BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Pengertian Limbah Padat Pasar
Limbah padat pasar atau yang biasanya seperti kita ketahui adalah sampah dalam ilmu kesehatan lingkungan hanya sebagian dari benda atau hal-hal yang dipandang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau harus dibuang, sedemikian rupa sehingga tidak sampai mengganggu kelangsungan hidup (Azwar, 1996).
Sampah adalah suatu bahan atau benda padat yang sudah tidak dipakai lagi oleh manusia, atau benda padat yang sudah tidak digunakan lagi dalam suatu kegiatan manusia dan dibuang (Notoatmodjo, 2003).
Dari segi ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud sampah adalah sebagian dari sesuatu yang tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan oleh manusia tetapi yang bukan biologis dan umumnya bersifat padat (karena air bekas tidak termasuk ke dalamnya). Sehingga bukan semua benda padat yang tidak digunakan dan dibuang disebut sampah, misalnya: benda-benda alam, benda-benda yang keluar dari bumi akibat dari gunung meletus, banjir, pohon di hutan yang tumbang akibat angin ribut, dan sebagainya. Dengan demikian sampah mengandung prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Adanya sesuatu benda atau bahan padat
b. Adanya hubungan langsung/tak langsung dengan kegiatan manusia c. Benda atau bahan tersebut tidak dipakai lagi.
2.2.1 Jenis Sampah
Sampah padat dapat dibagi menjadi beberapa kategori, seperti berikut: (Chandra, 2005)
1. Berdasarkan zat kimia yang terkandung didalamnya. - Organik, mis., sisa makanan, daun, sayur, dan buah - Anorganik, mis., logam, pecah-belah, abu, dan lain-lain 2. Berdasarkan dapat atau tidaknya terbakar
- Mudah terbakar, mis., kertas, plastik, daun kering, kayu. - Tidak mudah terbakar, mis., kaleng, besi, gelas, dan lain-lain. 3. Berdasarkan dapat atau tidaknya membusuk
- Mudah membusuk, mis. sisa makanan, potongan daging, dan sebagainya. - Sulit membusuk, mis. plastik, karet, kaleng, dan sebagainya.
4. Berdasarkan ciri atau karakteristik sampah
1. Garbage, terdiri atas zat-zat yang mudah membusuk dan dapat terurai dengan cepat, khususnya jika cuaca panas. Proses pembusukan seringkali menimbulkan bau busuk. Sampah jenis ini dapat ditemukan ditempat pemukiman, rumah makan, rumah sakit, pasar dan sebagainya.
2. Rubbish, terbagi menjadi dua:
- Rubbish mudah terbakar terdiri atas zat-zat organik, mis., kertas, kayu, karet, daun kering, dan sebagainya.
- Rubbish tidak mudah terbakar terdiri atas zat-zat anorganik, mis., kaca, kaleng, dan sebagainya.
4. Street sweeping, sampah dari jalan atau trotoar akibat aktivitas mesin atau manusia.
5. Dead animal, bangkai binatang besar (anjing, kucing, dan sebagainya) yang mati akibat kecelakaan atau secara alami.
6. House hold refuse, atau sampah campuran, (mis., garbage, ashes, rubbish) yang bersal dari perumahan.
2.2.2 Sumber-sumber Sampah
Sumber-sumber sampah dibagi sebagai berikut: (Notoatmodjo, 2003) 1. Sampah yang berasal dari pemukiman (domestic waste)
Sampah ini terdiri dari bahan-bahan padat sebagai hasil kegiatan rumah tangga yang sudah dipakai dan dibuang, seperti: sisa-sisa makanan baik yang sudah dimasak atau belum, bekas pembungkus baik kertas, plastik, daun, pakaian-pakaian bekas, bahan-bahan bacaan, perabot rumah tangga.
2. Sampah yang berasal dari tempat-tempat umum.
Sampah ini berasal dari tempat-tempat umum, seperti pasar, tempat-tempat hiburan, terminal bus, stasiun kereta api. Sampah ini berupa kertas, plastik, botol, dan daun.
3. Sampah yang berasal dari perkantoran
Sampah ini berasal dari perkantoran, perdagangan, departemen, perusahaan. Sampah ini berupa kertas-kertas, plastik, karbon, klip. Umumnya sampah ini bersifat kering dan mudah terbakar (rubbish).
4. Sampah yang berasal dari jalan raya
Sampah ini berasal dari pembersihan jalan, yang umumnya terdiri atas: kertas-kertas, kardus-kardus, debu, batu-batuan, pasir, sobekan ban, onderdil-onderdil kendaraan yang jatuh, daun-daunan, dan plastik.
