• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kepustakaan Yang Relevan

2.1.1 Pengertian Legenda

Danandjaya (1997-50) mendeskripsikan legenda adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang empunya cerita sebagai suatu kejadian yang sungguh-sungguh pernah terjadi. Legenda sering kali dipandang sebagai “sejarah” kolektif (folk history), walaupun “sejarah” itu karena tidak tertulis telah mengalami distorsi sehingga sering kali dapat jauh berbeda dengan kisah aslinya. Legenda ditokohi manusia, walaupun ada kalanya mempunyai sifat-sifat yang luar biasa dan sering kali dibantu makhluk-makhluk ajaib. Tempat terjadinya di dunia yang kita kenal. Waktu terjadinya juga belum terlalu lampau. Legenda bersifat sekuler (keduniawian). Jadi dapat disimpulkan bahsa legenda memang erat hubungannya dengan sejarah kehidupan di masa lampau meskipun tingkat kebenarannya sering kali tidak bersifat murni. Legenda bersifat semihistoris (Rukhmini, D, 2009:37).

2.2 Teori yang Digunakan

Teori merupakan hal yang sangat perlu di dalam menganalisis suatu karya sastra yang diajukan sebagai objek penelitian. Menurut Masri Singarimbun dan Sofian Effendi (Nababan, 2016:17) adalah “serangkaian asumsi, konsep, konstrak, definisi, dan preposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan antar konsep”. Berdasarkan penelitian ini,

maka penulis menggunakan teori struktural dan teori sosiologi sastra untuk mengkaji Legenda Uruk Gumbelin.

2.2.1 Teori Struktural

Teori merupakan hal yang sangat perlu didalam menganalisis suatu karya sastra yang diajukan sebagai objek penelitian. Pengertian teori menurut Masri Singarimbun dan Sofien Effendi (Nababan, 2016:17) Untuk melihat aspek- aspek atau unsur- unsur yang terdapat di dalam karya sastra diterapkan teori struktural.

Menurut Sangidu (2004:16), pendekatan struktural adalah suatu disiplin yang memandang karya sastra sebagai suatu struktur yang terdiri atas beberapa unsur yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lain. Salah satu konsep yang menjadi ciri khas teori struktural adalah adanya anggapan bahwa di dalam dirinya sendiri karya sastra merupakan struktur yang otonom yang dapat dipahami sebagai suatu kesatuan yang bulat dengan unsur-unsur pembangunnya yang saling terjalin (Pradopo 2000:55). Jadi dapat dikatakan teori struktural merupakan kajian sastra yang dapat dipahami dengan unsur-unsur pembangun yang saling berhubungan atau terkait satu sama lain.

Pendekatan struktural sangat penting bagi analisis karya sastra karena di dalamnya suatu karya sastra dibangun oleh unsur-unsur yang membentuknya.

Pada dasarnya, analisis struktural bertujuan memaparkan secermat mungkin fungsi dan keterkaitan antar berbagai unsur karya sastra yang secara menyeluruh. Nurgiyantoro (2007:37-38) menyatakan bahwa analisis struktural

tidak cukup dilakukan hanya sekedar mendata unsur tertentu sebuah karya fiksi, misalnya tema, alur, latar/setting, perwatakan/penokohan. Namun yang lebih penting adalah menunjukkan bagaimana hubungan antarunsur itu, dan sumbangan apa yang diberikan terhadap tujuan estetik dan makna keseluruhan yang ingin dicapai. Hal ini perlu dilakukan mengingat bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur yang kompleks dan unik, disamping setiap karya mempunyai ciri kekompleksan dan keunikannya sendiri dan hal inilah antara lain yang membedakan karya yang satu dengan karya yang lain.

Analisis struktural dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui struktur yang meliputi berbagai unsur-unsur intrinsik yang membangun Legenda Uruk Gumbelin di Desa Lingga, Kabupaten Karo yang berupa tema, alur/plot, latar/setting, perwatakan/penokohan.

1. Tema

Menurut Fananie (2000:84) menyatakan, “tema adalah ide, gagasan, dan pandangan hidup pengarang yang melatarbelakangi karya sastra. Tema biasanya bersifat tersirat, sehingga dapat dipahami setelah membaca keseluruhan cerita”.

