• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Pengertian Masyarakat Desa

demikian kebutuhan-kebutuhan yang berbeda akan menyebabkan pula perbedaan persespsi.

d. Sistem Nilai

Psistem nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat berpengaruh pula terhadap perespsi. Suatu eksperimen di amerika serikat menunjukan bahwa anak-anak yang berasal dari keluarga miskin mempersiapkan mata uang logam lebih besar dari ukuran yang sebenarnya. Gejala ini ternyata tidak terdapat pada nak-anak yang berasal dari keluarga kaya.

e. Ciri Kepribadian

Ciri kepribadian akan mempengaruhi pula persespsi seperti dua orang yang berkerja di kantor yang sama berada di bawah pengawas satu orang atasan, orng yang pemalu akan berbeda dalam mempersepsikan atasannya

B. Pengertian Masyarakat Desa

1. Pengertian Masyarakat

Dalam KBBI, istilah masyarakat diartikan dengan sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama20. Sedangkan dalam bahasa Ingris istilah masyrakat dikenal dengan society yang berasal dari bahasa latin socius yang berarti kawan. Istilah masyarakat sendiri berasal dari akar kata Arab Syaraka yang berarti ikut serta: berpartisipasi. Masyarakat merupakan kesatuan hidup manusia yang saling berinteraksi menurut suatu sistem ada-istiadat yang bersiat kontinue dan yang terikat oleh sesuatu rasa identitas bersama21.

Sejak alam tahap tertentu pada masa prasejarah manusia telah hidup dalam kelompok, yang kemudia semakin berkembang dan semakin rumit penataannya hingga membentuk masyarakat yang terdiri dari sejumlah golongan dan bahkan strata. Masyarakat adalah kumpulan dari beberapa individu yang terintegrasi menjadi suatu kesatuan. Sedangkan

20Pusat bahasa Pepartemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka,2002. Hlm 641

20

masyarakat majemuk adalah suatu masyarakat yang terdiri dari berbagai kepentingan dan kebudayaan yang berbeda-beda yang melebur membentuk satu kesatuan yang mempunyai tujuan dan cita-cita yang sama. Dalam menjalankan perannya sebagai makhluk sosial dan tanggung jawabnya sebagai bagian dari masyarakat setiap individu dituntut untuk berprilaku jujur, adil, sopan peduli, disiplin, tanggung jawab dan mampu untuk berkerja sama dengan baik serta selalu berusaha untuk mengedepankan kepentingan bersama demi terciptanya suatu tatanan kehidupan yang serasi, selaras dan seimbang sehingga tercipta suatu keharmonisan dalam kehidupan bermasyrakat, berbangsa dan bertanah air.22

lstilah rnasyarakat terlalu banyak mencakup berbagai faktor sehingga kemampuan suatu definisi yang berusaha mencakup keseluruhan, masih ada juga suatu yang tidak memenuhi unsur-unsurnya. dibawah ini beberapa definisi masyarakat menurut para sarjana ilmu sosial :23

a. Maclverdan Page

Menyatakan masyarakat ialah suatu sistem dari kebiasaan dan tata cara dari wewenang dan kerja sama antara berbagi kelompok dan penggolongan, dari pengawasan tingkah-laku serta kebebasan manusia. Keseluruhan yang selalu berubah ini dinamakan masyarakat. Masyarakat merupakan jalinan berhubungan sosial dan masyarakat selalu berubah.

b. Ralph Linton mendenifisikan masyarakat sebagai setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama sehingga dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batasan-batasan yang dirumuskan dengan jelas.

22Edi Sedyawati. Budaya Indonesia (kajian Akeologi, Seni dan sejarah. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2010

21

c. Selo Soemardjan menyatakan bahwa masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan.

Walaupun definisi masyarakat dari para sarjana-sarjana ilmu sosial tersebut berlainan akan tetapi pada dasamya memiliki unsur atau dasar isi yang sama berkaitan dengan hal tersebut Soerjono Soekanto mengemukakan bahwa masyarakat memiliki beberapa unsur-unsur, yaitu sebagai berikut :

a. Manusia yang hidup bersama

b. Bercampur dalam waktu yang cukup lama

c. Mereka sadar bahwa mereka merupakan satu sama lain

d. Mereka sadar bahwa mereka merupakan suatu sistem hidup bersama. Berdasarkan pemikiran di atas, maka masyarakat dapat diartikan sebagai sejumlah manusia yang hidup bersama di suatu daerah, pada suatu waktu tertentu menciptakan kaidah-kaidah atau peraturan-peraturan bagi pergaulan hidupnya yang pada akhirnya menciptakan kebudayaan, sehingga mereka akan merasa terikat satu sama lain.

Berdasarkan pernyataan diatas maka dapat disimpulkan bahwa persepsi masyarakat adalah pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan- hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan yang pernah dialami oleh sekelompok manusia yang hidup bersama di suatu daerah, pada suatu waktu tertentu menciptakan kaidah-kaidah atau peraturan-peraturan bagi pergaulan hidupnya yang pada akhirnya menciptakan kebudayaan, sehingga mereka akan merasa terikat satu sama lain kemudian menilai, menafsir dan menanggapi suatu objek.

2. Pengertian Desa

Secara etimologi kata desa berasal dari bahasa sansekerta, deca yang berarti tanah air, tanah asal, atau tanah kelahiran. Dari perspektif geografis, desa atau village yang diartikan sebagai “ a groups of houses or

shops in a country area, smaller than and town “. Desa adalah kesatuan

22

tangganya berdasarkan hak asal-usul dan adat istiadat yang diakui dalam Pemerintahan Nasiona dan berada di Daerah Kabupaten.