5. Sampah yang berasal dari industri (industrial waste)
Sampah dari kawasan industri, termasuk sampah yang berasal dari pembangunan industri dan segala sampah yang berasal dari proses produksi, misalnya: sampah-sampah pengepakan barang, logam, plastik, kayu, potongan tekstil, kaleng.
6. Sampah yang berasal dari pertanian/perkebunan
Sampah ini sebagai hasil dari perkebunan atau pertanian, misalnya: jerami, sisa sayur-mayur, batang padi, batang jagung, ranting kayu yang patah.
7. Sampah yang berasal dari pertambangan
Sampah ini berasal dari daerah pertambangan, dan jenisnya tergantung dari jenis usaha pertambangan itu sendiri, misalnya: batu-batuan, tanah/cadas, pasir, sisa-sisa pembakaran (arang).
8. Sampah yang berasal dari peternakan dan perikanan
Sampah dari peternakan dan perikanan ini berupa: kotoran-kotoran ternak, sisa-sisa makanan, dan bangkai binatang.
2.2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi Jumlah Sampah
Menurut Chandra (2005), beberapa faktor yang dapat mempengaruhi jumlah sampah:
1) Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk tergantung pada aktifitas dan kepadatan penduduk. Semakin padat penduduk, sampah semakin menumpuk karena tempat atau ruang untuk menampung sampah kurang. Semakin meningkat aktifitas penduduk, sampah yang dihasilkan semakin banyak, misalnya pada aktifitas pembangunan, perdagangan, dan industri.
2) Sistem pengumpulan atau pembuangan sampah yang dipakai.
Pengumpulan sampah dengan menggunakan gerobak lebih lambat jika dibandingkan dengan truk.
3) Pengambilan bahan-bahan yang ada pada sampah untuk dipakai kembali. Metode itu dilakukan karena bahan tersebut masih memiliki nilai ekonomi bagi golongan tertentu.
4) Faktor Geografis
Lokasi tempat pembuangan apakah didaerah pegunungan, lembah, pantai, atau di dataran rendah.
5) Faktor Waktu
Bergantung pada faktor harian, mingguan, bulanan, atau tahunan. Jumlah sampah perhari bervariasi menurut waktu. Contoh, jumlah sampah pada siang hari lebih banyak daripada jumlah di pagi hari, sedangkan sampah di daerah pedesaan tidak begitu bergantung pada faktor waktu.
6) Faktor Sosial Ekonomi dan Budaya
Contoh, adat-istiadat dan taraf hidup dan mental masyarakat.
7) Pada musim hujan, sampah mungkin akan tersangkut pada selokan, pintu air, atau penyaringan air limbah.
8) Kebiasaan Masyarakat
Contoh, jika seseorang suka mengkonsumsi satu jenis makanan atau tanaman, sampah makanan itu akan meningkat.
9) Kemajuan Teknologi
Akibat kemajuan teknologi, jumlah sampah dapat meningkat. Contoh: plastik, kardus, rongsokan, AC, TV, dan kulkas.
10) Jenis Sampah
Makin maju tingkat kebudayaan suatu masyarakat, semakin kompleks pula macam dan jenis sampahnya.
2.2.4 Sistem Pembuangan Sampah
Menurut Azwar (1996), beberapa cara pembuangan sampah yang lazim dipergunakan dewasa ini antara lain:
1. Hog feeding, penggunaan sampah jenis garbage untuk makanan ternak (mis., babi). Perlu diingat bahwa sampah basah tersebut harus diolah lebih dahulu (dimasak atau direbus) untuk mencegah penularan penyakit cacing dan trichinosis ke hewan ternak.
2. Inceneration, pembakaran sampah secara besar-besaran melalui fasilitas pabrik yang khusus dibangun untuk itu. Cara pembuangan sampah jenis ini memang menguntungkan karena dapat memperkecil volume sampah sampai sepertiganya.
3. Sanitary landfill, pembuangan sampah dengan cara menimbun sampah dengan tanah, yang dilakukan lapis demi lapis, sehingga sampah tidak berada di alam terbuka, jadi tidak sampai menimbulkan bau serta tidak menjadi tempat binatang bersarang.
4. Composting, pengolahan sampah menjadi pupuk, yakni dengan terbentuknya zat-zat organik yang bermanfaat untuk menyuburkan tanah.
5. Discharge to sewers, sampah harus dihaluskan dahulu dan kemudian dibuang ke dalam saluran pembuangan air bekas. Cara ini dapat dilakukan pada rumah tangga ataupun dikelola secara terpusat di kota-kota.
6. Dumping, pembuangan sampah dengan meletakkan begitu saja di lapangan, jurang atau tempat sampah.
7. Dumping in water, sampah dibuang ke dalam air sungai atau laut. Akibatnya, terjadi pencemaran pada air dan pendangkalan yang dapat menimbulkan bahaya banjir.