Dari pendapat di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa tema adalah pokok pikiran dalam suatu karya sastra yang diungkapkan oleh pengarang. Tema biasanya bersifat tersirat, sehingga dapat dipahami setelah membaca keseluruhan cerita.

2. Alur/Plot

Alur adalah perisitiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang tidak bersifat sederhana, karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa itu berdasarka kaitan sebab-akibat (Kenny dalam Nurgiyantoro, 2005:113). Pendapat ini sejalan dengan pendapat yang lain yang mengemukakan bahwa alur adalah rangkaian peristiwa yang tersusun berdasarkan hubungan sebab-akibat (Jabrohim, 2003:110).

Keberadan alur dalam sebuah cerita sangatlah penting, sehingga Lubis (1981:17) mencoba mengklasifikasikan alur tersebut menjadi beberapa bagian, yaitu:

1. Situation (pengarang mulai melukiskan suatu keadaan)

2. Generating Circumtances (peristiwa yang bersangkut paut mulai bergerak)

3. Rising Action (keadaan mulai memuncak)

4. Climaks (peristiwa-peristiwa mencapai puncaknya)

5. Denoument (pengarang memberikan pemecahan soal dari semua peristiwa).

3. Latar/Setting

Bersama dengan unsur tokoh dan alur cerita, unsu latar merupakan sebuah fakta cerita yang secara karakter dapat ditemukan dalam cerita fiksi. Latar atau settinng dapat dipahami sebagai landas tumpu berlnagsungnya berbagai peristiwa

dan kisah yang diceritakan dalam cerita fiksi tidak dapat terjadi begitu saja tanpa kejelasan landas tumpu.

Jadi, latar atau setting adalah tempat-tempat kejadian suatu peristiwa di dalam penceritaan karya sastra. Latar bukan hanya berupa daerah atau tempat, namun juga wakru, musim, peristiwa penting dan sejarah, masa kepemimpinan seseorang di masa lalu, dan lain-lain.

4. Perwatakan/ Penokohan

Peristiwa dalam karya sastra seperti halnya dalam kehidupan sehari-hari yang selalu diemban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Tokoh-tokoh ini kemudian ditampilkan dengan perilaku masing-masing (Aminuddin, 2013:79).

Perwatakan adalah karakter dari tokoh. Pada umumnya perwatakan atau karakter disebut juga penokohan. Penokohan adalah cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku. Pengarang menampilkan tokoh-tokoh atau pelaku-pelaku secara meyakinkan sehingga pembaca seolah-olah berhadapan dengan sebenarnya (Jauhari, 2013:161).

Aspek perwatakan merupakan imajinasi pengarang dalam membentuk suatu personalis tertentu dalam sebuah karya sastra. Pengarang sebuah karya sastra harus mampu menggambarkan diri seorang tokoh yang ada dalam karyanya. Perwatakan atau penokohan merupakan unsur penting yang menghidupkan cerita. Di sisi lain, penokohan adalah bagian dari unsur intrinsik fiksi novel (karya sastra) (Jauhari, 2013:158).

2.1.2 Teori Sosiologi Sastra

Sosiologi sastra berasal dari kata sosiologi dan sastra. Kata “sastra” dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta akar kata sas dalam kata kerja turunan berarti mengarahkan, mengajar, memberikan petunjuk atau instruksi. Arti kata tra biasanya menunjukkan alat, suasana. Maka dari kata sastra dapat berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi, dan pengajaran (Teeuw dalam Sari, 2007:26). Kutipan diatas menyatakan, sastra diartikan sebagai alat untuk mengajar, memberi instruksi dan petunjuk kepada pembaca. Wellek dan Waren (Sari, 2007:26) mengatakan bahwa sastra adalah suatu kajian kreatif, sebuah karya seni.

Soekanto (Sari, 2007:26) mengatakan sosiologi jelas merupakan ilmu sosial yang objeknya ialah masyarakat.

Faruk (Endaswara, 2004:77) memberikan definisi bahwa sosiologi sastra merupakan disiplin yang tanpa bentuk, tidak terdefinisikan dengan baik, terdiri dari studi empiris dan berbagai percobaan pada teori yang agak lebih general.

