingan pada hakikatnya mengandung kekuasaan

44

Suherman E., 2000, Aneka Masalah Hukum Kedirgantaraan (Himpunan Makalah 1961-1995), Mandar Maju, Bandung, hal. 40

45

Celina Tri Siwi Kristiyanti, 2011, Hukum Perlindungan Konsumen, Sinar Grafika, Jakarta, hal. 30

yang dijamin dan dilindungi oleh hukum dalam melaksanakannya.46 Secara umum dikenal ada empat hak dasar konsumen yang diakui secara internasional, yaitu :

1. hak untuk mendapatkan keamanan (the right to safety); 2. hak untuk mendapatkan informasi (the right to be informed); 3. hak untuk memilih (the right to choose);

4. hak untuk didengar (right to be heard).47

Penerbangan bila dikaitkan dengan hak-hak konsumen yang diatur dalam Pasal 4 UUPK, yaitu :

a. hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkomsumsi barang dan/atau jasa. Dalam hal ini konsumen pengguna jasa penerbangan dalam mengkomsumsi jasa dengan tujuan memperoleh manfaat dari jasa penerbangan yang dipergunakan. Manfaat yang didapatkan tidak boleh mengancam keselamatan, jiwa dan harta benda konsumen serta terjaminnya kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen.

b. hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut. Sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan. Dalam hal ini konsumen pengguna jasa penerbangan tidak mau mempergunakan jasa penerbangan yang dapat mengancam keselamatan, jiwa

46

A.Z Nasution I, op cit, hal. 4 47

45

dan harta bendanya. Oleh karena itu, konsumen harus diberi kebebasan dalam memilih jasa penerbangan yang akan dipergunakan.

c. hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa. Konsumen pengguna jasa penerbangan harus memperoleh informasi yang benar jasa penerbangan yang akan dipergunakan. Karena informasi yang diperolehlah yang menjadi landasan konsumen untuk memilih.

d. hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan. Dalam hal ini tidak jarang konsumen pengguna jasa penerbangan memperoleh kerugian dalam mempergunakan jasa penerbangan. Artinya, terdapat suatu kelemahan pada jasa penerbangan yang disediakan oleh penyedia jasa. Penyedia jasa penerbangan harus siap dalam menerima setiap pendapat dan keluhan dari konsumen guna memperoleh masukan dalam meningkatkan kualitas dalam daya saing.

e. hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut. Kedudukan konsumen pengguna jasa penerbangan lebih lemah dibanding penyedia jasa penerbangan karena konsumen tidak memahami mengenai proses yang dilakukan oleh penyedia jasa dalam menyediakan jasa penerbangan yang dipergunakan. Oleh karena itu diperlukan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa bagi konsumen.

f. hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen. Konsumen karena memiliki kedudukan yang lebih lemah dibandingkan penyedia jasa. Untuk itu konsumen harus diberikan pembinaan dan pendidikan terkait hak dan kewajiban seorang konsumen.

g. hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif. Sudah merupakan suatu hak dasar manusia untuk diperlakukan sama. Oleh karena itu penyedia jasa penerbangan harus berperilaku adil dengan memberikan pelayanan yang sama kepada semua konsumennya tanpa memandang perbedaan status sosial, agama, ras maupun suku.

h. hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi, dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya. Sudah selayaknya setiap konsumen pengguna jasa penerbangan yang mengalami kerugian atas penggunaan jasa penerbangan harus mendapatkan berupa kompensasi ataupun ganti rugi dari pihak penyedia jasa semasih diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Setiap hak yang melekat pada setiap diri konsumen akan selalu diimbangi oleh kewajiban-kewajiban yang berfungsi sebagai kontrol agar hak yang dimiliki tidak dipergunakan dengan melampaui batas-batas nilai kewajaran yang ada di dalam masyarakat pada umumnya dan pada hubungan dalam dunia perdagangan antara konsumen dengan pelaku usaha pada khususnya.

Kewajiban konsumen diatur dalam Pasal 5 UUPK yang bila dikaitkan dengan penyelenggaraan penerbangan yaitu :

47

a. membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan. Tidak jarang konsumen sering dirugikan karena tidak memperoleh manfaat yang maksimal dalam mempergunakan jasa penerbangan. Hanya saja setelah diselidiki kerugian yang diderita konsumen adalah disebabkan karena konsumen tidak mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian yang telah disediakan oleh penyedia jasa penerbangan. Oleh karena itu, konsumen harus membaca dan mengikuti petunjuk informasi yang diberikan jika tidak ingin dirugikan.

b. beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa. Konsumen pengguna jasa penerbangan harus beritikad baik dalam melakukan transaksi dalam pembeliaan jasa kepada penyedia jasa.

c. membayar sesuai dengan nilai tukar yang sudah disepakati. Antara konsumen pengguna jasa dengan penyedia jasa memiliki hubungan yang bersifat kontraktual. Artinya merupakan kewajiban konsumen pengguna jasa penerbangan untuk membayar sesuai nilai tukar jasa penerbangan yang dipergunakannya.

d. mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut. Konsumen pengguna jasa penerbangan patut mengikuti segala ketentuan yang berlaku terkait upaya penyelesaian sengketa.

Dokumen terkait