8. Landfill, disini sampah dibuang di tanah rendah, tanpa ditimbun dengan lapisan tanah. Sama halnya dengan sistem dumping, cara ini banyak kerugiannya.
9. Individual inceneration, pembakaran sampah yang dilakukan secara perorangan dirumah tangga. Pembakaran haruslah dilakukan dengan baik, jika tidak asapnya akan mengotori udara serta dapat menimbulkan bahaya kebakaran.
10.Recycling, pengolahan sampah dengan maksud pemakaian kembali hal-hal yang masih bisa dipakai (mis., kaleng dan kaca). Cara ini berbahaya untuk kesehatan, terutama jika tidak mengindahkan segi kebersihan.
11.Reduction, menghancurkan sampah menjadi jumlah yang lebih kecil dan hasilnya dimanfaatkan.
12.Salvaging, pemanfaatan beberapa macam sampah yang dipandang dapat dipakai kembali, misalnya pemakaian kertas bekas untuk pembungkus makanan.
2.2.5 Hubungan Limbah Padat Dengan Kesehatan Lingkungan
Limbah padat mengakibatkan gangguan kesehatan, terutama bila di dalam limbah padat tersebut terdapat mikroorganisme pathogen ataupun bahan berbahaya atau beracun. Disamping itu, proses pembusukan, pembakaran, dan pembuangan limbah padat biasanya menghasilkan gas-gas yang dapat mengganggu estetika (Mulia, 2005).
Menurut Soemirat (2006), pengaruh sampah terhadap kesehatan manusia dikelompokkan menjadi 2 kelompok:
1. Efek langsung
Efek langsung adalah efek yang disebabkan karena kontak yang langsung dengan sampah tersebut, misalnya sampah beracun, sampah yang korosif terhadap tubuh, yang karsinogenik, dan teratogenik. Selain itu ada pula sampah yang mengandung kuman pathogen sehingga dapat menimbulkan penyakit.
2. Efek tidak langsung
Pengaruh tidak langsung dapat dirasakan masyarakat akibat proses pembusukan, pembakaran dan pembuangan sampah. Dekomposisi sampah biasanya terjadi secara aerobik, dilanjutkan secara fakultatif, dan secara anaerobik apabila oxigen telah habis.
Menurut Mukono (2005), pengelolaan sampah mempunyai pengaruh terhadap masyarakat dan lingkungan.
1. Pengaruh yang positif
Pengelolaan sampah yang baik akan memberikan pengaruh yang positif terhadap masyarakat dan lingkungannya, seperti berikut: (Chandra, 2005)
1. Sampah yang dapat dimanfaatkan untuk menimbun lahan semacam rawa-rawa dan dataran rendah.
2. Sampah dapat dimanfaatkan untuk pupuk.
3. Sampah dapat diberikan untuk makanan ternak setelah menjalani proses pengelolaan yang telah ditentukan lebih dahulu untuk mencegah pengaruh buruk sampah tersebut terhadap ternak.
4. Pengelolaan sampah menyebabkan berkurangnya tempat untuk berkembang biak serangga atau binatang pengerat.
5. Menurunkan insidensi kasus penyakit menular yang erat hubungannya dengan sampah.
6. Keadaan estetika lingkungan yang bersih menimbulkan kegairahan hidup masyarakat.
7. Keadaan lingkungan yang baik mencerminkan kemajuan budaya masyarakat. 8. Keadaan lingkungan yang baik akan menghemat pengeluaran dana kesehatan
suatu Negara sehingga dana itu dapat digunakan untuk keperluan lain. 2. Pengaruh negatif
Pengaruh negatif dari pengelolaan sampah ini tampak pada 3 aspek: a. Aspek Kesehatan
- Sampah dapat memberikan tempat tinggal bagi vektor penyakit, seperti: serangga, tikus, cacing dan jamur.
1. Insect borne disease
Lalat : diare, cholera, typus
Nyamuk : DHF (Dengue Haemorrhagic Fever) 2. Rodent borne disease
Pes, murine typhus 3. Vektor jamur
Penyakit kulit dan candidiasis 4. Vektor cacing
Taenia, hookworm, cacing gelang dan cacing kremi b. Aspek lingkungan
- Estetika lingkungan - Penurunan kualitas udara
- Pembuangan sampah ke badan air akan menyebabkan pencemaran air. c. Aspek sosial masyarakat
- Pengelolaan sampah yang kurang baik dapat mencerminkan status keadaan sosial masyarakat.
- Keadaan lingkungan yang kurang saniter dan estetika akan menurunkan hasrat turis untuk berkunjung.