Yang masing-masingnya hanya mempunyai kesamaan dalam hal bahwa semuanya berurusan dengan sastra dan masyarakat.

Dengan demikian, penelitian sosiologi sastra, baik dalam bentuk penelitian ilmiah maupun aplikasi praktis, dilakukan dengan cara mendeskripsikan, memahami, dan menjelasan unsur-unsur karya sastra dalam kaitannya dengan perubahan-perubahan struktur sosial yang terjadi di sekitarnya (Ratna. 2003:25).

Dalam menganalisis Legenda Uruk Gumbelin etnik Karo ini, penulis menggunakan teori sosiologi sastra yang dikemukakan oleh Ratna (dalam

Nababan, 2016:21) model analisis karya sastra dalam kaitannya dengan masyarakat dapat dilakukan dengan tiga macam, yaitu:

1) Menganalisis masalah-masalah sosial yang terkandung di dalam karya sastra itu sendiri, kemudian menghubungkannya dengan kenyataan yang pernah terjadi. Pada umumnya disebut juga aspek ekstrinsik, model hubungan yang terjadi disebut refleksi.

2) Menemukan hubungan antar struktur dengan model hubungan yang bersifat dialektika.

3) Menganalisis karya sastra dengan tujuan untuk memperoleh informasi tertentu.

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan analisis yang pertama yaitu dengan (a) menganalisis masalah-masalah sosial yang terkandug di dalam karya sastra itu sendiri dan (b) menghubungkannya dengan kenyataan yang pernah terjadi sebelumnya.

(1) Menganalisis masalah-masalah sosial yang terkandung di dalam karya sastra.

Masalah-masalah sosial yang terkandung dalam karya sastra adalah unsur-unsur budaya. Menurut Naibaho unsur-unsur-unsur-unsur budaya (Nababan, 2016:22) yaitu:

a) Unsur sistem sosial

Sistem sosial ini terdiri pada sistem kekeluargaan, sistem politik, sistem pendidikan, dan sistem undang- undang. Struktur dalam setiap sistem ini yang dikenal sebagai institusi sosial, yaitu cara manusia yang hidup berkelompok

mengatur hubungan antara satu dengan yang lain dalam jalinan hidup bermasyarakat.

b) Sistem nilai dan ide

Sistem nilai dan ide yaitu sistem yang memberi makna kepada kehidupan masyarakat, bukan saja terhadap alam sekitar, bahkan juga terhadap falsafah hidup masyarakat itu. Sistem nilai juga menyangkut upaya bagaimana kita menentukan sesuatu lebih berharga dari yang lain, sementara sistem ide merupakan pengetahuan dan kepercayaan yang terdapat dalam sebuah masyarakat.

c) Peralatan budaya

Peralatan budaya yaitu penciptaan material yang berupa perkakas dan peralatan yang diperlukan untuk menunjang keperluan.

(2) Menghubungkannya dengan kenyataan yang pernah terjadi atau latar belakang sosial yang tergambar dalam karya sastra.

Sosiologi karya sastra yang mempermasalahkan tentang suatu karya yang kita jumpai dalam kehidupan masyarakat sehari-hari serta memperhatikan peristiwa-peristiwa yang merupakan proses kemasyarakatan yang timbul dari hubungan manusia dengan situasi dan kondisi yang berbeda.

Kenyatan atau latar belakang sosial yang tergambar dalam karya sastra ini, yakni:

1) Tanggung Jawab

Tanggung jawab adalah suatu kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya baik disengaja maupun tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai wujudan atas perbuatannya.

2) Kasih Sayang

Kasih sayang adalah suatu perasaan cinta atau sayang dan akan menunjukkan rasa perhatian yang mungkin akan berlebihan. Rasa kasih sayang tak dapat dilihat tetapi hanya dapat dirasakan oleh individu tertentu yang mempunyai perasaan itu, kasih sayang adalah suatu perasaan yang menyenangkan.

3) Pengabdian

Pengabdian merupakan manusia, baik itu berupa pikiran, pendapat, kasih sayang, tenaga, maupun hasrat yang dilakukan secara ikhlas. Timbulnya pengabdian ini didasari oleh adanya rasa tanggung jawab Sujarwo, (dalam skripsi Sri Wulandari, 2008:14).