Desa menurut H.A.W. Widjaja dalam bukunya yang berjudul “Otonomi Desa” menyatakan bahwa:24 Desa adalah sebagai kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai susunan asli berdasarkasan hak asal-usul yang bersifat istimewa. Landasan pemikiran dalam mengenai Pemerintahan Desa adalah keanekaragaman, partisipasi, otonomi asli, demokratisasi dan pemberdayaan masyarakat

Menurut R. Bintarto 25 , berdasarkan tinjuan geografi yang dikemukakannya, desa merupakan suatu hasil perwujudan geografis, sosial, politik, dan cultural yang terdapat disuatu daerah serta memiliki hubungan timbal balik dengan daerah lain. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, desa adalah suatu kesatuan wilayah yang dihuni oleh sejumlah keluarga yang mempunyai system pemerintahan sendiri (dikepalai oleh seorang Kepala Desa) atau desa merupakan kelompok rumah di luar kota yang merupakan kesatuan.26

Pengertian tentang desa menurut undang-undang adalah:27

Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa Pasal 1 , Desa atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Pasal 1, Desa adalah

24Prof. Drs. Widjaja, HAW. 2003. Pemerintahan Desa/Marga. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Hlm. 3.

25R. Bintaro, Dalam Interaksi Desa - Kota dan Permasalahannya (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1989).

26Pusat bahasa Pepartemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka,2002. Hlm.75

23

Desa dan Desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal-usul, dan hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah Pasal 1, Desa adalah Desa dan adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut , adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa Pasal 1, Desa adalah Desa danadat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dengan demikian sebagai suatu bagian dari sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diakui otonominya dan Kepala melalui pemerintah dapat diberikan penugasan pendelegasian dari pemerintahan ataupun dari pemerintahan daerah untuk melaksanakan pemerintahan tertentu. Landasan pemikiran dalam pengaturan mengenai adalah keanekaragaman, partisipai, otonomi asli, demokratisasi dan pemberdayaan masyarakat. Pemerintahan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintahan dan Badan Permusyawaratan dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan

24

asal-usul dan adat-istiadat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Merupakan suatu kegiatan pemerintah , lebih jelasnya pemikiran ini didasarkan bahwa penyelenggaraan tata kelola (disingkat penyelenggara ), atau yang dikenal selama ini sebagai “Pemerintahan ”. Kepala adalah pelaksana kebijakkan sedangkan Badan Pemusyawaratan dan lembaga pembuatan dan pengawasan kebijakkan (Paraturan ).

Menurut Zakaria dalam Wahjudin Sumpeno dalam Candra Kusuma28 menyatakan bahwa desa adalah sekumpulan yang hidup bersama atau suatu wilayah, yang memiliki suatu serangkaian peraturan-peraturan yang ditetapkan sendiri, serta berada diwilayah pimpinan yang dipilih dan ditetapkan sendiri. Sedangkan pemerintahan berdasarkan Undang-Undang Nomor 72 Tahun 2005 Tentang pasal 6 menyebutkan bahwa Pemerintahan Permusyawaratan dalam mengatur danmengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat- istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.29

Dengan demikian sebagai suatu bagian dari sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diakui otonominya dan Kepala melalui pemerintah dapat diberikan penugasan pendelegasian dari pemerintahan ataupun pemerintahan daerah untuk melaksanakan urusan pemerintah tertentu. Sebagai unit organisasi yang berhadapan langsung dengan masyarakat dengan segala latar belakang kepentingan dan kebutuhannya mempunyai peranan yang sangat strategis, khususnya dalam pelaksanaan tugas dibidang pelayanan publik. Maka desentralisasi kewenangan-kewenangan yang lebih besar disertai dengan pembiayaan dan bantuan sarana prasarana yang memadai mutlak diperlukan guna penguatan otonomi menuju kemandirian dan alokasi.

28Candra Kusuma Putra, Ratih Nur Pratiwi, suwondo, Pengelolaan Alokasi Dana Desa Dalam

Pemberdayaan Masyarakat Desa dalam Pemberdayaan Masyarakat Desa. Jurnal

Administrasi Publik , vol I, No. 6.

25

Tujuan pembentukan desa adalah untuk meningkatkan kemampuan penyelenggaraan Pemerintahan secara berdaya guna dan berhasil guna dan peningkatan pelayanan terhadap masyarakat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemajuan pembangunan. Dalam menciptakan pembangunan hingga ditingkat akar rumput, maka terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk pembentukan desa yakni: pertama, faktor penduduk, minimal 2500 jiwa atau 500 kepala keluarga, kedua, faktor luas yang terjangkau dalam pelayanan dan pembinaan masyarakat,

ketiga, faktor letak yang memiliki jaringan perhubungan atau komunikasi

antar dusun, keempat, faktor sarana prasarana, tersedianya sarana perhubungan, pemasaran, sosial, produksi, dan sarana pemerintahan desa,

kelima, faktor sosial budaya, adanya kerukunan hidup beragama dan

kehidupan bermasyarakat dalam hubungan adat istiadat, keenam, faktor kehidupan masyarakat, yaitu tempat untuk keperluan mata pencaharian masyarakat

Dalam pengertian menurut W idjaja dan Undang-Undang di atas sangat jelas sekali bahwa desa merupakan self communityyaitu komunitas yang mengatur dirinya sendiri. Dengan pemahaman bahwa desa memiliki kewenangan untuk mengurus dan mengatur kepentingan masyarakatnya sesuai dengan kondisi dan sosial budaya setempat, maka posisi desa yang memiliki otonomi asli sangat strategis sehingga memerlukan perhatian yang seimbang terhadap penyelenggaraan Otonomi Daerah. Karena dengan Otonomi Desa yang kuat akan mempengaruhi secara signifikan perwujudan Otonomi Daerah.

Dokumen terkait