4) Musyawarah

Musyawarah merupakan kegiatan saling tukar pikiran untuk mencapai suatu keputusan yang disetujui oleh pihak-pihak yang bermusyawarah dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Musyawarah juga merupakan proses

pembahasan suatu persoalan dengan maksud mencapai keputusan bersama (dalam Siti Humaeroh, 2014:24).

5) Kebijaksanaan/Keadilan

Kebijaksanaan dapat didefinisikan sebagai keahlian dalam mengatasi permasalahan mendasar yang berkaitan dengan perilaku dan makna hidup.

Kebijaksanaan merupakan perpaduan dari intelek dan karakter. Baltes mendefinisikan kebijaksanaan sebagai keahlian dalam mengatasi permasalahan mendasar yang berkaitan dengan perilaku dan makna hidup. Pembahasan tentang kebijaksanaan tentu tidak terlepas dari karakteristik orang yang bijaksana bahwa orang yang dipandang bijaksana biasanya memiliki karakter pribadi yang penuh dengan kedamaian dan belas kasih terhadap manusia dan dunia (dalam Sternberg

& Jordan, 2005:110).

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu ( Sugiyono 2009 : 1). Metode penelitian mencakup enam aspek yaitu: metode dasar, lokasi, sumber data, instrument, metode pengumpulan data, dan metode analisis data.

3.1 Metode Dasar

Berdasarkan rumusan masalah yang penulis susun maka dalam skripsi ini penulis menggunakan metode deskriptif sebagai metode untuk menganalisis Legenda Uruk Gumbelin.

Menurut Sugiyono (2009:29) metode deskriptif adalah metode yang berfungsi mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data atau sampel yang telah terkumpul sebagaimana adanya, tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum.

Metode penelitian deskriptif adalah metode yang berusaha mendeskripsikan, menginterpretasikan sesuatu, misalnya kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi atau tentang kecenderungan yang sedang berlangsung (Sukmadinata 2006:72).

Pada penelitian ini penullis mendeskripsikan struktur dan susunan sosiologis yang terdapat dalam Legenda Uruk Gumbelin Pada Masyarakat Etnik Karo.

3.2 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian merupakan tempat dimana peneliti melakukan penelitian terutama dalam menangkap fenomena atau peristiwa yang sebenarnya terjadi dari objek yang diteliti dalam rangka mendapatkan data-data penelitian yang akurat (Moleong 2009:128).

Penelitian ini akan dilakukan di Desa Budaya Lingga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo. Dengan alasan lokasi Uruk Gumbelin terletak di daerah tersebut. Di daerah ini masih banyak informan sehingga dapat memudahkan penulis dalam mengumpulkan data penelitian sesuai objek yang akan diteliti.

Daerah ini juga mudah dijangkau atau di lewati oleh sebagian masyarakat, karena sudah adanya transportasi yang memudahkan penulis dalam meneliti objek tersebut.

3.3 Sumber Data Penelitian

Arikunto (2010:265) mengemukakan bahwa sumber data dalam suatu penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Secara umum sumber data dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian yaitu:

1. Person (orang) adalah tempat peneliti bertanya mengenai objek yang diteliti.

2. Paper (kertas) adalah berupa dokumen, warkat, keterangan arsip, pedoman, surat keputusan (SK), dan sebagainya.

3. Place (Tempat) adalah sumber data keadaan ditempat berlangsungnya suatu kegiatan yang berhubungan dengan penelitian.

3.4 Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Alat perekam (tape recorder) yang digunakan untuk mewawancarai informan saat pengumpulan data yang sesuai dengan objek penelitian.

2. Kamera yang digunakan untuk mengambil gambar dari objek penelitian.

3. Alat tulis dan kertas yang digunakan untuk mencatat segala hal yang dianggap penting yang diterima dari informan dan berhubungan dengan objek penelitian guna menunjang kelengkapan data dalam penyelesaian proposal skripsi ini.

3.5 Metode Pengumpulan Data

Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini.

yaitu:

1. Teknik Wawancara

Esterberg dalam (Sugiyono, 2013:231) wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu.

2. Teknik Pengamatan/Observasi

Hadi dalam (Sugiyono, 2013:145) mengatakan, observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.

3. Teknik Dokumentasi

Sugiyono (2013:240) dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), ceritera, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film dan lain-lain.

Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif.

3.6 Metode Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengelompokkan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, menyusun dan memilih mana yang penting yang akan dipelajari, membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri dan orang lain.

Untuk metode struktural dan teori sosiologi sastra, penulis menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Mengumpulkan dan menulis data yang diperoleh dari lapangan.

2. Mendata peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi dalam Legenda Uruk Gumbelin Pada Masyarakat Etnik Karo.

3. Menemukan nilai-nilai sosiologi yang terdapat dalam Legenda Uruk Gumbelin Pada Masyarakat Etnik Karo.

4. Menganalisis unsur-unsur intrinsik karya sastra dalam Legenda Uruk Gumbelin Pada Masyarakat Etnik Karo.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Unsur-unsur Intrinsik Legenda Uruk Gungmbelin

4.1.1 Tema

Karya sastra adalah suatu wadah untuk mengungkapkan gagasan, ide, pikiran dan pengalaman batin yang dialami oleh pengarang kepada penikmat karya sastra. Setiap karya sastra harus mempunyai dasar atau inti cerita yang merupakan sasaran atau tujuan pengarang. Stanton (dalam Nurgiyantoro, 2009:70) menjelaskan bahwa tema dapat juga disebut ide utama atau tujuan utama.

Dari tema, seorang pengarang bertitik tolak mengembangkan ide cerita sesuai dengan kemampuannya menggambarkan atau melukiskan watak para tokoh. Walaupun sebuah cerita tidak memaparkan apa yang menjadi tema cerita secara rinci, namun kita sebagai pembaca atau penikmat cerita tersebut harus mampu menyimpulkan tema yang terkandung di dalam cerita itu setelah membaca atau membahasnya.

Di dalam Legenda Uruk Gungmbelin ini, penulis menyatakan tema dari legenda tersebut adalah Cinta dan Kasih Sayang terhadap orangtua.

Hal itu dapat kita lihat pada contoh berikut ini:

....I dilo ndehara Raja me kerina anak-anakna ras i arihkenna ras kalak e,

“anak-anakku, lit sada cara si banci guna pepalem bapanta, emekap ibahan Persilihi Raja. Persilihi raja si imaksud e emekap salah sada bas kena nari harus lawes nadingken kuta enda nggelah malem bapanta....”nina ndehara Raja man

anak-anakna meteruk soranana. ““nande, labo itulak kami janah labo kitik ukur kami adi memang e si harus i lakoken guru pepalem bapa. Kai pe ilakoken kami nggela malem pinakit bapa....” nina anakna singuda janah dakepna nandena. “ue nande tuhu, kai pe ilakoken kami guna pepalem bapa” nina anak Raja sintua.

Mbegi si e, ndehara raja mis lawes njumpai rombongen Guru Pakpak ndai ras ipesehna man kalak e, adi anak-anakna mggit salah sada nadingken kuta e guna pepalem Raja...

Terjemahan:

“....Permaisuri kemudian memanggil anak-anaknya dan bermusyawarah dengan mereka, “anak-anakku, ada satu cara yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan ayah kita, yaitu dengan melakukan acara Persilihi Raja. Persilihi Raja yang dimaksud disini adalah salah satu dari kalian harus meninggalkan kampung ini agar ayah kita tetap sembuh...” ucap permaisuri kepada anak-anaknya dengan nada yang sangat sedih. “Ibu, kami tidak akan menolak dan tidak akan berkecil hati jika memang itu yang harus kami lakukan demi kesembuhan ayah. Apapun akan kami lakukan agar ayah tetap sembuh” Ucap puteri raja sambil merangkul pundak ibunya. “Ya ibu itu benar, kami akan melakukan apa saja demi kesembuhan ayah” Sahut Putera Raja yang paling tua. Mendengar hal itu, permaisuri langsung bergegas menemui serombongan dukun pakpak tadi dan menyampaikan kepada mereka, bahwa anak-anaknya bersedia jika salah seorang dari anak-anaknya akan meninggalkan kampung ini demi kesembuhan sang Raja....”

4.1.2 Alur/Plot

Plot disebut juga dengan Alur yang merupakan struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai interaksi khusus sekaligus menandai urutan bagian-bagian dari keseluruhan cerita.

Alur atau plot dalam Legenda Uruk Gungmbelin diuraikan sebagai berikut:

a) Situation (pengarang mulai melukiskan suatu kejadian)

Situasi merupakan tahap awal dari bagian cerita. Setiap awal cerita pembaca akan diperkenalkan terlebih dahulu tentang permulaan terjadinya sebuah cerita. Dalam bagian ini, pengarang menceritakan sebuah kampung yang bernama Linggaraja yang terletak di tanah Pakpak, dimana di dalam kampug itu ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang Raja yang saaat itu sedang sakit keras.

Sudah banyak dukun yang mencoba mengobatinya namun ia tidak kunjung membaik.

Hal itu dapat kita lihat pada contoh berikut ini:

....Bas masa si e, bapa Raja Natang Negeri e sangana mekelek pinakitna.

Nggo melala guru sibaso nambarisa, la reh malemna tap reh kelekna, janah kerina keluarga ras kade-kadena bage pe rakyatna nggo tumpat ukurna ngenen kejadin e....

Terjemahan:

“....Pada saat itu, ayah dari Raja Natang Negeri Sinulingga ini sedang sakit keras. Sudah banyak dukun yang mencoba mengobati penyakitnya, namun bukan semakin membaik tetapi semakin memburuk, sehingga keluarga, kaum kerabat dan rakyatnya sangatlah bersusah hati melihat kejadian itu....”

b) Generating Cirtumtances (peristiwa yang bersangkut paut mulai bergerak) Peristiwa selanjutnya mulai bergerak, dimana pada bagian ini datanglah ke-7 orang dukun pakpak ke kampung Linggaraja dan dimintai pertolongan untuk

menyembuhkan Raja itu. Mereka bisa menyembuhkannya dengan melakukan acara yang dinamakan “Persilihi Raja”. Persilihi Raja yang dimaksud ialah acara dimana Raja dan Permaisuri harus membuang harta yang sangat disayanginya agar Raja tersebut dapat sembuh.

Hal ini dapat kita lihat pada contoh berikut ini:

....Ibas sada wari, singgah me i kuta Linggaraja sada rombongen Guru Sibaso (Guru Pakpak pitu sedalanen, gelarna “Erciken Tungkatna Malaikat” ras

“Erpustakaken Pustaka Najati”). Kempak 7 kalak Guru Sibaso eme mindo penampat nambari Raja e. Pituna Guru Sibaso e setuju ras nggit nampati nambari Raja e....

....Mulai me kalak e ngoge pustakana ras ngenen nujumna. Kenca nggo dung emaka katakenna me man ndehara Raja, “i idah kami sada cara si banci erbahan malem Raja e, emekap alu iban acara Persilihi Raja. Persilihi labo asal Persilihi. Persilihi si i maksud emekap Raja harus ngambekken harta si i kelengina kal...” “tuhu nge guru? Meriah kal ukur kami mbegisa berita e...” nina ndehara Raja. “ue tuhu...” nina Guru Pakpak. “ue, timai kentisik guru, nggelah ku buat harta-harta si ikelengi Raja guna acara Persilihi e” nina ndehara Raja ras langsung buatina kerina harta si ikelengi Raja....

Terjemahan:

“....Pada suatu ketika, singgahlah di kampung Linggaraja serombongan dukun (Guru Pakpak pitu sedalanen, namanya “Erciken Tungkatna Malaikat” dan

“Erpustakaken Pustaka Najati”), kepada 7 orang dukun pakpak inilah di minta pertolongan untuk mengobati raja tersebut. Ke-7 orang dukun itu menyetujuinya dan mau membantu mengobati raja tersebut....”

“....Mulailah mereka membaca-baca pustakanya dan melihat nujumnya (nujum yang dimaksudkan ialah seperti ramalan). Sesudah serombongan dukun itu selesai melakukan hal tersebut, maka berkatalah mereka kepada permaisuri,

“kami melihat ada satu cara yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan raja kita

“kami melihat ada satu cara yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan raja kita